NOVEL GAGAL JANGAN DIBACA
Rahman Affandi adalah tuan tanah tua berusia enam puluh delapan tahun yang sangat kikir dan dibenci oleh semua penyewa kontrakannya.
Saat ajalnya tiba-tiba mendekat dan ia sekarat sendirian tanpa keluarga yang peduli, sebuah sistem misterius muncul di kepalanya.
Sistem itu memberinya sisa umur tujuh hari yang hanya bisa diperpanjang jika ia bersedia membahagiakan para penyewanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Dimas melongo tidak percaya.
Mendapatkan fasilitas semewah itu dengan harga tujuh ratus ribu di daerah dekat kampus adalah sebuah keajaiban.
"Bapak serius?"
"Wah, kalau begitu saya mau, Pak!"
"Ini uang tujuh ratus ribunya untuk bulan pertama!"
Dimas langsung kegirangan dan menyerahkan tujuh lembar uang seratus ribuan dari dompetnya.
Tangan Rahman gemetar saat menerima uang itu.
Uang tujuh ratus ribu yang masuk ini tidak ada apa-apanya dibandingkan uang jutaan yang harus ia keluarkan besok pagi.
"T-tapi barangnya baru akan kuantar besok pagi."
"Malam ini kamu tidur pakai tikar seadanya dulu, bagaimana?" tawar Rahman mencoba mengulur waktu.
"Oh, tidak masalah, Pak!"
"Saya bawa kantong tidur kok di ransel."
"Terima kasih banyak ya, Pak Rahman, bapak baik sekali!" ucap Dimas dengan senyum sumringah.
"Ya, ya, masuklah."
"Jangan lupa kunci pintu kalau tidur," jawab Rahman lemas dan langsung berbalik pergi.
Ia berjalan gontai kembali ke kamarnya seperti orang yang baru saja kalah judi.
Sesampainya di kamar, ia langsung menjatuhkan dirinya ke kursi kayu andalannya.
"Dua juta... aku harus keluar uang setidaknya dua juta untuk misi sialan ini."
"Belum juga aku menikmati uang hadiah dari mengecat tembok, sekarang hartaku malah dikuras lagi."
Rahman memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri.
Ting!
[Peringatan: Tenggat waktu misi adalah besok pukul 10.00 pagi.]
[Pastikan kasur dan lemari sudah terpasang di kamar nomor lima sebelum tenggat waktu.]
"Berisik! Aku tahu!" bentak Rahman ke udara kosong.
Sore itu, Rahman tidak keluar kamar sama sekali.
Ia terlalu sibuk meratapi nasib dompetnya sambil menghitung sisa tabungannya di dalam brankas.
Keesokan paginya, tepat pukul tujuh, Rahman sudah berdiri di depan toko mebel terbesar di kotanya.
Toko itu baru saja buka, dan Rahman adalah pelanggan pertama mereka.
Pemilik toko, Koh Aseng, menyambut Rahman dengan ramah.
"Wah, tumben amat Ko Rahman mampir pagi-pagi."
"Mau cari perabotan buat kontrakan ya?" sapa Koh Aseng yang sudah sangat hafal tabiat pelit Rahman.
"Jangan banyak tanya, Aseng."
"Mana kasur pegas paling murah tapi tidak terlihat murahan?"
"Dan lemari kayu dua pintu yang harganya miring tapi kuat?" tanya Rahman langsung pada intinya.
Koh Aseng terkekeh pelan dan mengantar Rahman ke bagian belakang toko.
"Ada nih, sisa stok pameran bulan lalu."
"Kualitasnya masih bagus, cuma ada sedikit noda debu di ujung kasurnya."
"Kalau Ko Rahman mau, saya kasih harga satu setengah juta saja sepasang sama lemarinya."
Mata Rahman langsung berbinar mendengar kata diskon.
Satu setengah juta masih jauh lebih baik daripada harus keluar uang dua juta penuh.
"Satu juta tiga ratus, aku ambil sekarang juga dan kamu yang kirim ke kontrakanku," tawar Rahman tajam tanpa basa-basi.
"Aduh, Ko Rahman ini nawarnya selalu bikin jantungan."
"Satu juta empat ratus deh, mentok itu buat harga langganan."
"Ongkos kirim gratis pakai mobil bak saya," Koh Aseng membalas tawaran itu.
Rahman pura-pura berpikir sejenak, lalu mengangguk pelan.
"Deal."
"Pastikan barangnya sampai di kontrakanku sebelum jam sepuluh pagi ini."
"Siap, Bos!"
"Mobil baknya langsung jalan lima menit lagi!"
Tepat pukul sembilan pagi, mobil bak Koh Aseng tiba di depan kontrakan Rahman.
Dua orang kuli angkut mulai menurunkan kasur pegas yang lumayan tebal dan lemari kayu yang kokoh.
Kedatangan perabotan baru itu tentu saja mengundang perhatian para penyewa lainnya.
Budi yang baru mau berangkat kerja shift siang menyempatkan diri menonton di teras.
"Wah, Pak Rahman beli kasur baru buat siapa itu?"
"Tumben amat fasilitas kontrakannya di-upgrade begini," celetuk Budi heran.
Rina yang sedang menjemur baju ikut menyahut.
"Katanya buat anak mahasiswa baru yang sewa kamar nomor lima, Mas Budi."
Maya yang baru pulang dari kampus pagi juga ikut bergabung menonton.
Ia menatap lemari kayu itu dengan pandangan iri.
"Enak banget anak baru itu."
"Aku yang sudah dua tahun di sini lemarinya cuma dari kardus mie instan yang ditumpuk," sindir Maya pelan tapi cukup keras untuk didengar Rahman.
Rahman yang sedang mengawasi kuli angkut hanya bisa menelan ludah.
Ia tahu betul kecemburuan sosial sedang terjadi di antara para penyewanya.
Namun ia harus tetap menjaga wibawanya.
"Kalian jangan iri!"
"Anak baru ini bayar mahal untuk fasilitas ini."
"Kalau kalian mau kasur dan lemari baru juga, tambah uang sewa kalian dua ratus ribu sebulan!" teriak Rahman mengarang alasan lagi.
Mendengar ancaman kenaikan sewa, Budi, Rina, dan Maya kompak langsung diam dan membubarkan diri.
Mereka lebih rela tidur beralaskan karpet daripada harus menambah uang sewa yang sudah pas-pasan.
"Syukurlah, alasan uang selalu ampuh untuk membungkam mulut mereka," batin Rahman lega.
Dimas keluar dari kamarnya dengan mata berbinar-binar melihat kasur empuk itu dibawa masuk.
"Wah, kasurnya bagus banget, Pak!"
"Terima kasih banyak, saya janji akan jaga barang-barang ini baik-baik."
Dimas langsung mencoba duduk di atas kasur pegas itu dengan girang.
"Baguslah kalau kamu suka."
"Ingat, kalau sampai lemarinya lecet atau kasurnya kotor, uang jaminanmu akan kupotong bulan depan," ancam Rahman dengan nada khasnya.
Meskipun diancam, Dimas tetap tersenyum puas.
"Siap, Pak Bos!"
Ting!
[Misi Utama Selesai tepat waktu.]
[Penyewa baru atas nama Dimas sangat puas dengan fasilitas yang diberikan.]
[Hadiah: Tambahan umur 7 hari telah didistribusikan.]
[Brankas pengguna aman dari penyitaan sistem.]
Rahman menghela napas yang sangat panjang dan berat.
Ia merasakan usianya bertambah, namun di saat yang sama ia merasa hatinya kehilangan sesuatu yang berharga.
Satu juta empat ratus ribu rupiah telah melayang dari tabungannya.
Ia berjalan kembali ke kamarnya dengan langkah berat, mengabaikan sapaan Mang Ujang yang lewat.
"Sistem ini benar-benar tidak kenal ampun."
"Aku harus mencari cara agar tidak terus-terusan merugi seperti ini."
"Mungkin aku harus memikirkan cara memutar uang sewanya agar cepat balik modal," gumam Rahman sambil menyeduh ulang teh sisa kemarin sore untuk kedua kalinya.
Bagi Rahman, petualangan menipu sistem dan menyembunyikan kebaikannya masih panjang.
Dan ia harus menjadi tuan tanah yang lebih pintar dari sistem itu sendiri.
2. tulang naga dan jiwa abadi
3. saham di pengembang kos kosan nusantara.
ah tapi terserah othor lah baiknya gimana apa lagi bapak rahmat efendi kayaknya masih punya rahasia lain yang belum terbongkar...