NovelToon NovelToon
Zero Hunter

Zero Hunter

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:558
Nilai: 5
Nama Author: LetterFromJusticia

Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 — Di Depan Gerbang Hunter

Pukul 08.17 pagi.

Langkah kaki bergema di sepanjang koridor kompleks World Hunter Organization Regional Indonesia.

Puluhan calon Hunter bergerak menuju area pengarahan setelah menyelesaikan registrasi. Sebagian berjalan dalam kelompok kecil sambil menebak-nebak materi ujian, sementara yang lain memilih diam dan memeriksa kartu peserta masing-masing.

Di antara mereka, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 𝗡𝗼𝗶𝗿 berjalan dengan langkah tenang.

Beberapa meter di depannya, 𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 𝗣𝗿𝗮𝗱𝗶𝗽𝘁𝗮 sesekali menoleh.

Senyum mengejek masih terpasang di wajah pemuda itu, seolah ia belum puas dengan pertengkaran yang nyaris terjadi di halaman registrasi.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memilih mengabaikannya.

Tidak ada gunanya meladeni dia sekarang.

Ia kembali memperhatikan sekeliling.

Koridor itu jauh berbeda dari fasilitas latihan pribadi keluarga Greyad.

Dinding abu-abu metalik membentang di kedua sisi. Kamera pengawas terpasang di beberapa sudut, sementara petugas berseragam berjaga di setiap persimpangan.

Sebuah layar elektronik menampilkan pembagian kelompok peserta.

SELEKSI HUNTER — W.H.O REGIONAL INDONESIA

STATUS: REGISTRASI SELESAI

TAHAP BERIKUTNYA: PENGARAHAN PESERTA

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memperhatikan tulisan itu beberapa saat.

Semuanya terasa begitu resmi.

Bahkan kartu di tangannya terasa lebih berat daripada seharusnya.

"𝘒𝘦𝘭𝘰𝘮𝘱𝘰𝘬 𝘵𝘶𝘫𝘶𝘩, 𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵 𝘫𝘢𝘭𝘶𝘳 𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯! 𝘒𝘦𝘭𝘰𝘮𝘱𝘰𝘬 𝘵𝘶𝘫𝘶𝘩, 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯!"

Seorang petugas berseru dari dekat pintu pemeriksaan, satu tangannya terangkat menunjuk arah.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melirik keterangan di kartunya.

Kelompok tujuh.

Ia berbelok mengikuti beberapa peserta lain.

Namun baru beberapa langkah, ia menyadari sesuatu.

Di sepanjang koridor, tidak sedikit peserta yang mengenakan pakaian olahraga dengan emblem sekolah Hunter ternama. Beberapa bahkan sudah terlihat akrab dengan petugas maupun lingkungan fasilitas ini.

Dua pemuda yang berjalan di depannya sedang membicarakan simulasi tempur.

"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘧𝘰𝘳𝘮𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘮𝘶𝘭𝘢𝘴𝘪 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘰𝘭𝘢𝘩, 𝘉𝘢𝘴𝘪𝘤 𝘊𝘰𝘮𝘣𝘢𝘵 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘮𝘢𝘯."

"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘦𝘥𝘦𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘭𝘶. 𝘒𝘢𝘬𝘢𝘬𝘬𝘶 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘭𝘢𝘭𝘶. 𝘒𝘢𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘶𝘫𝘪 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘨𝘢𝘭𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘪𝘯𝘴𝘵𝘳𝘶𝘬𝘵𝘶𝘳 𝘬𝘪𝘵𝘢."

"𝘛𝘦𝘳𝘶𝘴? 𝘋𝘪𝘢 𝘨𝘢𝘨𝘢𝘭?"

"𝘓𝘶𝘭𝘶𝘴. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘨𝘶𝘨𝘶𝘳 𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯." Pemuda itu mengangkat bahu. "𝘋𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘶𝘳𝘶-𝘣𝘶𝘳𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨. 𝘒𝘢𝘵𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘶𝘫𝘪𝘯𝘺𝘢, 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶 𝘱𝘪𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳."

Percakapan itu membuat 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sedikit menunduk.

Mereka bahkan sudah punya gambaran tentang ujian ini.

Sementara dirinya baru benar-benar mempelajari dasar pertarungan dalam dua minggu terakhir.

Perbedaan pengalaman itu semakin terasa nyata.

Namun 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 segera teringat ucapan 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.

"𝘒𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘫𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘩𝘢𝘳𝘪, 𝘝𝘢𝘯. 𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘤𝘰𝘣𝘢. 𝘗𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘶 𝘬𝘶𝘢𝘴𝘢𝘪."

Ia mengembuskan napas perlahan.

Lalu melanjutkan langkah.

Pukul 08.25 pagi.

Pintu otomatis terbuka, memperlihatkan sebuah aula besar berbentuk setengah lingkaran.

Ratusan kursi tersusun menghadap panggung utama. Di belakang panggung terpasang layar raksasa berlambang W.H.O, sementara beberapa petugas sibuk menyiapkan perangkat komunikasi.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 hampir berhenti melangkah.

𝘉𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪.

Ruangan itu jauh lebih luas daripada yang terlihat dari luar.

Beberapa pintu menuju fasilitas lain tampak di sisi aula, masing-masing dijaga petugas.

"𝘒𝘦𝘭𝘰𝘮𝘱𝘰𝘬 𝘵𝘶𝘫𝘶𝘩 𝘥𝘪 𝘣𝘭𝘰𝘬 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩. 𝘛𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬 𝘥𝘪 𝘢𝘳𝘦𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘰𝘮𝘱𝘰𝘬 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘤𝘢𝘶."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengikuti arahan petugas perempuan itu dan mencari kursi kosong di bagian tengah.

Setelah duduk, ia meletakkan tas kecilnya di bawah kursi.

Di sebelah kirinya, seorang pemuda berkacamata sedang membaca dokumen di tablet.

Pemuda itu sempat melirik kartu peserta 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

"𝘒𝘦𝘭𝘰𝘮𝘱𝘰𝘬 𝘵𝘶𝘫𝘶𝘩 𝘫𝘶𝘨𝘢?"

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menoleh. "𝘐𝘺𝘢. 𝘉𝘢𝘳𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘳𝘦𝘨𝘪𝘴𝘵𝘳𝘢𝘴𝘪. 𝘒𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪?"

"𝘋𝘶𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘵𝘢𝘯." Pemuda itu mendorong kacamatanya ke atas. "𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘱𝘢𝘨𝘪. 𝘒𝘶𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘢𝘯𝘵𝘳𝘦𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘱𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨, 𝘵𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪. 𝘑𝘢𝘥𝘪 𝘺𝘢... 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘤𝘢."

Ia mengulurkan tangan.

"𝘈𝘬𝘶 𝘋𝘪𝘮𝘢𝘴."

"𝘌𝘳𝘷𝘢𝘯. 𝘌𝘳𝘷𝘢𝘯 𝘕𝘰𝘪𝘳."

Mereka berjabat tangan. Telapak tangan 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 sedikit lembap.

"𝘐𝘯𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪 𝘳𝘦𝘴𝘮𝘪?" tanya 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀.

"𝘗𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪. 𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘺𝘢𝘳𝘢𝘵𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘶𝘣𝘢𝘤𝘢, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘣𝘦𝘥𝘢." 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melirik ke arah panggung. "𝘒𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪?"

"𝘚𝘢𝘮𝘢. 𝘗𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘴𝘪𝘮𝘶𝘭𝘢𝘴𝘪 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘰𝘭𝘢𝘩." 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 tertawa kecil, tetapi tawanya cepat hilang. "𝘐𝘯𝘴𝘵𝘳𝘶𝘬𝘵𝘶𝘳𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘥𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘬𝘶𝘵-𝘯𝘢𝘬𝘶𝘵𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘢𝘯."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memperhatikan layar tablet 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀.

Beberapa halaman memuat diagram anatomi BETA dan pola serangan dasar. Hampir setiap barisnya ditandai warna kuning.

"𝘒𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘧𝘢𝘭 𝘬𝘭𝘢𝘴𝘪𝘧𝘪𝘬𝘢𝘴𝘪 𝘉𝘌𝘛𝘈?"

"𝘏𝘢𝘳𝘶𝘴." 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 menggeser layar ke halaman berikutnya. "𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘶𝘫𝘪𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘰𝘳𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘨𝘢𝘳𝘢-𝘨𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘦𝘵𝘶𝘬𝘢𝘳 𝘎𝘳𝘰𝘶𝘯𝘥𝘦𝘳 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘈𝘳𝘤𝘢𝘯𝘪𝘥. 𝘋𝘶𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘪𝘬𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘯𝘨𝘶𝘯𝘨."

"𝘎𝘳𝘰𝘶𝘯𝘥𝘦𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩. 𝘈𝘳𝘤𝘢𝘯𝘪𝘥 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘵𝘶𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘪𝘳𝘪𝘱 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢." 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mencondongkan tubuh sedikit dan menunjuk satu baris di layar. "𝘊𝘶𝘮𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨. 𝘒𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘭𝘪𝘴 𝘱𝘰𝘭𝘢 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪, 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘫𝘦𝘯𝘪𝘴 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘥𝘢."

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 berhenti menggeser layar. Ia menatap 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sedikit lebih lama.

"𝘒𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘧𝘢𝘭 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘳𝘶𝘱𝘢𝘯𝘺𝘢. 𝘒𝘶𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘨𝘢𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘵𝘦𝘰𝘳𝘪."

"𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳𝘪 𝘉𝘌𝘛𝘈." Ia diam sebentar. "𝘓𝘢𝘨𝘪 𝘱𝘶𝘭𝘢, 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘩𝘢𝘳𝘨𝘢𝘯𝘺𝘢."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak menceritakan pengalamannya di gedung terbengkalai.

Belum ada alasan untuk membahasnya dengan orang yang baru dikenalnya.

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 tampak ingin bertanya lebih jauh. Namun sebelum ia sempat membuka mulut, sebuah suara terdengar dari arah belakang.

"𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘪𝘯𝘪. 𝘡𝘦𝘳𝘰 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳 𝘵𝘦𝘰𝘳𝘪."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengenali suara itu.

𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮.

Pemuda itu berdiri bersama dua rekannya. Satu tangannya bertumpu di sandaran kursi 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

"𝘏𝘢𝘧𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢." 𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 mencondongkan tubuh. "𝘚𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢 𝘉𝘌𝘛𝘈 𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘥𝘪𝘢𝘮 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘭𝘢𝘴𝘪𝘧𝘪𝘬𝘢𝘴𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢."

Salah satu rekannya mendengus, menahan tawa.

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 memandang 𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮, lalu 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.

"𝘒𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘭?"

"𝘋𝘶𝘭𝘶 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘬𝘰𝘭𝘢𝘩." 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak menoleh. "𝘒𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘴𝘶𝘴𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘶𝘱𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘪𝘵𝘶."

𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 menyeringai.

"𝘑𝘦𝘭𝘢𝘴 𝘴𝘶𝘴𝘢𝘩. 𝘚𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘭𝘶𝘱𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘨𝘰𝘵𝘰𝘵 𝘮𝘢𝘶 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳, 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘪𝘯𝘴𝘵𝘢𝘭𝘢𝘴𝘪 𝘊𝘖𝘙𝘌-𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘯𝘰𝘭?"

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 terlihat bingung. Pandangannya turun ke kartu peserta di tangan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻, seolah mencari angka yang baru saja disebut.

Sebelum suasana makin tidak enak, pengeras suara berbunyi.

"𝘚𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘱𝘦𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘥𝘪𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘪 𝘬𝘶𝘳𝘴𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨-𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨. 𝘗𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘳𝘦𝘴𝘮𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘨𝘦𝘳𝘢 𝘥𝘪𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪."

𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 menegakkan tubuh, lalu menepuk sandaran kursi 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 dua kali.

"𝘕𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘣𝘶𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘨𝘪, 𝘡𝘦𝘳𝘰."

Ia berjalan menuju kursinya.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 kembali menghadap panggung.

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 mencondongkan tubuh dan merendahkan suara.

"𝘋𝘪𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘳𝘪𝘣𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘮𝘶?"

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berpikir sejenak.

"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢, 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯-𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘱𝘢."

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 hampir tertawa. Ia buru-buru menutup mulut dengan punggung tangan.

Lampu utama aula mulai meredup.

Pukul 08.40 pagi.

Seorang pria paruh baya berseragam resmi W.H.O melangkah menuju podium.

Rambutnya dipotong pendek. Sebuah lencana organisasi terpasang di dada kirinya.

Di belakangnya berdiri beberapa pengawas dengan tablet dan perangkat komunikasi.

"𝘚𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵 𝘱𝘢𝘨𝘪, 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘤𝘢𝘭𝘰𝘯 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳."

Suaranya terdengar jelas melalui pengeras. Tidak keras, tetapi percakapan di aula perlahan berhenti.

"𝘈𝘵𝘢𝘴 𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘞𝘰𝘳𝘭𝘥 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘖𝘳𝘨𝘢𝘯𝘪𝘻𝘢𝘵𝘪𝘰𝘯 𝘙𝘦𝘨𝘪𝘰𝘯𝘢𝘭 𝘐𝘯𝘥𝘰𝘯𝘦𝘴𝘪𝘢, 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘚𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳."

Pria itu mengedarkan pandangan, menyapu barisan kursi dari kiri ke kanan.

"𝘚𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪, 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘩𝘢𝘮𝘪. 𝘚𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘭𝘰𝘮𝘣𝘢 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘢𝘵. 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘢𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘩𝘢𝘭."

Beberapa peserta saling melirik. Seseorang di barisan depan diam-diam menggeser tas berlogo mencolok ke bawah kursinya.

"𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘭𝘢𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘬𝘶𝘭 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳. 𝘒𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨, 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬𝘯𝘺𝘢. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘬𝘦𝘯𝘥𝘢𝘭𝘪 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪, 𝘳𝘦𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘮, 𝘥𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘭𝘪𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨𝘪."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mendengarkan dengan saksama.

Kalimat itu mengingatkannya pada pertarungan pertamanya melawan BETA.

Saat itu ia hanya memikirkan cara menyerang.

Ia tidak memahami jarak.

Tidak memiliki guard yang benar.

Bahkan nyaris tidak mampu membaca gerakan lawannya.

Seandainya para Hunter patroli terlambat menemukannya, mungkin ia tidak akan pernah duduk di ruangan ini.

"𝘐𝘯𝘪 𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘪."

Layar besar di belakang podium berubah. Tujuh bagian muncul berurutan.

Verifikasi CORE dan Pemeriksaan Medis Dasar

Physical Assessment

Hunter Theory & BETA Knowledge

Basic Combat Assessment

Reaction & Awareness Test

Field Survival Simulation

Final Evaluation

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memperhatikan seluruh tahapan itu.

Tes fisik.

Teori.

Basic Combat.

Semua itu masih bisa ia bayangkan.

Namun ketika matanya kembali ke bagian pertama, dadanya terasa sedikit menegang.

Verifikasi CORE.

Dua kata itu punya arti berbeda baginya.

Selama bertahun-tahun, setiap pemeriksaan selalu memberikan jawaban yang sama.

CORE Installation: 0%.

Seberapa tinggi pun kompatibilitasnya, angka itu tidak pernah bergerak.

Namun sekarang CORE-nya sudah aktif.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tahu kondisinya tidak lagi sama.

Yang belum ia ketahui adalah bagaimana alat pemeriksaan resmi W.H.O akan membaca perubahan itu.

"𝘛𝘢𝘩𝘢𝘱 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢," lanjut pengawas itu, "𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘬𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘬𝘰𝘯𝘥𝘪𝘴𝘪 𝘥𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘷𝘦𝘳𝘪𝘧𝘪𝘬𝘢𝘴𝘪 𝘊𝘖𝘙𝘌. 𝘐𝘬𝘶𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘱𝘳𝘰𝘴𝘦𝘥𝘶𝘳 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘪 𝘢𝘳𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘵𝘶𝘨𝘢𝘴." Ia berhenti sebentar. "𝘋𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘰𝘣𝘢-𝘤𝘰𝘣𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘪𝘱𝘶𝘭𝘢𝘴𝘪 𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘪𝘻𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯. 𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘰𝘣𝘢. 𝘚𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯 𝘱𝘶𝘭𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menggenggam kartu pesertanya sedikit lebih erat.

𝘚𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩.

Yang ia takutkan bukan lagi angka nol persen.

Yang membuatnya gelisah justru kemungkinan munculnya hasil yang tidak bisa ia jelaskan. Kalau angka yang keluar nanti terlalu aneh, apakah mereka akan menganggapnya manipulasi?

Bahkan dirinya sendiri belum sepenuhnya memahami perubahan yang terjadi setelah kebangkitannya.

Pengawas itu melanjutkan penjelasan mengenai tahapan berikutnya.

Tes fisik akan mengukur kemampuan dasar tubuh, sedangkan penilaian teori mencakup pengetahuan Hunter, keselamatan operasi, dan identifikasi ancaman BETA.

Pada bagian Basic Combat, penguji akan memperhatikan penguasaan teknik, pertahanan, keseimbangan, serta kemampuan peserta mengambil keputusan di bawah tekanan.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 teringat seluruh latihan bersama 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.

Jab.

Straight.

Footwork.

Parry.

Counter.

Teknik yang dua minggu terakhir terus ia ulang sampai lengannya pegal setiap malam.

𝘚𝘦𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘰𝘴𝘰𝘯𝘨.

Seorang peserta di barisan kanan mengangkat tangan.

"𝘗𝘢𝘬, 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪 𝘵𝘦𝘴 𝘧𝘪𝘴𝘪𝘬 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪, 𝘢𝘱𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘵𝘶𝘱 𝘬𝘦𝘬𝘶𝘳𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘩𝘢𝘱 𝘭𝘢𝘪𝘯?"

Pengawas itu menggeleng.

"𝘕𝘪𝘭𝘢𝘪 𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩𝘢𝘯. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢𝘳 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘵𝘢𝘸𝘢𝘳." Ia menatap peserta itu cukup lama, sampai pemuda tersebut menurunkan tangannya. "𝘖𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘧𝘢𝘭 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘵𝘦𝘰𝘳𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘨𝘶𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘥𝘪 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘬𝘶."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menundukkan kepala.

Jawaban itu membuatnya semakin memahami besarnya tantangan yang menunggu.

Ia tidak bisa hanya mengandalkan perkembangan fisiknya.

Apalagi dibandingkan sebagian peserta yang sudah berlatih bertarung selama bertahun-tahun.

Dari beberapa kursi di sebelah kanan, 𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 kembali melirik ke arahnya.

Senyum meremehkan muncul sesaat.

Namun 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak menanggapinya.

Kali ini tidak ada gunanya membuang perhatian untuk hal itu.

Pukul 09.12 pagi.

"𝘚𝘦𝘬𝘪𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘢𝘸𝘢𝘭. 𝘒𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭 𝘱𝘦𝘳 𝘬𝘦𝘭𝘰𝘮𝘱𝘰𝘬 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘧𝘢𝘴𝘪𝘭𝘪𝘵𝘢𝘴 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘶𝘫𝘪𝘢𝘯. 𝘐𝘬𝘶𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘴𝘵𝘳𝘶𝘬𝘴𝘪 𝘱𝘦𝘵𝘶𝘨𝘢𝘴."

Pengawas itu menutup dokumennya, lalu menambahkan satu kalimat sebelum meninggalkan podium.

"𝘒𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘴𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘤𝘢𝘭𝘰𝘯 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳. 𝘛𝘶𝘯𝘫𝘶𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣, 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘭𝘪𝘴𝘦𝘯𝘴𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯."

Lampu aula kembali menyala.

Dengung percakapan langsung memenuhi ruangan.

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 menyandarkan punggung dan mengembuskan napas panjang.

"𝘛𝘶𝘫𝘶𝘩 𝘵𝘢𝘩𝘢𝘱." Ia menatap tabletnya yang masih menampilkan diagram BETA. "𝘈𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘢𝘱𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘰𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘧𝘪𝘴𝘪𝘬. 𝘚𝘪𝘮𝘶𝘭𝘢𝘴𝘪 𝘭𝘢𝘱𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯... 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢."

"𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘩𝘢𝘱 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢."

"𝘝𝘦𝘳𝘪𝘧𝘪𝘬𝘢𝘴𝘪 𝘊𝘖𝘙𝘌?" 𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 mengernyit. "𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘱𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘬𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢? 𝘈𝘴𝘢𝘭 𝘊𝘖𝘙𝘌-𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘢𝘴𝘢𝘯𝘨, 𝘺𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘦𝘴—"

Ia berhenti. Matanya bergerak ke arah 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻, lalu ke kursi 𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 di sebelah kanan.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak langsung menjawab.

"𝘐𝘺𝘢," katanya akhirnya. "𝘈𝘴𝘢𝘭 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘢𝘴𝘢𝘯𝘨."

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 tidak bertanya lagi. Ia memasukkan tablet ke dalam tas, lalu menarik ritsletingnya pelan-pelan.

"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶, 𝘴𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘢𝘭𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘳𝘦𝘸𝘦𝘭 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tertawa pendek, tetapi tidak menjawab.

Tidak lama kemudian, kelompok pertama dipanggil.

Disusul kelompok kedua.

Satu per satu peserta meninggalkan aula.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memperhatikan pintu besar di sisi panggung.

Jantungnya kembali berdebar.

Ia mengeluarkan ponsel. Ada satu pesan dari 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 yang masuk sejak pagi dan belum sempat ia buka.

𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻: "𝘐𝘯𝘨𝘢𝘵. 𝘒𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪. 𝘊𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘵𝘶𝘯𝘫𝘶𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯. 𝘋𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘬𝘪𝘯 𝘥𝘶𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘴𝘪𝘢-𝘴𝘪𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘳𝘪𝘮𝘶 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘸𝘢𝘭 𝘭𝘢𝘨𝘪."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 hampir tertawa.

Bahkan di hari sepenting ini, 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 masih sempat menggodanya.

Namun pesan itu berhasil sedikit meredakan ketegangannya.

Ia menyimpan ponsel.

Kemudian menarik napas panjang.

"𝘒𝘦𝘭𝘰𝘮𝘱𝘰𝘬 𝘵𝘶𝘫𝘶𝘩, 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘢𝘱!"

Suara petugas terdengar dari dekat pintu.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 segera berdiri.

𝗗𝗶𝗺𝗮𝘀 mengikutinya, sementara beberapa baris kursi di belakang mereka mulai kosong.

𝗥𝗮𝗻𝗴𝗴𝗮 sudah berdiri lebih dulu.

Ketika 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 melewatinya, pemuda itu kembali melemparkan tatapan merendahkan. Bibirnya bergerak tanpa suara. 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tidak perlu mendengarnya untuk tahu kata apa yang diucapkan.

Namun 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 terus berjalan.

Ia tidak lagi ingin membuktikan sesuatu lewat perdebatan.

Setidaknya bukan hari ini.

Mereka tiba di depan pintu pengujian.

Seorang petugas memeriksa kartu peserta satu per satu sebelum mempersilakan mereka memasuki lorong berikutnya.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menunggu gilirannya.

Ketika kartunya selesai dipindai, indikator pada alat pemeriksaan berubah hijau.

"𝘐𝘥𝘦𝘯𝘵𝘪𝘵𝘢𝘴 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘪. 𝘚𝘪𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬."

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menerima kembali kartunya.

Di hadapannya, pintu baja besar perlahan bergeser terbuka.

Dari celah yang semakin lebar, terlihat deretan perangkat pemeriksaan, layar pemantau, serta petugas yang sudah menunggu di dalam.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berhenti sesaat.

Kenangan lama kembali melintas.

Angka nol persen.

Tawa teman-teman sekolahnya.

Latihan sendirian sampai tubuhnya nyaris menyerah.

Pertarungan melawan BETA.

Wajah 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 yang menunggunya sadar di rumah sakit.

𝗔𝗺𝗺𝘆 yang memintanya pulang dengan selamat.

Dan 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 yang tidak pernah berhenti membantunya memperbaiki setiap kesalahan kecil.

Seluruh perjalanan itu membawanya ke tempat ini.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menatap kartu di tangannya.

ERVAN NOIR — PESERTA SELEKSI HUNTER

Dulu, ia hanya bisa menyaksikan orang lain melewati gerbang seperti ini.

Dulu, satu angka telah mengubur impiannya.

0%.

Namun sekarang...

Gerbang itu benar-benar terbuka di hadapannya.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengangkat wajah.

Tepat ketika ia hendak melangkah, suara seorang petugas terdengar dari dalam ruangan.

"𝘗𝘦𝘴𝘦𝘳𝘵𝘢 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘌𝘳𝘷𝘢𝘯 𝘕𝘰𝘪𝘳. 𝘚𝘪𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘫𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘷𝘦𝘳𝘪𝘧𝘪𝘬𝘢𝘴𝘪 𝘊𝘖𝘙𝘌."

Langkah 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 terhenti.

Jantungnya berdegup keras.

Setelah bertahun-tahun, ia kembali harus menghadapi pemeriksaan yang dulu selalu menghancurkan harapannya.

Tetapi kali ini ada yang berbeda.

CORE miliknya telah bangkit.

Dan sebentar lagi, perangkat resmi W.H.O akan menjadi saksi pertama dari perubahan itu.

𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menarik napas.

Kemudian melangkah melewati pintu.

Ujian Hunter dan impian lama yang pernah terkuburkini benar-benar berada di depan mata.

1
Renjana
keren👍
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊
ラマSkuy
nice 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!