Lyana Shaqiera, mahasiswi fakultas hukum.
Di tahun keduanya menempuh pendidikan, Qiera justru mendapat gelar baru. Bukan gelar Sarjana Hukum, melainkan "istri" dari dosennya, tepatnya dosennya yang sangat menyebalkan, Ravian Aryasatya?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syshy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAL20. Jangan Bergerak, Mas
Panggilan dari Arga yang berdering di atas meja akhirnya memotong percakapan di antara Ravi dan Qiera.
Ponsel di meja masih terus berdering. Qiera yang masih belum terima apa yang tadi dilakukan Ravi kepadanya ingin kembali protes.
“Mas...”
Ravi berdeham, berusaha mengembalikan ketenangannya. “Sudah, Lily. Saya tidak sengaja.”
“Aku tahu!”
“Bagus kalau kamu tahu.”
“Tapi kenapa Mas malah menjawab begitu?!”
“Lalu saya harus menjawab apa?”
Qiera membuka mulut, tetapi tidak menemukan jawaban. Wajahnya semakin panas. Ia ingin menyalahkan Ravi karena pria itu yang memulai, tetapi ia juga tidak bisa mengabaikan fakta bahwa dirinya sendiri yang tiba-tiba menoleh. Kalau saja ia tidak bergerak, kecupan itu pasti mendarat di pipi sebagaimana yang Ravi maksudkan.
Namun, pemikiran tersebut justru membuatnya semakin malu.
“Pokoknya, lupakan saja!” serunya sambil buru-buru berdiri.
Ravi menatapnya. “Lupakan apa?”
“Mas tahu maksudku!”
“Saya hanya ingin memastikan.”
“Mas Ravi!”
Qiera meraih ponselnya, lalu menjauh beberapa langkah sebelum menerima panggilan Arga. Ia berusaha mengatur napas dan menenangkan wajahnya agar tidak terdengar aneh saat berbicara.
Sayangnya, Ravi masih berada di sofa, menatapnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Ketika pandangan mereka sempat bertemu, Qiera langsung memalingkan wajah.
“Halo, Kak? Ada apa?”
Arga menjelaskan bahwa ia hanya ingin memastikan Qiera menerima pembaruan jadwal rapat BEM. Besok pagi mereka harus membahas perkembangan laporan sekaligus mempersiapkan agenda koordinasi berikutnya.
Qiera mendengarkan sambil berusaha memusatkan perhatian, meskipun pikirannya berkali-kali kembali pada kejadian yang baru saja berlangsung.
“Iya, aku sudah menerima pesannya. Besok aku datang lebih awal,” jawabnya. “Kalau ada perubahan dokumen, kirim saja malam ini. Nanti aku periksa.”
Setelah percakapan berakhir, Qiera masih berdiri membelakangi Ravi. Ia baru berani menoleh ketika mendengar suara halaman buku dibalik dari sofa.
Ravi kembali membaca seolah tidak terjadi apa-apa.
Qiera menatapnya tidak percaya. “Mas?”
“Ya?”
“Mas bisa santai begitu?”
Ravi mengangkat wajah. “Saya harus bagaimana?”
“Entahlah! Terserah Mas!”
“Kalau begitu, saya memilih membaca.”
Qiera mengembuskan napas kesal. “Mas benar-benar menyebalkan!”
“Bukankah itu sudah kamu ketahui sejak awal?”
Jawaban tersebut membuat Qiera terdiam. Benar. Ia memang sudah menganggap Ravi menyebalkan sejak hari pertama mereka bertemu sebagai dosen dan mahasiswa.
Namun, beberapa minggu terakhir, label itu terasa semakin tidak cukup untuk menjelaskan pria di hadapannya. Ravi bisa membuatnya kesal dalam hitungan detik, tetapi juga mampu membuatnya merasa aman hanya dengan satu kalimat sederhana.
Dan sekarang, pria itu baru saja mencium bibirnya. Meski tidak sengaja.
Qiera buru-buru masuk ke kamar sebelum pikirannya melantur lebih jauh. Ia tidak ingin memberikan kesempatan kepada Ravi untuk menggodanya lagi, terutama ketika wajahnya sendiri belum juga kembali normal.
Di ruang tengah, Ravi menurunkan bukunya perlahan.
Ia sebenarnya juga belum bisa melupakan kejadian tadi. Bayangan wajah Qiera ketika mereka tanpa sengaja bersentuhan terus muncul di benaknya, membuatnya beberapa kali kehilangan fokus membaca. Ia mengusap wajah dengan satu tangan, lalu menyandarkan kepala ke sofa.
“Ini akan jadi masalah,” gumamnya pelan.
Masalahnya bukan semata-mata kecupan itu, melainkan kenyataan bahwa ia mulai menginginkan kedekatan yang lebih dari sekadar kewajiban sebagai suami.
Dan itu jauh lebih sulit dihadapi daripada rasa cemburu yang sejak tadi mati-matian ia sangkal.
...⛅⛅⛅...
Pagi berikutnya, Qiera terbangun dengan satu tekad, ia akan bersikap biasa saja.
Kejadian semalam tidak akan dibahas lagi. Ia tidak akan mengingatnya ketika melihat Ravi. Ia tidak akan memikirkan bagaimana bibir mereka bersentuhan secara tidak sengaja.
Dan yang paling penting, ia tidak akan membiarkan pria itu menyadari bahwa dirinya masih malu setengah mati.
Tekad tersebut bertahan tepat sampai ia beranjak dari ranjang dan mendapati Ravi berdiri di depan cermin dalam kamar mandi. Qiera hampir lupa, bahwa hari ini suaminya itu akan kembali menjadi dosennya.
Pria itu mengenakan kemeja putih dengan lengan yang belum dikancingkan sepenuhnya. Rambutnya masih sedikit basah setelah mandi, sementara sebuah alat cukur terletak di dekat wastafel. Ia sedang memeriksa bagian rahang di depan cermin, tampaknya hendak merapikan janggut tipis yang mulai tumbuh.
Qiera berhenti di ambang pintu kamar mandi.
Ravi menoleh melalui pantulan cermin. “Pagi, Lily.”
“Pagi, Mas.”
“Tumben bangun lebih awal.”
“Aku ada kelas pagi.”
“Bukankah kelas pertamamu pukul sembilan?”
Qiera mengerjap. “Mas tahu jadwal kuliahku?”
Ravi tampak menyadari kesalahannya sendiri. Ia segera mengambil alat cukur dan memeriksa bilahnya. “Kamu pernah menyebutkannya.”
Qiera mengerutkan kening, tetapi tidak sempat mengejar jawaban karena perhatian Ravi kembali tertuju pada wajahnya. Ia mengoleskan krim cukur tipis-tipis pada bagian rahang, kemudian mulai merapikan rambut halus di sekitar dagunya.
Baru beberapa gerakan, ia menghentikan tangannya untuk mengubah posisi cermin.
Qiera langsung mendekat. “Mas mau cukur sendiri?”
Ravi menatapnya melalui cermin. “Memangnya saya harus meminta bantuan?”
“Mas masih terluka. Gerakan tangan yang terlalu jauh bisa membuat punggung Mas terasa sakit.”
“Yang terluka punggung saya, bukan tangan saya.”
Kalimat itu membuat Qiera menyipitkan mata. “Mas masih ingat kalimat itu, ya?”
“Saya tidak mungkin melupakan omelan istri sendiri.”
“Kalau begitu, sini. Biar aku yang mencukur.”
Ravi menoleh sepenuhnya. “Tidak perlu.”
“Perlu. Mas duduk saja.”
“Lily, saya bisa melakukannya sendiri.”
“Dan aku bisa membantu. Jadi, kenapa harus diperdebatkan?”
Ravi hendak menjawab, tetapi Qiera sudah mengambil alat cukur dari tangannya. Perempuan itu menunjuk kursi kecil di dekat wastafel dengan ekspresi serius, seolah sedang memberi instruksi kepada mahasiswa yang tidak mau mengikuti prosedur.
“Duduk, Mas.”
Ravi memandangnya beberapa saat sebelum akhirnya menurut. “Kalau saya terluka karena kamu, siapa yang bertanggung jawab?”
Qiera langsung menatapnya tajam. “Mas mau aku kembalikan alat cukurnya?”
“Tidak. Silakan lanjutkan.”
Qiera mulai merapikan bagian rahang Ravi dengan gerakan perlahan. Awalnya, ia merasa semuanya berjalan cukup mudah. Ravi duduk tenang di kursi kecil dekat wastafel, sesekali memiringkan kepala mengikuti arah tangannya, sementara Qiera berusaha mempertahankan ekspresi serius seolah sedang melakukan pekerjaan yang sudah dikuasainya selama bertahun-tahun.
“Sedikit ke kiri, Mas.”
Ravi menurut.
“Sekarang angkat dagu sedikit.”
Ravi kembali mengikuti instruksinya, lalu melirik perempuan yang berdiri di hadapannya. “Kamu yakin tidak ingin mengambil kursus mencukur terlebih dahulu?”
Qiera langsung mendelik. “Kalau Mas terus mengganggu konsentrasiku, aku benar-benar akan berhenti.”
“Baik. Saya diam.”
“Bagus.”
Ravi menutup mulut, meskipun senyum tipis masih tertinggal di wajahnya. Qiera kembali memusatkan perhatian pada pekerjaannya, merapikan bagian pipi dengan hati-hati sebelum beralih ke garis rahang.
Ia begitu serius hingga tidak menyadari bahwa Ravi sesekali memperhatikannya lebih lama daripada yang diperlukan.
Namun, ketika Qiera menggerakkan alat cukur di dekat dagu Ravi, tangan kirinya sedikit bergeser. Gerakannya tidak sengaja terlalu cepat, membuat ujung alat cukur menyentuh kulit dan meninggalkan goresan kecil.
Ravi spontan menarik napas.
Qiera langsung menghentikan tangannya. “Mas?”
Ravi menyentuh dagunya dengan ujung jari, lalu melihat sedikit noda merah di sana. “Sepertinya kamu berhasil memberikan tanda di rahang saya.”
Wajah Qiera seketika berubah. “Ya ampun, Mas! Aku melukaimu?”
“Sedikit saja.”
“Kenapa Mas tidak bilang kalau aku terlalu dekat?”
Ravi mengangkat alis. “Bukankah sejak tadi kamu sendiri yang menyuruh saya diam dan tidak bergerak?”
“Mas, ini bukan waktunya bercanda!”
Kepanikan Qiera membuat Ravi mengurungkan niat untuk menggodanya lebih jauh. Ia membiarkan istrinya mengambil kapas dan memeriksa goresan kecil di dagunya. Luka itu tidak serius, tetapi Qiera tetap terlihat begitu khawatir sampai alisnya bertaut.
“Masih perih?” tanyanya.
“Sedikit.”
Qiera meniup luka itu secara refleks, berharap bisa mengurangi rasa perih yang dirasakan Ravi. Tiupannya lembut dan singkat, dilakukan begitu spontan hingga ia sendiri baru menyadari tindakannya setelah beberapa detik berlalu.
Ravi terdiam.
Jarak wajah mereka begitu dekat. Qiera masih menunduk, memperhatikan goresan kecil di dagunya, sementara Ravi justru memperhatikan wajah istrinya yang terlihat sungguh-sungguh khawatir.
Ada kelembutan dalam gerakan sederhana itu yang membuatnya lupa bahwa beberapa saat sebelumnya mereka masih saling berdebat.
“Sudah agak mendingan?” tanya Qiera sambil mengangkat wajah.
Tatapan mereka bertemu.
Qiera baru menyadari betapa dekat posisi mereka. Ia bisa melihat jelas sorot mata Ravi, bahkan senyum samar yang perlahan muncul di bibir pria itu. Seketika, ingatan tentang kecupan mereka semalam kembali menyerbu pikirannya.
Ia buru-buru menjauh setengah langkah. “Aku ambil antiseptik dulu!”
Namun, sebelum sempat berbalik, Ravi menahan pergelangan tangannya dengan lembut.
“Lily.”
Qiera berhenti, tetapi belum berani menatapnya. “Apa, Mas?”
“Terima kasih.”
“Hanya karena aku mengobati luka kecil?”
“Bukan hanya itu.”
Qiera akhirnya mengangkat wajah. Ravi menatapnya dengan ekspresi yang jauh lebih lembut daripada biasanya. Tidak ada godaan yang berlebihan, tidak ada komentar menyebalkan yang biasanya membuat Qiera ingin mengomel.
Hanya ucapan terima kasih sederhana yang entah mengapa membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
“Kalau Mas masih menggodaku, aku tidak mau mencukur lagi,” gumam Qiera, berusaha menyelamatkan diri dari kecanggungan.
Ravi tersenyum. “Baik. Saya akan menjadi pasien yang patuh.”
“Serius?”
“Serius.”
Qiera kembali mendekat untuk membersihkan goresan itu. Kali ini, ia bergerak jauh lebih hati-hati, sementara Ravi menuruti setiap instruksinya tanpa protes. Setelah memastikan lukanya sudah dibersihkan, Qiera menempelkan kapas kecil pada dagu Ravi dan menghela napas lega.
“Nah, selesai. Lain kali, jangan banyak bergerak.”
“Saya tidak bergerak.”
“Jangan banyak bicara juga.”
“Baik.”
Qiera merapikan peralatan cukur dengan wajah puas, merasa tugasnya akhirnya selesai tanpa menimbulkan masalah yang lebih besar. Namun, ketika ia hendak pergi, Ravi kembali memanggilnya.
“Lily.”
“Apa lagi, Mas?”
Ravi menatap kapas kecil yang menempel di dagunya, lalu kembali menatap Qiera. “Kalau saya terluka lagi, apa kamu akan meniupnya?”
Qiera membeku. Beberapa detik kemudian, wajahnya memerah hingga ke telinga.
“MAS RAVI!”
Tawa Ravi seketika pecah, meskipun ia segera menahannya agar tidak membuat punggungnya terasa sakit. Qiera hanya bisa menggeleng sambil membawa peralatan cukur menjauh, mengomel bahwa mulai besok ia tidak akan membantu suaminya melakukan apa pun.
Namun, sebelum benar-benar keluar dari kamar mandi, ia sempat menoleh sekali lagi untuk memastikan Ravi tidak menyentuh dagunya.
Dan Ravi, yang menangkap perhatian kecil itu, hanya tersenyum diam-diam.
Goresan di dagunya mungkin akan hilang dalam satu atau dua hari. Akan tetapi, perhatian spontan Qiera barusan terasa jauh lebih sulit dilupakan daripada luka apa pun.
.
.
To be continued
See you🍀
saling support yuk,
biar semangat nulisnya😊