Linggar Angkasa adalah seorang pria yang sudah memiliki istri, menjalin cinta terlarang dengan seorang wanita yang tidak lain adalah karyawannya sendiri, istrinya seorang model majalah yang sering berada di luar kota.
Tania... wanita berusia 25 tahun yang menjabat sebagai sekretaris perusahaan retail,, atas dasar cinta, dia rela menjadi simpanan dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
3 tahun menjalin asmara tanpa kepastian kemana arah hubungan akan berlabuh, tiada hari tanpa desahan, kepuasan dan... cinta bertepuk sebelah tangan.
Jalinan cinta terlarang keduanya membuahkan hasil... tanpa ikatan... tanpa tuntutan... yang ada hanya sebuah kesadaran dari kesalahan...
Apakah Tania dan Linggar akan tetap bertahan? ataukah Tania mundur dan memutuskan hidup tanpa perlindungan...
Selamat membaca ya guys... semoga terhibur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi ars, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Byurrrr!!!
Ombak di pantai anyer Bersahutan seolah menyambut kehadiran Linggar.
Tidak membuang waktu... Linggar langsung mendatangi villa tempat mereka menghabiskan peluh beberapa hari yang lalu. tapi.... Nihil.
Linggar berjalan menyusuri pantai Anyer, lalu dia terduduk memandang laut lepas.
"Dia pergi... Tanpa jejak. Dia meninggalkan aku tanpa pesan sedikitpun." kata Linggar dalam hati.
Lalu Linggar tersenyum...
" Bodohnya aku tidak menyadari kode darimu Nia. Kamu memintaku menemanimu 1 hari disini, sebab kamu sudah merencanakan pergi dariku." gumam Linggar.
" Baiklah... Ini kehendakmu Tania, mari kita saling melupakan. Hubungan kita hanya persinggahan. Kamu pergi dariku tanpa jejak dan pesan, aku juga akan melupakanmu bahkan bayanganmu pun tidak ku ijinkan hadir menghantui hidupku." tutur Linggar sambil berdiri dan berjalan menjauhi pantai Anyer.
Melewati villa yang pernah mereka sewa, Linggar berhenti sejenak...
" Suatu saat nanti jika kita bertemu, aku dan kamu adalah orang lain, dinding villa menjadi saksi terakhir kita berbagi saliva, peluh dan desahan. Kini... villa ini saksi bisu perpisahan kita yang tak akan pernah tercatat apa lagi terulang dalam sejarah!" kembali Linggar bertutur kata sambil memandangi vila.
Lalu... Linggar memasuki mobil, dan meninggalkan area tersebut dengan jutaan kenangan, serta senyum pahit dan sinis dia kembangkan.
Keesokan harinya... Seorang security mendatangi ruangannya.
" Selamat Pak Linggar, maaf saya menghadap tanpa persetujuan Bapak" Tutut security setelah Linggar mempersilahkan dia masuk.
" Tidak apa apa pak Tatang, ada keperluan apa sampai bapak mendatangi ruangan saya? " tanya Linggar.
Bukan Linggar angkuh menanyakan kehadiran security itu, tetapi... jika memang ada masalah yang berhubungan dengan pekerjaan, security harusnya menghadap komandan mereka terlebih dahulu.
" Maaf pak Linggar, saya hanya ingin memberikan kotak ini, kotak ini saya terima dari Bu Tania, tetapi keesokan harinya, saya sakit dan opname, dan baru teringat perihal kotak ini tadi malam. Sebenarnya Bu Tania berkata bahwa kotak ini akan di ambil oleh bu Friska, tetapi tadi saya baru mendapat kabar kalau Bu friska sudah resign, jadi kotak berisi kontak mobil Bu Tania ini, saya berikan saja kepada anda." security memberi penjelasan sejelas jelasnya agar dia tidak di salahkan. Sebab memang dia tidak tahu apa apa mengenai persoalan Bos nya.
Linggar mengambil koyak dan membukanya, ternyata berisi kontak mobil dan card lock akses. Linggar memegang erat kedua benda tersebut.
Mobil itu dia belikan sebagai hadiah ulang tahun Tania , dan apartemen dia belikan atas nama dia sebagai penghargaan bahwa wanita yang telah memberikan kegadisannya itu, akan selalu ada untuknya.
" Dimana mobil itu? " tanya Linggar.
" Masih ada di tempat parkir perusahaan pak" jawab security.
Lalu Linggar mengembalikan kunci mobil tersebut pada security.
" Mobil itu sekarang milikmu. Keluarlah." kata Linggar sambil kembali duduk di kursinya.
Security tersebut terpaku dan tetap berdiri di tempatnya. Dia tidak paham apa maksud bos tampannya itu.
" maaf pak Linggar, saya tidak paham maksud bapak" kata security.
Linggar menahan emosi karena menganggap security tersebut lelet.
" Mobil yang biasa dikendarai Tania, sekarang milik anda pak tatang, saya berikan pada anda. Jelas??, apa perlu saya panggilkan komandan anda untuk membantu memberikan penjelasan??!!!" Kata Linggar dengan penekanan.
" Siap pak Linggar, saya paham. Mohon maafkan saya" Security atas nama Tatang tersebut langsung undur diri, dia tidak ingin terkena amukan pemilik perusahaan tempatnya bekerja.
Pak Tatang berjalan sambil melamun, dia tidak percaya atas rizki yang dia dapatkan, hingga tidak sengaja tubuhnya bertabrakan dengan Angga yang juga berjalan dengan tergesa gesa.
" Apa yang membuat anda tidak fokus pak?" tanya Angga.
" Pak Angga... Alhamdulillah bertemu dengan anda. Pak Angga... Mohon bantu saya. Kelihatannya Pak Linggar sedang tidak sehat badan. Tiba tiba beliau memberi saya mobil." kata pak Tatang dengan ekspresi kekhawatiran tampak di wajah nya.
" mobil??" Angga membeo.
" Iya pak " jawab Pak Tatang.
Lalu pak Tatang menceritakan semuanya, tanpa ada yang terselip sedikitpun.
" Bapak bawa dulu kunci mobilnya, saya tanyakan pada pak Linggar apa maksud beliau" jawab Angga.
" Tapi pak... Saya jujur. Saya tidak tahu apa apa... saya membutuhkan pekerjaan pak... Bukan mobil. ini saya kembalikan" ucap Tatang.
" Bapak tenang dulu, silahkan kunci mobil di bawa dan tunggu informasi selanjutnya. Bapak biaa kembali ke pos sekarang" kata Angga.
Setelah berkata semikian, Angga mauk kedalam lift khusus dan langsung menuju ruangan Linggar.
" Sejak kapan anda tidak memiliki sopan pak Angga?? " kalimat pertama yang menyambut Angga.
" Sejak bos saya menjadi gila" jawab Angga.
" kenapa mobil Tania kamu berikan pada security?, itu akan menimbulkan kecemburuan sosial" kata Angga dengan gemas.
" Mobil itu milik Tania, dia sudah memberikannya pada security, salahku di mana?" jawab Linggar.
" Sudahlah, tidak perlu membahas hal yang tidak penting, kerjakan saja pekerjaanmu" jawab Linggar.
" Kamu mencintai Tania Linggar." kata Angga.
" Tidak!!!. Tidak ada wanita selain Maya dalam hidupku!!" tegas Linggar.
" Yang jelas kamu mencintai Tania. Dan itu fakta yang mencoba kamu hindari, hanya karena dia pergi darimu. " tekan Angga.
" Keluar dari ruanganku dan kerjakan tugasmu. Mulai hari ini tidak ada yang boleh menyebut nama Tania di perusahaan ini!! Dan yang melanggar kamu pecat!!! " usir Linggar.
Angga tidak menjawab dan keluar dari ruangan Linggar.
" Dasar tidak waras. jangan sampai kamu menyesal!! Jika suatu saat kamu menyesali ucapan dan perbuatanmu, aku orang pertama yang akan menertawaimu!! " gerutu Angga.
Sedang di dalam ruangan, Linggar kesal setengah mati. Dia menghubungi istrinya berkali kali tetapi juga tidak tersambung.
" pekerjaan seperti apa sebenarnya yang kamu lakoni maya, mengapa menghubungimu begitu sulit" gumam Linggar.
Sejujurnya dia belum bisa melupakan Tania, tetapi entah kenapa dia menjadi sebal jika mengingat nama tersebut.
" Keruanganku" pesan masuk ke ponsel Angga.
" Tadi aku di usir, sekarang di suruh keruangan dia, nasiiib jadi bawahan, di lempar sana sini." gerutu Angga.
Tok tok tok
" Masuk" jawab Linggar melalui intercom.
" Apakah ada yang bisa saya bantu pak?" Tanya Angga.
" Ayolah... Jangan bersikap formal di sini. Maafkan aku ya." ucap Linggar pada sahabat dan juga asistennya.
Angga diam tanpa senyuman, dia masih jengkel karena di usir. Lalu Linggar menarik Angga untuk duduk, dan Angga masih bersikap jual mahal.
" Jam berapa kita meeting Ga? " kata Linggar sambil senyum senyum.
" jam 1 siang." jawab Angga singkat.
Bukannya tersinggung Linggar malah ketawa, dia merasa menghadapi perempuan yang PMS.
" Berhenti mencari Tania Ga." kata Linggar kemudian.
Angga mengerutkan kening, heran kenapa tiba tiba Linggar menghentikan pencarian pada Tania.
" Tania pergi atas keinginannya, jadi biarkan. Toh hubungan aku sama dia tidak seserius itu hingga harua mencarinya kemana mana, Tania tidak sespesial itu." Linggar berkata seolah paham arti kerutan di kening Angga.
" Lalu... Bagaimana dengan Maya" tanya Angga.
" Dia belum bisa aku hubungi, mungkin masih sibuk dengan film terbarunya. " jawab Linggar dengan santai.
Angga hanya tersenyum sinis menanggapi ucapan Linggar. Dia hanya akan bergerak jika di minta, walaupun dia mengetahui sesuatu sekalipun.
" Dalam waktu dekat, aku ingin kamu mencarikanku sekretaris baru, aku ingin kamu mencari sekretaris laki laki saja. Malas berurusan dengan makhluk Tuhan yang paling benar sendiri. " lanjut Linggar.
Angga hanya menganggukkan kepala tanda menyetujui. Memang lebih baik laki laki agar tidak di jadikan partner ranjang. Begitu pikir Angga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selamat membaca ya guys, like, komen dan follow kalian adalah semangatku dakan berkarya. Terimakasih...
krna km berulang kali mngatakn tak menginginkn ank dri rahim tania.... bhkn klo smpe tania hamil... km dgn enteng mgatakn untuk digugurkn...🙄🙄
eeee istri yg di bela"in.... taunya mndua😂😂😂😂
yg hncur km ato tania.....
tania saat ini sedih dan trluka.... tpi kelak saat anknya lahir.... dia punya pngobat luka....
sdangkn kamu linggar..... bhagia nggk ... tpi kecewa... trnyata perempuan yg km prioritaskn... km cintai ugal"an... nyatanya sm berhiantnya sprtimu di belakangmu....