Tiga tahun lalu, Maya seorang gadis desa yang polos dan tulus melangkah ke kota membawa impian sederhana: membangun keluarga kecil yang bahagia bersama suaminya. Mengabdi penuh sebagai istri dan menantu, Maya dengan sabar menelan setiap cemoohan, perbedaan perlakuan, dan sikap pilih kasih dari sang ibu mertua yang selalu mengagung-agungkan menantu kayanya.
Bagi Maya, diam dan mengalah adalah kunci keharmonisan. Namun, kepasrahannya justru dimanfaatkan. Di rumah itu, Maya tak lebih dari seorang pelayan yang tenaganya diperas, sementara hak dan perasaannya terus diinjak-injak oleh keluarga parasit yang manipulative. Ketika masalah besar datang dan pengorbanannya kembali dibalas dengan pengkhianatan serta tuduhan keji, mata Maya akhirnya terbuka: kesabaran tanpa batas hanya akan membunuhnya perlahan.
Kini, Maya harus memilih: tetap bertahan dalam cengkeraman keluarga mertua yang toxic demi mempertahankan rumah tangganya, atau memberanikan diri patah arah untuk melepaskan jerat belenggu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arisan
Keesokan harinya, di pagi buta. Maya bangun dengan kondisi tubuh yang terasa sedikit lebih segar dibanding kemarin, meski sisa-sisa rasa mual itu masih sesekali mampir.
"Apa karena masuk angin ya dari kemarin badan tidak enak begini?" gumam Maya pelan sambil melangkah keluar kamar.
Tanpa buang waktu, Maya bergegas menyelesaikan tugas-tugas rumah seperti biasanya. Namun, saat ia sedang sibuk mencuci piring di dapur, pendengarannya menangkap suara pintu depan yang terbuka perlahan.
Khawatir ada pencuri yang masuk, Maya refleks bersembunyi di balik ceruk tangga dan mengintip waspada. Matanya membelalak kaget saat melihat sosok Pak Hendra berjingkat masuk, masih mengenakan kemeja rapi kemarin dengan rambut yang sedikit berantakan.
Setelah memastikan Pak Hendra naik ke lantai dua tanpa memergokinya, Maya kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia melirik jam dinding di dapur.
"Sudah jam lima pagi, Bapak baru pulang... Ah, terserah deh," gumam Maya menggeleng pelan, enggan ambil pusing dengan urusan mertua prianya itu.
Pekerjaan rumah baru benar-benar selesai saat hidangan sarapan siap tertata rapi di atas meja makan. Tepat saat piring terakhir diletakkan, Santi dan Mansur tampak turun ke bawah.
"Sepagi ini ya, Mas, berangkatnya?" tanya Santi yang masih mengenakan piyama sutranya.
"Iya, kan ke kantor cabang lumayan jauh. Nanti klien kelamaan menunggu aku," kata Mansur yang sudah rapi dengan setelan kerjanya.
Tak lama kemudian, Rara yang juga masih berpiyama muncul sambil mengucek mata, disusul oleh Bu Rika dan Arya.
"Mas Mansur, mana uangnya?" tagih Rara langsung menengadahkan tangan tanpa rasa canggung.
Mansur membuka dompet tebalnya, lalu menarik lima lembar uang seratus ribuan dan menyerahkannya pada Rara.
Melihat pemandangan itu, mata Bu Rika seketika berbinar cerah. Ia bergegas mendekat dengan wajah mengembang. "Nak, Ibu juga mau dong... Hari ini Ibu mau pergi arisan," pintanya.
Mansur tanpa ragu menyerahkan uang dengan nominal yang sama pada ibunya.
Dari sudut dapur, Maya melirik sedikit ke arah mereka. Matanya menangkap raut wajah Santi yang mendadak berubah masam melihat suaminya begitu mudah menghamburkan uang untuk adik dan ibunya.
Sial bagi Maya, Bu Rika memergoki lirikannya. "Apa kamu lihat-lihat?! Dasar menantu mata duitan!" semprot Bu Rika tajam.
"Makanannya sudah siap, Bu. Nanti dingin," sahut Maya tenang, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Bilang saja kamu kepengin juga kan uang ini?" cibir Bu Rika seraya mengibas-ngibaskan lima lembar uang merah di depan wajah Maya. "Makanya kerja!"
Maya hanya bisa menghela napas panjang melihat kelakuan mertuanya. Dia sedang menyindir dirinya sendiri apa bagaimana? batin Maya heran.
Meski hatinya sudah membeku sepenuhnya untuk Arya, Maya tetap melayani suaminya itu. Bagaimanapun juga, statusnya saat ini masih seorang istri dan ia masih berniat menjalankan kewajibannya secara wajar demi menjaga situasi tetap aman sampai tabungannya cukup.
"Ini, Mas," ucap Maya pelan seraya menyerahkan piring yang sudah diisi nasi dan lauk.
Arya tersenyum manis menatap Maya. Namun, senyuman yang dulu selalu sanggup mendebarkan dadanya itu kini tak lagi berarti apa-apa. Rasa cinta Maya sudah lenyap tanpa bekas.
"Bapak mana, Bu?" tanya Rara di sela kunyahannya.
"Bapak masih tidur," sahut Bu Rika santai.
"Memangnya Bapak pulang jam berapa?" tanya Arya penasaran.
"Tidak tahu, mungkin tengah malam," jawab Bu Rika seadanya.
Maya yang mendengar percakapan itu hanya bungkam. Sarapan pagi itu berjalan cukup tenang tanpa perdebatan panjang. Usai makan, Arya berpamitan pada Maya dan berangkat kerja.
Namun, begitu mobil Arya menghilang dari pekarangan, Bu Rika langsung kembali ke mode aslinya.
"Maya! Cepat kamu siap-siap!" perintah Bu Rika bernada galak.
"Mau ke mana, Bu?" tanya Maya.
"Pakai nanya! Ya ke arisan lah!" sahut Bu Rika ketus.
Seperti biasa, setiap kali menghadiri acara arisan kompleks, Bu Rika selalu mengajak Maya. Bukan karena sayang atau ingin mengenalkan menantunya, melainkan untuk dijadikan bahan perbandingan, dihina di depan teman-temannya, serta dimanfaatkan sebagai tukang bonceng sepeda motor.
Bu Rika lalu menoleh pada menantu kesayangannya dengan nada yang drastis berubah lembut. "Santi mau ikut juga? Bosan kan di rumah sendirian?"
Santi yang melihat kesempatan emas untuk disanjung dan bertingkah bak ratu di depan ibu-ibu kompleks langsung mengangguk setuju. "Boleh deh, Bu."
Beberapa saat kemudian, ketiganya sudah berdiri di depan pagar rumah menunggu taksi online. Pemandangan pagi itu tampak begitu kontras, Bu Rika dengan perhiasan hebohnya, Santi dengan pakaian necis bermerek, dan Maya yang tampil sangat sederhana.
Begitu taksi datang, Bu Rika tanpa perasaan langsung melemparkan tas mewahnya ke arah Maya. Seperti biasa, Maya diperlakukan tak ubahnya seorang pembantu pribadi yang bertugas membawakan barang-barang sang majikan.