NovelToon NovelToon
Kurebut Istri yang Ia Kurung

Kurebut Istri yang Ia Kurung

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Isabel Coração

Di malam ia ingin mengabarkan kehamilannya, Amelia justru menyaksikan suaminya memamerkan kekasih yang sedang hamil, dengan kembang api yang dulu dijanjikan untuknya.

Arga Wiratama sang miliarder teknologi tak sekadar mengkhianati. Rekening Amelia diblokir, kariernya dihapus diam-diam, dan rumah mewah mereka dipasangi kamera di setiap sudut. Maka Amelia kabur membawa satu tas kecil, satu rahasia di dalam perutnya, dan nama yang masih ia punya.

Di Surabaya, pintu yang selama tiga tahun terkunci tiba-tiba terbuka. Di baliknya berdiri Fariz Mahardika, mantan aktor, pewaris keluarga berpengaruh, lelaki tenang yang selalu memutar tasbih di jarinya dan seolah mengenal Amelia jauh sebelum mereka bertemu. Ia menolong tanpa menagih. Tapi dunia di sekelilingnya tidak sebersih senyumnya.

Arga tak mau melepaskan. Ibunya punya rencana lain. Dan ada kebenaran tentang siapa Amelia sebenarnya, yang mulai merembes dari rumah-rumah bersalin tua dan foto-foto yang wajahnya begitu mirip dengannya.

Bisakah seorang perempuan yang pernah dikurung merebut kembali hidupnya, melindungi anak yang ia sembunyikan, dan memilih siapa yang pantas dicintai, tanpa lagi menjadi sandera siapa pun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isabel Coração, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

POV: Fariz

Namaku Fariz Mahardika. Dunia mengenalku sebagai pewaris dan mantan aktor sinetron, si "suci" yang ke mana-mana membawa tasbih. Tak ada yang tahu bahwa di balik wajah Grup Mahardika, keluargaku menguasai dunia kejahatan, dan akulah tangan yang mengeksekusinya.

Aku tiba di Vila Kenjeran ketika laut sudah gelap. Bagas, tangan kananku, menunggu di pintu seperti biasa, kedua tangan terlipat di depan dan laporan sudah tersusun di kepalanya.

"Dia sudah tanda tangan," kataku.

"Saya dengar." Dia menutup pintu di belakangku. "Dan sepertinya dia kurang suka karena semuanya dipermudah. Produsernya menelepon curiga, bertanya apakah kita punya 'kepentingan khusus' pada aktris itu."

"Dia curiga pada semua yang gampang." Kulepas jas, kulempar ke kursi. "Bagus. Artinya dia belajar pelajarannya dengan cara paling pahit. Perempuan yang percaya pada pintu yang terbuka sendiri itu perempuan yang belum cukup dihajar hidup. Lia sudah terlalu sering dihajar."

Aku naik ke ruang kerja. Di salah satu dinding, terlindung kaca, tergantung satu-satunya benda yang berarti di rumah ini: bukan lukisan. Sepotong wol. Syal rajut yang belum rapi, jahitannya miring, berwarna anggur yang sudah pudar dimakan waktu.

Bagas menyusul dengan tablet.

"Aurora mencairkan satu dana lagi untuk studio hari ini," katanya. "Seperti yang Mas minta. Tanpa nama Aurora di mana pun."

"Tanpa namaku juga."

"Tanpa nama Mas juga." Dia menggeser jari di layar. "Tiga tahun membiayai karier seorang perempuan yang tak pernah tinggal, Mas Fariz. Setiap kali suaminya menjatuhkan kontrak di Jakarta, Aurora membeli yang lain secara diam-diam. Setiap agensi yang melepasnya, kita carikan yang lain yang tak pernah bilang uangnya dari siapa." Dia berhenti. "Mas tak akan pernah memberitahuku alasannya, kan?"

Aku berjalan ke kaca dan menatap syal itu.

Umurku sembilan tahun. Malam itu badai, jenis yang menenggelamkan seluruh kampung pinggiran, dan aku berada di tempat yang tak seharusnya, jauh dari rumah, lutut terluka, tubuhku gemetar oleh demam dan dingin. Keluargaku belum seperti sekarang, tapi sudah punya musuh, dan seorang anak Mahardika sendirian di jalan adalah anak yang bisa saja tak pulang. Aku terpisah dari iring-iringan keluarga dalam kekacauan yang tak kupahami, dan akhirnya meringkuk di tebing di bawah kanopi toko, takut pada segalanya, menunggu mati.

Seorang anak perempuan yang menemukanku. Usianya mungkin dua belas, kurus, bersandal jepit, rambut diikat karet gelang. Dia berjongkok di sebelahku dan tidak takut padaku.

"Kamu dingin banget," katanya. Lalu dia melepas syal wol dari lehernya, jelek, hangat, dan melilitkannya padaku. "Pakai ini. Aku sendiri yang bikin. Jadinya miring, tapi hangat."

"Nanti kamu kedinginan," kataku, dengan gigi gemeletuk.

"Aku tahan dingin. Kamu kayaknya nggak."

Dia menemaniku. Menggenggam tanganku, mengoceh hal-hal konyol supaya aku teralih, menyanyikan pelan lagu tema sinetron yang waktu itu sedang tayang, lagu pembuka yang semua orang hafal. Ketika orang-orang keluargaku akhirnya menemukanku, dengan mobil-mobil hitam dan senjata-senjata itu, dia sudah lari ketakutan, dan aku tak sempat tahu namanya. Aku hanya memegang syal itu dan ingatan tentang seorang gadis yang tak takut pada seorang bocah yang seharusnya ditakuti seluruh dunia.

Butuh bertahun-tahun bagiku untuk tahu siapa gadis itu. Dan ketika akhirnya tahu, dia sudah menjadi Amelia Pramesti, aktris, istri seorang pria yang mengurungnya di rumah dengan kamera di setiap lorong.

"Kenapa," ulang Bagas pelan, karena dia cukup mengenalku untuk tahu pikiranku jauh. "Sudahlah. Tak perlu dijawab."

"Dia memberiku hangat ketika aku bocah yang tak dijamin akan melihat pagi," kataku, masih membelakanginya. "Dan dia menghabiskan hidup dikurung oleh lelaki yang menyebut kepemilikan itu cinta. Aku punya cara untuk mengubahnya. Hanya itu."

Bagas mengangguk. Dia tahu siapa aku. Dia tahu apa yang dilakukan keluarga ini di balik sinetron dan gedung-gedung. Dan meski begitu, ketika menyangkut dia, wajahnya berubah, nyaris melunak, seolah laki-laki sepertinya pun perlu percaya bahwa di suatu tempat di dunia ini ada sesuatu yang bersih.

"Suaminya," kataku. "Ceritakan soal suaminya."

Dia menggeser jari di layar dan ekspresinya mengeras.

"Arga Wiratama. Teknologi, pengusaha rintisan dari nol, pemilik Wiratama Tech, merek Nova. Asal-usulnya miskin, naik dari bawah. Rumah di Pondok Indah punya sistem pengawasan yang bukan untuk rumah, tapi untuk penjara. Kamera di setiap ruangan, pelacak di ponselnya, rekening bersama yang dia blokir di hari perempuan itu pergi. Karier Lia di Jakarta dikubur dari dalam, pelan-pelan. Itu perbuatannya."

Aku mengepalkan tangan. Butir tasbih di sakuku berbunyi kering.

"Dia pernah main tangan?"

"Sampai sekarang belum ada bukti kekerasan fisik. Tapi pengepungan itu pengepungan lelaki yang tak berniat melepas. Dan lelaki yang tak berniat melepas, begitu perempuannya pergi, berbuat nekat."

Aku beristigfar. Itu yang kulakukan ketika keinginan melakukan apa yang paling pandai dilakukan keluargaku naik ke tenggorokan. Kugeser butir tasbih satu per satu di antara jari, sampai tanganku berhenti gemetar. Ibuku mengajariku dua hal itu bersamaan, berdoa dan membidik, dan kadang kupikir dia tak pernah sadar akan kontradiksinya.

"Bagas." Suaraku kembali tenang, dan justru saat suaraku tenang orang seharusnya takut. "Aku mau satu orang di setiap langkah Arga Wiratama. Ke mana dia pergi, dengan siapa dia bicara, apa yang dia hirup. Lia akan membangun hidupnya di sini, dengan jerih payahnya, merasa semuanya dia lakukan sendiri. Dan lelaki itu tidak boleh mendekatinya lagi."

"Dan kalau dia mencoba?"

Kutatap syal di balik kaca, warna anggur pudar, jahitan miring seorang anak dua belas tahun.

"Maka wajah sah ini akan memberi ruang pada yang lain. Tapi itu urusanku."

Bagas menyimpan tabletnya. Dia hendak keluar ketika ponselnya berbunyi. Dia melihat layar, dan seluruh tubuhnya berubah.

"Kenapa," tanyaku.

"Arga Wiratama." Dia mengangkat mata. "Baru saja naik pesawat pribadi. Ke Surabaya. Sekarang."

Aku diam sejenak. Di luar, ombak Kenjeran memukul pelan, dan aku tahu mulai saat ini tak ada yang akan sederhana.

"Berarti dia sudah tahu di mana Lia," kataku. "Bagus. Biar dia belajar rasanya mendekati milikku."

Kuambil jasku lagi. Malam masih panjang, dan aku, yang seumur hidup menunggu gadis bersyal itu, tak akan membiarkan lelaki lain menyentuhnya lagi. Meski untuk itu aku harus sekali lagi menjadi persis seperti yang keluargaku jadikan aku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!