Jarot, sang penguasa dunia bawah tanah yang sedang menyamar untuk menikmati masa pensiun santainya, tanpa sengaja terseret ke dalam masalah saat ia menyelamatkan seorang pengusaha wanita bernama Nisa dari kepungan preman. Terkesima oleh kemampuan bertarung Jarot, Nisa langsung menyewanya dengan bayaran fantastis untuk menjadi pengawal pribadi tiga putri angkatnya—Lyly, Tata, dan Melly—gadis-gadis keras kepala yang selalu sukses mengusir pengawal mana pun dalam hitungan jam. Di balik kemewahan rumah tersebut, sebuah permainan rahasia yang konyol namun mematikan dimulai; ketiga nona muda itu berusaha menggunakan kemampuan rahasia mereka sebagai ratu Wall Street, master bela diri, dan peretas dewa untuk mengerjai Jarot, tanpa sadar bahwa pria santai yang sedang mereka hadapi adalah monster paling ditakuti di dunia bawah. Kini, sambil meladeni tingkah laku mereka, Jarot harus menggunakan insting pembunuhnya untuk membantai ancaman nyata dari rival bisnis Nisa yang mulai mendekat dari balik
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Tapi ia berusaha keras menutupi rasa lelahnya demi mempertahankan harga dirinya di depan Jarot.
"Kamu terlihat pucat, Mbak Lyly. Mau duduk juga di sebelah adik-adikmu?" tawar Jarot yang berdiri santai di dekat mereka.
Jarot masih menggendong semua tumpukan gunung barang belanjaan itu tanpa menurunkan satu kantong pun ke lantai.
Anehnya, tidak ada setetes pun keringat yang menetes dari pelipis pria urakan tersebut.
Bahkan nafas Jarot sama sekali tidak memburu layaknya orang yang baru saja membawa beban lebih dari lima puluh kilogram.
Mata Lyly melebar melihat kondisi fisik Jarot yang sangat tidak masuk akal tersebut.
"Kamu... Kamu tidak merasa capek sama sekali bawa barang sebanyak itu?!" tanya Lyly tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Capek sih lumayan, rasanya kayak lagi bawa beras satu karung waktu ada acara hajatan di kampung," jawab Jarot merendah dengan analogi konyol.
Jawaban itu jelas sebuah kebohongan besar karena membawa barang sebanyak itu dengan posisi tidak nyaman jauh lebih sulit dari memanggul beras.
"Orang ini benar-benar seperti monster fisiknya. Rencana kita gagal total lagi hari ini," batin Lyly merasa sangat kalah telak.
"Ya sudah, kita istirahat makan dulu di cafe depan sana," putus Lyly akhirnya menunjuk sebuah kafe mewah tidak jauh dari mereka.
Jarot mengangguk setuju dan berjalan mendahului mereka menuju kafe tersebut dengan langkah ringan.
Srek.
Saat sedang berjalan melewati sebuah pilar besar pembatas antar toko, sudut mata Jarot menangkap sebuah pantulan dari kaca.
Dari jarak sekitar dua puluh meter di belakang mereka, ada dua orang pria berjas abu-abu yang terus mengikuti.
Jarot sengaja memelankan langkahnya sedikit agar bisa mengamati kedua orang itu dari pantulan etalase kaca.
"Jas abu-abu yang sengaja dikancing penuh, sepatu kulit yang bagian solnya agak tebal, dan ada tonjolan kecil di balik dada kiri mereka," analisis Jarot dengan sangat cepat.
"Gaya berjalan mereka juga terlalu kaku untuk ukuran pengunjung mall biasa yang sedang bersantai," lanjut Jarot membaca gestur targetnya.
Jarot bisa memastikan seratus persen bahwa tonjolan di balik jas mereka adalah sebuah senjata api berkaliber kecil.
Kedua orang itu terlihat sedang berbicara pelan menggunakan alat komunikasi kecil yang terpasang di telinga mereka.
"Akhirnya ada mainan sungguhan yang datang setelah seharian bosan jadi kuli angkut," batin Jarot tersenyum tipis sangat misterius.
Jarot sama sekali tidak merasa panik atau terancam dengan keberadaan dua pengintai bersenjata tersebut.
Baginya, menghadapi pembunuh bayaran seperti mereka sama mudahnya dengan membuang sampah ke tempatnya.
"Hei pengawal! Jangan jalan terlalu cepat, kami tertinggal di belakang!" panggil Tata dengan nada kesal.
Jarot menoleh dan melihat ketiga nona majikannya itu berjalan sangat lambat karena kelelahan.
"Maaf, Nona-nona. Aku kira kalian tadi mau lomba lari di dalam mall," canda Jarot sambil menghentikan langkahnya menunggu mereka.
Mereka berempat pun akhirnya masuk ke dalam cafe mewah itu dan memilih meja di bagian sudut yang agak tertutup.
Jarot meletakkan semua barang belanjaan itu di lantai dengan sangat hati-hati hingga membentuk sebuah barikade kecil.
"Akhirnya bisa duduk juga," keluh Melly sambil menyandarkan kepalanya ke meja.
Lyly memesan minuman dingin dan makanan ringan kepada pelayan dengan suara yang agak serak.
"Kamu pesan apa? Aku yang bayar kali ini," tawar Lyly kepada Jarot dengan nada yang masih ketus.
"Aku pesan es teh manis satu gelas saja, yang ukuran paling besar ya," jawab Jarot sangat sederhana.
Lyly hanya memutar bola matanya malas mendengar pesanan murahan dari pengawal pribadinya itu.
Sambil menunggu pesanan datang, Jarot duduk menyandar dengan posisi membelakangi dinding kaca kafe.
Posisi duduk Jarot ini membuat ia memiliki sudut pandang luas untuk mengawasi seluruh pintu masuk dan area luar kafe.
Dari kejauhan, ia melihat kedua pria berjas abu-abu tadi sudah mengambil posisi duduk di restoran seberang.
Mereka berdua sedang berpura-pura membaca buku menu sambil terus mengawasi meja Jarot dan ketiga gadis tersebut.
"Mereka sepertinya belum akan menyerang di tempat seramai ini," pikir Jarot menganalisis situasi lapangan.
"Kemungkinan besar mereka hanya tim pengintai awal yang bertugas melaporkan posisi target ke pasukan utamanya," simpul Jarot dengan sangat akurat.
Jarot menyesap air putih gratis dari gelas kecil di depannya sambil menatap ketiga gadis yang masih terlihat kelelahan.
"Mbak Lyly, musuh bisnis Mama kalian itu kerjanya di bidang apa sih sebenarnya?" tanya Jarot tiba-tiba membuka obrolan serius.
Lyly mengernyitkan dahi merasa heran kenapa Jarot tiba-tiba bertanya soal hal rahasia keluarga mereka.
"Bukan urusanmu. Tugasmu cuma memastikan kami tidak mati di jalan, bukan mengurusi urusan bisnis," ketus Lyly menolak menjawab.
"Aku cuma penasaran saja. Soalnya metode kerja bawahan musuh kalian ini lumayan rapi juga," pancing Jarot dengan nada santai.
"Maksudmu apa bilang metode kerja mereka rapi?" tanya Tata yang mulai curiga dengan arah pembicaraan Jarot.
Jarot memutar gelas air putihnya pelan di atas meja.
"Coba kalian lirik sedikit ke arah restoran seberang kaca ini, tapi jangan sampai terlihat menoleh terlalu kentara," perintah Jarot dengan suara pelan namun sangat serius.
Insting Lyly sebagai seorang pebisnis cerdas langsung menangkap perubahan nada suara Jarot yang tiba-tiba mendalam itu.
Ketiga gadis itu menuruti arahan Jarot dan melirik ke arah restoran seberang menggunakan sudut mata mereka.
"Ada dua pria berjas abu-abu yang dari tadi terus memperhatikan meja kita sejak dari lantai satu tadi," beritahu Jarot tanpa menunjuk langsung.
Tata dan Melly langsung menegang kaku di kursi mereka menyadari bahwa mereka sedang diikuti oleh orang jahat.
"Kamu yakin mereka itu orang suruhan musuh Mama? Siapa tahu mereka cuma pengunjung biasa," bisik Lyly mencoba berpikir positif.
"Pengunjung biasa tidak akan memakai jas berpotongan khusus yang sengaja dirancang untuk menyembunyikan pistol di balik dadanya," jawab Jarot mematahkan harapan Lyly.
Wajah ketiga gadis cantik itu mendadak menjadi pucat pasi membayangkan ada senjata api di dekat mereka.
Meskipun Lyly, Tata, dan Melly punya kehebatan luar biasa di bidangnya masing-masing, mereka tetap saja belum pernah berhadapan langsung dengan senapan mematikan.
Apalagi sekarang mereka sedang terjebak di tempat umum tanpa penjagaan ketat selain satu pengawal berpenampilan gembel di depan mereka.
"Kita harus segera lapor polisi dan lari lewat pintu belakang cafe ini," usul Melly dengan suara gemetar panik.
Jarot langsung mengulurkan tangannya menahan lengan Melly yang hendak beranjak berdiri.
"Jangan bertingkah panik atau membuat gerakan mencurigakan," larang Jarot dengan tatapan mata yang sangat tajam dan mengintimidasi.
Aura kelam dari mantan penguasa bawah tanah tiba-tiba bocor sedikit dari tatapan mata Jarot.
Ketiga gadis itu seketika merasa membeku di tempat dan tidak berani membantah perintah Jarot barusan.
"Duduk tenang dan minum es teh manis kalian. Biar aku yang mengurus dua tikus kecil di luar sana," ucap Jarot kembali tersenyum santai.
Pertarungan nyata yang mempertaruhkan nyawa akhirnya benar-benar dimulai di siang hari bolong ini.