Arka cowok paling populer di sekolah tapi punya sifat yang dingin dan keras kepala. Laras gadis pendiam yang selalu berusaha tampil biasa saja, tapi entah kenapa selalu berakhir berdebat sama Arka. Awalnya mereka saling tidak suka, selalu berselisih paham di mana pun mereka bertemu. Namun seiring waktu berlalu dan berbagai kejadian menyatukan mereka, rasa benci itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam rindu yang tak terucap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Cemmzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat Dari Masa Lalu
Pagi itu Laras membuka kotak masuk emailnya seperti biasa. Dia tidak menyangka akan melihat nama yang sudah lama tidak dia temukan di daftar pesan masuknya. Pengirim pesan itu adalah Arka. Hatinya berdenyut pelan saat dia melihat baris subjek yang bertuliskan sapaan sederhana.
Dia menatap layar cukup lama, jari telunjuknya melayang di atas tombol buka. Dia akhirnya menarik napas dalam dan mengklik pesan itu.
Di dalamnya Arka bercerita tentang kehidupannya di kota baru. Dia menceritakan tentang sekolahnya yang baru, teman-teman barunya, dan bagaimana cuaca di sana selalu hujan tidak seperti di sini.
Dia juga menulis bahwa dia baru saja menyadari betapa lama waktu telah berlalu sejak kepergiannya, dan dia rindu mendengar kabar dari Laras. Di akhir pesan, dia menulis kalimat yang dulu selalu membuat jantung Laras berdebar kencang.
... Gue sering memikirkan lu Laras. Gue berharap lu baik baik saja di sana....
Laras membaca pesan itu sekali lagi. Dulu, pesan seperti ini pasti akan membuatnya tersenyum sepanjang hari. Tapi sekarang, dia hanya merasa tenang. Tidak ada detak jantung yang berpacu, tidak ada rindu yang menyiksa.
Dia merasa seolah sedang membaca surat dari seorang teman lama yang dia kenal dengan baik, bukan surat dari seseorang yang pernah menjadi seluruh dunianya.
Dia menutup laptopnya sebentar dan menatap ke luar jendela. Dia teringat Sandi yang pasti sedang menunggunya di depan gerbang kampus dengan senyum ramah dan dua gelas minuman hangat.
Dia teringat bagaimana rasanya dicintai dengan tulus dan dihargai apa adanya. Dia teringat bahwa hatinya sekarang sudah punya pemilik yang dia pilih dengan sadar dan sepenuh hati.
Laras membuka laptopnya kembali dan mulai menulis balasan singkat. Dia tersenyum sendiri menyadari betapa singkat balasannya dibandingkan surat-surat panjang yang dulu pernah dia tulis untuk Arka.
"Halo Arka. Terima kasih sudah mengirim kabar. Gue senang mendengar lu baik baik saja di sana. Gue juga baik baik saja. Hidup gue berjalan lancar, gue kuliah, menulis, dan punya banyak teman yang menyenangkan. Semangat ya untuk kehidupan baru lu di sana. Semoga lu bahagia di mana pun lu berada."
Dia membaca ulang balasannya. Sopan, ramah, dan cukup singkat. Dia tidak menceritakan tentang Sandi, tidak menceritakan tentang perasaannya, dan tidak menanyakan kapan Arka akan kembali. Dia hanya menyampaikan salam dan doa yang tulus, lalu menekan tombol kirim tanpa ragu sedikit pun.
Beberapa hari kemudian, pesan balasan dari Arka datang lagi. Kali ini lebih panjang, lebih banyak bertanya tentang kehidupan Laras, seakan dia mengharapkan percakapan yang lebih dalam. Laras membacanya sekali lalu membalasnya dengan pesan yang tidak kalah singkat dan sopan.
Hal yang sama terjadi pada pesan ketiga dan keempat. Arka mulai menceritakan hal-hal yang sangat pribadi dan berharap Laras merespons dengan antusiasme yang sama seperti dulu. Tapi Laras selalu menjawab dengan singkat dan ramah.
Dia tidak kasar, dia hanya tidak lagi memberikan tempat istimewa di hidupnya untuk seseorang yang sudah menjadi bagian dari masa lalu.
Suatu sore saat Sandi sedang membantunya menyusun naskah tulisan di meja belajarnya, Laras menceritakan tentang email dari Arka. Dia ingin jujur, karena kejujuran adalah pondasi hubungan yang sedang mereka bangun.
Sandi tidak terlihat cemburu atau marah. Dia hanya tersenyum lembut dan menepuk bahu Laras dengan penuh pengertian.
"Lu tidak perlu memaksakan diri untuk membalas setiap pesan panjang dengan cerita yang sama panjangnya Laras. Lu sudah melakukan hal yang benar. Lu tetap sopan dan menghargai, tapi lu juga tahu batas mana yang tidak boleh dilampaui. Gue bangga dengan keteguhan hati lu," ucap Sandi tulus.
Laras tersenyum lega. Dia belajar satu hal berharga hari ini. Bersikap dingin atau cuek bukan berarti jahat. Kadang kita memang harus bersikap demikian untuk menjaga ketenangan hati dan menghargai orang-orang yang kini berjalan bersama kita di masa kini.
Laras menutup tab emailnya dan kembali fokus pada naskah di depannya, di samping orang yang benar-benar ada di hidupnya saat ini.