Bagi Amanda Millen, patah hati terburuknya bukanlah saat melihat tunangannya berselingkuh di depan mata. Patah hati itu hanyalah awal mula dari sebuah bencana yang jauh lebih gelap. Dalam pelariannya mencari pelampiasan di kelab malam paling terlarang di kota, Amanda melakukan satu kesalahan fatal: ia menampar pria yang salah.
Pria itu bukan mantan kekasihnya yang brengsek. Pria itu adalah Aldebaran Hendrick.
Pemimpin The Iron Crown, klan mafia paling kejam, berdarah dingin, dan tak tersentuh oleh hukum mana pun. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol dan keputusasaan, Amanda menyerahkan dirinya pada sang iblis. Pagi harinya, ia terbangun sendirian dalam kehampaan, hanya ditemani memori kabur, sebuah kartu platinum tanpa limit, dan cincin berkepala tengkorak yang dingin di atas bantal.
Lima tahun berlalu. Amanda mengubur malam gila itu dalam-dalam, menganggapnya sebagai musibah yang tak akan pernah terulang. Ia membangun hidup baru, menyembunyikan Lily—buah dari benih sang penguasa ke
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Keheningan yang tersisa di dalam perpustakaan raksasa itu kini terasa jauh lebih pekat dan mencekik. Setelah kepergian Lily bersama Nyonya Besar, ruang pertahanan Amanda seolah ikut ditarik paksa. Tidak ada lagi tubuh mungil putrinya yang bisa ia jadikan alasan untuk bersembunyi.
Di tengah keheningan itu, suara sol sepatu pantofel Aldebaran yang beradu dengan lantai marmer terdengar seperti detak jarum jam yang menghitung mundur ajal. Tak... tak... tak...
Langkah sang predator begitu pelan, santai, namun sarat akan intimidasi mutlak.
Amanda secara insting melangkah mundur. Satu langkah. Dua langkah. Hingga punggung sempitnya menabrak permukaan keras rak buku mahoni di belakangnya. Ia terjebak.
Aldebaran menghentikan langkahnya tepat di hadapan Amanda, menyisakan jarak yang begitu tipis hingga ujung sepatu mereka nyaris bersentuhan. Pria itu mengangkat kedua tangannya yang besar, menumpukannya pada rak buku di sisi kanan dan kiri kepala Amanda, mengurung wanita itu sepenuhnya dalam sangkar lengannya yang sekeras baja.
Udara di sekitar Amanda seketika menipis, tergantikan oleh panas tubuh sang mafia dan aroma musk berpadu cedarwood yang memabukkan.
Aldebaran menundukkan wajahnya. Mata kelamnya yang berbahaya menatap lurus ke dalam manik mata Amanda yang bergetar. Sebuah seringai arogan, sangat tipis namun mematikan, terukir di sudut bibir pria itu.
"Jadi..." bisik Aldebaran. Suara baritonnya sangat rendah, bergesekan dengan udara di antara mereka, menggetarkan sesuatu di dasar perut Amanda. "Kapan kita akan meresmikan pernikahan itu, Sayang?"
Jantung Amanda serasa melompat ke tenggorokan. Matanya membelalak. Tuntutan Nyonya Besar tadi ternyata bukan sekadar gertakan emosional, melainkan sebuah rencana matang yang langsung dieksekusi oleh iblis di depannya ini.
Dengan sisa-sisa keberanian yang ia kais dari dasar jiwa, Amanda mendongak, membalas tatapan tajam pria itu dengan sorot mata yang tak kalah menantang.
"Kau pasti sudah kehilangan akal sehatmu, Aldebaran," balas Amanda sarkas, suaranya bergetar namun penuh penekanan. Ia mendorong dada bidang pria itu, meski usahanya sama sekali tak membuat Aldebaran bergeser satu milimeter pun. "Aku tidak pernah bilang aku mau menikah denganmu. Jangan bermimpi."
Bukannya marah, Aldebaran justru terkekeh pelan. Tawa gelap yang terdengar begitu merdu sekaligus mengerikan di telinga Amanda. Tangan kanan pria itu terlepas dari rak buku, jemarinya yang dihiasi cincin tengkorak merayap naik, mencengkeram rahang Amanda dengan kelembutan yang sangat manipulatif, memaksa wanita itu untuk terus menatapnya.
"Aku tidak sedang meminta persetujuanmu, Amanda. Dan di duniaku... aku tidak pernah menerima kata penolakan," desis Aldebaran posesif, ibu jarinya mengusap bibir bawah Amanda yang memucat. Matanya menggelap oleh gairah dan obsesi gila. "Suka atau tidak, kau akan menjadi istriku. Titik."
Aldebaran mendekatkan bibirnya ke telinga Amanda, membiarkan napas panasnya menyapu kulit sensitif di perpotongan leher wanita itu, membuat seluruh bulu kuduk Amanda meremang.
"Kosongkan pikiranmu dan berhentilah meronta," bisiknya mutlak. "Minggu depan adalah hari pernikahan kita. Siapkan dirimu baik-baik, Nona Millen. Karena setelah cincinku melingkar di jarimu, kau tidak akan pernah bisa lari dariku hidup-hidup."
Tanpa menunggu balasan, Aldebaran mengecup rahang Amanda dengan cepat namun penuh penekanan. Pria itu kemudian menarik tubuhnya menjauh, melepaskan kungkungannya, dan berbalik. Dengan langkah tegap dan punggung lebar yang memancarkan kekuasaan, sang Raja Iblis melangkah keluar dari perpustakaan, meninggalkan Amanda yang nyaris kehabisan oksigen.
Blam!
Pintu ganda itu tertutup rapat.
Seketika itu juga, lutut Amanda kehilangan fungsinya. Tubuhnya merosot perlahan, bersandar pada rak buku hingga ia terduduk di atas dinginnya lantai marmer. Ia memeluk kedua lututnya, meremas rambutnya sendiri dengan putus asa.
"Sialan!" rutuknya gelisah, suaranya pecah oleh kefrustrasian yang memuncak.
Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya menetes satu per satu. Hatinya seperti ditarik dari dua sisi yang berlawanan. Kenapa takdirku jadi selucu dan semenyedihkan ini? batinnya menjerit.
Di satu sisi, pemandangan pagi ini—melihat Lily tertawa lepas di pangkuan ayah kandungnya, mendapatkan perlindungan mutlak yang selama ini tidak bisa ia berikan—adalah kebahagiaan terbesar yang pernah Amanda rasakan. Ia memang sangat ingin Lily memiliki sosok ayah.
Namun di sisi lain, realitas menamparnya dengan kejam. Pria itu bukan sembarang ayah.
"Aku belum siap..." isak Amanda sendirian di dalam ruangan raksasa itu, meremas gaun sutranya dengan gemetar. "Aku belum siap mengorbankan nyawa dan kewarasanku untuk menjadi istri dari monster gila itu."
Permainan takdir telah menguncinya. Hitung mundur menuju neraka bertahtakan berlian itu telah dimulai, dan Amanda tahu, ia tidak memiliki jalan keluar selain terus berjalan masuk ke dalam api.
Mansion Utama klan Hendrick yang berdiri megah di puncak tebing berbatu itu selalu dikenal sebagai benteng neraka. Dinding-dinding batunya menyimpan ribuan rahasia berdarah, dan siapa pun yang melangkah melewati gerbang besinya biasanya tidak akan pernah kembali dengan nyawa utuh. Bangunan gotik itu bernapas dalam bayang-bayang, kekejaman, dan teror.
Namun, sore ini, sebuah anomali—atau lebih tepatnya sebuah keajaiban yang terasa absurd—tengah terjadi di dalam ruang keluarga utama yang berlantaikan marmer hitam tersebut.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah klan The Iron Crown, aura mematikan yang selalu mencekik ruangan itu menguap tak bersisa, digantikan oleh aroma manis macaron vanila, stroberi, dan derai tawa renyah seorang anak kecil.
"Kakek, kepalanya jangan gerak-gerak! Mahkotanya nanti jatuh!"
Suara lengkingan ceria itu menggema nyaring. Lily, yang kini mengenakan gaun putih berenda bagai seorang putri dari negeri dongeng, berdiri bertolak pinggang dengan pipi menggembung lucu.
Di depannya, duduklah Tuan Besar Hendrick. Mantan patriark, pendiri kerajaan mafia yang namanya saja cukup untuk membuat para jenderal kepolisian kencing di celana. Pria tua dengan bahu selebar pintu, wajah penuh bekas luka sayatan, dan sepasang mata elang yang telah menyaksikan ribuan kematian itu... kini duduk bersila di atas karpet Persia seharga jutaan dolar.
Dan yang membuat Flop—serta belasan penjaga bersenjata laras panjang di sudut ruangan—harus menggigit lidah mereka sendiri untuk menahan rahang agar tidak jatuh, adalah fakta bahwa sang mantan penguasa dunia bawah tanah itu tengah memakai sebuah tiara plastik berwarna merah muda terang di atas rambut peraknya.
"Maaf, maafkan Kakek, Yang Mulia Tuan Putri," kekeh Tuan Besar. Suara baritonnya yang biasanya digunakan untuk menjatuhkan vonis mati, kini terdengar menggelegar hangat, dipenuhi tawa renyah yang terdengar sangat... normal. Pria tua itu bahkan menundukkan kepalanya yang menakutkan dengan patuh, membiarkan jemari mungil Lily menempelkan sebuah stiker bergambar bintang di pipinya yang kasar dan berparut.
"Nah, sekarang Kakek sudah cantik! Sekarang waktunya minum teh!" seru Lily antusias, berlari kecil ke arah meja kopi yang terbuat dari emas murni dan kaca kristal. Di atas meja itu, berserakan set cangkir teh plastik mainan berwarna pastel yang jelas-jelas baru saja dibeli dalam jumlah gila-gilaan pagi ini.
Dari arah pintu ganda, Nyonya Besar melangkah masuk. Jika pagi tadi di perpustakaan ia tampak seperti penyihir pencabut nyawa yang siap menguliti Amanda hidup-hidup, sore ini wanita paruh baya itu terlihat seperti seorang nenek biasa yang tengah dimabuk kepayang oleh cucunya.
Ia tidak lagi mengenakan blazer kaku atau perhiasan berlian yang berat. Nyonya Besar hanya memakai gaun rumah berbahan sutra yang nyaman, membawa nampan perak berisi cokelat praline Belgia dan biskuit butter yang dipanggang khusus oleh koki pribadi asal Prancis.
"Sayangku, Lily... tehnya sudah siap?" Nyonya Besar tersenyum begitu lebar hingga sudut-sudut matanya membentuk kerutan kebahagiaan yang tulus. Ia ikut duduk di atas karpet Persia, tepat di sebelah suaminya, tanpa mempedulikan gaun mahalnya yang mungkin akan berkerut.
"Sudah, Nenek! Ini rasa stroberi campur awan!" Lily menyodorkan cangkir plastik kosong berukuran sejempol orang dewasa itu ke arah Nyonya Besar dengan kedua tangannya.
Nyonya Besar menerimanya dengan kelembutan yang luar biasa, seolah cangkir plastik murahan itu adalah piala suci. Ia menempelkan pinggiran cangkir ke bibirnya, berpura-pura menyesap udara kosong di dalamnya, lalu memejamkan mata dengan ekspresi dramatis. "Astaga... ini adalah teh paling lezat yang pernah Nenek rasakan seumur hidup Nenek! Kakek harus coba!"
Tuan Besar mendengus geli, menerima sodoran cangkir berikutnya dari Lily dan menegaknya dalam satu tegukan palsu. "Luar biasa! Pelayan, beri koki kecil kita ini hadiah pulau pribadi!" serunya, mengundang tawa berderai dari Lily yang langsung menghambur memeluk leher kakeknya yang berotot kawat itu.
Nyonya Besar terkekeh, meletakkan nampan dan mulai mengusap lembut rambut pirang kecokelatan cucunya. "Kau mau pulau, Sayang? Nenek bisa membelikannya untukmu besok pagi. Atau kau mau kuda poni? Pabrik cokelat?" tawarnya sungguh-sungguh. Bagi keluarga Hendrick, itu bukanlah kiasan, melainkan janji yang bisa dieksekusi dalam hitungan jam.
Lily menggeleng, pipinya bersandar nyaman di dada bidang sang kakek, sementara tangannya menggenggam erat jari telunjuk neneknya. "Lily tidak mau pulau atau kuda. Lily cuma mau main sama Nenek dan Kakek. Kata Bunda, Lily tidak punya kakek dan nenek... tapi ternyata Lily punya, dan kalian baik sekali."
Udara di ruangan itu tiba-tiba terasa berhenti mengalir.
Tangan Nyonya Besar yang sedang mengelus rambut cucunya sempat terhenti. Hati wanita baja itu rasanya seperti diremas hingga hancur. Ia saling bertukar pandang dengan suaminya. Di balik mata tua Tuan Besar yang biasanya dingin, kini terpancar genangan air mata haru dan penyesalan yang mendalam.
Selama puluhan tahun, mereka hidup dalam paranoia, darah, dan kekuasaan. Mereka membunuh, menghancurkan, dan membangun kerajaan hitam demi melindungi keluarga. Namun, mereka lupa bagaimana rasanya menjadi manusia yang normal. Mereka lupa bagaimana rasanya mencintai tanpa syarat. Dan hari ini, gadis kecil yang lahir dari rahim wanita yang sangat mereka benci pagi tadi, justru memberikan pencerahan itu secara cuma-cuma.
"Lily punya Kakek dan Nenek sekarang," bisik Nyonya Besar dengan suara parau, menahan isak tangis yang mendesak di tenggorokannya. Ia mencondongkan tubuh, mengecup pipi Lily berkali-kali. "Dan Nenek janji, kami tidak akan pernah pergi ke mana-mana. Kau adalah putri dari klan ini. Seluruh dunia ini adalah taman bermainmu, Sayang."
"Kakek akan menghancurkan siapa pun yang berani membuatmu menangis," tambah Tuan Besar, mencium kening cucunya dengan sangat posesif. Ia lalu melirik tajam ke arah sudut ruangan, membuat Flop dan para penjaga seketika menegang. "Kalian lihat? Kalau ada satu saja dari kalian yang berani merusak mainan cucuku, akan kujadikan kalian makanan anjing pemburu di halaman belakang."
Lily yang tidak mengerti ancaman berdarah itu hanya tertawa geli, mengira kakeknya sedang bercanda. "Kakek lucu!"
Flop menelan ludah kasar. Tangan kanannya yang biasa memegang pistol Beretta, kini harus dengan patuh memegang boneka kelinci kusam milik Lily karena gadis kecil itu menitipkannya tadi. Pembunuh bayaran berdarah dingin itu hanya bisa tersenyum kaku, mengangguk patuh pada Tuan Besar.
Di dalam ruangan yang dipenuhi senjata dan para pembunuh itu, sebuah keluarga mafia akhirnya menemukan kepingan kemanusiaan mereka yang telah lama hilang. Lily tidak melihat mereka sebagai monster, mafia, atau pembunuh. Di mata polosnya, mereka hanyalah Kakek dan Nenek yang sangat menyayanginya.
Dan tanpa mereka sadari, kehadiran bocah empat tahun itu telah meruntuhkan pertahanan terkuat The Iron Crown dari dalam, mengubah para iblis menjadi pelindung yang rela menukar nyawa mereka kapan saja demi senyum sang cucu.
kejam banget
kenapa Lily yg harus pergi😭