kecelakan tragis itu merenggut nyawa Kiara, setelah mengetahui fakta bahwa dia dikhianati suaminya.
Tetapi Tuhan selalu memberi plot twist yang tidak pernah bisa kita tebak. Kiara mendadak terbangun kembali ke lima tahun lalu tepat di hari pertama pernikahan kontrak mereka dimulai.
Menyadari bahwa dia kembali mengulang waktu, kali ini Kiara bertekad untuk mengumpulkan uang lalu kabur demi menyelamatkan nyawanya. Akan tetapi, Kiara justru dibuat syok oleh perubahan drastis Dante, sang mafia kejam yang tiba-tiba berubah menjadi super bucin, posesif, dan memanjakan Kiara dengan uangnya yang tidak akan pernah habis itu. Kiara tidak pernah tahu bahwa suaminya yang kejam itu ternyata juga ikut bereinkarnasi dari masa depan, membawa rasa bersalah dan sejuta penyesalan yang siap melakukan apa saja agar sang istri tidak pernah pergi lagi dari pelukannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laksmi Harsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Atita yang tlah usai, kisah lama pelan sirna. smrti tentangmu kini lenyap, mukti dari bayangmu. Kau hanyalah sepi purba, wismrta selamanya, takkan kuingat lagi.
...----------------...
Matahari baru saja naik setinggi galah ketika limosin hitam milik Dante Belmont bergerak meninggalkan halaman mansion menuju kantor. Kiara berdiri di balik jendela besar lantai dua, mengawasi kepergian suaminya dengan tatapan datar. Begitu mobil itu menghilang di balik gerbang besi yang kokoh, Kiara berbalik menuju meja riasnya. Ia menyambar tabletnya, memeriksa pergerakan pasar saham.
Kiara memang hanya lulusan SMA, akan tetapi berbekal ingatan masalalu dia mempelajari semuanya secara otodidak.
Ting!
Sebuah notifikasi dari 'Phoenix' muncul di layar.
["BioTech Global mulai menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan di pasar pra-pembukaan, Nona. Sentimen negatif menyebar dengan cepat. Jika ini berlanjut hingga penutupan sore nanti, prediksi Anda akan menjadi kenyataan."]
Kiara tersenyum tipis. Jemarinya dengan cepat mengetik balasan. "Tetap awasi posisiku. Jangan biarkan ada satu sen pun yang lolos dari sistem pelacak."
Sebelum ia sempat meletakkan tabletnya, suara gaduh samar-samar terdengar dari arah lantai bawah. Ketukan panik di pintu kamarnya segera menyusul. Kiara melangkah membuka pintu dan menemukan Siska berdiri di sana dengan wajah pucat pasi.
"Ada apa, Siska? Wajahmu tampak seperti melihat hantu?" tanya Kiara tenang.
"Nyonya... di bawah... ada tamu yang memaksa masuk," jawab Siska dengan suara bergetar. "Para penjaga di gerbang depan sempat menahannya, tetapi dia mengamuk dan mengaku sebagai kakak kandung Anda. Dia... dia Nona Sora, Nyonya."
Jantung Kiara berdesir pelan. "Di mana dia sekarang?"
"Para pengawal menahannya di ruang tamu utama, Nyonya. Mereka tidak berani bertindak terlalu kasar karena Tuan Dante belum memberikan instruksi, dan dia terus membawa-bawa nama keluarga Anda," jelas Siska.
"Biarkan dia di sana. Aku akan menemuinya," kata Kiara datar. "Dan Siska, jangan hubungi Dante, Leo atau Marcus. Biarkan aku menyelesaikan ini sendiri."
"Tapi, Nyonya—"
"Ini perintah, Siska."
Kiara melangkah menuruni tangga mansion dengan anggun. Dress rumahan sutra berwarna krem yang dikenakannya melambai pelan, kontras dengan tekad yang membakar dadanya. Di ruang tamu utama yang megah, Sora sedang duduk di atas sofa beludru merah dengan menyilangkan kaki. Wanita itu mengenakan gaun berwarna merah menyala, dengan kacamata hitam yang bertengger di atas hidungnya. Wajahnya tampak angkuh, mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan dengan tatapan penuh kedengkian.
Begitu mendengar suara langkah kaki Kiara, Sora melepas kacamata hitamnya dan berdiri. Sebuah senyum kemenangan yang palsu terukir di bibirnya.
"Ah, lihat siapa yang akhirnya keluar dari sarang emasnya," sapa Sora, dengan nada merendahkan. "Adik kecilku yang malang. Akhirnya kita berjumpa, Kiara."
Kiara tidak membalas sapaan itu. Ia berjalan dengan tenang dan duduk di kursi tunggal di seberang Sora, melipat kedua tangannya di atas pangkuan. "Hi... Salam kenal, nona muda Daichi. Jadi... untuk apa kau datang ke sini, Sora? Aku tidak ingat pernah mengundangmu ke rumah suamiku."
Sora tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat hambar di telinga Kiara. Ia kembali mengempaskan tubuhnya ke sofa, menatap Kiara dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Rumah suamimu? Oh, Kiara, kau benar-benar menggemaskan. Kau sebut tempat terkutuk ini sebagai rumah? Dan Dante... kau sebut dia suamimu dengan begitu bangga?"
"Dia suamiku yang sah secara hukum dan agama, Sora. Apakah ada bagian dari fakta itu yang membuat telingamu panas?" sahut Kiara dingin.
Sora mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyipit penuh bisa. "Sah? Jangan naif, Kiara! Kau tahu betul kenapa kau bisa berada di sini. Dante tidak pernah menginginkanmu? Kau hanya peran pengganti untuk sementara, Kiara! Sebuah barang mainan yang bisa dibuang kapan saja!"
Kiara menatap mata kakak seayahnya itu. Ingatan tentang penyiksaan yang dia alami saat berada dirumah ayahnya berputar di kepalanya. Manusia di depannya ini adalah sumber utama kenapa dia bisa masuk ke dalam neraka berkedok mansion milik Dante dan berakhir mati mengenaskan.
Namun sekarang, setelah melewati satu siklus kematian, Kiara hanya melihat seorang wanita menyedihkan yang sedang mengemis perhatian.
"Jika aku hanya peran pengganti yang tidak berharga," Kiara menaikkan satu alisnya, suaranya tetap datar tanpa emosi, "lalu kenapa semalam kau menangis di telepon, memohon-mohon padanya agar dia menemuimu di bandara?"
Senyum di wajah Sora seketika lenyap. Wajahnya memerah karena malu disertai amarah yang memuncak. "Kau... kau menguping?!"
"Aku tidak perlu menguping untuk tahu bahwa suamiku membentakmu dan menyuruhmu membusuk di luar sana," tukas Kiara tajam. "Jadi, katakan padaku, Sora. Siapa di antara kita yang pada akhirnya di buang seperti sampah?"
Sora mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih "Jangan berlagak sombong, Kiara! Kau tidak tahu apa-apa tentang Dante! Dia hanya berpura-pura manis padamu karena dia masih membutuhkanmu untuk di jadikan budak! Aku mengenalnya jauh lebih lama darimu! Dialah yang membiayai sekolahku di luar negeri, dialah yang selalu datang setiap kali aku memanggilnya!"
"Itu dulu, Sora. Kisah masalalu yang sudah basi," potong Kiara. "Dan jika kau datang ke sini hanya untuk memamerkan sisa-sisa kejayaan masa lalumu dengan suamiku, pintu keluar ada di sebelah kananmu. Silakan angkat kakimu sebelum para pengawal menyeretmu keluar."
Sora berdiri dengan sentakan kasar, matanya melotot penuh kebencian. "Kau pikir kau sudah menang hanya karena memakai berlian di lehermu?! Dengar baik-baik, Kiara! Dante Belmont adalah mafia berdarah dingin. Pria seperti dia tidak memiliki hati untuk mencintai siapa pun! Suatu hari nanti, ketika dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, dia akan mengurungmu di menara dingin sampai kau mati membusuk tanpa ada seorang pun yang peduli! Dia memanipulasimu! Dia memberikanmu kemewahan ini hanya untuk membuatmu lengah sebelum dia menghancurkanmu!"
Kata-kata Sora tentang 'mengurungmu di menara dingin sampai kau mati membusuk' menimbulkan trauma yang sangat hebat di kepala Kiara. Napas Kiara sempat tertahan sejenak. Bayangan tentang menara barat yang gelap, rasa lapar yang menyiksa, dan pandangan mata kejam Dante di kehidupan pertama mendadak berkelebat cepat di depan matanya.
Sora yang melihat perubahan ekspresi Kiara langsung tersenyum penuh kemenangan. "Lihat? Kau ketakutan, kan? Kau sendiri tahu bahwa apa yang kukatakan adalah kebenaran! Kau hanya boneka pajangan yang malang, Kiara!"
Kiara memejamkan matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan detak jantungnya. Ketika ia membuka mata kembali, kilatan dingin di matanya jauh lebih tajam dan mematikan daripada sebelumnya.
"Kau selesai berbicara?" tanya Kiara, suaranya begitu tenang hingga terdengar mengerikan di ruangan yang luas itu.
Sora tertegun sejenak oleh ketenangan adiknya. "Apa?"
Kiara berdiri dari kursinya, melangkah perlahan mendekati Sora. Aura yang terpancar dari tubuhnya membuat Sora secara refleks mundur satu langkah.
"Kau bilang Dante memanfaatkanku? Kau bilang dia mengurungku?" Kiara tersenyum dingin, menatap lurus ke dalam manik mata Sora. "Kalaupun semua perkataanmu itu benar, itu adalah urusanku dengan suamiku. Aku tidak butuh wanita jalang yang frustrasi karena dicampakkan untuk datang ke rumahku dan mengajari cara menjalani hidupku. Kau ingin tahu kenapa Dante memberikan semua kemewahan ini padaku? Karena aku adalah istrinya. Dan kau? Kau hanyalah sampah masa lalu yang bahkan tidak diizinkan melewati gerbang depan jika aku tidak mengizinkannya."
Byuuurrr!
Kiara menyiram wajah Sora dengan segelas teh yang tadi sempat disuguhkan pelayan.
"Kiara! Berani-beraninya kau—" Sora mengangkat tangannya, bersiap untuk melayangkan tamparan ke wajah Kiara.
Namun, sebelum tangan Sora sempat bergerak lebih jauh, sebuah suara bariton yang sangat berat dan dingin terdengar dari arah pintu masuk. "Turunkan tanganmu, Sora. Atau aku pastikan kau akan kehilangan tangan itu sebelum matahari terbenam."
Dante Belmont berdiri di ambang pintu. Pria itu masih mengenakan setelan jas, namun raut wajahnya tampak begitu mengerikan. Rahangnya mengeras sempurna, dan sepasang mata elangnya menyala penuh amarah, siap membakar siapa saja di hadapannya. Di belakangnya, ada Leo, Marcus dan empat pengawal bertubuh kekar berdiri dengan posisi sigap.
...----------------...
Author Notes!
Kasih aku semangat please... ☹️