NovelToon NovelToon
Sepuluh Ribu Kematian Abadi

Sepuluh Ribu Kematian Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.

Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).

Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.

"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."

Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 033 - Penemuan Bak Persembunyian

Fajar hari ketiga menyingsing di balik kabut tebal Pegunungan Lembah Hitam. Udara pagi terasa sangat dingin, menusuk hingga ke tulang sumsum, namun di dalam bak kayu air limbah cucian obat, suhu tubuh Gu Yuan telah mencapai titik keseimbangan baru yang luar biasa kokoh.

Demam panas yang membakar sendi-sendinya selama dua hari dua malam telah surut sepenuhnya. Sebagai gantinya, sensasi dingin yang padat, berat, dan liat kini mengalir tenang di dalam seluruh kerangka tulangnya.

Dua butir Pil Penempa Raga tambahan yang ia konsumsi secara bertahap di malam kedua telah melebur sempurna dengan rangsangan belerang dan asam herbal dari luar. Kepadatan tulangnya telah melompat melewati lapis kelima, menembus langsung ke tahap Ranah Pemurnian Raga lapis ketujuh: Tulang Besi Sempurna.

Kulit tubuh Gu Yuan kini tampak berkilat samar dengan rona perunggu keemasan di bawah permukaan air keruh. Otot-otot di kedua lengan dan punggungnya memadat tanpa menambah massa tubuh secara berlebihan, dan indra pendengarannya kini sanggup menangkap suara gemerisik daun pinus yang jatuh di lereng tebing sejauh puluhan depa.

Gu Yuan perlahan membuka matanya di bawah permukaan air comberan. Air hitam kehijauan yang berbau belerang busuk itu tidak lagi membakar kelopak matanya; lapisan Qi pelindung raga lapis ketujuh yang tipis menutupi selaput matanya, memungkinkannya melihat bayangan kabur di sekelilingnya dengan jelas.

Malam ini adalah malam ritual darah massal. Waktu untuk berdiam diri di dalam air comberan telah habis; ia harus segera menyusup ke barisan pelayan atau pengantar perlengkapan ritual sebelum barisan tumbal digiring menuju gua air terjun.

Namun, tepat saat Gu Yuan hendak menarik bungkusan terpal kedap airnya dari bawah bibir bak, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekat dari arah pintu belakang dapur.

Klek… kriet!

Pintu belakang dapur umum yang terbuat dari papan kayu gelondongan terbuka lebar. Sosok seorang pria muda bertubuh kurus mengenakan celemek kulit berminyak melangkah keluar membawa ember kayu besar yang terisi penuh oleh minyak jelantah sisa penggorengan lemak babi.

Pria itu adalah pembantu dapur baru yang ditugaskan menggantikan koki gempal yang terbius racun daun pahit tiga hari lalu. Napasnya terengah-engah menahan berat ember kayu berukuran lima puluh kati tersebut, matanya menatap malas ke arah tiga bak air limbah di sudut halaman belakang.

“Sialan, koki tua itu enak-enakan tidur di balai pengobatan, sementara aku harus mengurus kuali dan membuang jelantah busuk ini sendirian,” gerutu pria muda itu sambil melangkah terseok-seok mendekati bak kayu tempat Gu Yuan bersembunyi.

Gu Yuan yang masih terendam di bawah air membekukan seluruh gerakannya. Tubuhnya menempel rata ke dasar bak kayu, menahan napas serendah mungkin di bawah lapisan buih sabun herbal dan lumut hitam.

Pembantu dapur itu tiba di tepi bak, mengangkat ember kayunya setinggi dada, lalu bersiap memiringkan moncong ember untuk menumpahkan minyak jelantah panas ke dalam air comberan.

Namun, saat matanya menatap permukaan air keruh di bawahnya untuk mencari titik pembuangan, gerakan tangan pembantu dapur itu mendadak terhenti kaku di udara.

Lapisan buih sabun di sudut bak sedikit tersibak oleh hembusan angin pagi. Tepat di bawah permukaan air hitam kehijauan setinggi dua ruas jari, terlihat siluet sesosok tubuh manusia yang sedang berjongkok menatap lurus ke arahnya.

Sepasang mata yang sangat dingin, tenang, dan tanpa riak ketakutan sedikit pun menatap balik tepat ke manik mata sang pembantu dapur dari balik air comberan yang berbau belerang.

Pupil mata pembantu dapur itu seketika membelalak selebar piring tembikar karena rasa kaget dan kengerian yang meledak mendadak di otaknya. Mulutnya yang berminyak membuka lebar-lebar, urat-urat di lehernya menegang tegang saat ia bersiap menjatuhkan ember kayu dan melepaskan jeritan histeris untuk memanggil regu pengawal penegak hukum di pelataran depan.

Namun, kecepatan reaksi seorang pelayan fana biasa tidak akan pernah mampu menandingi refleks seorang praktisi Pemurnian Raga lapis ketujuh.

Bahkan sebelum jeritan pertama sempat keluar melewati tenggorokan pembantu dapur itu, permukaan air limbah seketika meledak tanpa suara.

WUUUSSS!

Tangan kiri Gu Yuan melesat keluar dari dalam air comberan seperti sambaran lidah petir hitam. Jemarinya yang telah ditempa oleh kekuatan Tulang Besi mencengkeram telak batang leher pembantu dapur tersebut dengan cengkeraman penjepit baja yang tak tergoyahkan.

Kekuatan cengkeraman Gu Yuan seketika mengunci jakun dan saluran pernapasan pria itu, memutus suaranya menjadi dengkingan tertahan yang tercekat di kerongkongan.

Bersamaan dengan cengkeraman mematikan itu, tangan kanan Gu Yuan meluncur ke atas menyambar gagang ember kayu yang hendak terlepas, menahannya di udara dengan kekuatan lengannya yang kokoh agar cairan minyak jelantah tidak tumpah membentur tanah dan menimbulkan bunyi gaduh.

Dengan satu sentakan tenaga raga yang dingin dan eksplosif ke arah bawah, Gu Yuan menarik seluruh tubuh kurus pembantu dapur itu meluncur melewati bibir bak, membenamkan kepala dan dadanya langsung ke dalam air limbah belerang yang pekat.

Bluk… bluk… bluk!

Pembantu dapur itu meronta liar di bawah permukaan air keruh, kedua tangannya mencakar-cakar lengan kiri Gu Yuan yang mencengkeram lehernya. Namun cengkeraman tangan Gu Yuan seperti lingkaran besi cor yang tak bergeming sedikit pun. Gu Yuan menekan kepala pria itu tetap berada di bawah air comberan, membiarkan cairan asam dan belerang memenuhi hidung dan mulutnya.

Setelah sepuluh tarikan napas perlawanan yang sia-sia, gerakan tubuh pembantu dapur itu berangsur-angsur melemah. Matanya berputar ke atas, jemari tangannya terkulai lemas, dan tubuhnya akhirnya pingsan tak sadarkan diri karena kehabisan pasokan hawa udara di dalam air limbah.

Gu Yuan mengangkat tubuh pria yang terkulai itu keluar dari air, lalu meletakkannya perlahan di atas lantai tanah kering di balik tumpukan balok kayu bakar. Matanya menatap pakaian pelayan dapur yang dikenakan pria itu dengan sorot mata yang penuh perhitungan taktis.

1
Shiro Hoshinova
jir jadi kiko
Shiro Hoshinova
Apalagi ini woy
Helios
Hahaha lolos gara-gara botol arak
Ryo Hamada
Misah jalan sendirian mungkin pilihan paling cerdas buat hindarin kejaran sekte
Ryo Hamada
Mo Cheng kuat bgt ya berarti, udh turun ranah tapi masih bisa ancurin lantai
Ryo Hamada
Gas mumpung ada kesempatan
Ryo Hamada
Beneran dingin banget sikap MC kalau udh masalah keselamatannya. Realistis & gak naif, suka aku model MC yg kaya gini
Ryo Hamada
Xiao Wu mungkin ceroboh micu bel alarm, tapi kekacauan sekte justru nutupin langkah Gu Yuan menuju gua air terjun. Momentum pas jir
Ryo Hamada
Mungkin langsung masuk ke aula Mo Cheng itu langkah bunuh diri, tapi jalan mundur udah ketutup total. Harus main peran sampe tuntas.
Helios
Woy tahanan di bilik jangan teriak napa
Shiro Hoshinova: Fix inimah
total 1 replies
Shiro Hoshinova
Hawanya horor kerasa banget, keren thor!
Helios
Hoki seumur hidup kepake tuh pas kuncinya jatuh deket sepatu wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!