Demi menyelamatkan sang ayah dari siksaan maut seorang mafia kejam, Aisyah gadis bercadar, Hafizah bermata biru blasteran menyerahkan diri sebagai tawanan abadi. Syaratnya gila: pria berdarah dingin itu harus masuk Islam dan menikahinya.
Pernikahan tanpa cinta pun dimulai. Alih-alih menjadi ratu, hidup Aisyah berubah menjadi neraka ketika suaminya sengaja membawa wanita malam ke hadapannya setiap hari untuk menghancurkan mentalnya.
Di tengah ketakutan yang mencekam dan air mata yang tak pernah kering, Aisyah hanya bersandar pada sujud malamnya.
Mampukah kelembutan ayat-ayat suci meluluhkan hati seorang psikopat tanpa Tuhan, atau justru Aisyah yang akan hancur lebur di sarang iblis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam Keluarga dan Rahasia yang Terbongkar
Dua minggu telah berlalu sejak malam mencekam di mana kelompok The Black Serpent berhasil dipukul mundur hingga tak bersisa. Istana di atas bukit kini kembali diselimuti ketenangan yang utuh. Luka-luka di tubuh Kenzie telah pulih sepenuhnya, meninggalkan bekas garis tipis yang menjadi saksi bisu perjuangannya. Namun, perubahan terbesar bukan terletak pada fisiknya, melainkan pada kehidupannya yang kini benar-benar berporos pada ketaatan beragama dan kedamaian rumah tangganya bersama Aisyah.
Sore menjelang senja, suasana di ruang tamu utama tampak damai. Kenzie tengah duduk di sofa panjang, membaca sebuah buku panduan agama, sementara Aisyah sibuk menyiapkan teh hangat di meja dekat jendela. Di tengah kehangatan itu, tiba-tiba ponsel pintar Kenzie yang diletakkan di atas meja berdering nyaring.
Layar ponsel itu menampilkan sebuah nama yang membuat Kenzie menghela napas panjang sebelum mengangkatnya: Mommy.
"Halo, Mom," sapa Kenzie dengan nada tenang.
Di seberang sambungan, suara seorang wanita paruh baya yang elegan namun terdengar tegas langsung menyerbu indra pendengarannya. "Kenzie! Kemana saja kamu, hah? Sudah sebulan lebih kamu tidak pernah datang berkunjung ke rumah utama. Daddy dan Mommy merindukanmu!"
Kenzie tersenyum tipis, merasa sedikit bersalah. Sejak ia memutuskan menarik diri dari lingkaran hitam sindikat dan memilih jalan hidup yang baru bersama Aisyah, ia memang sengaja membatasi diri untuk menata kembali hatinya sebelum menghadapi keluarganya.
"Maaf, Mom. Aku belakangan ini sibuk mengurus beberapa urusan penting di istana," jawab Kenzie hati-hati.
"Alasan klasik!" seru sang Mommy di ujung sana. "Pokoknya, malam ini tidak ada penolakan. Mommy mau kamu datang untuk makan malam keluarga pukul tujuh tepat. Oh ya, Mommy juga mengundang anak sahabat lama Mommy, seorang gadis dokter muda yang cantik dan terdidik. Mommy ingin mengenalkannya padamu. Kamu harus datang!"
Kenzie langsung mengerutkan keningnya. Belum sempat ia menolak, sambungan telepon itu langsung ditutup sepihak oleh sang ibu.
Kenzie menghela napas berat, lalu meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. Ia menoleh ke arah Aisyah yang kini berdiri tidak jauh darinya, menatap sang suami dengan sepasang mata biru jernih di balik cadar hitamnya. Aisyah tentu mendengar penggalan percakapan barusan.
"Ada apa, Mas?" tanya Aisyah lembut.
Kenzie bangkit dari duduknya, lalu melangkah mendekati sang istri. Ia merapikan ujung jilbab Aisyah dengan penuh kelembutan. "Mommy mengajakku makan malam di rumah utama malam ini. Dan... seperti biasa, beliau merencanakan perjodohan konyol dengan anak sahabatnya."
Aisyah tertegun sejenak. Ada secercah rasa nyeri yang mendadak mencubit hatinya, meski ia berusaha menutupinya dengan senyuman di balik cadar. "Kalau begitu... datanglah, Mas. Jangan membuat orang tuamu kecewa. Bagaimanapun, restu orang tua itu penting."
Kenzie menatap lekat-lekat manik mata istrinya. Ia menggeleng tegas. "Tidak. Aku tidak akan pergi sendiri, dan aku tidak peduli dengan wanita pilihan Mommy."
"Tapi, Mas—"
"Aku sudah menikah, Aisyah," potong Kenzie dengan suara mantap, penuh ketegasan namun sarat akan cinta. "Kamu adalah istri sahku di hadapan Allah dan hukum. Aku tidak akan menyembunyikanmu lagi dari keluargaku. Malam ini, kita berdua akan pergi ke rumah utama. Aku akan memperkenalkanmu pada Mommy dan Daddy sebagai ratu di dalam hidupku."
Aisyah membelalakkan matanya, diliputi rasa terkejut bercampur cemas. Mengingat bagaimana Kenzie dulu membawanya dengan cara paksa ke istana, ia khawatir keluarga besar suaminya akan memandang rendah latar belakangnya, atau lebih buruk lagi, menolak mentah-mentah kehadirannya.
"Apakah... apakah ini tidak terlalu cepat, Mas? Bagaimana jika orang tuamu tidak bisa menerimaku?" tanya Aisyah lirih, jemarinya meremas ujung abayanya.
Kenzie meraih kedua tangan Aisyah, menggenggamnya erat-erat untuk menyalurkan kekuatan dan ketenangan. "Percaya padaku. Aku yang akan pasang badan untukmu. Apapun yang terjadi, kamu adalah istriku."
Pukul tujuh malam lewat sepuluh menit, sebuah mobil sedan mewah hitam memasuki halaman luas sebuah mansion megah bergaya kolonial di kawasan elit ibu kota rumah utama keluarga Al-Ghazali.
Kenzie keluar lebih dulu dari sisi pengemudi, lalu membukakan pintu mobil untuk Aisyah. Dengan balutan abaya hitam elegan dan khimar serta cadar senada, Aisyah melangkah turun dengan anggun, meski debar di dadanya bergemuruh kencang. Kenzie mengulurkan lengannya, yang disambut dengan ragu namun erat oleh Aisyah. Mereka berjalan berdampingan memasuki pintu utama mansion tersebut.
Begitu pintu terbuka, asisten rumah tangga menyambut mereka dan mempersilakan masuk ke ruang makan utama.
Suasana di ruang makan itu tampak sangat hangat dan meriah. Di ujung meja panjang, duduk seorang pria paruh baya berwibawa Daddy Kenzie sedangkan di sisi lainnya, duduk seorang wanita paruh baya berpenampilan anggun Mommy yang sedang asyik berbincang ramah dengan seorang gadis muda bergaun pastel rapi berwajah jelita.
"Nah, itu dia anak yang kita tunggu-tunggu!" seru sang Mommy riang menyambut kedatangan Kenzie, sebelum matanya terpaku pada sosok wanita berhijab syar'i dan bercadar yang berdiri di samping putranya. Senyuman di wajah sang ibu seketika memudar, digantikan oleh kerutan tajam di dahi.
Kenzie melangkah maju dengan tegap, merangkul pinggang Aisyah protektif.
"Selamat malam, Daddy, Mommy," sapa Kenzie tenang.
Mommy berdiri dari kursinya, menatap Aisyah dari ujung kepala sampai kaki dengan pandangan menyelidik yang tidak menyembunyikan ketidaksukaannya. "Kenzie! Apa-apaan ini? Siapa wanita ini? Dan kenapa dia berpakaian seperti itu di dalam rumah keluarga kita?" lalu pandangannya beralih pada gadis bergaun pastel di sebelah kursi tamu. "Kenzie, kenalkan ini dr. Jessica, anak tante Karin yang Mommy ceritakan di telepon tadi."
dr. Jessica tersenyum manis ke arah Kenzie, namun Kenzie sama sekali tidak membalas senyuman itu.
Kenzie menarik napas dalam-dalam, menegaskan posisi istrinya di hadapan kedua orang tuanya. "Mom, Daddy, kenalkan. Ini Aisyah Humaira. Istriku."
Suasana di ruang makan mendadak berubah menjadi sunyi mencekam. Suara dentingan sendok seketika berhenti.
Mommy membelalakkan matanya, tertawa sinis seolah-olah baru saja mendengar sebuah lelucon buruk. "Istri?! Jangan main-main, Kenzie! Kamu tidak sedang melawak. Kapan kamu menikah? Siapa wanita ini? Jangan bilang dia perempuan entah berantah yang sengaja kamu pungut untuk menghindari perjodohan dari Mommy!"
"Aku tidak sedang melawak, Mom," jawab Kenzie dengan suara dingin dan tegas, sorot matanya menatap lurus ibunya tanpa gentar. "Kami sudah menikah secara sah beberapa bulan lalu. Dan dia bukan perempuan entah berantah; dia adalah istriku, satu-satunya wanita yang ada di dalam hidupku."
"Tidak! Mommy tidak merestui!" bentak sang Mommy, wajahnya memerah karena amarah dan kekecewaan. Ia menatap tajam ke arah Aisyah yang tertunduk di samping Kenzie. "Kamu dengar itu, perempuan berkedok kain hitam? Keluargaku tidak pernah menerima menantu seperti kamu! Kenzie adalah pewaris tunggal keluarga Al-Ghazali, dia harus menikah dengan wanita selevel, bukan gadis asing antah berantah yang bahkan wajahnya saja tidak berani ia tunjukkan!"
Aisyah merasakan dadanya sesak seketika. Air matanya menggenang di pelupuk mata. Ia hendak menarik tangannya dari rangkulan Kenzie dan berniat mundur, merasa dirinya tidak pantas berada di tengah keluarga terpandang itu.
Namun, sebelum Aisyah sempat bergerak, Kenzie mempererat rangkulannya, menarik tubuh istrinya semakin rapat ke sisinya. Kenzie menatap kedua orang tuanya dengan sorot mata yang menyala tajam sorot mata dingin seorang penguasa yang siap menghancurkan siapapun yang berani menyakiti miliknya.
"Cukup, Mom!" suara Kenzie menggelegar memenuhi ruang makan, membuat seluruh pelayan tertegun ketakutan. "Aku tidak peduli dengan status sosial ataupun perjodohan yang Mommy inginkan. Aku datang ke sini bukan untuk meminta izin kalian untuk menikah, karena aku sudah menikahinya. Aku datang ke sini untuk menghormati kalian sebagai orang tuaku dan memperkenalkan istriku dengan baik-baik."
Daddy Kenzie yang dari tadi diam akhirnya mengangkat tangan, menatap putranya dengan pandangan penuh selidik dan wibawa. "Kenzie, jaga nada bicaramu pada ibumu. Jelaskan pada kami, apa alasanmu memilih wanita ini, dan buktikan kenapa kami harus menerimanya di keluarga ini."
Kenzie menoleh sekilas menatap Aisyah yang bergetar di sampingnya, lalu kembali menatap tajam kedua orang tuanya dengan dada membusung penuh kebanggaan.