Enam tahun berpisah dari Nathaniel meninggalkan Elena dalam kehampaan, memikul rahasia besar: seorang anak rahasia bernama Gavin. Di tengah keterpurukannnya, Elena kembali pada sahabat masa kecilnya, Julian. Hubungan mereka kian rumit ketika Julian terikat open marriage dengan wanita lain demi tetap bisa melindungi Elena dan Gavin.
Takdir berputar kejam saat Elena tak sengaja bertemu kembali dengan Nathaniel di pesawat. Penyesalan memuncak ketika wajah Gavin tanpa sengaja terpampang sebagai brand ambassador perusahaan Nathaniel. Terjebak di antara cinta masa lalu, ikatan darah, dan kompromi sunyi sahabatnya, ke mana Elena harus melabuhkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Julian
Pelan-pelan, isak tangis Elena mulai mereda. Deru napasnya yang tadinya tersengal kini berangsur teratur, menyisakan sisa-sisa getaran kecil di tubuh mungilnya yang basah kuyup terkena rintik hujan.
Melihat kondisi Elena, Julian segera melepaskan dekapannya sejenak. Tanpa membuang waktu, ia berlari kecil menuju mobil Lexus-nya yang pintunya masih terbuka, merogoh jok belakang dan mengambil jaket jeans tebal miliknya yang memang selalu ia tinggalkan di dalam mobil.
Sekembalinya ke teras, Julian langsung menyampirkan jaket jeans tebal itu ke pundak Elena, membungkus tubuh sahabatnya rapat-rapat untuk mengusir sisa-sisa dingin yang menusuk tulang.
Julian berlutut di hadapan kursi tempat Elena duduk, menatap manik mata gadis itu yang masih basah oleh air mata dan sisa kepedihan. Jemarinya dengan lembut merapikan helai rambut Elena yang menempel di keningnya.
"Udah, ya... jangan nangis lagi, hm?" bisik Julian lembut, suaranya sarat akan kehangatan dan ketulusan yang luar biasa. "Mata kamu udah bengkak gitu. Sekarang, kamu masuk ke dalam ya, istirahat ya."
Julian tersenyum tipis, mencoba memberikan ketenangan di tengah malam yang dingin itu. Ia memberikan janji kecil untuk menghibur hati Elena yang masih rapuh.
"Besok... janji, aku jemput lagi. Kita keluar, kamu boleh belanja apa aja yang kamu suka, makan apa aja yang kamu mau, dan aku bakal nemenin kamu kemanapun seharian penuh," bujuk Julian sabar.
Mendengar janji dan kelembutan luar biasa dari pria di depannya, pertahanan hati Elena perlahan mencair. Rasa bersalahnya memang belum sepenuhnya hilang, tetapi kehangatan yang diberikan Julian malam ini berhasil menjadi penawar penat di dadanya.
Elena mengangguk pelan, menarik napas dalam-dalam sembari mengeratkan jaket jeans Julian di tubuhnya.
Sebelum beranjak, Julian mencondongkan tubuhnya, mendaratkan sebuah kecupan yang sangat lama dan penuh kasih sayang di kening Elena.
"Masuk ya, princess. Aku tungguin sampai kamu masuk," ucap Julian sambil berdiri dan membukakan pintu rumah Elena perlahan.
Elena bangkit dari kursi, melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai namun jauh lebih tenang dari sebelumnya. Ia sempat menoleh sekali lagi ke arah teras, mendapati Julian yang berdiri tegak mengawasinya dengan tatapan penuh siaga.
Baru setelah pintu utama tertutup rapat dan sesaat kemudian cahaya lampu di lantai atas kamar Elena menyala—menandakan gadis itu sudah tiba di kamarnya dengan selamat Julian menghela napas panjang.
Ia berbalik, melangkah kembali ke bawah hujan deras menuju mobilnya, lalu melajukan Lexus putih itu membelah sunyinya jalanan Medan di penghujung dini hari.
Begitu melangkah masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu rapat-rapat, Elena langsung melepaskan piyama tipisnya yang basah kuyup. Jemarinya yang gemetar dengan telaten memegang jaket jeans tebal milik Julian.
Dengan penuh kehati-hatian, ia menggantung jaket itu di gantungan baju belakang pintu, merapikan posisinya agar kainnya tidak kusut dan aroma maskulin khas Julian yang menempel di sana tetap terjaga.
Elena kemudian melangkah ke lemari, merogoh sebuah hoodie oversize favoritnya, lalu mengenakannya. Kehangatan kain tebal itu mengurung tubuhnya, perlahan mengusir sisa dingin malam dan rasa lelah yang menguras jiwanya.
Dengan hati yang kini jauh lebih tenang—terbuai oleh kelembutan dan janji manis Julian Elena merebahkan diri di atas ranjang dan akhirnya terlelap dalam tidur yang begitu nyenyak.
Sementara itu, di dalam kabin Lexus yang melaju pelan membelah keheningan malam kota Medan, benak Julian justru berkecamuk hebat. Pria itu mencengkeram lingkar kemudi dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Rasa bingung dan bersalah datang bertubi-tubi menghantam kesadarannya. Di satu sisi, ada tanggung jawab moral yang teramat besar terhadap Claire. Dialah pria pertama yang mengambil keperawanan Claire, pria yang membawa wanita itu masuk ke dalam dunianya, dan pria yang telah mengikat janji untuk melangkah ke pelaminan bersamanya tahun depan.
Claire tidak pernah membuat masalah, ia adalah pasangan yang sempurna di atas kertas.
Namun di sisi lain, kebenaran malam ini menamparnya tanpa ampun.
Penyesalan, kecemburuan gila saat melihat Elena menangisi pria lain, hingga debaran hebat yang membakar dadanya semua itu adalah bukti yang tak bisa lagi ia bantah. Selama bertahun-tahun ia membohongi dirinya sendiri di balik topeng "persahabatan".
Hati, jiwa, dan cintanya yang sesungguhnya sejak awal hanyalah milik satu wanita: Elena, sahabat kecilnya yang kini telah merenggut seluruh fokus hidupnya.
Julian menghentikan mobilnya sejenak di tepi jalan yang sepi, menatap rintik hujan di kaca depan dengan pandangan kosong. Ia terjebak di antara kewajiban moral untuk bertanggung jawab pada masa depan Claire, atau kejujuran hatinya yang berteriak bahwa ia tidak bisa hidup tanpa Elena.
ayo tor lanjutin update nya