Terlahir kembali dengan ingatan masa lalu yang utuh, Shen Jue dipandang sebelah mata di Akademi Canglan hanya karena membangkitkan belati kecil berkarat yang dianggap rongsokan tak berharga. Tanpa menyadari bahwa belati tersebut menyimpan rahasia kelam pemutus aliran energi alami, para murid bangsawan terus berusaha menindasnya hingga Shen Jue membongkar kelemahan mereka satu per satu dengan ketenangan yang mematikan. Bersama Ruan Xi'er dan Gongsun Zhi, ia menapak jalur petarung yang dingin di tengah himpitan intrik klan-klan besar yang haus kekuasaan. Mampukah Shen Jue membuka segel rahasia di balik belati rongsoknya dan menghentakkan takdirnya sebagai penguasa abadi di Benua Tianwu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KJT 23
Batu-batu granit hitam yang menyangga bangunan Balai Disiplin berdiri kokoh bagai raksasa bisu di tebing sebelah utara. Udara di dalam ruangan luas berdinding tebal itu terasa dingin bercampur aroma minyak lentera tua dan kertas kitab kuno yang lapuk. Tidak ada jendela besar yang membiarkan sinar matahari sore masuk, hanya ada belasan obor batu yang memancarkan pendar cahaya keemasan suram, membiaskan bayangan panjang orang-orang yang berdiri di tengah aula sidang.
Tetua Yan, Kepala Pengawas Balai Disiplin Akademi Canglan, duduk di atas kursi kayu cendana berukir naga di panggung utama. Wajah tuanya yang dipenuhi kerutan dalam tampak sangat keras, dipadu dengan janggut putih panjang yang menjuntai rapi di atas jubah hitamnya. Dua orang pengawal balai disiplin bertubuh tegap berdiri siaga di samping panggung, menggenggam tombak perak yang memancarkan hawa menindas.
Di tengah aula batu, dua kelompok murid berdiri berseberangan. Di sisi kanan, Lu Ming, Chen Xiang, dan Mo Qi berdiri meringis bersama lima murid senior lainnya. Lengan kanan Lu Ming masih terkulai lemas akibat totokan saraf Shen Jue, sementara Chen Xiang harus dipapah karena dadanya masih memar bekas dorongan tombak Gongsun Zhi.
Di sisi kiri, Shen Jue, Ruan Xi'er, dan Gongsun Zhi berdiri berdampingan dengan tenang. Pakaian linen abu-abu milik Shen Jue tampak sangat rapi, tanpa ada setitik pun noda darah atau bekas perkelahian pada serat kainnya.
"Keributan di Kompleks Kantin Bintang," buka Tetua Yan dengan suara berat yang dalam, menggema jernih menembus setiap sudut aula. "Satu meja kayu jati tebal hancur menjadi serbuk, pintu utama kantin retak, dan delapan murid senior mengalami kelumpuhan sementara pada saluran meridian mereka."
Tetua Yan mengedarkan pandangannya yang tajam bagai elang, mengunci wajah Lu Ming sebelum beralih ke Shen Jue. "Lu Ming, sebagai murid senior tingkat dua, jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi!"
Lu Ming melangkah maju satu tindakan, merubah raut wajahnya menjadi teraniaya dan penuh kesedihan. "Lapor Tetua Yan! Kami murid-murid senior hanya berniat menyapa dan mengingatkan murid baru tentang aturan akademi di kantin. Namun tiba-tiba, murid bernama Shen Jue dan Gongsun Zhi ini menyerang kami secara brutal!"
Chen Xiang ikut memotong dengan suara melengking. "Benar, Tetua! Shen Jue menggunakan ilmu hitam terlarang! Tanpa mencabut senjata atau melepaskan pendar energi spiritual yang jelas, dia mengetuk pergelangan tangan kami dan membuat seluruh aliran energi kami mati total! Dia pasti menggunakan racun atau teknik jahat dari sekte luar!"
Mendengar tuduhan palsu yang begitu tidak masuk akal, Xi'er tidak sanggup lagi menahan amarahnya. Gadis itu melangkah maju dengan mata berkilat berang. "Bohong! Kalian yang mengepung dan menyerang kami duluan hanya karena gengsi klan kalian terluka!"
"Diam!" bentak seorang pengawal disiplin sambil menghentakkan pangkal tombak peraknya ke lantai batu.
Brakkk!
Getaran energi menindas menyembur keluar, membuat Xi'er terhenyak mundur satu langkah.
Tetua Yan mengetuk meja kayunya pelan, meredakan ketegangan. Pandangannya yang dingin menatap lurus ke arah Shen Jue yang sejak tadi berdiri membisu tanpa memperlihatkan raut panik sedikit pun.
"Shen Jue," panggil Tetua Yan mendalam. "Tuduhan menggunakan teknik terlarang atau racun untuk melumpuhkan senior adalah pelanggaran tingkat pertama di Akademi Canglan. Hukuman untuk pelanggaran ini adalah pencabutan status murid dan pengasingan ke Gua Es Selamanya. Apa pembelaanmu?"
Gongsun Zhi di samping Shen Jue meremas erat ikatan kain tombaknya, siap maju membela. Namun, Shen Jue menepuk bahu tegap sahabatnya itu pelan, memberi isyarat agar Gongsun Zhi tetap tenang.
Shen Jue melangkah maju dua tindakan secara halus. Posisinya berdiri sangat tegap, menatap Tetua Yan di panggung utama dengan pandangan mata yang jernih, tajam, dan penuh kebenaran yang tak tergoyahkan.
"Tetua Yan yang terhormat," ucap Shen Jue dengan nada suara yang teramat tenang dan runtut. "Sebelum Balai Disiplin menjatuhkan hukuman apa pun, izinkan saya membela diri berdasarkan tiga aturan resmi akademi."
Tetua Yan memiringkan kepalanya sedikit, terkejut mendengar ketenangan bocah desa di depannya. "Katakan."
"Pertama, Pasal Empat Aturan Akademi Canglan menyatakan bahwa setiap murid berhak melakukan pertahanan diri yang proporsional ketika mendapat ancaman fisik di luar arena resmi," terang Shen Jue secara logis dan terstruktur. "Keributan di kantin dipicu oleh Chen Xiang yang mencoba menyerang Ruan Xi'er terlebih dahulu di depan puluhan saksi mata murid baru. Gongsun Zhi hanya menahan tebasan pedang mereka untuk melindungi rekan sekelompoknya."
Lu Ming meringis gusar. "Tapi kau melumpuhkan delapan orang murid senior di pelataran luar!"
"Itu membawa kita ke poin kedua," potong Shen Jue tanpa menoleh ke arah Lu Ming, fokus bicaranya tetap tertuju lurus pada Tetua Yan. "Tuduhan penggunaan racun atau ilmu hitam adalah fitnah dangkal dari orang-orang yang tidak memahami anatomi fisik petarung secara benar."
Shen Jue merogoh belati kecil berkarat dari saku jubahnya, mengacungkannya pelan di udara. "Belati ini adalah Roh Senjata milik saya. Tidak ada racun, tidak ada pendar aura jahat. Yang saya lakukan pada Lu Ming dan teman-temannya hanyalah teknik *Totokan Saraf Utama*."
"Totokan Saraf Utama?" ulang Tetua Yan dengan alis bertaut heran.
"Benar," jawab Shen Jue mantap. "Otot dan jalur pembuluh darah manusia terikat pada titik-titik meridian tertentu. Saya hanya mengetuk titik *Shousanli* di siku Lu Ming dan titik *Neiguan* di pergelangan tangan murid lainnya. Penutupan titik saraf ini hanya bersifat sementara—aliran energi mereka akan pulih total dalam waktu dua jam tanpa menyisakan cacat atau luka dalam sedikit pun."
Shen Jue membuang pandangannya sekilas ke arah Lu Ming. "Jika saya benar-benar berniat jahat menggunakan teknik pembunuh, totokan pada titik *Qihai* di perut bawah Lu Ming tadi sudah cukup untuk meremukkan Dantiannya selamanya. Tapi saya tidak melakukannya karena saya menghormati aturan akademi."
Mendengar penjelasan yang teramat presisi dan mendalam tentang alur meridian tersebut, Tetua Yan berdiri dari kursi cendananya. Pria tua itu melangkah turun dari panggung utama, menghampiri Lu Ming yang sedang memegangi lengan kanannya.
Tetua Yan merenggangkan jemarinya, menempelkan telapak tangannya di bahu Lu Ming untuk menyalurkan energi pemeriksaan.
Sret...
Riak energi putih mengalir menyapu pembuluh darah Lu Ming. Seketika itu juga, mata tua Tetua Yan membelalak kaget. Seperti yang dikatakan Shen Jue, tidak ada jejak racun atau luka dalam pada tubuh Lu Ming. Aliran energinya hanya tersumbat halus pada dua titik saraf luar akibat tekanan mekanis yang teramat presisi—sebuah penguasaan akupresur tempur tingkat sempurna yang bahkan jarang dikuasai oleh tabib senior akademi!
"I-ini... ini murni penguncian meridian fisik..." gumam Tetua Yan terperanjat dalam batinnya, menatap Shen Jue dengan rasa takjub yang teramat tebal.
Shen Jue melanjutkan poin ketiganya tanpa memberi ruang bagi musuh untuk memotong. "Poin ketiga, Pasal Dua Belas Aturan Akademi melarang keras murid senior menggunakan wewenang atau kekuatan kelompok untuk mengintimidasi murid baru di luar jam latihan. Lu Ming dan kelompoknya mengepung kami dengan delapan orang, membawa senjata tajam, dan memprovokasi keributan di area umum. Bukankah justru mereka yang melanggar kehormatan Akademi Canglan?"
Aula Balai Disiplin seketika hening total.
Lu Ming, Chen Xiang, dan Mo Qi membeku kaku dengan wajah pucat pasi. Argumen logis Shen Jue yang menyatukan bukti fisik, penguasaan anatomi, dan pasal hukum akademi telah mengunci rapat semua celah fitnah mereka hingga tak bersisa.
Xi'er menahan senyum bangganya, melirik gembira ke arah Gongsun Zhi yang mengangguk pelan penuh kekaguman.
Tetua Yan menarik kembali tangannya dari bahu Lu Ming, lalu berbalik melangkah kembali ke atas panggung. Pria tua itu menatap Lu Ming dan kelompoknya dengan pandangan dingin yang amat mengecewakan.
"Lu Ming! Chen Xiang!" tegur Tetua Yan dengan suara menggelegar yang menggetarkan obrolan aula. "Kalian adalah murid senior tingkat dua, tetapi kalian mempermalukan nama akademi dengan mengepung murid baru dan kalah secara menyedihkan hanya karena totokan saraf sederhana! Lebih buruk lagi, kalian mencoba memfitnah mereka di Balai Disiplin ini!"
"T-Tetua Yan! Kami..." gagap Lu Ming dengan dahi dibasahi keringat dingin.
"Cukup!" potong Tetua Yan tegas. "Shen Jue, Ruan Xi'er, dan Gongsun Zhi terbukti tidak bersalah dan bertindak murni dalam batas pertahanan diri sah. Kalian bertiga dibebaskan dari segala tuduhan!"
Tetua Yan kemudian beralih menatap kelompok senior yang gemetar. "Sedangkan untuk Lu Ming dan rombongannya... kalian dihukum membersihkan seluruh Lapangan Bintang dan Kompleks Kantin selama satu bulan penuh, serta dikurangi poin tunjangan bulanan kalian sebesar setengah!"
"Apa?!" jerit Chen Xiang tertahan, namun ia tidak berani membantah keputuan mutlak kepala disiplin tersebut.
Shen Jue merapikan kerudung linen abu-abunya, memberi hormat ringkas pada Tetua Yan dengan gerakan tangan yang sangat sopan. "Terima kasih atas keadilan Tetua Yan."
"Kalian bertiga boleh pergi," pungkasi Tetua Yan dengan nada suara yang melunak.
Saat Shen Jue, Xi'er, dan Gongsun Zhi berbalik melangkah keluar menembus pintu granit Balai Disiplin, Tetua Yan menatap punggung Shen Jue dengan binar mata mendalam.
"Anak muda dari Desa Ping-an itu..." batin Tetua Yan penuh selidik. "Bukan hanya belatinya yang aneh... tapi ketenangan batin, logika bicaranya, dan pengetahuannya tentang struktur meridian manusia jauh melampaui usianya. Dia benar-benar seekor naga tersembunyi di angkatan baru ini."