“Dia menikahiku untuk menyelamatkan kerajaannya. Aku menikahinya untuk menyelamatkan keluargaku. Namun, tak satu pun dari kami menyadari bahwa cinta akan menjadi pengkhianatan paling berbahaya.”
• Dante Alessandro Vieri (32 tahun): Bos mafia Italia yang tampan, gagah, bermata biru safir, dingin, penuh perhitungan, dan tidak pernah memaafkan pengkhianatan. Di balik kekuasaannya, ia menyimpan luka lama yang membuatnya tidak percaya pada cinta.
• Bianca Elena Laurent (24 tahun): Gadis cantik keturunan Spanyol dan Timur Tengah, bermata cokelat keemasan, berambut hitam panjang, cerdas, berani, serta memiliki harga diri yang tidak mudah dihancurkan. Ia tidak pernah membayangkan akan menjadi istri rahasia seorang mafia.
• Luciano Vieri: Adik tiri Dante yang menginginkan takhta keluarga.
• Isabella Moretti: Perempuan dari masa lalu Dante yang menyimpan rahasia tentang kematian ibunya.
• Adrian Laurent: Kakak Bianca yang menghilang setelah membawa sebuah dokumen berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 — Pria yang Berlutut
Pagi belum sepenuhnya tiba ketika Dante memasuki kamar rumah sakit tempat Bianca dirawat.
Perempuan itu sedang duduk bersandar di ranjang dengan lengan kiri diperban. Wajahnya masih pucat, tetapi matanya langsung mencari sosok suaminya begitu pintu terbuka.
“Dante!”
Dante menghampirinya dengan langkah cepat.
“Kau baik-baik saja?”
Bianca mengangguk. “Lukanya tidak terlalu parah. Bagaimana dengan Gabriel?”
Dante terdiam sejenak.
“Dia meninggal sebelum ambulans tiba.”
Bianca menundukkan kepala. Ia baru saja mengenal pria tua itu, tetapi Gabriel adalah satu-satunya orang yang berani mengakui keterlibatannya dalam rahasia kelahiran mereka.
“Apa kau berhasil mendapatkan dokumennya?”
Dante mengeluarkan sebuah amplop dari dalam jas.
“Ya. Rafael Moretti adalah ayah kandungmu.”
Bianca memejamkan mata.
Akhirnya, satu pertanyaan dalam hidupnya terjawab.
Namun, masih ada begitu banyak hal yang belum mereka ketahui.
“Lalu siapa bayi kedua?” tanyanya.
Dante duduk di tepi ranjang.
“Aku belum tahu. Luciano mengaku bahwa dirinya adalah anak Alessandro, tetapi ada pesan yang menyebutkan bahwa dia bukan bayi yang disembunyikan.”
Bianca menatapnya.
“Berarti ada seseorang yang masih hidup dan mengetahui semuanya.”
Dante mengangguk.
“Dan orang itu mungkin sedang mengawasi kita.”
Bianca meraih tangannya.
“Jangan hadapi semuanya sendirian.”
Dante mengusap jemarinya.
“Aku tidak akan melakukannya.”
Sementara itu, di sebuah vila tua di pinggiran Roma, Luciano sedang berbicara dengan Vittorio.
Wajah Luciano dipenuhi kemarahan.
“Kenapa kau tidak memberitahuku bahwa ada kemungkinan aku bukan anak Alessandro?”
Vittorio duduk santai di kursinya.
“Karena aku sendiri belum memiliki bukti.”
“Selama ini kau menjanjikan bahwa aku adalah pewaris sebenarnya!”
“Aku mengatakan bahwa kau memiliki hak atas keluarga Vieri. Itu berbeda dengan menjadi anak biologis Alessandro.”
Luciano membanting gelas ke meja.
“Aku menghabiskan bertahun-tahun membenci Dante karena dia mendapatkan segalanya!”
Vittorio menatapnya dingin.
“Dan kebencian itu membuatmu mudah dikendalikan.”
Luciano mendekat.
“Siapa bayi kedua itu?”
Vittorio membuka laci dan mengeluarkan sebuah foto lama.
Foto itu memperlihatkan seorang anak laki-laki kecil berdiri di depan rumah sakit. Di belakangnya terlihat seorang perempuan mengenakan liontin bulan sabit.
Luciano mengambil foto tersebut.
“Siapa anak ini?”
Vittorio menjawab pelan.
“Anak yang dibawa pergi sebelum fajar. Anak yang seharusnya dibesarkan oleh Alessandro.”
Luciano menatap foto itu lebih lama.
“Di mana dia sekarang?”
Vittorio tersenyum tipis.
“Tidak jauh dari kita.”
Di rumah sakit, Bianca menerima kunjungan yang tidak diduganya.
Seorang pria paruh baya mengenakan mantel abu-abu berdiri di ambang pintu. Wajahnya terlihat lelah, tetapi sorot matanya sangat mirip dengan foto Rafael yang pernah dilihat Bianca.
Bianca langsung berdiri.
“Siapa Anda?”
Pria itu menatapnya lama.
“Namaku Rafael Moretti.”
Dante yang sedang berbicara dengan Marco langsung berbalik.
Tangannya bergerak menuju pistol di balik jas.
“Berhenti di sana.”
Rafael mengangkat kedua tangannya.
“Aku tidak datang untuk menyerang siapa pun.”
Bianca menatap pria itu dengan perasaan campur aduk.
“Apakah benar Anda ayah kandung saya?”
Rafael mengangguk.
“Ya, Bianca.”
Mata Bianca mulai berkaca-kaca.
“Kenapa baru sekarang?”
Rafael menunduk.
“Karena aku pengecut.”
Jawaban itu membuat Bianca terdiam.
Rafael melanjutkan, “Aku mengenal ibumu jauh sebelum dia bertemu Alessandro. Kami pernah berjanji akan membangun keluarga bersama. Tetapi ketika Elena mengetahui bahwa keluargaku terlibat dalam urusan berbahaya, dia memilih menjauhiku.”
“Lalu apa yang terjadi ketika saya lahir?”
Rafael menghela napas.
“Vittorio mengancam akan membunuhmu jika aku tidak menyerahkan semua dokumen yang dimiliki Elena. Aku tidak punya kekuatan untuk melawannya.”
Bianca mengusap air matanya.
“Jadi Anda meninggalkan saya?”
Rafael menunduk semakin dalam.
“Aku menyesalinya setiap hari.”
Dante berdiri di samping Bianca.
“Penyesalan tidak cukup untuk menghapus apa yang telah terjadi.”
“Aku tahu,” jawab Rafael. “Aku tidak meminta Bianca memaafkanku.”
Ia kemudian mengeluarkan sebuah amplop.
“Ini surat terakhir Elena untukmu. Aku menyimpannya selama bertahun-tahun.”
Bianca menerima surat itu dengan tangan gemetar.
Tulisan tangan ibunya terlihat jelas meskipun kertasnya sudah menguning.
Untuk anakku, Bianca.
Jika suatu hari kau membaca surat ini, berarti Ibu tidak lagi berada di sisimu.
Ibu ingin kau mengetahui bahwa kau dilahirkan dari cinta, bukan dari kesalahan. Ayahmu adalah Rafael, pria yang pernah Ibu cintai. Tetapi ada alasan mengapa Ibu tidak bisa membesarkanmu bersamanya.
Alessandro membantuku melindungimu. Dia bukan ayah kandungmu, tetapi dia berjanji akan menjaga rahasia kelahiranmu sampai bahaya berlalu.
Jika kau bertemu seorang pria bernama Dante Vieri, jangan langsung membencinya karena nama keluarganya. Dia tidak bertanggung jawab atas dosa orang-orang sebelum dirinya.
Bianca berhenti membaca.
Air mata jatuh di pipinya.
Ia melanjutkan kalimat terakhir.
Dan satu hal lagi, anakku. Jangan pernah mencari saudara yang hilang tanpa membawa liontin bulan sabitmu. Liontin itu adalah satu-satunya petunjuk menuju anak kedua yang diambil dari rumah sakit.
Bianca menurunkan surat.
“Anak kedua…”
Dante langsung mengambil liontin dari meja.
“Jadi, benda ini adalah kuncinya.”
Rafael mengangguk.
“Elena pernah mengatakan kepadaku bahwa liontin itu memiliki bagian tersembunyi.”
Dante memeriksanya dengan teliti.
Di bagian belakang liontin terdapat ukiran kecil yang selama ini tidak pernah mereka perhatikan.
Sebuah angka.
17-10-1994.
Tanggal kelahiran Bianca.
Namun, di bawah angka tersebut terdapat tulisan yang lebih kecil.
Kamar 08.
Malam harinya, Dante membawa Bianca kembali ke Villa Vieri setelah dokter memastikan kondisinya stabil.
Di ruang kerja, Rafael duduk di hadapan Dante dan Bianca.
“Alessandro pernah memintaku menguji DNA seorang bayi,” kata Rafael. “Namun, hasilnya tidak pernah diberikan kepadaku.”
“Bayi siapa?” tanya Dante.
Rafael menatapnya.
“Bayi yang dibawa pergi dari rumah sakit pada malam Bianca lahir.”
Dante mengerutkan kening.
“Apakah kau tahu siapa yang membawanya?”
Rafael menggeleng.
“Tapi aku tahu seseorang membayar petugas rumah sakit untuk menghapus catatan kamar delapan.”
Bianca langsung teringat ukiran pada liontinnya.
“Kamar delapan…”
Rafael mengangguk.
“Di sana terdapat ruang penyimpanan arsip lama. Elena pernah menyembunyikan sesuatu di tempat itu.”
Dante berdiri.
“Marco!”
Pintu terbuka.
“Ya, Don?”
“Siapkan tim. Kita akan menuju rumah sakit lama tempat Elena melahirkan.”
Marco mengangguk dan segera pergi.
Namun, Rafael tiba-tiba berdiri.
“Tunggu.”
Dante menoleh.
“Ada apa lagi?”
Rafael menatap Bianca, kemudian perlahan berlutut di hadapannya.
“Aku tahu aku tidak pantas meminta apa pun darimu. Aku meninggalkanmu ketika kau masih bayi. Aku membiarkanmu tumbuh tanpa seorang ayah.”
Bianca menahan napas.
Rafael menggenggam tangannya dengan hati-hati.
“Tapi izinkan aku memperbaiki kesalahanku. Bukan sebagai pria yang menuntut hak menjadi ayahmu, melainkan sebagai seseorang yang ingin mengenal putrinya.”
Bianca menatap wajah pria itu.
Selama bertahun-tahun, ia membayangkan bagaimana rasanya bertemu ayah kandungnya. Ia pernah berharap pria itu akan datang dengan pelukan hangat dan jawaban yang menenangkan.
Namun, kenyataan ternyata jauh lebih rumit.
“Aku belum bisa memaafkan Anda,” katanya lirih.
Rafael mengangguk.
“Aku mengerti.”
“Tapi saya ingin mengetahui kebenaran. Dan saya ingin Anda membantu kami menemukan anak kedua itu.”
Rafael mengangkat wajah.
“Aku akan melakukan apa pun.”
Dante memperhatikan mereka dalam diam. Ada sesuatu yang berubah dalam dirinya ketika melihat Rafael berlutut di hadapan Bianca.
Selama ini ia mengira keluarga adalah sesuatu yang harus dipertahankan dengan kekuasaan.
Kini ia mulai memahami bahwa keluarga juga bisa menjadi sumber luka paling dalam.
Beberapa jam kemudian, Marco datang membawa kabar dari rumah sakit lama.
“Don, kami menemukan arsip kamar delapan.”
Dante segera berdiri.
“Apa isinya?”
Marco menyerahkan sebuah foto hasil pemindaian.
Foto itu memperlihatkan seorang bayi laki-laki yang sedang digendong oleh seorang perawat.
Di belakang foto terdapat tulisan:
Bayi kedua diserahkan kepada keluarga yang telah dipilih Alessandro.
Bianca mendekati layar.
“Siapa keluarga itu?”
Marco memperbesar bagian bawah foto.
Di sana tertulis sebuah nama keluarga.
MORETTI.
Rafael langsung membeku.
“Tidak mungkin…”
Dante menoleh.
“Apa yang kau ketahui?”
Rafael memandang foto tersebut dengan wajah pucat.
“Anak itu mungkin…”
Ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Bianca menggenggam lengannya.
“Siapa?”
Rafael akhirnya mengangkat wajah.
“Anak itu mungkin adalah seseorang yang selama ini berada sangat dekat dengan keluarga kalian.”
Dante menatap foto itu sekali lagi.
Kemudian sebuah pesan masuk ke ponselnya.
Nomor tidak dikenal.
Berhentilah mencari bayi kedua. Kalian tidak akan sanggup menerima kenyataan bahwa orang yang kalian cari adalah orang yang paling kalian percaya.
Dante mengangkat pandangan ke arah Marco.
“Periksa semua orang di rumah ini.”
Marco mengangguk.
Namun, sebelum ia sempat pergi, pintu ruang kerja terbuka.
Seorang pelayan masuk dengan wajah pucat.
“Maaf, Don. Ada seseorang yang datang dan meminta bertemu Nyonya Bianca.”
“Siapa?”
Pelayan itu menelan ludah.
“Namanya Gabriel Moretti.”
Semua orang terdiam.
Rafael langsung berdiri.
“Itu tidak mungkin. Gabriel sudah meninggal.”
Dante mengambil pistolnya.
“Di mana dia?”
Pelayan itu menunjuk ke arah ruang tamu.
“Dia menunggu di sana, Don.”
Bianca menatap Dante.
Mereka berjalan menuju ruang tamu dengan langkah hati-hati.
Di sana berdiri seorang pria tua dengan mantel hitam. Wajahnya memang mirip Gabriel, tetapi lebih muda dan tanpa luka di pelipis.
Pria itu tersenyum ketika melihat Bianca.
“Akhirnya kita bertemu lagi.”
Dante mengarahkan pistol kepadanya.
“Siapa kau sebenarnya?”
Pria itu mengeluarkan sebuah foto lama.
Foto seorang bayi laki-laki yang digendong Alessandro.
Lalu ia berkata dengan suara tenang,
“Namaku Gabriel Moretti. Dan aku adalah anak yang seharusnya dibesarkan sebagai pewaris keluarga Vieri.”
Bianca membeku.
Rafael mundur selangkah.
Sementara Dante menatap pria itu tanpa berkedip.
Bersambung…
jangan lupa mampirr🤭