Revano, seorang penulis, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Vian-tokoh yang ia ciptakan sendiri.
Sialnya, tubuh itu rapuh, keluarganya berantakan, dan hidupnya jauh berbeda dengan apa yang ia tulis.
Revano mencoba memperbaiki semuanya. Namun semakin lama ia hidup sebagai Vian, semakin banyak rahasia yang terkuak.
Hingga perlahan, satu kebenaran menghantamnya:
Vian bukan sekadar karakter.
Dan mungkin... ia bahkan tidak benar-benar memasuki raga Vian.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dopamine girl's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Mata yang semula terpejam mulai terbuka perlahan. Vian mengerjap beberapa kali, silau cahaya matahari dari balik gorden membuat netranya sedikit perih. Aroma antiseptik yang menusuk langsung memenuhi inderanya ketika penglihatannya mulai jelas—ruangan putih, sepi, dan dingin.
Ia mengangkat tubuhnya pelan, bersandar pada sandaran kasur. Belum sempat ia memahami situasi, suara pintu terbuka memecah ketenangan ruangan.
Tiga orang masuk Diana, Rangga, dan Vano. Mereka menenteng tas serta beberapa bungkus makanan.
“Anak Mommy udah bangun? Gimana perasaannya, ada yang sakit nggak?” suara Diana lembut, penuh kelegaan. Ia duduk di kursi samping Vian dan menatapnya dalam.
“Baik kok… cuma agak pusing,” jawabnya pelan.
Rangga ikut mendekat membawa semangkuk bubur. “Hey, jagoan. Makan dulu biar kuat.” Ia menyuapkan bubur itu. Vian menerima tanpa banyak bicara hanya matanya yang bergerak, memperhatikan keluarga yang entah mengapa terlihat berbeda hari ini.
“Mom, Dad… Abang udah pulang sekolah ya?” Ia melirik Vano yang duduk di sofa dengan seragam lengkap.
“Iya. Abang izin,” jawab Vano datar.
Vian mengangguk kecil. “Mom, aku belum beli peralatan sekolah buat besok…”
Diana menatap Rangga, memberi isyarat agar ia yang menjelaskan.
“Kamu sekolahnya undur dulu, ya. Minggu depan aja,” ucap Rangga hati-hati.
“Loh… kok gitu? Aku nggak mau, Mom.” Suaranya memohon, mencari persetujuan Diana.
Namun Diana hanya mengelus rambut Vian, tanpa menjawab. Diamnya membuat Vian semakin gelisah.
“Mom… bilang sesuatu dong.”
Rangga menghela napas panjang. Tak ingin Vian makin drop, ia akhirnya menyerah.
“Baiklah. Tapi setelah dokter izinin pulang.”
Vian mendesah kecil, kecewa. Ia takut dokter malah menyuruh rawat inap lebih lama.
Tepat saat kecemasannya memuncak, pintu kembali terbuka. Seorang dokter masuk bersama seorang suster. Mereka menghampiri Vian dengan senyum formal.
“Ada keluhan, dek?”
Vian menggeleng.
“Kondisi pasien baik-baik saja,” jelas sang dokter. “Pingsan dan sakit kepalanya kemungkinan akibat stres.” Ia mengusap rambut Vian sebentar. “Jaga kesehatan, ya. Jangan banyak pikiran.”
Vian terdiam. Dalam hatinya ia tahu tubuh ini sebenarnya baik; hanya dipenuhi jejak masalah yang ia ciptakan dulu.
“Jadi boleh pulang, kan?” tanya Vian cepat.
“Iya,” jawab suster. “Tapi tunggu infusnya habis dulu.”
Setelah dokter dan suster pergi, ruangan kembali senyap. Diana melotot ke arah Rangga, jelas tidak senang karena suaminya. niat menahan Vian di rumah sakit jadi gagal. sedangkan Rangga pura-pura mengalihkan pandangan.
Vano hanya bisa menghela napas melihat dua orang itu saling menahan emosi.
Ia lalu beralih ke Vian yang sedang sibuk meremas ujung selimut.
“Vian, nanti setelah infusnya habis, kita beli keperluan sekolah, ya. Sekalian main ke taman bermain. Mau?”
Vian langsung menatapnya dengan mata berbinar.
“Mau!!”
Vano tersenyum melihat adiknya begitu ceria. Ia menoleh ke orang tuanya. “Mom, Dad, Vano bakal jagain Vian. Percaya sama Vano.”
Meski wajah mereka penuh ragu, mereka tetap mengangguk menyetujui.
Sementara di satu sisi Vian tengah menunggu infusnya habis dengan hati riang, di sisi lain keadaan Ashilla justru berbanding terbalik.
---
Ashilla duduk sendirian di bangku taman. Tidak ada siapapun bahkan ketiga sahabatnya pun tidak ia biarkan mendekat. Ia butuh ruang, atau setidaknya begitu ia pikir. Namun ruang kosong itu justru membuat dadanya makin sesak.
Ia memeluk dirinya sendiri, berusaha menenangkan napas yang terasa tercekat.
“Tenang, As… kau baik-baik saja. Tidak ada yang akan terjadi.”
Namun suaranya bergetar, nyaris tidak terdengar
" Tenang as, jangan takut . Kau akan baik-baik saja, gak akan terjadi sesuatu padamu. Percayalah"
" Tapi mereka sudah tidak menyayangi ku, aku memang tak berguna ,aku pasti akan di buang "
"Aku tak mau … aku berguna , aku selalu menjadi anak baik , jadi aku akan baik-baik saja…" rancau nya. Pikirannya sedang tidak baik-baik saja. Apalagi tangan nya yang sudah menjadi korban dari kuku tangan nya sendiri. Penuh luka-luka , antara cakaran serta cengkraman kuat oleh dirinya sendiri.
Matanya berkaca-kaca. Dengan seluruh muka memerah menahan tangis. Namun yang ada hanya kesepian , kesepian yang perlahan membuat rasa cemasnya bergejolak. Tangan nya terus mengaruk acak seluruh kulit nya dimulai dari area leher tangan dan kaki. Namun bukanya mereda. Rasa gatal itu seolah semakin menjadi membuat perasaan ashilla semakin tak karuan.
"Ashilla?"seru seseorang dari arah belakang seketika mengagetkan ashilla.
Ia menoleh secara kasar ke arah Asal suara . Dengan mata nya sedikit melotot ke arah si pelaku "kak Dylan? Kanapa kau disini!"kagetnya . Ia cepat-cepat menyembunyikan kedua tangan nya di balik punggungnya. Dengan gugup ia tersenyum seperti biasa . Seolah kejadian tadi tak pernah terjadi.
" Aku kan udah bilang kalau aku dalam kondisi tidak baik untuk di temui siapapun,apa itu belum jelas" ketusnya . Namun di balik itu ada rasa ketakutan serta kekhawatiran yang terpancar dari netra cerah miliknya. Dylan diam tidak berbicara apapun.
Dengan perlahan.ia berjalan ke arah ashilla. Membuat ashilla di landa cemas seketika " kak Dylan … sebaiknya kakak jangan mendekat , apa kakak gak tau sopan santun" teriaknya. Namun seolah tuli Dylan berjalan ke arah shilla, dengan mata tajam penuh intimidasi.
" Dylan !! Aku bilang berhenti di sana!!, jika kau tak ingin aku membenci mu , sebaiknya kau berhenti sekarang juga . Atau kau akan tau akibatnya. "
Dylan berhenti. Tapi sorot matanya tidak berubah.
“Kalau kau membenciku karena aku mengkhawatirkanmu,” ucap Dylan datar namun tegas, “nggak apa-apa. Aku siap dianggap bajingan… asal aku tahu apa yang sebenarnya terjadi sama kamu.”
Ucapan itu membuat udara seolah menekan lebih berat di sekitar mereka.
Ashilla menelan ludah. Wajahnya tetap terangkat, angkuh, meski sorot matanya bergetar.
“Ini urusan aku. Kau nggak berhak ikut campur,” sahutnya pelan.
“Aku cukup tahu untuk sekarang,” gumam Dylan. Ia akhirnya melangkah dan duduk di samping Ashilla—tanpa memaksa ia menarik tangan. dengan genggaman lembut yang menyadarkan kehadirannya di sana
“Lo bener-bener ya…”