Husen Alkhafi adalah seorang guru idealis dengan kemampuan mengajar luar biasa yang ditugaskan ke SMA Garuda dan memimpin Kelas XI-7 yang terkenal sebagai sarang berandalan.
Namun, di tengah keputusasaan menghadapi murid-murid bermasalah yang hobi melawan guru, Husen membangkitkan Sistem Guru Legendaris yang memungkinkannya melihat potensi tersembunyi setiap siswa beserta kelemahan mereka.
Kini, berbekal sistem misterius dan keteguhannya, Husen bertekad mengubah kelas sampah itu menjadi yang terbaik, membimbing murid-muridnya menuju masa depan yang cerah,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Brum brum brum.
Suara deru mesin mobil mewah yang sangat halus memecah kesunyian halaman depan SMA Garuda Kelam.
Sebuah mobil sedan berwarna hitam mengkilap berhenti mulus tepat di dekat gerbang masuk sekolah yang berkarat.
Dua orang keluar dari dalam mobil itu dengan ekspresi wajah yang jelas menunjukkan rasa jijik meremehkan.
Yang pertama adalah Gilang, salah satu tangan kanan setia dari Reno di Akademi Cakrawala.
Dia memakai seragam putih abu-abu yang sangat bersih dari bahan kain berkualitas tinggi.
Yang kedua adalah seorang pria dewasa berkemeja biru muda dengan kacamata berbingkai emas mahal.
Dia adalah Pak Budi, guru pembimbing utama untuk divisi sains andalan dari Akademi Cakrawala.
"Sekolah ini benar-benar terlihat persis seperti tempat pembuangan sampah tingkat akhir."
Gilang berbisik pelan sambil menutup hidungnya karena mencium bau got yang sedikit menguap tertiup angin.
"Jangan terlalu banyak mengeluh Gilang, kita di sini hanya untuk melakukan inspeksi singkat lima menit."
"Reno meminta kita memastikan sendiri apakah sekolah rongsokan ini benar-benar berani mendaftar olimpiade kota."
Pak Budi menjawab dengan nada yang sama sombongnya sambil melangkah percaya diri memasuki area sekolah.
Tap tap tap.
Kedatangan mereka berdua yang mencolok itu langsung menarik perhatian beberapa murid yang sedang beristirahat.
Saat itu, Husen kebetulan sedang berjalan bersama Pak Haris menyusuri koridor menuju ruang tata usaha.
Bara dan Rico juga sedang duduk bersandar kelelahan di dinding koridor tak jauh dari posisi guru mereka.
"Selamat siang menjelang sore, Pak Haris."
Pak Budi menyapa dengan senyuman palsu yang terlihat sangat menjijikkan dari kejauhan.
Pak Haris menghentikan langkahnya dan membalas sapaan angkuh itu dengan ekspresi sedikit terkejut.
"Selamat siang juga, Pak Budi dari Cakrawala, tumben sekali Anda mau berkunjung ke sekolah kami yang sederhana ini."
"Saya dengar ada gosip lucu dari Dinas Pendidikan pagi tadi bahwa sekolah ini mengirimkan utusannya untuk olimpiade."
Pak Budi melirik ke sekeliling lorong yang cat temboknya sudah banyak terkelupas dengan pandangan geli.
"Saya mampir ke sini hanya ingin memastikan apakah gosip itu benar, karena rasanya sangat tidak masuk akal sama sekali."
Gilang yang berdiri tepat di belakang Pak Budi menyempatkan diri melirik sinis ke arah Bara dan Rico.
Dia tertawa meremehkan melihat seragam Bara yang sengaja dikeluarkan dan penuh dengan bekas noda keringat.
"Kalian berdua ini pasti cuma mau ikut lomba demi dapat jatah nasi kotak gratis dari panitia acara kan?"
"Muka-muka preman jalanan kayak kalian mana ngerti mikirin soal rumus sains apalagi politik ekonomi."
Gilang sengaja memprovokasi Bara dengan volume suara yang cukup keras agar didengar oleh semua murid di sana.
Urat di dahi Bara langsung menonjol keluar dan dia segera bangkit berdiri dari posisinya bersandar di dinding.
"Lu bilang apa barusan, dasar anak mami manja?!"
Bara mengepalkan telapak tangan kanannya kuat-kuat bersiap melangkah maju menghajar mulut sombong Gilang.
Gilang sedikit tersentak kaget dan mundur selangkah namun tetap berusaha memaksakan senyum ejekannya.
"Lihat kan, Pak Budi, murid sekolah sini bisanya memang cuma pakai otot doang kalau diajak adu argumen."
Husen segera melangkah maju menutupi jalan Bara dan menatap mata murid andalannya itu dengan sangat tenang.
"Bara, ingat baik-baik apa tujuan utama yang sudah kita pelajari tiga hari ini di tengah lapangan basket."
"Seorang pemimpin sejati tidak perlu memukul musuh yang bodoh, tapi cukup mempermalukannya dengan fakta tajam."
Bara menghentikan langkahnya sejenak dan menarik napas sangat panjang untuk meredakan emosinya yang meletup.
Efek wibawa dari Aura Mengajar milik Husen membuat pikiran Bara kembali menjadi jernih dalam hitungan detik.
Bara menurunkan kepalan tangannya dan menyeringai lebar ke arah Gilang dengan tatapan mata buas yang mengintimidasi.
"Lu tadi berani bilang kita nggak ngerti apa-apa soal politik dan ekonomi masyarakat?"
Bara melangkah maju satu tindak tanpa mengangkat kedua tangannya sama sekali dari sisi tubuhnya.
"Gue jauh lebih ngerti soal ekonomi riil di lapangan daripada lu yang cuma bisa baca teori dari buku tebal belian bapak lu."
"Lu tahu persis berapa persen lonjakan inflasi bahan pokok di pasar tradisional bulan ini akibat kegagalan panen lokal?"
Gilang langsung gelagapan dan wajah putihnya berubah kebingungan ditanya soal persentase angka riil sedetail itu.
"E-eh, terus apa urusannya inflasi pasar sama urusan sekolah kita coba?!"
"Itu sangat ada hubungannya dengan kebijakan daya beli masyarakat miskin yang sering kalian banggakan di atas panggung!"
Bara membentak dengan suara beratnya yang menggema sangat keras dan berwibawa di lorong sekolah tersebut.
"Lu mau maju debat tingkat kota cuma bawa modal data palsu dari internet, sementara kita ngerasain langsung dampak kebijakan itu tiap hari."
"Kita buktikan aja nanti di atas panggung, argumen siapa yang bakal lebih masuk akal dan dipercaya sama juri!"
Intonasi suara Bara terdengar sangat terstruktur, lantang, dan penuh dengan intimidasi verbal yang mematikan mental lawan.
Rico sampai melongo tidak percaya melihat ketuanya bisa berbicara sepanjang dan sepintar itu tanpa ada kata yang gagap.
Gilang terdiam membisu dengan wajah merah padam karena otaknya tidak bisa membalas satu kata pun dari argumen telak tersebut.
Dia benar-benar tidak menyangka preman dari sekolah buangan ini bisa merangkai kata-kata logis yang begitu menyakitkan.
Pak Budi yang melihat murid andalannya dipermalukan telak langsung berdeham keras menutupi rasa canggung yang menyerang.
Ehem.
"Ternyata kalian sudah berlatih sedikit merangkai kata ya, lumayan menghibur untuk ukuran sekolah sekelas ini."
Pak Budi mengalihkan pandangannya menatap sinis ke arah Husen yang sedari tadi hanya berdiri tersenyum tipis.
"Pak Husen, saya tidak peduli trik komunikasi murahan apa yang Anda ajarkan kepada anak-anak bermasalah ini."
"Tapi di kategori lomba sains nanti, saya jamin murid terbaik kami akan menghancurkan alat rakitan kalian tanpa sisa sedikit pun."
Krieet.
Terdengar suara decitan pintu laboratorium di ujung lorong didorong terbuka dengan pergerakan yang cukup pelan.
Nisa keluar dari ruangan pengap itu memakai jas laboratorium putih kusam yang terlihat kebesaran di tubuh rampingnya.
Dia berjalan lurus mendekati kerumunan itu dengan wajah tanpa ekspresi dan tatapan mata yang sedingin es balok.
"Bapak ini Pak Budi kan, guru pembimbing yang dua tahun lalu sengaja merebut makalah penelitian dari siswinya sendiri?"
Pertanyaan Nisa yang tiba-tiba menohok itu langsung membuat wajah sombong Pak Budi berubah pucat pasi seketika.
"Sembarangan sekali mulutmu menuduh tanpa bukti, siapa namamu anak kecil yang kurang ajar ini?!"
"Bapak tidak perlu tahu siapa nama saya sekarang, karena nama saya akan tercetak sangat tebal di sertifikat juara satu bulan depan."
Nisa membetulkan letak kacamata tebalnya dengan tenang sambil menantang langsung ketakutan di wajah guru senior tersebut.
"Sampai berjumpa lagi di meja kompetisi yang sebenarnya nanti, Pak Budi."
"Pastikan Bapak membawa anak didik yang otaknya benar-benar berfungsi, bukan sekadar pandai menyontek dan mencuri ide orang."
Pak Budi mengepalkan kedua tangannya sangat kuat menahan rasa malu yang luar biasa besar karena rahasia kelamnya dibongkar paksa.
Dia tidak pernah mengira sekolah buangan yang hampir bangkrut ini ternyata memelihara monster-monster kecil yang mulutnya sangat berbisa.
"Kita lihat saja buktinya nanti di arena olimpiade, Gilang, ayo kita pergi tinggalkan tempat kumuh ini sekarang juga."
Pak Budi membalikkan badannya dengan sangat cepat dan berjalan setengah berlari kembali menuju mobil sedannya di depan gerbang.
Gilang berjalan mengekor di belakang gurunya tanpa berani menoleh ke belakang lagi ke arah Bara yang masih menatapnya.
Brum.
Mobil hitam mengkilap itu langsung melesat cepat pergi meninggalkan pekarangan SMA Garuda Kelam menjauhi rasa malu.
Bara tertawa terbahak-bahak dan meninju telapak tangan kirinya sendiri dengan perasaan yang sangat luar biasa puas.
"Gila beneran, ternyata ngalahin orang sombong pakai omongan begini rasanya jauh lebih enak daripada pakai tinju fisik ya, Pak!"
Husen mengangguk setuju pelan dan menepuk bahu Bara dengan senyuman yang menyiratkan kebanggaan.
"Itu baru pemanasan skala kecil untuk mental kalian, Bara."
"Mereka baru saja menyadari dengan jelas bahwa mereka telah sembarangan membangunkan singa yang sedang tidur lelap."
Ting!
Sistem kembali berdenting memunculkan layar notifikasi hadiah atas keberhasilan murid-murid memenangkan bentrokan mental pertama ini.
[Pemberitahuan Sistem]
[Konfrontasi verbal tahap awal melawan pihak musuh dimenangkan secara mutlak]
[Tingkat Kepatuhan Nisa meningkat drastis menjadi 90%]
[Tingkat Kepatuhan Bara meningkat drastis menjadi 85%]
[Tim Kelas XI-7 mendapatkan buff Mental Baja selama 7 hari ke depan]
Husen tersenyum semakin lebar membaca layar biru bercahaya yang hanya bisa dilihat oleh kedua matanya sendiri itu.
"Persiapan mental kita sudah semakin matang dan kuat sekarang."
"Ayo kita kembali masuk kelas untuk berlatih anak-anak, panggung olimpiade sudah di depan mata kita."
Pertarungan sesungguhnya untuk merebut kembali harga diri yang telah lama dirampas itu akan segera meletus di panggung terbesar kota ini.