NovelToon NovelToon
Misteri Rumah Kedelapan Di Kampung Pitu

Misteri Rumah Kedelapan Di Kampung Pitu

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Hantu / Tamat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

Raka nekad syuting di Kampung Pitu meski dilarang Laras dan karena ia merasa ada kekuatan gaib yang memilih tempat itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan di Balik Jendela Lantai Atas

Mereka Kembali ke penginapan sederhana di bawah kawasan Kampung Pitu, suasana di dalam ruangan terasa begitu berat dan hening, seakan udara di dalamnya tiba-tiba menjadi lebih pekat, lebih sulit dihirup. Ruangan itu berukuran tidak terlalu besar, dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang sudah mulai menguning dimakan usia, dan lantai semennya terasa dingin menembus alas kaki. Di tengah ruangan terdapat meja kayu jati tua yang permukaannya tidak lagi rata, penuh goresan dan lekukan yang menjadi saksi bisu siapa saja yang pernah duduk di sana sebelumnya. Lampu pijar berdaya kecil yang tergantung di tengah langit-langit memancarkan cahaya kuning redup, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang bergerak perlahan di dinding setiap kali angin malam menyelinap masuk melalui celah-celah jendela. Cahaya itu tidak cukup untuk menerangi seluruh ruangan, sehingga sudut-sudut ruangan tetap tertutup kegelapan tipis — seakan ada sesuatu yang bersembunyi di sana, diam-diam memperhatikan setiap gerak-gerik mereka.

Raka, Laras, dan Dimas duduk melingkar di sekitar meja itu. Tidak ada yang berbicara lebih dulu. Masing-masing tenggelam dalam dunianya sendiri, memutar ulang kejadian-kejadian yang baru saja mereka alami di atas sana di rumah kedelapan yang tak seharusnya ada, yang berdiri tegak di tengah tanah yang melarang keberadaannya. Raka duduk bersandar pada dinding, kedua tangannya bertaut di depan dada, matanya menatap lurus ke lantai seakan ada sesuatu yang tertulis di sana. Di dalam benaknya, gambar-gambar yang baru saja ia lihat terus berputar tanpa henti dinding yang terasa bernapas, keheningan yang begitu pekat seakan menekan telinga, dan perasaan bahwa ia sedang diawasi oleh sesuatu yang tidak terlihat mata. Hatinya yang biasanya penuh keyakinan kini mulai terguncang perlahan, digantikan oleh keraguan yang perlahan merayap masuk seperti kabut malam yang dingin.

Dimas yang sedari tadi menunduk, memandangi jari-jarinya yang saling bertaut di atas meja, akhirnya mengangkat wajahnya. Cahaya lampu yang temaram menyinari separuh wajahnya, membuat bayangan di matanya terlihat lebih dalam dari biasanya. Matanya yang biasanya cerah dan penuh semangat kini tampak redup, seakan ada beban berat yang terus ia pikul sejak lama — beban yang bahkan sebelum ia pergi dari kampung halamannya dulu, sudah mulai menghantui langkah kakinya. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, seakan mencoba mengeluarkan segala kegelisahan yang menumpuk di dadanya selama bertahun-tahun.

"Kalian tahu... kenapa hanya boleh ada tujuh rumah di Kampung Pitu?" suaranya pelan namun jelas, membelah keheningan ruangan yang sedemikian rupa sehingga ketiga orang itu merasakan getaran suaranya sampai ke tulang. "Dulu, konon kampung itu adalah tempat pertapaan para leluhur yang menjaga keseimbangan alam. Tujuh rumah itu melambangkan tujuh lapis bumi, tujuh arah mata angin, tujuh sumber kehidupan, dan tujuh nada yang menyusun keselarasan dunia. Tujuh adalah angka kesempurnaan, angka yang melambangkan keutuhan yang tidak boleh ditambah maupun dikurangi. Jika ada yang berani menambah satu lagi, maka keseimbangan itu terganggu. Ikatan yang sudah terjaga turun-temurun itu akan terlepas, dan apa yang selama ini dijaga akan mulai keluar. Dan rumah kedelapan itu... adalah pelanggaran terbesar yang bisa dilakukan di tanah itu."

Raka mendengarkan dengan saksama, setiap kata yang diucapkan Dimas masuk dan meresap ke dalam pikirannya. Namun di sudut hatinya masih ada bagian yang sulit sepenuhnya percaya. Bagaimana mungkin sebuah rumah, yang hanya bangunan batu dan kayu, bisa membawa dampak sedemikian rupa pada sesuatu yang tidak kasat mata? Logikanya berteriak bahwa itu hanyalah takhayul, cerita lama yang dibuat untuk menakut-nakuti orang zaman dahulu. Namun ingatannya kembali melayang pada saat mereka berdiri di teras rumah itu hawa yang terasa begitu berat, seakan ada ribuan mata yang menatap dari balik dinding, keheningan yang bukan sekadar ketiadaan suara melainkan sesuatu yang menahan napas, dan rasa dingin yang bukan berasal dari angin melainkan dari sesuatu yang meresap ke dalam tulang. Semua itu terlalu nyata untuk sekadar dibantah dengan kata "tidak masuk akal".

"Keluarga Candra Wijaya..." gumam Raka pelan, suaranya terdengar berat seakan nama itu sendiri memiliki beban. "Pak Candra, Bu Isma, Arlan, dan Ardita. Mereka membangun rumah itu dengan harapan mendapatkan ketenangan, bukan? Mereka meninggalkan keramaian kota, mencari tempat yang sunyi, jauh dari kebisingan dan hiruk-pikuk dunia. Mereka ingin damai."

"Ya," jawab Dimas dengan nada yang berat, matanya menatap ke arah jendela seakan bisa melihat puncak bukit dari tempat mereka berada. "Pak Candra Wijaya membangun rumah itu karena ia mencari kedamaian yang tak ia temukan di mana pun. Ia berpikir dengan hidup jauh dari orang-orang, di tempat yang tenang dan alami, ia bisa menemukan ketenangan yang ia cari selama ini. Namun ia tidak tahu atau mungkin ia tahu tapi tidak mau percaya bahwa di tanah itu, ada aturan yang tidak tertulis namun harus dipatuhi seperti hukum alam itu sendiri. Warga sudah memperingatkannya sejak hari pertama ia mulai menancapkan tiang. Pak Tua Suryo sendiri yang datang ke lokasi, duduk bersamanya, dan berbicara panjang lebar. Ia berkata dengan sopan namun tegas, memohon agar Pak Candra membatalkan niatnya, karena tanah itu sudah penuh tujuh rumah sudah cukup, dan apa pun yang melebihi itu akan mengundang hal yang tidak diinginkan. Tapi Pak Candra menolak mendengar. Ia tersenyum tipis, lalu berkata dengan tegas, 'Ini tanah yang sudah saya beli sah secara hukum. Saya berhak membangun apa saja di atasnya, dan tidak ada siapa pun yang boleh melarang saya.'"

Laras yang sedari tadi diam, hanya menyimak dengan telinga yang tajam dan perasaan yang semakin bergejolak, tiba-tiba bersuara. Wajahnya tampak lebih pucat dari sebelumnya, dan kedua tangannya saling meremas di pangkuan. Matanya menatap ke arah jendela yang tertutup tirai tipis, seakan ada sesuatu di luar sana yang sedang berdiri diam, menatap masuk ke dalam ruangan.

"Ketika kita berada di dalam rumah itu..." ucap Laras pelan, suaranya hampir berbisik namun terdengar sangat jelas di ruangan yang hening itu, "aku merasakan sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan dengan kata-kata. Bukan hanya satu perasaan, tapi seakan ada ribuan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu kemarahan yang meluap-luap, kesedihan yang tak bertepi, ketakutan yang membekukan darah, dan keputusasaan yang begitu dalam seakan sudah berabad-abad lamanya. Seakan rumah itu sendiri menyerap setiap emosi yang pernah dirasakan oleh siapa pun yang tinggal di dalamnya, lalu menyimpannya di dalam dinding-dindingnya, di setiap sudut ruangan, di setiap retakan lantai. Dan ketika kita masuk... semua itu seakan bangun dan menyambut kita."

"Dan mereka pergi tengah malam," tambah Raka, suaranya rendah namun penuh penekanan, seakan baru saja menyadari sesuatu yang penting. "Semua orang bilang mereka pergi di tengah malam, tanpa memberi tahu siapa pun. Tidak ada pesan, tidak ada pamit, tidak ada satu pun tanda ke mana mereka pergi. Semua barang berharga masih ada di tempatnya pakaian, perhiasan, dokumen, bahkan buku harian Ardita yang mungkin menjadi satu-satunya catatan tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah itu. Mobil mereka pun masih ada di garasi. Kalau mereka pergi, kenapa tidak membawa apa-apa? Kenapa tidak ada satu pun warga yang mendengar suara mobil atau langkah kaki? Apakah mereka benar-benar pergi sendiri... atau ada sesuatu yang datang menjemput mereka?"

Pertanyaan itu menggantung di udara, berat dan menakutkan, membuat bulu kuduk ketiga orang itu merinding secara bersamaan. Tidak ada yang bisa menjawab. Bahkan warga Kampung Pitu sendiri hanya bisa berasumsi, tidak ada yang benar-benar tahu. Tidak ada yang melihat mereka pergi. Tidak ada yang mendengar suara pintu terbuka. Pagi harinya, rumah itu sudah kosong pintu terkunci dari dalam, jendela tertutup, dan semua benda berada di tempatnya seakan pemiliknya hanya keluar sebentar dan akan kembali kapan saja. Seakan mereka tidak pergi, melainkan lenyap begitu saja dari dalam rumah itu.

"Mulai besok, kita akan mulai syuting," kata Raka, mencoba menguatkan dirinya sendiri lebih daripada dua temannya. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup tidak teratur. "Kita tidak bisa mundur sekarang. Banyak orang yang sudah menunggu, tim sudah berkumpul, dan semua persiapan sudah selesai. Tapi aku minta satu hal kepada kalian apa pun yang terjadi selama kita berada di sana, ikuti setiap aturan yang dikatakan warga. Jangan mencoba mencari tahu hal-hal yang tidak ingin diketahui. Jangan membuka pintu yang tertutup, jangan masuk ke ruangan yang dilarang, dan jangan tinggal sendirian di rumah itu saat hari mulai gelap. Dan jika ada sesuatu yang terasa tidak benar, sesuatu yang membuat hatimu merasa tidak tenang... segera pergi dari sana, tanpa menoleh ke belakang."

Laras dan Dimas mengangguk pelan, namun di dalam hati mereka masing-masing tahu — sesuatu sudah dimulai sejak mereka menginjakkan kaki di teras rumah kedelapan itu. Sesuatu yang sudah lama menunggu, dan tidak akan berhenti hanya karena mereka memutuskan untuk pergi.

Malam semakin larut, namun tidak ada satu pun dari mereka yang bisa memejamkan mata. Di kejauhan, dari arah puncak Gunung Api Purba, angin malam berhembus kencang, membawa suara dedaunan yang saling bergesekan terdengar seperti bisikan-bisikan yang berulang-ulang memanggil nama mereka satu per satu. Dan di lantai atas rumah kedelapan yang sunyi itu, di balik jendela yang menghadap ke jalan setapak, sebuah bayangan berdiri diam. Sosok itu tidak bergerak, tidak berkedip, hanya menatap lurus ke bawah, ke arah jalan yang menuju keluar kampung. Menunggu. Menunggu saat yang tepat untuk menyambut mereka kembali.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!