Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.
Namun, satu hal tak pernah berubah.
Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.
Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.
Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Persentasi Jun-seok.
“Kim Jun-seok.”
Jun-seok berdiri. Ia merapikan seragamnya sekali lagi, menarik napas kecil bukan karena gugup, lebih seperti sedang menyiapkan diri. Langkahnya menuju panggung tidak tergesa. Di tangannya, sebuah map yang ia pegang dengan kedua tangan.
Lampu panggung menyinari tubuh kecilnya, membuat bayangannya jatuh panjang di lantai kayu yang mengilap. Sesaat, Jun-seok berdiri diam di tengah cahaya itu, memastikan dirinya benar-benar siap sebelum mulai berbicara.
“Selamat pagi,” ucapnya. Suaranya jernih dan terlatih, khas anak yang terbiasa berbicara di ruang terbuka. “Namaku Kim Jun-seok. Aku akan mempresentasikan lukisanku.”
Ia berhenti sejenak. Tatapannya menyapu audiens; guru, orang tua, dan teman-temannya. Lalu kembali pada map di tangannya dengan hati-hati, ia membukanya.
Gambar itu terpampang jelas tiga sosok berdiri berdampingan. Seorang pria tinggi dengan bahu tegap, seorang wanita berambut panjang dengan ekspresi lembut, dan seorang anak kecil di tengah, tangan mereka saling terhubung.
Latar belakangnya bukan rumah mewah, bukan kota, melainkan bidang warna hangat yang samar: kuning pucat, jingga lembut, dan biru yang tidak terlalu terang. Sapuan warnanya tidak sepenuhnya rapi. Beberapa garis bahkan tampak keluar dari batas yang seharusnya. Tidak sempurna secara teknis, tetapi terlalu jujur untuk sebuah karya seni yang dibuat oleh anak yang baru berusia sepuluh tahun.
Beberapa orang tua berbisik pelan. Guru seni di barisan depan mengangguk kecil, memperhatikan lukisan itu dengan tatapan yang sulit disembunyikan dari rasa kagum.
Jun-seok menatap lukisannya sendiri, lalu kembali menghadap audiens.
“Judul lukisan ini adalah ‘Tempat Pulang’,” katanya pelan.
Di kursi penonton, Nala menegang. Jemarinya yang semula bertumpu di pangkuan perlahan saling menggenggam. Di sampingnya, Junho tidak bergerak, tetapi napasnya melambat. Tatapannya tetap tertuju pada putranya.
Semua orang diam, menatap Jun-seok yang berdiri di tengah panggung.
“Aku melukis ini beberapa hari lalu, bersama Mommy-ku. Daddy tidak ikut melukis, tapi Daddy ada di sana.” Ia tersenyum kecil, seperti sedang mengingat sesuatu yang hangat.
“Awalnya aku mau melukis rumah. Tapi Mommy bilang, rumah bukan selalu bangunan. Kadang rumah itu orang. Dan kebetulan temanya adalah keluarga, jadi aku membuat ini.” Ia berhenti sejenak, menelan ludah.
“Di lukisan ini, aku ada di tengah. Bukan karena aku paling penting,” katanya cepat, seolah mengoreksi dirinya sendiri, “tapi karena aku ingin memastikan aku bisa melihat Mommy dan Daddy sekaligus,” lanjutnya sembari tersenyum, suaranya tetap tenang.
“Warna-warna di belakang tidak jelas,” lanjutnya, menunjuk latar lukisan, “karena kadang dunia di luar terasa ramai dan membingungkan. Tapi selama aku bisa melihat mereka berdua, aku tahu aku tidak tersesat. Eum... Dan ya, aku tidak pernah tersesat,” lanjutnya, membuat beberapa orang tua menunduk.
Seorang guru menyilangkan tangan di dada, matanya tetap tertuju pada Jun-seok. Jun-seok mengangkat jari kecilnya, menunjuk sosok wanita dalam lukisan.
“Mommy sering bekerja. Kadang Mommy pulang malam. Tapi Mommy selalu bilang, dia pulang karena ingin kembali kepada kami.” Lalu jarinya berpindah ke sosok pria. “Daddy juga bekerja. Daddy kelihatan tenang, tapi aku tahu Daddy sering memikirkan banyak hal. Eumm... aku tidak tahu apa itu, tapi... aku rasa itu bukan hal kecil.”
Ia menatap lurus ke depan tepat ke arah kursi orang tuanya.
“Aku melukis mereka berdampingan,” ucapnya pelan, “karena aku ingin mereka tetap saling melihat, meskipun sibuk. Jujur saja, aku membuat lukisan ini untuk kalian... untuk Mommy dan Daddy. Dan aku sengaja memilih ini untuk dipresentasikan karena hari ini Mommy dan Daddy ada di sini.”
Ucapannya sederhana, tidak ada kalimat yang terasa dibuat-buat, selain kejujuran seorang anak yang melihat kedua orang tuanya dari sudut pandangnya sendiri.
Hening menyelimuti ruangan, sampai sesaat kemudian, tepuk tangan pun pecah riuh, di seluruh ruangan. Beberapa orang tua bahkan tersenyum sambil mengangguk, sementara guru-guru di sisi panggung ikut bertepuk tangan.
Jun-seok membungkuk sebelum turun dari panggung, diiringi tepuk tangan para orang tua yang kagum pada cara anak itu mempresentasikan karyanya.
Nala menutup mulutnya dengan satu tangan. Matanya basah, tetapi senyumnya tidak runtuh meskipun dadanya terasa sesak oleh rasa yang tidak bisa ia beri nama antara bangga, bersalah, lega, dan cinta yang terlalu besar untuk satu kata.
Di sampingnya, Junho akhirnya bergerak. Ia menunduk sedikit, satu tangannya terangkat menutupi bibirnya. Matanya tidak berkedip, menatap anaknya di atas panggung dengan ekspresi yang retak untuk pertama kalinya hari itu. Ada sesuatu dalam tatapan Jun-seok yang membuat pertahanan yang sejak pagi ia bangun perlahan kehilangan celah.
Begitu tepuk tangan mereda dan sesi presentasi berlanjut ke peserta berikutnya, Jun-seok turun dari panggung dengan langkah cepat. Matanya langsung menyapu barisan kursi orang tua—dan begitu menemukan dua sosok yang ia cari, wajahnya berubah cerah seketika.
“Mommy! Daddy!” Ia berlari kecil menghampiri mereka, nyaris menjatuhkan tas kecil di pundaknya.
Nala langsung berdiri, lalu berlutut sedikit agar sejajar dengan tinggi putranya sebelum memeluknya erat.
“Itu luar biasa. Mommy bangga sekali. Sungguh,” ucap Nala lirih, suaranya hangat dan tulus.
Ia memeluk putranya beberapa saat. Jun-seok tersenyum lebar dalam pelukan itu, sebelum akhirnya melepaskan diri dan menoleh ke arah ayahnya. Matanya berbinar, menunggu reaksi yang sama.
Junho berdiri menyusul. Tangannya terangkat, mengusap kepala putranya pelan, sebuah gestur yang tenang dan terukur, tetapi kali ini terasa lebih lembut dari biasanya.
“Kamu menjelaskannya dengan baik. Daddy dengar semuanya,” katanya.
Nada suaranya stabil. Hal itu membuat Jun-seok mengangguk cepat, jelas puas mendengar pujian dari ayahnya.
“Daddy suka lukisannya?” tanyanya.
Junho mengangguk.
“Suka. Itu jujur,” jawab Junho tanpa ragu.
Kata itu membuat Nala menoleh sekilas ke arahnya. Tatapan mereka bertemu hanya sepersekian detik cukup untuk membuat Nala tahu bahwa kemarahan itu belum pergi. Hanya disimpan rapi di balik wajah tenang yang kembali ia kenakan.
Jun-seok tidak menyadari apa pun karena anak itu terlalu sibuk dengan kebahagiaannya sendiri.
“Tadi aku lihat Mommy datang. Aku pikir Mommy tidak bisa datang. Pagi tadi aku sedih saat tahu kalau Mommy pergi ke kantor, tapi sekarang aku bahagia,” katanya ceria.
Nala mengelus pipi putranya, ibu jarinya menyapu lembut pipi kecil yang masih memerah setelah berlari.
“Mommy janji akan datang. Janji itu tetap janji. Tadi memang ada sedikit pekerjaan. Setelah selesai, Mommy langsung ke sini,” ucap Nala lembut.
Mendengar itu, Jun-seok kembali memeluk Nala erat, seolah jawaban sederhana tersebut sudah cukup untuk menghapus rasa khawatir yang sejak pagi ia simpan. Nala membalas pelukan itu, memejamkan mata sejenak sambil mengusap punggung putranya perlahan.
Junho tidak menimpali. Ia hanya berdiri di samping mereka, satu tangan masuk ke saku jas. Bahunya tetap tegap, tetapi wajahnya masih menyimpan sisa kemarahan dari pagi tadi. Ia tidak mengatakan apa-apa, seolah keberadaannya di sana sudah cukup.
Hingga tiba-tiba seorang guru seni mendekat dengan senyum ramah.
“Presentasi Jun-seok sangat menyentuh. Perspektifnya matang untuk anak seusianya,” ucapnya, memuji bakat anak itu.
“Terima kasih,” jawab Nala dan Junho hampir bersamaan.
Jun-seok tertawa kecil. Matanya berbinar bangga saat mendengar namanya disebut oleh sang guru.
“Aku belajar dari Mommy dan Daddy, Saem,” ujarnya sembari tertawa.
Nala hanya tersenyum kecil sebelum berkata,
“Kalau begitu, kita rayakan nanti, ya? Mommy kembali ke kursi dulu sebentar, tetapi setelah itu Mommy milik kamu,” kata Nala cepat, tersenyum kepada putranya.
Jun-seok mengangguk mantap.
“Aku tunggu.”
Ia memeluk mereka bergantian sebelum kembali ke barisan teman-temannya. Sesekali ia menoleh dan melambaikan tangan, membuat Nala membalas lambaian itu dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya sampai tubuh kecil putranya kembali bergabung dengan teman-temannya.
Begitu punggung kecil itu menjauh, suasana di antara dua orang dewasa itu berubah.
Mereka berdiri berdampingan dua orang yang saling mencintai, sama-sama lelah, sama-sama terluka, tetapi memilih berpura-pura utuh demi satu anak yang masih percaya penuh pada dunia kecilnya.
Keduanya kembali duduk, melihat para peserta lain yang sedang mempresentasikan karya mereka masing-masing. Tidak ada percakapan di antara mereka. Sesekali mereka bertepuk tangan ketika presentasi selesai, lalu kembali diam, masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.