Jingga membuka mata, kembali ke masa sebelum tragedi besar menimpa keluarga Amazon.
Kali ini, tidak ada lagi gadis lugu yang mudah dimanfaatkan, matanya penuh dendam dan kebencian.
Hanya ada satu hal, Balas Dendam!
Mari kila mulai permainannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon To Raja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Kelinci kecil
"Ikuti saja kataku, lebih baik berjaga-jaga daripada nanti menyesal," kata Arga.
"Baiklah," ucap Bryan
Jingga saat itu telah menaiki taksi yang ia pesan, dari ponsel yang ia pegang ia bisa melihat rekaman CCTV dan mengetahui kalau Brian mengikutinya.
"Mengikutiku ya, kalau begitu ayo kita pergi bermain-main, lihat seberapa jauh kau bisa menahan rasa bosanmu," ucap Jingga kemudian menyuruh sopir mengantarnya ke taman.
Setelah tiba di taman, Jingga berjalan ke arah sebuah pohon besar menggelar selendangnya di rumput yang teduh dan berbaring di sana.
Bryan berdiri dari kejauhan menatap Jingga yang tertidur di bawah pohon, "sudah kuduga dia mau pergi ke taman. Padahal taman di rumah juga sangat bagus untuk menikmati ketenangan, tapi dia malah memilih taman di luar seperti ini. Aku akan menunggu di sini beberapa saat lagi, kalau dia tidak pergi kemana-mana maka aku apan pergi," ucap Bryan.
Pria itu pun menunggu selama 20 menit, tetapi Jingga yang terbaring di bawah pohon besar hanya diam saja di tempatnya seperti orang yang tertidur lelap.
Karena sudah tidak sabaran, Bryan memutuskan untuk pergi, pada saat itulah Jingga bangun tersenyum melihat mobil Bryan yang telah meninggalkan taman.
'Sudah kuduga, dia tidak bisa bertahan lebih dari 30 menit,' ejek Jingga dalam hati segera membereskan selendangnya dan menahan sebuah taksi untuk pergi ke rumah sakit.
Tok tok tok...
Jingga mengetuk pintu kamar VIP tempat Farhan dirawat.
Tidak ada jawaban dari kamar, jadi Jingga perlahan membuka pintunya dan mendapati Farhan sedang terlelap di tempat tidurnya.
Di meja tergeletak berbagai dokumen, sepertinya semalam pria itu bekerja sangat keras hingga paginya masih tidur di jam 09.00-an itu.
Jingga tersenyum melangkah ke arah meja, menatap sekilas dokumen yang berserakan di atas meja tetapi dia tidak terlalu peduli isinya, hanya berniat untuk membereskannya.
Baru mengulurkan tangan untuk merapikannya, suara dari belakang sudah terdengar, "jangan disentuh, biar saya yang membereskannya," ucap Gian yang keluar dari kamar mandi, segera melangkah ke arah Jingga dan membereskan dokumen di sana.
Keringat dingin sedikit bercucuran dari keningnya karena dia cemas Jingga telah mengetahui isi dokumen itu.
"Kalian sudah bekerja sangat keras,, tapi melihatmu masih membiarkan orang sakit mengerjakan pekerjaan-pekerjaan ini, aku jadi tidak tenang lagi untuk membiarkanmu menjaganya di sini!" Kata Jingga sebelum berbalik ke arah ranjang Farhan.
Gian tidak berkata apapun, dia hanya membereskan barang-barang di sana, menyimpannya dengan rapi lalu meninggalkan kedua orang itu.
Jingga naik ke tempat tidur, segera masuk ke selimut dan berbaring memeluk tubuh kekar Farhan.
'Mengambil sedikit keuntungan pada pria tampan yang sedang tidur juga tidak ada salahnya,' ucap Jingga menggerakkan tubuhnya meraba perut Farhan yang dipenuhi kotak-kotak kekar.
Farhan sudah merasakan pergerakan Jingga tetapi ia tetap menahannya dan membiarkan Jingga melakukan sesuka hatinya.
"Kau benar-benar tidak terbangun?" Jingga akhirnya tidak tahan lagi, segera naik ke tubuh Farhan, menghindari luka farhan.
Farhan masih terdiam saja, jadi Jingga tersenyum usil dan menurunkan kepalanya mendaratkan ciuman di bibir Farhan, karena tidak ada reaksi dari pria itu, dia pun menggigit bibir Farhan hingga tertinggal jejak giginya di sana.
"Sayang," kata Jingga dengan pelan.
Farhan masih tidak bereaksi jadi Jingga melemparkan tubuhnya ke samping dan mendengus kesal, "sepertinya dia benar-benar tidur," ucap Jingga memejamkan matanya.
Baru saja memejamkan mata beberapa detik, sebuah lengan kekar telah menariknya ke samping dan tubuhnya langsung menempel ke tubuh Farhan.
"Kau datang mencari masalah, apa kau tahu konsekuensi jika aku sudah terpancing?" Tanya Farhan.
Jingga menatap Farhan dengan mata berbinar-binar, "memangnya apa? Biarkan aku melihatnya," kata Jingga.
Farhan menatap lekat mata Jingga, gadis kecil ini benar-benar memprovokasinya.
"Kau yang memintanya!" tegas Farhan sebelum menundukkan kepalanya dan meraih bibir ranum milik Jingga.
Pria itu dengan rakus menjelajahi sudut demi sudut mulut Jingga dan membuat Jingga tidak mampu mengimbangi irama permainan mereka.
'Sial, aku sudah hidup dua kali tapi tidak punya pengalaman berciuman,' gerutu Jingga dalam hati berusaha mengimbangi Farhan.
Senyuman terpatri di wajah Farhan melihat gadis kecil yang kaku dalam berciuman, tapi dia tidak berniat berhenti, dia memeluk jingga erat-erat dan membiarkan tubuh mereka saling berbagi panas satu sama lain.
Nafas keduanya memburu cepat ketika tangan Farhan tidak bisa terkendali lagi dan bergerak liar masuk ke gaun Jingga.
Kulit yang lembut dan halus benar-benar tidak bisa membuat seseorang berpikir untuk melepaskannya, terus meraba dan menikmati mahakarya yang tak ternilai itu.
Jingga meramas pakaian Farhan dengan erat saat merasakan tubuhnya bergetar hebat dengan sentuhan sentuhan farhan di tubuhnya.
Ia ingin menghentikannya karena takut mereka bertindak terlalu jauh, tapi keinginan itu tak bisa ia penuhi, tubuhnya bergerak di luar kendalinya, seakan-akan meminta lebih dan lebih, semakin merapat ke tubuh Farhan.
"Hah.. Hah.. Hah..." Jingga terengah-engah ketika Farhan melepaskan ciuman mereka.
"Masih mau lanjut?" tanya Farhan saat itu menarik erat pinggang Jingga ke tubuhnya, telapak tangannya bisa merasakan hangatnya permukaan kulit Jingga, dia sudah membayangkan bagaimana tampaknya tubuh Jingga dalam keadaan polos.
"Aku..." wajah Jingga merah padam, dia ingin bilang tidak, tapi sesuatu yang aneh terus mengendalikan dirinya seakan-akan menyuruhnya untuk berkata, 'iya'.
"Sebentar lagi dokter datang memeriksa ku, perbaiki pakaianmu," kata Farhan melepaskan pelukan mereka dan duduk sambil memunggungi Jingga.
Wajah Jingga sangat merah saat ia menyibak selimut dan melihat gaunnya tela terangkat sampai ke atas pinggang.
bekas kemerahan juga muncul di beberapa bagian tubuhnya, itu jejak tangan Farhan.
'Kalau melihat kemerahan ini aku seperti baru saja dipukuli tapi tidak sakit sama sekali, malah tadi aku malah merasa...' Jingga menggelengkan kepalanya, tidak boleh berubah jadi gadis nakal.
Setelah membereskan pakaiannya, Jingga buru-buru pergi ke kamar mandi untuk mengecek lagi penampilannya, sementara Farhan diam di ranjang menatap Jingga yang berlari lebih cepat dari seekor kelinci kecil.
'Apakah dia takut?' Farhan tersenyum melihat tingkah lucu Jingga.
Perempuan yang polos,