Alethea adalah seorang kurator museum yang bekerja di museum national gallery art di Washington. Dia sudah dua tahun ditingga! suaminya yang meninggal akibat kecelakaan ski. Suatu hari, dia mendapatkan kiriman lukisan wajahnya. Pengirimnya tertanda dari kota kecil di Irlandia. Alethea diutus oleh bossnya untuk mencari pelukisnya. Tidak mudah untuk mencari hingga dia tiba di desa kecil bernama Cedliff. Di sebuah hotel desa dia bertemu dengan Satoru Shinoda yang terkejut melihatnya. Tanpa Alethea tahu, Satoru adalah pelukisnya. Satu pertanyaan. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya tapi bagaimana Satoru bisa melukis wajah Alethea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alethea Pulang Ke Washington DC
"Mimpi? Bagaimana bisa kamu memimpikan aku?" tanya Alethea bingung.
"Aku juga tidak tahu," jawab Satoru.
Alethea menghela napas panjang. "Lalu ... Kenapa kamu meninggalkan lukisan itu?"
"Karena ... Aku mulai terobsesi pada lukisan itu, pada wajahmu," bisik Satoru. "Aku tidak mau dicap gila. Aku tidak mau semakin dalam terhanyut di lukisan itu. Karena saat itu aku merasa kamu tidak nyata."
Alethea terdiam. "Dan saat tahu sosok di lukisan itu nyata?" tanyanya kemudian.
"Aku tidak tahu ...." Satoru menengadahkan wajahnya ke langit. "Kamu ... Bisa bilang pelukisnya anonim atau apa saja. Aku tidak mau dikenal sebagai pelukis yang baper. Meskipun aku memang baper."
Alethea tampak bingung. Biasanya jika dia berhasil menemukan artisnya, pasti diumumkan. Tapi Satoru menolak itu.
"Aku ... berdiskusi dulu dengan Jenny. Karena dia meminta membawa pelukisnya datang ke museum dan memberikan pernyataan. Hanya saja kan ...." Alethea mengambil ponselnya dan menghubungi Jenny. Dia memilih berdiri dan berjalan menjauh dari Satoru.
"Thea! Bagiamana?" tanya Jennifer saat deringan ketiga.
"Aku ... Sudah menemukan pelukisnya," jawab Alethea.
"Lalu? Dia orang Irlandia?" balas Jennifer penuh semangat.
"Sayangnya ... bukan. Dia tidak mau di publikasi." Alethea menoleh ke arah Satoru yang memandang dirinya.
"Hah? Bagaimana? Tunggu! Apakah kalian pernah bertemu?" cecar Jennifer.
"Tidak. Kami belum pernah bertemu."
"Lalu darimana dia mendapatkan wajahmu?" Jennifer terdengar gusar dan bingung.
"Dia mendapatkan dalam mimpi," jawab Alethea apa adanya.
Ada jeda lama di seberang dan Alethea merasa ponselnya hilang jaringan.
"Jen? Jenny?" panggil Alethea.
"Dia melihat kamu dalam mimpi. Dan ... Kapan itu?" tanya Jennifer akhirnya.
"Empat tahun lalu."
"Astagaaa!" seru Jennifer. "Empat tahun lalu? Lalu bagaimana lukisan itu bisa kemari empat tahun kemudian?"
Alethea menceritakan bagaimana lukisan itu pindah-pindah tempat. Sementara Satoru memilih duduk sambil melukis profil Alethea di atas buku gambar yang tadi dipegang wanita itu.
"Apakah kamu tahu siapa pelukisnya?" tanya Jennifer.
"Iya."
"Dia pelukis biasa atau sudah terkenal?"
"Aku tidak bisa mengatakannya," jawab Alethea.
"Thea!"
"Aku sudah berjanji padanya. Kalau aku tidak akan mengeksploitasi namanya ke publik karena memang dia melukis wajahku berdasarkan mimpi. Siapa yang mau percaya, Jen?" eyel Alethea.
"Itu akan menjadi drama yang bagus untuk publisitas!" seru Jennifer.
"Tidak Jen! Aku sudah menunggu ingin tahu ... Bahkan kamu pergi sampai Irlandia ...."
"Jen, untuk sekali ini saja. Tolong lukisan wajahku tidak perlu dipajang di museum. Kumohon. Aku tidak mau ada drama di sosial media yang membuat aku dikejar-kejar. Aku lebih suka kita menyimpannya atau dijual tanpa harus promo," potong Alethea.
"Apakah kamu akan membelinya Thea?" tanya Jennifer.
"Jika diizinkan, aku hendak membeli lukisan wajahku," jawab Alethea tegas membuat Satoru mendongakkan wajahnya.
"Kamu serius?" tanya Jennifer.
"Serius. Wajahku adalah privasiku dan aku tidak mau jika wajahku menjadi cerita bola liar kemana-mana," ujar Alethea.
Satoru tersenyum tipis. Dia hanya terus membuat sketsa dan mendengar Alethea akan pulang ke Washington besok.
"Aku pulang besok, Jen. Tugas aku sudah selesai di sini dan aku tidak akan memberitahukan siapa pelukisnya!" putus Alethea yang segera mematikan panggilan ke Jennifer.
Satoru menatap Alethea dengan tatapan bertanya. "Kamu pulang besok?"
Alethea mengangguk. "Tugas aku mencari pelukisnya. Aku sudah tahu, sudah dapat dan ya sudah."
"Kamu tidak mau mengekspose aku?" tanya Satoru.
Alethea menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau kita ada drama picisan soal inspirasi yang menjadi cerita novel tidak jelas. Aku besok pulang, dan membeli lukisan itu untuk aku pasang di rumah."
Satoru menutup buku gambar itu dan mengembalikan ke Alethea. "Baiklah. Apa perlu aku antar ke bandara?"
Alethea menggeleng. "Tidak perlu Satoru. Aku juga membawa mobil sewa dari bandara." Wanita itu masukkan buku gambar itu ke dalam tasnya. Dia lalu mengulurkan tangannya ke Satoru. "Terima kasih sudah membuat lukisan wajahku dengan begitu detail."
Satoru berdiri dan menyalami tangan Alethea. "I'm so sorry, Thea. Karena aku sudah membuat susah kamu."
"Tidak apa-apa. Aku senang ada yang menghargai wajahku dan membuatnya lebih cantik dari diriku yang asli," senyum Alethea.
"Kamu lebih cantik aslinya," puji Satoru.
Pipi Alethea merona. "Senang berkenalan dengan pelukis yang ternyata terkenal meskipun aku baru lihat dan bertemu sekarang secara langsung."
Satoru tersenyum lalu dia mendekatkan wajahnya ke Alethea dan mencium bibirnya lembut. Alethea secara reflek menerima bibir Satoru dengan memejamkan matanya. Keduanya saling berciuman hingga sebuah suara membuat keduanya terkejut.
Satoru secara reflek memeluk Alethea dan wanita itu bisa merasakan degup jantungnya yang cepat. Pria itu melihat sekelilingnya dan tampak sekelompok kelinci berlarian ke hutan.
"Hanya ... Kelinci," bisik Satoru.
"Satoru ...."
Satoru menatap ke Alethea dan segera melepaskan pelukannya. "Maafkan aku! Sungguh, aku ... terbawa suasana."
"Tidak apa-apa. Kita ... Sama-sama sedang emosional bukan?" ucap Alethea.
"I'm so sorry. Truly sorry." Satoru membungkukkan badannya seperti khas pria Jepang.
"Daijoubu. Kamu ... Seperti Toshiro kalau merasa salah. Selalu begitu," kekeh Alethea namun setelahnya dia terdiam. "Maaf, aku tidak bermaksud membandingkan...."
"Tidak apa-apa. Aku tahu, kenapa kamu seperti itu."
"Kenapa?" tanya Alethea.
"Karena Toshiro pria baik dan kamu tidak akan pernah melupakannya," jawab Satoru.
Alethea mengangguk. "Dia memang pria baik."
Satoru meraih tangan Alethea. "Ayo kita pulang."
***
Susan akhirnya tahu kalau Alethea tahu siapa pelukisnya. Wanita itu memandang Alethea yang dia takutkan akan marah.
"Aku tidak mungkin bisa marah karena yang namanya inspirasi bisa datang dari mana saja bukan. Setidaknya Satoru sudah jujur padaku dan aku bisa pulang ke Washington besok dengan tenang," jawab Alethea.
Susan memeluk Alethea. "Kalau kamu sebal dengan pekerjaan kamu dan pemerintah kamu, boleh kok datang kemari untuk menenangkan diri."
Alethea tertawa. "Terima kasih Susan. Undangan darimu tidak akan sia-siakan."
Malam itu adalah hari terakhir Susan, Satoru dan Alethea makan malam bersama. Setelahnya, Alethea membereskan semua bawaannya yang memang tidak banyak. Susan memberikan beberapa souvenir khas Cedliff sebagai oleh-oleh dan Alethea mengucapkan terima kasih.
Keesokan harinya Alethea pun pergi ke bandara usai berpamitan dengan Susan dan Satoru. Pria itu memeluk lama Alethea dan mencium pipinya. Alethea pun pergi menuju kota besar dan mengembalikan mobilnya.
Setelah menunggu tiga jam, akhirnya pesawat Alethea siap boarding. Alethea duduk di kursi dan mulai membuka tasnya. Dia baru sadar jika buku gambarnya masih ada di dalam tas. Iseng Alethea membukanya dan ada beberapa sketsa Satoru dan semua adalah wajahnya.
Alethea tersenyum, namun senyumnya menghilang saat melihat sketsa terakhir. "Ya Tuhan ... Satoru."
Gambarnya
***
Yuhuuu up Siang Yaaaaaa gaeeesss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
dan setelah ini Thea bakalan lebih kapal mood-nya Satoru
ayo kita ke pojokan Nin, kita ketawa bareng 🤣🤣🤣🤣
Duh moga kalian akan terus bersama hingga menua hingga ujung usia