NovelToon NovelToon
Sang Penghancur Rantai Takdir

Sang Penghancur Rantai Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:85
Nilai: 5
Nama Author: * z *

Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.

Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.

Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.

Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.

Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.

Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12_Keluarga baru

Diriku terdiam. Nafasku tercekat setelah mereka semua berlutut kepadaku. Wajahku pucat, mataku membelalak bingung.

"Apa yang sebenarnya terjadi?? Aku benar-benar tidak mengerti." Suaraku bergetar, bibirku kering.

Zafira pun langsung bangun dan berdiri di hadapanku. Matanya menatapku lurus, penuh hormat, senyumnya lembut.

"Kau adalah orang-orang terpilih yang berhasil masuk ke Reruntuhan Dunia."

Belial pun maju dan berdiri di sebelah Zafira. Dia menunduk dalam-dalam, wajahnya serius.

"Maafkan kami karena telah menguji tuan dengan perangkap seperti itu, dan tolong maafkan kelancangan wanita tidak tahu diri ini." Suaranya berat, alis bertaut.

Zafira yang kesal langsung memukul Belial dengan kencang. Wajahnya cemberut, pipinya menggembung.

*Bug!*

"Apa maksudmu wanita tidak tahu diri, hah!!" Matanya melotot.

Belial yang kesal langsung membenturkan kepalanya ke kepala Zafira. Wajahnya merah padam.

*Duk!*

"Karena kau tidak sopan terhadap tuan kita!!" Giginya menggertak.

5 orang sisanya pun hanya bisa diam. Bahu mereka turun, pasrah, wajah mereka seperti sudah biasa melihat ini.

Aku langsung penasaran dengan Reruntuhan Dunia yang Zafira sebut. Tanganku saling meremas karena gugup, wajahku tegang.

"Ma-maaf jika tidak sopan, ta-tapi ada yang ingin aku ta-tanyakan kepada kalian." Mataku melirik ke bawah.

Mendengar itu Zafira dan Belial langsung berhenti berkelahi. Mereka berdua tersenyum tipis ke arahku, wajah langsung berubah manis.

"Silahkan wahai tuan kami." Serempak.

Aku menelan ludahku. Dadaku berdegup kencang, keringat dingin di pelipis.

"Se-sebenarnya apa yang dimaksud dengan Reruntuhan Dunia?? Dan sebenarnya siapa kalian ini??" Kedua tanganku mengepal dengan erat, mata berkaca panik.

Mereka semua langsung berdiri tegak. Salah satu dari mereka maju menghadap ke arahku dan melepaskan topengnya. Wajahnya tegas, rahang kokoh.

"Izinkan aku memperkenalkan diri. Namaku adalah Agrees. Aku adalah komandan pasukan Swordman." Matanya tajam menatapku hormat.

Setelah dia memperkenalkan diri, yang lainnya pun mulai maju menghampiriku.

Kali ini seorang wanita maju dengan riang. Senyumnya lebar, matanya berbinar.

"Biar aku perkenalkan diri. Namaku adalah Selena. Aku komandan pasukan penyihir di sini." Tangannya melambai kecil.

Kali ini seorang Assassin laki-laki datang kepadaku. Tatapannya tajam, tapi bahunya sedikit rileks, wajahnya datar.

"Maaf jika tatapanku selalu terlihat menyeramkan." Dia menghela nafas, matanya menyipit lelah.

"Huhh.. namaku adalah Astra. Seperti yang kau lihat, aku adalah komandan Assassin di sini."

Lalu seorang laki-laki dengan badan besar yang tertutup armor raksasa datang ke arahku. Suaranya menggelegar, wajahnya di balik helm terlihat tersenyum.

"Namaku adalah Gigan. Aku komandan Tanker."

Lalu seorang perempuan maju ke arahku dengan gugup. Tongkat di tangannya bergetar hebat, wajahnya merah sampai telinga.

"Pe-perkenalkan, a-aku Sophie. Aku ko-komandan Healer." Wajahnya terus menunduk karena malu, matanya berkaca-kaca.

Agrees langsung menaruh tangan kanannya yang mengepal di dadanya. Wibawanya terpancar, wajahnya serius bangga.

"Kami semua adalah.. Pentagon Legacy." Suaranya lantang.

Seluruh pasukan itu langsung mengikuti gerakan Agrees seketika.

*Duk!*

Aku langsung terkejut. Mataku membelalak, mulut terbuka.

"Un-untuk sekarang aku sudah mengenal kalian dengan baik." Wajahku masih pucat kaget.

Lalu aku berbalik dan menatap Belial dan Zafira.

Setelah mereka menyadari bahwa aku menatap mereka, mereka langsung memberi hormat yang sama seperti Agrees, wajah mereka jadi serius.

"Maaf jika kami telat memperkenalkan diri. Namaku adalah Zafira sang pengendali mana tubuh." Senyumnya manis, matanya berbinar.

Belial pun ikut menunduk. Wajahnya datar kaku.

"Mohon maaf juga jika saya tidak terlalu banyak bicara. Nama saya adalah Belial sang pengendali mana luar."

Zafira menatapku lembut, kepalanya sedikit miring.

"Jika tuan masih tidak mengerti dengan kami, anggaplah kami sebagai alat yang diciptakan dari kekuatan yang dimiliki tuan."

Aku berpikir. Jariku mengetuk pelan, alisku bertaut.

"Intinya kalian adalah sebuah entitas yang tercipta dari mana??"

Belial menggeleng. Dia merentangkan kedua tangannya ke seluruh penjuru, wajahnya bangga.

"Tidak hanya kami. Tapi semua yang ada di sini adalah ciptaanmu."

Zafira melambaikan tangannya. Seketika muncul sebuah gazebo yang megah.

*Wung...*

"Lebih baik kita bicara sambil bersantai seperti ini."

Semua orang langsung duduk. Hanya aku yang masih berdiri, tidak percaya, mata melotot.

"Zafira... ada yang ingin aku tanyakan kepadamu." Tatapanku serius, alis berkerut.

Zafira tersenyum dan menciptakan sebuah meja di tengah gazebo, matanya menggoda.

"Apakah tuan penasaran dengan apa yang baru saja aku lakukan??"

Aku mengangguk cepat. Mataku berbinar takjub.

"Apakah aku bisa menciptakan hal seperti itu juga??"

"Tentu saja. Karena kekuatan ini adalah milik tuanku." Dia melirik ke arah Belial, senyumnya jail.

Belial memejamkan mata. Mana menyelimuti tubuhnya seperti zirah, wajahnya fokus.

*Wung...*

"Nama teknik ini disebut Armor Mana. Seperti yang tuan lihat, aku bisa membuat sebuah zirah menggunakan mana yang ada di tubuhku."

Dia menunjuk Zafira yang sedang menciptakan topeng.

"Lalu teknik yang dilakukan Zafira adalah Creation Mana, yaitu membuat sebuah objek dengan mana yang ada di sekitar."

Aku menatap mereka dengan takjub. Mataku berbinar, mulut menganga.

"Apakah urat-urat hitam dan rantai itu termasuk ke dalam salah satu kekuatanku??"

Belial terdiam. Alisnya berkerut dalam, wajahnya bingung.

"Membuat rantai itu memang termasuk ke dalam kekuatan tuan.. akan tetapi untuk urat-urat hitam itu aku tidak mengetahuinya. Mungki-"

Zafira langsung menyela. Wajahnya menyeringai puas.

"Biar aku menjawabnya, tuan. Kondisi yang tuan maksud itu disebut Amukan Mana."

Aku terkejut. Tangan kananku langsung kugenggam erat, wajahku tegang.

"Amukan Mana?? Apa itu??"

Zafira menyerahkan topeng buatannya padaku. Suaranya pelan, wajahnya jadi serius.

"Amukan Mana adalah hal yang terjadi ketika kondisi tubuh atau mental pengguna terganggu, yang menyebabkan proses pemadatan mana yang berlebihan, sehingga sebagian mana yang sudah dipadatkan itu masuk ke dalam tubuh penggunanya."

Belial menyipitkan mata ke Zafira. Tangannya menyilang di dada, alis bertaut kesal.

"Bagaimana kau tahu akan hal ini??"

Zafira membuang muka, pura-pura tidak dengar. Nadanya mengejek, bibirnya manyun.

"Bukankah informasi itu ada di perpustakaan lantai dua reruntuhan? Ahh.. mungkinkah tuan Belial tidak pernah membaca informasi di lantai tersebut??"

Belial langsung gagap. Wajahnya merah padam.

"Ja-jangan bercanda. Tentu saja aku pernah mengunjungi tempat itu." Matanya melirik ke samping.

Aku mengangguk pelan. Wajahku mulai paham tapi masih cemas.

"Aku mengerti sekarang. Jadi kenapa aku bisa masuk ke tempat seperti ini?? Dari nama tempat ini saja aku tahu bahwa tempat ini adalah tempat yang sangat berharga, yang informasinya pasti sangat dijaga oleh seluruh kerajaan."

Zafira berjalan ke arahku. Di tangannya, sesuatu berkilau, senyumnya misterius.

"Karena tuan adalah orang-orang terpilih yang dapat memasuki tempat ini setelah melewati ujian takdir yang sangat kejam."

Dia berhenti tepat di depanku. Mahkota emas muncul di tangannya dan ditaruh di kepalaku pelan.

*Clink...*

"Untuk menjadikan orang-orang sepertimu menjadi Raja dari dunia ini."

Seluruh orang langsung menunduk. Gemuruh terdengar. Sebuah kastil raksasa muncul di belakangku.

*Gruuuk...*

Mataku membelalak. Jantungku seperti berhenti. Wajahku pucat pasi.

"Aku menjadi raja??" Suaraku tercekat.

Belial menghampiriku dan meletakkan tangannya di bahuku. Genggamannya kuat, wajahnya serius tulus.

"Bukan hanya sekedar Raja. Tapi menjadikan anda penguasa dari dunia ini."

Aku menunduk. Pikiranku berkecamuk. Lama. Alisku berkerut dalam.

Lalu aku mengangkat wajahku, mataku berkaca tapi tegas.

"Aku sangat senang jika kalian semua menjadikanku seorang Raja."

Seluruh orang tersenyum. Wajah mereka cerah.

"Kalau begitu hal yang pertama kita lakukan adalah membalaskan dendam tuan, lalu-"

Aku mengangkat tangan kananku tinggi. Suaraku bergetar tapi tegas, wajahku menegang.

Dadaku terasa berat saat itu juga.

"Tapi maaf, aku harus menolak tawaran itu."

Tapi... jika aku menerimanya, itu sama saja aku menyerah dalam menghadapi takdir busuk ini. Karena aku tidak ingin mengorbankan api semangat yang sudah diberikan oleh Ibu. Mataku memerah menahan haru.

Seluruh pasukan terkejut. Beberapa mundur selangkah, mata melebar.

Zafira mengerutkan kening. Wajahnya bingung, bibir mengerucut.

"Kenapa tuan?? Padahal dengan menjadikan anda Raja, tuan bisa terlepas dari takdir tuan, yang selama ini membuat tuan menderita."

Belial maju selangkah. Sorot matanya tajam, alis bertaut.

"Benar sekali tuan. Juga dengan membalaskan dendam kepada orang-orang yang selama ini menyiksa tuan itu bisa membuat tuan senang."

Aku mengangkat kepalaku. Mataku menatap mereka satu per satu, wajahku tenang.

"Aku tidak pernah mengharapkan balas dendam kepada siapapun, tapi bukan berarti aku memaafkan mereka. Hanya saja.. dengan membalas dendam, bukankah itu artinya aku lari dari takdirku."

Aku menarik napas. Senyum tipis muncul, mata berkaca.

"Aku sudah mendapatkan api semangatku dari seseorang yang berharga untuk terus bertahan menghadapi segala rintangan takdir ke depannya."

Zafira terlihat kecewa. Bahunya turun, bibirnya manyun.

"Padahal tuan bisa saja mendapatkan kekuatan mutlak untuk menghancurkan semua batasan di dunia ini."

Aku tersenyum. Lalu merentangkan kedua tanganku lebar-lebar, wajahku tulus.

"Aku merasa terhormat kalian memilihku sebagai Raja. Tapi maaf... aku harus menolak. Karena bagiku, menjadi Raja bukanlah hanya soal kekuatan. Aku ingin menjadi Raja yang membawa perubahan bagi semua orang. Mungkin ini terdengar naif... Tapi aku ingin membuat sebuah kerajaan. Kerajaan dimana semua orang bisa tersenyum... Tanpa perlu memikirkan siapa sebenarnya mereka."

Hening. Lalu satu per satu, mereka tersenyum dan bertepuk tangan untukku. Mata mereka berkaca haru.

Belial dan Zafira saling pandang. Mereka mengangguk, senyum tipis. Lalu berjalan ke arahku.

"Apakah tuan yakin dengan pilihan tuan??" Wajah mereka serius.

Aku mengangguk tegas. Bibirku tersenyum lebar.

"Hmm.. tentu saja."

Mereka menempelkan tangan ke dadaku. Hangat.

*Wung...*

Sebuah lambang dengan wajah mereka yang memiliki tanduk yang menjulang ke atas seperti mahkota menyala di dadaku... lalu menghilang.

"Yang tadi itu.. apa barusan??" Mataku membelalak kaget.

Mereka tersenyum. Zafira menjawab lembut, matanya berbinar.

"Jika itu keinginan tuan maka kami siap untuk membantu tuan dalam mewujudkannya."

Belial ikut mengangguk, wajahnya akhirnya melembut.

"Kami akan mengajari tuan tentang cara penggunaan kekuatan tuan, agar impian tuan bisa tercapai."

Air mataku jatuh. Aku buru-buru mengelapnya dengan lengan, wajahku memerah malu.

"Terima kasih semuanya. Mohon bimbingannya untuk ke depannya, semuanya."

Aku tersenyum kepada mereka. Sudut bibirku naik, mata masih berkaca.

"Ouh iya, aku ingin meminta tolong kepada kalian. Apa bisa??" Tanganku meremas ujung baju, wajah gugup.

Belial dan Zafira langsung tersenyum tipis. Mereka mengangguk bersamaan.

"Tentu saja tuan. Jadi apa permintaan tuan??"

Aku menarik napas. Lalu menepuk tanganku sekali, wajahku serius tapi gugup.

"Bisakah kalian tidak menganggapku sebagai tuan."

Semua orang langsung terkejut. Mata mereka melebar, mulut menganga.

Agrees langsung menghampiriku seketika. Langkahnya berat. Dia menaruh tangan di dadanya. Wajahnya serius, alis bertaut.

"Tidak bisa tuan.. Aku tidak bisa menerima permintaan ini. Karena bagiku itu akan merusak harga diri seorang bawahan setia."

Aku tersenyum lagi. Santai. Bahuku diangkat, wajahku polos.

"Tentu saja aku tidak memaksa kalian untuk menerima permintaanku. Jika kalian keberatan, kalian bisa menolaknya."

Seluruh pasukan langsung terdiam. Hening.

Selena langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Bahunya terguncang nahan tawa, matanya berkaca.

Astra menyipitkan matanya. Dia bersedekap dan menghela nafas pelan, tapi sudut bibirnya naik sedikit menahan senyum.

Gigan menggaruk kepalanya yang berarmor karena kebingungan, wajahnya bengong.

Sophie? Wajahnya langsung merah sampai ke telinga. Dia menunduk semakin dalam dan memainkan ujung jubahnya, hampir menangis.

Tapi tiba-tiba saja Zafira menerjang dan memelukku dengan erat. Matanya berbinar gemas.

"Ahh.. kau sangat imut Kai. Kau bahkan tidak ingin dipandang rendah oleh bawahanmu sendiri."

Pelukannya yang erat ke tubuhku membuat diriku sesak. Aku menepuk-nepuk punggungnya. Nafasku habis, wajahku merah padam.

"Za-zafira... aku tidak bisa bernafas."

Zafira langsung melepas pelukannya. Wajahnya merah karena menahan tawa, matanya berair.

"Maaf Kai.. Aku tidak bisa menahan rasa senang ku. Dan juga.. Tolong panggil aku Kakak Zafira, oke."

Dia mengedipkan matanya kepadaku, wajahnya menggoda.

Belial yang sangat kesal langsung mendecak keras. Alisnya bertaut dalam, wajahnya merah padam.

*Chit!*

"Zafira! Bertingkah lah sewajarnya!!"

Di saat yang bersamaan, seluruh komandan dan pasukan pun ikut bereaksi.

Selena akhirnya meledak ketawa, air mata keluar.

"Pfft- HAHA!"

Astra memalingkan wajah, tapi telinganya merah padam.

Gigan mengangguk-angguk sambil senyum bodoh, wajahnya polos.

"Bagus... bagus..."

Sophie malah semakin menunduk. Hampir nangis saking malunya, wajahnya merah seperti tomat.

Aku menarik napas dalam. Lalu Kak Zafira mengangkat tangan kananku tinggi ke udara, wajahnya bersemangat.

"Kalau begitu ayo kita mulai. Misi mewujudkan impian Kai!"

Zafira langsung menatap sinis ke seluruh komandan dan pasukan. Matanya menyipit tajam.

Seketika itu juga seluruh orang bersorak-sorai.

"OOOH!!"

Terkecuali Belial. Wajahnya merah padam. Urat di keningnya muncul, gigi menggertak.

Sepertinya dia sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!