Kembali ke Meja yang Sama
Romance • Office Romance • Second Chance
Tiga tahun setelah putus tanpa penjelasan, Alya pikir dia sudah move on — sampai hari pertama kerja di kantor baru, dia sadar atasannya sendiri adalah mantan yang paling ingin dia lupakan.
Raka. Dingin. Profesional. Seolah tak pernah mengenalnya.
Tapi di balik topeng atasan yang terkontrol itu, ada rahasia yang selama ini disembunyikan — alasan sebenarnya kenapa dia pergi dulu, tanpa kata, tanpa jejak.
Setiap rapat jadi medan perang batin. Setiap proyek yang mempertemukan mereka berdua jadi ujian rasa yang belum sepenuhnya mati. Alya harus memilih: bertahan profesional, atau membiarkan luka lama terbuka lagi demi kebenaran yang mungkin akan menghancurkan segalanya — atau menyatukan mereka kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Lagi
Dua minggu berlalu sejak pertemuan di kantor keluarga Pradana yang mengubah segalanya. Kantor kini terasa berbeda bagi Alya—bukan lagi tempat penuh ketegangan setiap kali harus bertemu Raka, melainkan tempat di mana ia mulai belajar bagaimana rasanya jatuh cinta lagi pada orang yang sama, dengan cara yang baru.
Mereka sepakat untuk tidak terburu-buru. Tidak ada status resmi, tidak ada pengumuman ke siapa pun di kantor, hanya dua orang yang perlahan-lahan mulai menghabiskan waktu bersama di luar jam kerja—makan siang berdua sesekali, pesan singkat yang tidak lagi hanya soal pekerjaan, dan momen-momen kecil yang mulai terasa familiar namun tetap baru.
Pagi itu, Alya tiba di kantor dan menemukan secangkir americano tanpa gula sudah menunggu di mejanya, dengan secarik kertas kecil terselip di sampingnya: Semangat presentasi hari ini. — R
Nadia, yang duduk di sebelahnya, melirik kopi itu dengan senyum jahil. "Dari siapa tuh?"
"Nggak tau," jawab Alya, mencoba menyembunyikan senyumnya sendiri, meski gagal total.
"Bohong," kata Nadia, tertawa kecil. "Muka kamu udah kayak orang lagi kasmaran gitu tiap pagi belakangan ini. Ada apa sih sebenarnya sama kamu dan Pak Raka?"
Alya menghela napas, menyadari bahwa menyembunyikan sesuatu dari Nadia yang sudah bekerja dengannya cukup lama bukanlah hal yang mudah. "Ceritanya panjang," katanya akhirnya. "Tapi intinya... kami lagi coba lagi. Pelan-pelan."
Mata Nadia melebar. "Coba lagi? Jadi kalian emang pernah—"
"Nanti aku cerita lengkap pas makan siang," potong Alya, tersenyum. "Sekarang aku harus siapin presentasi dulu."
Presentasi hari itu adalah tentang hasil kampanye Q4 yang telah mereka kerjakan bersama selama beberapa bulan terakhir—kampanye yang, di luar dugaan semua orang, berhasil melampaui target dengan angka yang cukup signifikan. Alya berdiri di depan ruang rapat besar, mempresentasikan data dan hasil dengan percaya diri yang jauh berbeda dari dirinya yang gugup di hari pertama bertemu Raka kembali.
Raka duduk di ujung meja, seperti biasa, tapi kali ini tatapannya tidak lagi dingin dan terkontrol—ada kehangatan kecil yang tersembunyi di balik profesionalismenya, sesuatu yang hanya bisa dikenali oleh orang yang benar-benar memperhatikan.
"Hasil yang luar biasa," kata salah satu direktur senior yang hadir dalam rapat itu, seorang pria bernama Pak Surya yang jarang sekali memberikan pujian terbuka. "Alya, saya rasa strategi konten yang kamu kembangkan ini layak untuk jadi standar buat kampanye-kampanye berikutnya."
Alya tersenyum, merasakan kebanggaan yang tulus atas kerja kerasnya. "Terima kasih, Pak. Ini juga hasil kerja sama tim yang solid."
Setelah rapat berakhir, Pak Surya mendekati Alya sebelum ia sempat keluar ruangan. "Alya, saya ingin bicara sebentar soal sesuatu yang lebih besar."
"Tentu, Pak," jawab Alya, sedikit penasaran dengan nada serius Pak Surya.
"Kami sedang mempertimbangkan untuk membuka divisi baru—strategi digital terintegrasi—dan saya rasa kamu adalah kandidat kuat untuk memimpinnya. Ini akan jadi promosi besar, dengan tanggung jawab yang jauh lebih luas dari posisi kamu sekarang."
Alya terkejut, tidak menyangka akan mendapat tawaran sebesar ini secepat itu. "Saya... saya sangat tersanjung, Pak. Boleh saya pikirkan dulu?"
"Tentu saja," jawab Pak Surya, tersenyum. "Tapi jangan pikirkan terlalu lama. Kami butuh keputusan dalam waktu dua minggu."
Setelah Pak Surya pergi, Raka mendekati Alya yang masih berdiri terpaku di tengah ruangan yang mulai kosong.
"Kedengarannya kabar baik," kata Raka, tersenyum. "Selamat."
"Aku belum terima," jawab Alya, meski senyum kecil tidak bisa ia sembunyikan. "Tapi... iya, ini kesempatan besar."
"Kamu harus ambil," kata Raka tanpa ragu. "Kamu pantas dapat ini, Alya. Kerja keras kamu selama ini emang layak dihargai kayak gini."
Alya menatap Raka, merasakan kehangatan mendengar dukungan tulus itu, tanpa sedikit pun nada keberatan atau kekhawatiran yang biasanya muncul dari pasangan yang takut posisi mereka terancam oleh kesuksesan orang yang mereka cintai. "Makasih," katanya pelan. "Tapi kalau aku ambil posisi ini, mungkin aku bakal lebih sering harus kerja sama tim lain, bukan sama kamu lagi."
"Aku nggak masalah," jawab Raka, meski ada sedikit keraguan yang sekilas terlihat di matanya sebelum ia menyembunyikannya dengan senyum. "Yang penting kamu bahagia sama pilihan kamu."
Namun, di balik kata-kata penuh dukungan itu, ada sesuatu yang mulai mengganjal di pikiran Raka sepanjang sore, sesuatu yang ia coba tepis namun terus muncul kembali setiap kali ia memikirkan promosi besar yang akan membawa Alya ke lingkup kerja yang jauh lebih luas—lingkup yang kemungkinan besar akan mempertemukannya dengan orang-orang baru, termasuk mungkin seseorang yang bisa menjadi ancaman baru bagi hubungan mereka yang masih rapuh ini.
Ia teringat nama yang disebutkan sekilas oleh Pak Surya dalam rapat tadi sebagai calon rekan kerja di divisi baru itu—seseorang yang pernah bekerja dengan Alya sebelum ia pindah ke perusahaan ini tiga tahun lalu.
Dimas Aditya.
Raka mencoba mengingat, dan samar-samar teringat cerita singkat yang pernah diceritakan Alya tentang seorang rekan kerja lamanya yang sempat dekat dengannya di kota sebelumnya—seseorang yang, menurut cerita Alya sendiri, pernah menyatakan perasaan padanya sebelum akhirnya Alya memutuskan pindah kerja.
Malam itu, ketika Raka mengecek email kerja sebelum tidur, ia menemukan sebuah nama di daftar tim yang diusulkan Pak Surya untuk divisi baru—nama yang membuat perutnya tiba-tiba terasa tidak nyaman.
Dimas Aditya — kandidat Senior Strategist, direkomendasikan langsung oleh Alya Ramadhani.