NovelToon NovelToon
TAK TERTANDINGI

TAK TERTANDINGI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Serly Can

Bagi semua orang di SMA Nusantara, Rian hanyalah seorang yatim piatu miskin, pendiam, dan sasaran empuk perundungan. Tak ada yang tahu bahwa di balik lebam dan pakaian lusuhnya, sebuah Sistem Kultivator Tunggal baru saja bangkit dalam dirinya.

​Di era modern tempat hukum alam dikendalikan uang dan kekuasaan, Rian menjadi satu-satunya manusia yang menguasai seni kultivasi kuno. Tanpa perlu bersuara, ia mengasah kekuatannya di balik layar—menjadi sosok yang tak terlihat, namun tak tertandingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serly Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-Bayang di Lorong Pagi dan Meja Laboratorium

​Suara deru mesin kendaraan bermotor di jalan raya utama terdengar seperti dengungan lebah raksasa yang tertahan oleh dinding kaca kedap suara laboratorium fisika dasar SMA Bina Bangsa. Matahari pagi baru saja mengintip di balik deretan gedung pencakar langit kota, menyapukan cahaya keemasan tipis ke atas meja-meja praktikum yang dipenuhi tabung reaksi dan perangkat osiloskop digital.

​Rian berdiri di depan meja kerjanya, mengenakan jas laboratorium putih bersih yang sedikit kebesaran di bahunya. Di hadapannya, sebuah perangkat generator termoelektrik mikro rakitan sendiri memancarkan pendaran lampu indikator kecil berwarna biru terang, menandakan bahwa sistem konversi energi yang ia rancang sedang bekerja dalam efisiensi puncak tanpa ada hambatan fluktuasi arus.

​Cklek.

​Pintu laboratorium terbuka perlahan. Maya melangkah masuk dengan membawa dua cangkir kopi instan hangat di dalam cangkir kertas berlogo kedai lokal. Rambutnya dikuncir ekor kuda rapi, memperlihatkan raut wajah yang memancarkan campuran antara rasa penasaran dan kelelahan ringan akibat begadang menyiapkan bahan presentasi olimpiade.

​"Kau sudah merakit modul generator itu sejak pukul enam pagi, Rian?" sapa Maya sambil meletakkan salah satu cangkir kopi ke atas meja di dekat siku Rian. Ia menarik kursi kayu dan duduk di sebelah kanan pemuda itu. "Bahkan penjaga sekolah bilang gerbang utama baru dibuka sepuluh menit yang lalu."

​Rian menghentikan gerakan jemarinya di atas papan ketik komputer jinjing. Ia menoleh, menatap cangkir kopi kertas yang mengepulkan uap tipis itu sebelum mengalihkan pandangannya ke wajah Maya.

​"Waktu di pagi hari memiliki kejernihan frekuensi yang berbeda, Maya," jawab Rian dengan nada tenang dan datar, suaranya terdengar sangat kontras dengan hiruk-pikuk kesibukan koridor di luar. "Pikiran belum terkontaminasi oleh kebisingan informasi acak yang dihasilkan sepanjang hari. Terima kasih untuk kopinya."

​Maya tersenyum tipis, menyesap kopinya perlahan. "Kau selalu punya cara pandang yang unik terhadap waktu dan kesunyian. Terkadang, aku merasa kau hidup di dimensi waktu yang bergerak lebih lambat daripada orang-orang di sekitar kita."

​"Bukan dimensi waktu yang berbeda," balas Rian ringan, mengambil cangkir kertasnya dan meneguk sedikit cairan pahit manis itu. "Hanya tingkat kesadaran dalam memproses informasi yang membedakan bagaimana seseorang merasakan jalannya waktu."

​Maya mendengus geli, menggelengkan kepalanya pelan. "Sudahlah, mulai lagi dengan filosofi kosmikmu. Lebih baik kita bahas substansi presentasi untuk babak seleksi regional lusa nanti. Pak Darma tadi pagi mengirim pesan padaku, bilang kalau dewan juri dari kementerian pendidikan akan datang langsung meninjau stan pameran kita."

​Rian meletakkan kembali cangkirnya dengan rapi. Tatapannya menjadi jauh lebih fokus. "Apakah Pak Darma menyebutkan siapa saja nama juri kehormatan yang akan hadir dari pihak kementerian?"

​"Belum ada rincian nama resmi yang dipublikasikan demi menjaga kerahasiaan penilaian," jawab Maya sambil membuka buku catatannya dan membalik lembarannya cepat. "Tapi desas-desus di ruang guru mengatakan bahwa salah satu penguji utamanya adalah Profesor Iskandar—pakar fisika kuantum nasional yang terkenal sangat kritis terhadap proyek inovasi energi terbarukan."

​Mendengar nama tersebut, secercah kilatan cahaya redup melintas sekilas di manik mata Rian. Melalui Mata Dewa Pengamat, memori basis data digital yang ia serap dari jaringan riset nasional langsung memunculkan profil lengkap Profesor Iskandar: seorang akademisi tua yang jenius, idealis, namun sangat skeptis terhadap klaim teknologi yang dibuat oleh peneliti muda tanpa dasar matematis yang solid.

​"Profesor Iskandar..." gumam Rian pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis penuh percaya diri. "Kritisisme beliau bukanlah sebuah ancaman, Maya. Justru keberadaan juri yang kritis akan membuat validitas proyek kita semakin diakui secara mutlak tanpa celah."

​Maya menatap keyakinan di wajah Rian, dan perlahan rasa cemas di dalam dadanya ikut mereda. "Kau selalu bisa membuat situasi yang menegangkan terdengar begitu mudah di kendalikan, Rian. Aku harap penilaian mereka besok benar-benar objektif."

​Sementara itu, di lantai dua gedung administrasi yayasan, suasana di ruang kerja kepala sekolah jauh dari kata tenang.

​Kepala Sekolah Kusuma Bina Bangsa—Pak Hartono—berdiri tegak di dekat jendela besar yang menghadap ke arah lapangan upacara. Di hadapannya, duduk seorang pria berjas kelabu gelap dengan potongan rambut klimis dan ekspresi wajah dingin. Namanya Bramasta, konsultan hukum senior yang diutus diam-diam oleh pihak luar untuk menyelidiki ulang legalitas hibah tanah dan aset yayasan yang sempat terseret kasus korupsi Viktor Tan.

​"Saya tegaskan sekali lagi, Pak Hartono," ujar Bramasta dengan nada suara berat dan mengintimidasi, meletakkan selembar dokumen audit di atas meja kayu mahoni. "Pembersihan internal yang dilakukan oleh Direktur Utama Hartawan Kusuma tidak menghapus fakta bahwa beberapa aset properti sekolah ini dulunya diperoleh melalui jalur birokrasi yang bermasalah. Jika kami memutuskan untuk membuka kembali investigasi forensik finansial ini ke hadapan publik, reputasi SMA Bina Bangsa akan hancur dalam semalam."

​Pak Hartono menelan ludah dengan susah payah, keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia meremas ujung meja kerjanya dengan jemari yang sedikit gemetar. "Tapi... Tuan Bramasta, pihak yayasan yang sekarang sudah berada di bawah pengawasan langsung Dewan Komisaris Kusuma Group. Segala bentuk pelanggaran masa lalu telah diselesaikan melalui audit hukum independen."

​Bramasta tertawa kecil, suara tawa yang terdengar dingin dan meremehkan. "Audit independen versi mereka? Tentu saja mereka akan membersihkan nama mereka sendiri. Tapi bagaimana dengan dokumen-dokumen lama di ruang arsip bawah tanah yang belum sempat dihancurkan? Apakah Anda yakin tidak ada pihak siswa atau guru usil yang mulai mencium bau busuk dari masa lalu itu?"

​Pak Hartono tertegun, bola matanya melebar seketika. Sebuah bayangan melintas di benaknya—ingatan tentang sosok Rian yang beberapa hari lalu terlihat menghabiskan waktu berjam-jam di ruang arsip tua lantai dasar untuk memverifikasi dokumen historis yayasan.

​"Tunggu... apa maksud Anda?" tanya Pak Hartono dengan suara tercekat.

​"Anak beasiswa itu... Rian," kata Bramasta tajam, menyipitkan matanya penuh perhitungan licik. "Berdasarkan laporan intelijen kecil yang saya terima, dia bukan sekadar murid biasa yang pintar sains. Dia mulai menggali dokumen-dokumen yang seharusnya terkubur rapat. Jika kita tidak segera menghentikan gerak-geriknya sebelum babak grand final olimpiade nasional, dia bisa menjadi bumerang yang menghancurkan seluruh rencana besar kita di yayasan ini."

​Pak Hartono terdiam kaku di tempatnya. Konflik batin berkecamuk hebat di dalam dadanya antara rasa takut terhadap tekanan pihak luar dan nuraninya sebagai pendidik yang tahu persis bahwa Rian adalah murid paling cemerlang yang pernah dimiliki sekolah tersebut.

​Kembali ke laboratorium fisika, jam dinding menunjukan pukul sepuluh lewat lima belas menit. Jam istirahat pertama baru saja dimulai, namun Rian dan Maya masih sibuk merapikan grafik data pengujian osiloskop di layar komputer.

​Pintu laboratorium mendadak diketuk tiga kali dengan cepat, disusul oleh kemunculan Pak Darma—guru pembimbing sains mereka—yang melangkah masuk dengan napas sedikit terengah-engah dan raut wajah cemas.

​"Rian! Maya!" panggil Pak Darma setengah berbisik, menutup pintu laboratorium rapat-rapat di belakangnya.

​Maya menghentikan pekerjaannya, menoleh dengan kening berkerut heran. "Ada apa, Pak Darma? Kenapa Anda terlihat begitu panik?"

​Pak Darma melangkah mendekati meja mereka, merendahkan suaranya hingga nyaris berbisik. "Baru saja saya mendengar percakapan tertutup di ruang guru antara Kepala Sekolah dan seorang konsultan hukum misterius bernama Bramasta. Mereka... mereka sedang membicarakan kalian, terutama dirimu, Rian."

​Rian tetap duduk dengan tenang, tidak menunjukkan tanda-tanda keterkejutan sedikit pun. Ia menatap Pak Darma lekat-lekat. "Membicarakan saya dalam konteks apa, Pak Darma?"

​"Mereka menganggap penyelidikan arsip historis yang kau lakukan beberapa waktu lalu sebagai ancaman bagi kepentingan kelompok tertentu di yayasan," jawab Pak Darma dengan nada penuh kekhawatiran yang tulus. "Kepala Sekolah berada di bawah tekanan berat. Saya khawatir mereka akan mencoba mencari cara kotor untuk mendiskualifikasi tim kita dari olimpiade regional agar proyek dan risetmu tidak pernah sampai ke hadapan juri kementerian."

​Maya tertegun, wajahnya pucat pasi. "Mendiskualifikasi kita? Tapi bagaimana bisa?! Proyek riset kita adalah karya murni yang sah dan diakui secara akademis!"

​"Di dunia birokrasi dan korporasi, kebenaran ilmiah sering kali kalah oleh kepentingan kekuasaan dan uang, Maya," kata Pak Darma getir, menggelengkan kepalanya pasrah. "Saran saya... kalian harus ekstra hati-hati selama berada di lingkungan sekolah dalam beberapa hari ke depan."

​Rian perlahan berdiri dari kursinya. Ia merapikan kerah jas laboratoriumnya dengan gerakan yang sangat tenang dan terukur. Sorot matanya memancarkan kedalaman kosmik yang dingin dan tajam, membuat Pak Darma dan Maya tertegun merasakan aura wibawa yang tiba-tiba melingkupi tubuh pemuda itu.

​"Terima kasih atas informasinya, Pak Darma," ucap Rian dengan suara tenang dan berwibawa. "Ketakutan mereka adalah bukti nyata bahwa fondasi busuk yang mereka bangun mulai runtuh. Biarkan mereka mencoba segala cara yang mereka inginkan."

​Pak Darma menatap Rian dengan tatapan takjub bercampur cemas. "Rian, jangan meremehkan mereka. Orang-orang itu memiliki pengaruh besar."

​"Saya tidak pernah meremehkan siapa pun, Pak Darma," balas Rian ringan, tersenyum tipis. "Di hadapan hukum alam dan ketetapan semesta, setiap tindakan manipulasi pada akhirnya hanya akan menghancurkan pelakunya sendiri. Mari kita kembali fokus pada persiapan presentasi. Waktu pembuktian yang sebenarnya akan segera tiba."

​Maya menarik napas panjang, menatap keteguhan di wajah Rian yang bagaikan karang karang kokoh diterpa ombak besar. Di dalam rongga dadanya, Rian merasakan putaran inti energi Qi bergetar selaras dengan detak kosmik semesta, bersiap menyambut badai apa pun yang hendak dilemparkan oleh dunia fana ke hadapannya.

1
Risman Caniago
kemampuan nya udah kaltiivor...... jagoan pasar... orang bayaran pada koit.....masa masih kontra sama anak SMA.... harus nya naik level genster....mafia..... belajar lagi yang lebih ya Thor....
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
Yossi Muliasa Permana
bagus cerita nya cuman cara penulisan nya agak sedikit bikin bingun
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!