Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.
"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.
Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.
Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.
"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12
Kacamata Baru
Enam bulan kemudian, Rayhan pulang dengan dua koper, setumpuk sertifikat, dan kebiasaan menyipitkan mata saat membaca papan warung.
"Lo rabun," kata Laras.
"Cuma capek."
Laras mengangkat tiga jari dari jarak dua meter. "Ini berapa?"
"Empat."
"Ke optik. Sekarang."
Rayhan mencoba menolak karena masih ada tugas, tetapi Mbah Surti langsung menyetujuinya. Sejak cucunya menjadi siswa termuda di kelas dan masuk tim olimpiade, perempuan tua itu memamerkan setiap prestasi sekaligus mengawasi tiap bersin.
Di depan warung, ibu-ibu arisan sedang membandingkan anak.
"Rayhan pintar sekali. Anak saya disuruh belajar malah main gim."
"Kalau Laras dulu rajin sedikit, mungkin bisa kuliah juga," sahut yang lain.
Laras yang sedang menutup bengkel pura-pura tidak mendengar. Mbah Surti tidak.
"Laras kerja halal dan bengkel ramai karena dia. Jangan ukur anak orang pakai penggaris sendiri."
Ibu-ibu itu langsung mengganti topik.
Di optik, petugas memeriksa mata Rayhan dan menemukan minus ringan akibat faktor bawaan serta penggunaan layar dan membaca dekat terlalu lama. Ia memilih bingkai hitam tipis.
"Setiap dua puluh menit lihat jauh dua puluh detik," pesan petugas. "Jangan baca sambil lampu mati atau tiduran. Kontrol enam bulan lagi."
Laras mencatat jadwal kontrol di ponsel.
"Kenapa kamu yang catat?" tanya Rayhan.
"Kalau nunggu lo ingat, nanti nabrak tiang dulu."
"Aku bisa ingat sendiri."
"Bagus. Berarti kalau lupa, gue punya bukti buat ngomel."
Rayhan tersenyum diam-diam. Di asrama, tidak ada orang yang mencatat jadwal kesehatannya selain wali asrama secara umum. Cerewet Laras terasa seperti rumah.
Sambil menunggu lensa dipasang, Laras mengajaknya makan bakso di seberang. Rayhan mendorong semua pangsit goreng ke mangkuk Laras karena ingat ia menyukainya. Laras memberi separuh baksonya sebagai balasan.
"Masih ingat cara bagi telur?" tanyanya.
"Aku ingat semuanya."
Jawaban itu mengandung terlalu banyak hal, termasuk rahasia Surabaya. Laras langsung menunduk ke kuah.
Ketika kacamata dipasang, Laras yang sedang melihat harga lensa menoleh lalu diam.
Rayhan tidak lagi terlihat seperti bocah yang harus dituntun pulang. Bingkai itu membuat wajahnya lebih tegas, matanya lebih tenang.
"Jelek?" tanyanya.
"Kayak petugas perpustakaan."
"Berarti pintar."
"Berarti suka nyuruh diam."
Petugas optik tersenyum melihat pertengkaran mereka. "Pacarnya cerewet juga."
"Bukan pacar," jawab Laras cepat.
Rayhan tidak ikut menyangkal. Ia hanya membetulkan bingkai dan melihat bayangan Laras di cermin.
Saat keluar, mereka bertemu Galih yang baru pulang libur dari Bandung. Ia membawa tas oleh-oleh dan langsung menyerahkan sekotak brownies kepada Laras.
"Buat Pak Darto," katanya.
"Kalau buat Bapak, kenapa kasih gue?"
"Supaya sampai."
Mereka bertiga naik angkot yang sama menuju Gang Mawar. Laras duduk di tengah. Galih bercerita tentang kuliah hukum dan tugas praktik. Rayhan mendengarkan dengan sopan.
"Koh Kelvin bilang Fakultas Hukum banyak anak pejabat," katanya.
"Ada. Kenapa?"
"Nggak apa-apa. Mungkin Galih cocok cari pacar di sana."
Galih menoleh. "Sejak kapan lo urus pacar gue?"
"Cuma saran. Biar nggak jauh-jauh."
Laras menyikut Rayhan. "Jangan mulai."
"Aku ngomong baik-baik."
"Justru itu yang bikin curiga," kata Galih.
Angkot mengerem. Bahu Laras terdorong ke Rayhan. Tangan Rayhan refleks menahan siku dan pinggangnya, lalu tidak langsung melepas.
Galih melihat. Rayhan balas menatap melalui kacamata baru.
Laras menepis tangan itu. "Udah seimbang."
"Kalau jatuh gimana?"
"Jatuh ke depan, bukan ke luar negeri."
Sesampainya di gang, Galih membantu membawa tas oleh-oleh ke rumah Pak Darto. Rayhan mengambil tas yang sama sebelum Galih sempat mengangkat.
"Aku aja. Galih pasti capek perjalanan."
"Gue nggak capek."
"Aku lebih dekat rumahnya."
"Rumah kita satu gang."
Keduanya berdiri memegang satu tali tas.
Laras merebut tas itu. "Isinya brownies, bukan warisan. Gue bawa sendiri."
Malamnya, mereka makan brownies di teras. Galih bercerita, Pak Darto bertanya soal kuliah, dan Rayhan duduk tenang di samping Laras. Setiap kali Galih mengajak Laras bicara, Rayhan selalu menemukan alasan masuk ke percakapan.
Mbah Surti datang membawa daftar nilai Rayhan yang sudah dilaminasi. Galih memuji prestasinya dengan tulus, lalu bertanya apakah tekanan kompetisi tidak terlalu berat.
"Aku suka belajar," jawab Rayhan. "Capeknya masih bisa diatur."
"Jangan sampai cuma ngejar jalur cepat terus lupa umur."
Rayhan mengangkat alis. "Galih khawatir aku cepat dewasa?"
"Gue khawatir lo melewatkan masa remaja."
"Nggak ada yang terlewat. Orang yang aku tunggu masih di sini."
Galih menatapnya tajam. Laras sedang mengambil teh untuk Pak Darto dan tidak mendengar kalimat itu. Mbah Surti sibuk memotong brownies. Hanya dua laki-laki tersebut yang memahami ujung tajam percakapan.
Saat Galih pulang, ia berhenti di pagar.
"Rayhan udah besar," katanya.
"Ya iyalah. Masa mengecil."
"Bukan itu. Cara dia lihat lo aneh."
Laras teringat petugas optik yang mengira mereka berpacaran. Ia tertawa untuk menepis rasa ganjil.
"Dia dari kecil memang nempel."
Di belakangnya, pintu rumah terbuka. Rayhan berdiri sambil membawa piring kosong.
"Laras, Mbah nyari."
Kali ini Galih jelas mendengar Rayhan tidak lagi memanggil Bang.
Tatapan kedua laki-laki itu bertemu lagi. Tidak ada yang mengucapkan tantangan, tetapi Laras yang berdiri di antara mereka tiba-tiba merasa angkot tadi belum benar-benar berhenti berguncang.
Liburan baru dimulai, dan rumah kecil yang biasanya tenang sudah dipenuhi persaingan tanpa nama serta tanpa jawaban jelas.