Terjebak dalam utang dan tidak memiliki jalan keluar, dia terpaksa memasuki arena pertarungan ilegal demi mendapatkan hadiah uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bagi orang lain, arena itu adalah tempat kematian. Tetapi bagi Aira, arena hanyalah tempat mencari nafkah. Selama ada uang dan masih bernafas, dia bersedia bertarung dan tidak menyerah.
Dia tidak mengenal kata cinta tapi tiga pria tampan tanpa sengaja menempel dan ingin memilikinya. Tapi Aira tidak mudah ditakhlukkan, hanya uang yang bisa membuatnya patuh walau cuma sebentar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Bayangan di Atap, Aturan Rusak, dan Darah di Karpet Mahal
Dia membuka pintu dengan kaki, tubuh tetap di balik tembok. Koridor gelap. Lampu otomatis belum menyala. Di ujung koridor, bayangan bergerak cepat menuju ruang tamu. Aira melangkah keluar. Pisau siap. “Raka!”
Suara langkah kaki berlari dari arah dapur. Raka muncul tanpa kaos, rambut acak-acakan, wajah tegang. “Aira—”
“Ada orang di dalam.” jawab Aira
Raka langsung mengambil sesuatu dari laci konsol—pistol kecil yang tersembunyi. “Berapa?”
“Minimal satu. Mungkin lebih.”
Mereka bergerak bersama. Aira di depan karena instingnya lebih tajam di ruang gelap. Saat melewati sudut menuju ruang tamu, seorang pria berpakaian hitam sudah berdiri di dekat jendela kaca. Di tangannya ada alat pemotong kaca yang masih menempel.
Pria itu menoleh. Mata mereka bertemu. Aira tidak memberi waktu. Dia melesat rendah, menghindari ayunan tangan lawan, lalu menusukkan pisau ke paha. Pria itu meraung. Raka menembak ke arah lutut yang lain. Bunyi tembakan teredam oleh silencer. Pria itu jatuh. Tapi dari balkon, dua bayangan lain sudah masuk.
“Mundur,” perintah Raka.
Aira tidak mundur. Dia mengambil vas kaca dari meja dan melemparnya ke wajah penyerang pertama. Vas pecah. Saat lawan terhuyung, Aira menendang lututnya hingga terdengar bunyi patah tulang. Rusuknya berteriak sakit, tapi dia tahan.
Penyerang kedua mengayunkan pisau panjang ke arah Raka. Raka sidestep, lalu menembak bahu lawan. Darah menyembur ke karpet abu-abu yang mahal.
Aira berdiri di tengah ruang tamu, napas pendek, pisau masih meneteskan darah. “Tiga orang. Tidak ada yang lolos?”
Raka memeriksa jendela. “Belum. Tapi pasti ada cadangan di bawah.”
Dia mengeluarkan ponsel sambil tetap mengarahkan pistol ke pria yang terluka. “Reza... sekarang. Rumah saya diserang.”
Suara Reza di seberang langsung tegang. “Tahan. Lima belas menit.”
Aira berjalan ke pria yang paling sadar, menekan pisau ke lehernya. “Siapa yang kirim?”
Pria itu tersenyum darah. “Bos bilang ambil hidup-hidup. Kamu masih berharga.”
“Bos yang mana?”
“Yang kamu khianati dulu.”
Aira menekan lebih dalam. “Nama.”
Pria itu hanya tertawa pelan sampai Raka menendang kepalanya hingga pingsan.
“Jangan bunuh,” kata Raka. “Kita butuh informasi.”
“Saya tidak bunuh. Saya hanya ingin dia takut.” Aira berdiri, menekan sisi tubuhnya yang nyeri. Darah dari luka lawan sudah mengotori karpet. “Karpet ini berapa harganya?”
Raka menatapnya tidak percaya. “Sekarang?”
“Iya. Karena saya yang bikin kotor. Nanti saya ganti.”
“Aira, demi Tuhan—”
“Berapa?”
Raka menghela napas kasar. “Delapan puluh juta.”
Aira mengangguk pelan seolah mencatat. “Mahal. Saya harus banyak bertarung untuk ganti itu.”
Raka mendekat, memegang bahunya. “Kamu luka?”
“Hanya tarikan. Rusuk lama.”
Tangannya naik ke perban, memeriksa. Jari-jari kapalan itu menekan pelan. “Basah. Kamu berdarah.”
“Sedikit.”
“Tidak sedikit.” Raka menariknya ke sofa. “Duduk. Saya ganti perban.”
Aira menurut karena kaki tiba-tiba terasa berat. Raka membuka kotak P3K dengan cepat, memotong perban lama. Kulit di sekitar luka memar lebih parah. Saat kapas alkohol menyentuh, Aira menggigit bibir.
“Sakit?”
“Biasa.”
Raka bekerja dalam diam. Wajahnya sangat dekat. Napasnya terasa di leher Aira setiap kali dia menunduk. “Kamu tidak boleh bertarung lagi malam ini.”
“Kalau mereka datang lagi?”
“Saya yang urus.”
“Kamu pembalap, bukan petarung.”
“Saya bisa menembak.”
Aira menatap matanya. “Kalau kamu mati, siapa yang bakal tagih uang karpet?”
Raka berhenti sejenak, lalu tertawa pelan meski tegang. “Kamu ini… bahkan disaat terluka parah masih mikirin uang.”
“Karena uang tidak mati. Orang bisa.”
Sirene samar terdengar dari bawah. Beberapa menit kemudian pintu utama terbuka. Reza masuk bersama empat orang berpakaian hitam, senjata siap. Dia langsung menatap ruangan yang berantakan.
“Korban?”
“Tiga. Hidup semua,” jawab Raka.
Reza mengangguk, lalu menatap Aira yang duduk dengan perban baru. Matanya turun ke darah di lantai, lalu ke wajah Aira. “Kamu tidak apa-apa?”
“Masih hidup. Karpetnya yang tidak.”
Reza hampir tersenyum, tapi menahan. “Kita pindahkan kamu malam ini juga. Tempat ini sudah bocor.”
Raka menolak. “Dia tetap di sini. Saya tambah security.”
“Tidak cukup. Mereka sudah masuk sampai balkon.”
Aira mengangkat tangan. “Saya yang putuskan. Berapa biaya pindah ke safe house milik Reza?”
Reza mengerutkan kening. “Tidak ada biaya.”
“Selalu ada. Transportasi, makanan, listrik.”
“Negara yang tanggung.”
Aira menimbang. Lalu menoleh ke Raka. “Kalau saya residual di sini, kamu harus ganti karpet dulu. Saya tidak mau tinggal di atas darah orang.”
Raka mengangguk segera. “Besok pagi sudah diganti.”
Reza menghela napas panjang. “Kalian berdua gila.”
Aira berdiri pelan. “Bukan gila. Hanya praktis. Sekarang, siapa yang akan interogasi tiga orang itu? Karena kalau saya yang interogasi, mereka mungkin tidak bisa bicara lagi.”
Reza menatapnya lama. “Saya yang urus. Kamu istirahat.”
Dia memberi perintah pada anak buahnya. Sementara itu Raka tetap berdiri di samping Aira, tangan masih di punggungnya seolah takut dia jatuh.
Di luar jendela, jauh di atap gedung seberang, bayangan lain masih mengawasi. Pria itu menekan earpiece. “Gagal. Target masih hidup. Dan sekarang ada tentara.”
Suara di seberang dingin. “Tidak masalah. Kirim tim kedua. Kali ini jangan hidup-hidup kalau terlalu merepotkan.”
Bau darah masih menempel di udara ketika Aira duduk di sofa yang tidak berdarah. Karpet abu-abu di tengah ruang tamu sudah digulung oleh anak buah Reza. Bekas merah kehitaman masih terlihat di lantai marmer. Raka berdiri di dekat jendela dengan pistol masih di tangan, sementara Reza berbicara cepat lewat radio.
“Tiga orang diamankan. Satu kritis. Dua masih bisa bicara,” kata Reza tanpa menoleh. “Tim med belom datang. Security gedung sudah saya kunci semua akses.”
Aira menekan perban baru di rusuknya. “Berapa lama sampai karpet pengganti datang?”
Raka menoleh tajam. “Aira.”
“Saya serius. Bau ini mengganggu. Dan saya tidak mau injak bekas darah orang tiap ke dapur.”
Reza mematikan radio. “Kamu baru saja hampir diculik, dan yang kamu pikirkan masih karpet?”
“Karpet delapan puluh juta. Kalau tidak diganti, saya merasa berhutang. Hutang membuat saya tidak nyaman tidur.”
Raka berjalan mendekat, berlutut di depan sofa. Tangannya naik ke dahi Aira, memeriksa suhu. “Kamu pucat. Minum dulu.”
“Saya tidak haus.”
“Minum.”
Aira menerima gelas yang disodorkan. Jari mereka bersentuhan sebentar. Terlalu hangat untuk situasi yang baru saja berdarah. “Raka. Tanganmu.”
“Saya tahu.” Dia tidak melepas. “Kamu gemetar.”
“Dingin.”
“Bukan dingin. Adrenalin turun.” Raka mengusap punggung tangan Aira dengan ibu jari. “Saya tidak akan biarkan mereka mendekat lagi.”
Reza berdiri di belakang sofa, suara datar. “Jangan janji yang tidak bisa kamu pegang. Tim kedua mereka pasti sudah bergerak. Pola organisasi ini selalu kirim gelombang kedua dalam dua jam.”