Dibuang oleh keluarga, dikhianati oleh orang yang dicintai, dan merasa tidak memiliki siapa-siapa.
Laura mengira hidupnya telah berakhir.
Sampai seorang pria asing datang dan berkata.“Kamu adalah mempelai ku.”
Laura tidak tahu siapa pria itu.
Yang dia tahu, sejak pertemuan malam itu, hidupnya tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 : KELUARGA YANG BELUM MENYADARI
Rumah keluarga Prayoga terasa jauh lebih sunyi setelah Laura pergi.
Richard Prayoga duduk di ruang kerjanya dengan wajah serius. dia masih kepikiran tentang dokumen yang di tanda tangan nya. dia sekali kali melihat ke Helena dan Dinda mencoba memahami bagaimana semuanya bisa berubah begitu cepat.
Di sampingnya, Helena duduk sambil memainkan ponselnya. Sementara itu, Dinda berada di sofa ruang keluarga bersama Adrian. Sejak kejadian kemarin, suasana di rumah memang terasa berbeda. Tidak ada seorang pun yang benar-benar membicarakan Laura, tetapi kehadiran pria bernama Hero Valdren masih sesekali muncul dalam pikiran mereka.
“Entah kenapa aku masih merasa aneh dengan kejadian kemarin,” ujar Helena akhirnya sambil meletakkan ponselnya. “Pria itu tiba-tiba datang dan mengaku sebagai tunangan Laura. Aku bahkan tidak pernah mendengar Laura memiliki hubungan dengan siapa pun.”
Richard menghela napas panjang. “Aku juga tidak tahu, selama ini Laura tidak pernah mengatakan apa-apa tentang pria itu.”
Dinda yang mendengar percakapan tersebut langsung menyahut dengan nada meremehkan. “Mungkin dia hanya pria yang kebetulan menolongin kak Laura, jangan terlalu dipikirkan. Laura memang suka membuat semuanya terlihat lebih besar daripada kenyataannya.”
Adrian yang sejak tadi diam menatap Dinda. “Aku tidak yakin sesederhana itu.”
Dinda menoleh kepadanya. “Maksudmu?”
Adrian menyandarkan tubuhnya ke sofa. Wajahnya terlihat lebih serius dibandingkan biasanya. “Pria itu bukan orang sembarangan.”
Richard langsung menatap Adrian. “Kamu mengenalnya lebih dalam?”
“Aku pernah mendengar namanya dalam beberapa pertemuan bisnis,” jawab Adrian. “Hero Valdren adalah nama yang cukup besar di kalangan pengusaha. Perusahaannya memiliki banyak cabang bisnis dan hubungan dengan berbagai perusahaan besar termasuk dengan perusahaan ku.”
Helena mengerutkan kening. “Kalau begitu, kenapa pria sebesar itu mau bersama Laura?”
Pertanyaan itu membuat ruangan kembali hening.
Dinda justru tertawa kecil. “Nah, itu yang aku pikirkan, tidak masuk akal.”
Adrian tidak langsung menjawab. dia sendiri masih memikirkan kejadian kemarin. Cara Hero masuk ke rumah, bagaimana semua orang langsung diam ketika pria itu berbicara, hingga keberaniannya memberikan ancaman kepada keluarga Prayoga.
“Aku juga tidak mengerti,” jawab Adrian akhirnya. “Tapi aku tahu satu hal dia bukan pria yang mudah dianggap remeh.”
Richard Berdiri dari Kursi nya dan melihat ke arah adrian. “Yang penting, masalah Laura sudah selesai dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.”
“Benarkah?” tanya Adrian.
Richard mengangkat wajahnya. “Maksudmu?”
Adrian menunjuk berkas tersebut. “Laura tidak hanya datang untuk mengambil barang-barangnya. Dia membawa dokumen yang membuat hubungannya dengan keluarga ini terpisah dan pria itu datang tepat setelahnya.”
Dinda mendengus. “Lalu?”
“Aku hanya merasa semuanya sudah direncanakan.”
Dinda langsung menggeleng. “Tidak mungkin. Laura tidak mungkin memiliki hubungan sedekat itu dengan orang seperti dia tanpa kita mengetahuinya.”
Helena ikut mengangguk. “Benar, selama ini Laura bahkan lebih sering berada di kampus atau di rumah, Kalau memang dia punya tunangan, seharusnya kita tahu.”
Richard terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia mulai merasa ada sesuatu yang tidak mereka ketahui tentang kehidupan putrinya.
Namun, bukannya mencari tahu, Richard justru menganggap semuanya sudah selesai.
“Sudahlah,” katanya akhirnya. “Laura sudah memilih jalannya sendiri, kita juga tidak perlu ikut campur lagi.”
Dinda tersenyum kecil mendengar perkataan ayahnya. “Aku juga berpikir begitu Lagi pula, pria itu belum tentu benar-benar serius dengan Laura.”
Adrian menoleh kepada Dinda. “Jangan terlalu yakin.”
“Kenapa?” tanya Dinda bingung ke arah Adrian.
“Karena cara dia memandang Laura kemarin bukan seperti orang yang sedang berpura-pura.” jawab Adrian.
Dinda terdiam.
Dinda masih mengingat jelas bagaimana pria itu langsung berlutut membantu Laura ketika kepalanya terluka. Tatapannya juga berubah begitu melihat Laura kesakitan.
Namun, rasa iri membuat Dinda enggan mengakui apa yang sebenarnya dia lihat.
“Bagaimanapun juga, itu bukan urusan kita,” jawab Dinda akhirnya.
Adrian tidak membalas dia hanya menatap ke arah jendela, pikirannya kembali kepada sosok pria yang kemarin berdiri di hadapannya.
Hero Valdren.
Nama itu terus berputar di kepalanya.
Adrian tahu bahwa ada sesuatu yang berbeda dari pria tersebut. Bukan hanya karena kekayaannya, tetapi juga karena pengaruh yang dimilikinya.
Yang paling membuat Adrian merasa tidak nyaman adalah satu hal, pria itu benar-benar terlihat seperti seseorang yang tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh Laura.
Sementara itu, di tempat lain, Laura bahkan belum mengetahui bahwa keluarganya masih menganggap hubungannya dengan Hero sebagai sesuatu yang tidak serius.
Dan keluarga Prayoga belum menyadari bahwa pria yang mereka anggap hanya sebagai tunangan Laura sebenarnya telah mengambil keputusan untuk menjadikan Laura bagian terpenting dalam hidupnya.
Mereka juga belum tahu bahwa nama Hero Valdren akan segera kembali muncul di hadapan mereka.
Kali ini, bukan sebagai pria yang datang menyelamatkan Laura.
Melainkan sebagai mempelai yang datang untuk mengambil istrinya.