NovelToon NovelToon
Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Kehilangan Segalanya Tanpamu, Memiliki Segalanya Bersamamu

Status: tamat
Genre:Mafia / Penikahan Kontrak / Perubahan Hidup / Putri malang / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Adriánex Avila

Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.

Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.

Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.

Itu bukan cinta. Itu transaksi.

Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.

Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33 AKU MENCINTAIMU

Mereka tiba di mansion lewat pukul satu dini hari.

Rumah itu gelap gulita. Bu Marta sudah masuk kamar. Bramantyo dan Ratna pun, hampir pasti, sudah tidur. Mereka menaiki tangga dalam diam, bergandengan tangan, bagaikan sepasang remaja yang baru pulang dari kencan diam-diam.

Di depan pintu kamar Maya, Bara berhenti.

"Sampai di sini aku antar kamu," ucapnya, meski tak melepaskan tangan Maya.

"Jangan," sahut Maya. "Jangan malam ini."

Bara menatapnya. Di dalam matanya yang kelabu, yang biasanya sedingin es itu, ada sesuatu yang baru. Sesuatu yang belum pernah Maya lihat. Ketakutan. Bukan takut pada kekerasan atau kematian. Takut tak mampu memenuhi harapan. Takut merusak sesuatu yang baru saja mulai dibangun.

"Aku tidak tahu caranya melakukan ini," katanya. "Aku tidak tahu caranya bersama seseorang. Aku tidak tahu caranya mencintai dengan benar."

"Aku juga tidak," jawab Maya. "Tapi kita bisa belajar bersama. Bukankah itu yang pernah kita katakan?"

Bara mengangguk.

Maya membuka pintu kamarnya dan menuntun Bara masuk ke dalam.

* * *

Malam itu panjang dan indah.

Bara berhati-hati pada mulanya, nyaris ragu, seolah takut Maya akan hancur di dalam pelukannya. Namun Maya menuntunnya, menenangkannya, menciumnya hingga tangan Bara berhenti gemetar. Dan ketika akhirnya mereka menyatu, rasanya bagai dua keping teka-teki yang akhirnya bertaut setelah bertahun-tahun saling mencari.

Setelah itu, ketika peluh mengering di kulit mereka dan napas kembali ke iramanya, Maya tertidur di atas dada Bara. Bara memeluknya, satu lengan melingkari pinggangnya, merasakan bagaimana detak jantungnya menyelaras dengan detak jantung Maya.

"Aku mencintaimu," bisiknya, ketika ia yakin Maya tak lagi bisa mendengarnya. "Aku mencintaimu melebihi nyawaku sendiri."

Maya bergerak sedikit, merapatkan tubuhnya. Ia belum sepenuhnya tertidur.

"Aku juga mencintaimu," gumamnya. "Dan kamu tidak perlu mengatakannya diam-diam."

Bara tersenyum dalam gelap.

"Kalau begitu, akan kukatakan besok. Dengan lantang."

"Besok," ulang Maya, matanya terpejam. "Tapi sekarang, tidurlah."

Bara memejamkan matanya. Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tidur tanpa mimpi buruk.

* * *

Keesokan harinya, Maya terbangun sendirian di ranjang.

Sesaat, ia mengira semuanya hanya mimpi. Galeri, malam pembukaan, malam bersama Bara. Namun rasa nyeri yang menyenangkan di sela pahanya dan aroma khas seorang lelaki di seprai meyakinkannya bahwa semua itu nyata.

Ia bangkit, meregangkan kedua lengannya, dan menemukan sepucuk pesan di atas meja kecil samping ranjang.

"Aku turun untuk sarapan. Tak ingin membangunkanmu. Kamu cantik saat tidur.

B."

Maya tersenyum seperti gadis remaja. Ia menyimpan pesan itu di laci meja, bersama pesan yang ditinggalkan Bara pada malam pertama mereka. Sebuah harta kecil.

Ia mandi, berpakaian, lalu menuruni tangga. Cahaya matahari membanjir masuk lewat jendela-jendela besar mansion, dan segalanya tampak lebih cerah, lebih hidup, lebih indah.

Di ruang makan, meja telah ditata untuk empat orang. Bramantyo membaca koran. Ratna menyeruput kopi. Dan Bara, di kepala meja, menatapnya saat ia masuk dengan raut wajah yang merampas napasnya.

"Selamat pagi," ucap Bara.

"Selamat pagi," sahut Maya, sambil duduk di sisinya.

Bramantyo mengangkat pandangannya dari koran dan menatap mereka berdua dengan sebelah alis terangkat.

"Sudah?" tanyanya, dengan nada datar yang nyaris terdengar jenaka.

"Papa," tegur Ratna, sambil menepuk pelan lengan suaminya.

"Apa? Aku tidak bilang apa-apa. Cuma bertanya."

Bara, tanpa terusik sedikit pun, menuangkan kopi ke cangkir Maya.

"Pak Bramantyo," ujarnya, "dengan segala hormat, saya tidak akan membahas kehidupan pernikahan saya di meja makan."

"Tentu saja tidak. Itu tidak sopan."

"Tepat sekali."

Hening.

Bramantyo kembali ke korannya, tetapi ada senyum tipis di bibirnya. Ratna menggeleng, namun ia pun tersenyum. Dan Maya, duduk di samping pria yang telah ia pelajari untuk ia cintai, merasa dunia akhirnya berada pada tempatnya.

* * *

Sore itu, Maya pergi ke galeri.

Ia perlu memeriksa surel dari para kolektor yang berminat, menyiapkan pengiriman karya, memperbarui daftar inventaris. Namun ketika ia membuka pintu, ia menemukan sesuatu yang tak ia duga.

Di atas meja tengah, tempat gelas-gelas sampanye berjajar semalam, kini tergeletak seikat bunga. Bukan buket sembarangan. Itu adalah hydrangea biru, jenis yang sama dengan yang tumbuh di taman rumah lamanya, bunga yang ia pandangi pada hari Minggu terkutuk itu, sebelum segalanya runtuh.

Di samping bunga itu, tergeletak sebuah kartu putih dengan tulisan tegas berhuruf kapital:

"Agar kamu tak pernah lupa bahwa mimpi bisa menjadi nyata. B."

Maya mengambil kartu itu dengan jari-jarinya, mendekatkannya ke bibir, dan tersenyum.

Bara Prakoso, sang mafioso, lelaki dingin nan penuh perhitungan, lelaki dengan tangan berlumuran darah, baru saja menghadiahinya hari paling membahagiakan dalam hidupnya.

Dan itu bukan karena galeri. Bukan karena bunga. Bukan pula karena kesuksesan malam pembukaan.

Itu karena dia.

Hanya dia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!