NovelToon NovelToon
TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA

TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:506
Nilai: 5
Nama Author: Lewier Lisye

Menikahi seorang duda beranak dua memaksa seorang wanita muda bergelut dalam dinginnya rumah tangga yang penuh penolakan. Di tengah perjuangan dan perlawanannya menembus benteng prasangka sebagai ibu tiri, sebuah rahasia terkuak dan menyadarkannya akan arti takdir yang sebenarnya. Sebuah drama pernikahan yang sarat air mata, sindiran kehidupan, dan ketulusan cinta yang akan mengaduk emosi pembaca wanita dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: BADAI DI ATAS DERMAGA KEPASRAHAN

Angin laut Pelabuhan Sunda Kelapa berembus kencang, membawa aroma garam yang pekat bercampur bau besi berkarat dan minyak solar yang menyengat. Ombak malam menghantam tiang-tiang kayu dermaga tua, menciptakan suara gemuruh ritmis yang seolah menyuarakan ketakutan di dalam dada Kirana.

Taksi online yang membawanya telah lama menghilang di kegelapan jalan raya. Kirana berdiri sendirian di bawah pendar remang lampu jalan yang berkedip-kedip. Gerimis tipis membasahi mantel hitamnya, sementara jemarinya tak henti-hentinya mengusap perut bawahnya yang berdenyut pelan. Bayinya... janin di dalam rahimnya seolah ikut menahan napas, merasakan getaran jiwa sang ibu yang sedang berdiri di ambang maut.

Setiap langkah Kirana di atas kayu dermaga yang lapuk berderit keras. Di hadapannya, gudang tua beratap seng menganga seperti mulut monster yang siap menelannya bulat-bulat.

"Aku sudah di sini, Sheila!" teriak Kirana, suaranya membelah gemuruh angin laut. Meskipit bibirnya pucat dan gemetar, sorot matanya menyala dengan keberanian murni seorang ibu. "Lepaskan anak-anakku dan tunjukkan dirimu!"

Gema suaranya memantul di dalam gudang yang sepi. Lalu, dari balik kegelapan tumpukan kontainer berkarat, terdengar suara tepuk tangan yang perlahan dan bergema penuh penghinaan.

"Luar biasa..." Suara melengking itu muncul. Sheila melangkah keluar dari kegelapan. Wajahnya yang rupawan kini tampak semakin mengerikan di bawah pendar lampu neon gudang yang remang; ukiran luka bakar di pipi kirinya tampak makin jelas, sementara matanya menyiratkan kegilaan yang tak lagi tertolong. Di jemarinya, ia memegang sebuah pemantik api perak yang sesekali dinyalakan, menimbulkan kilatan lidah api yang menari-nari.

"Seorang wanita muda berusia dua puluh empat tahun... ibu tiri yang malang... datang mengantarkan nyawanya demi anak-anak yang bahkan tidak membagi satu tetes darah pun dengannya," sindir Sheila seraya tertawa dingin. "Apakah kamu merasa sedang menjadi pahlawan, Kirana? Apakah kamu pikir dengan mengorbankan dirimu, Aris akan mengukir namamu sebagai wanita suci?"

Kirana mengepalkan tangannya kuat-kuat di balik saku mantel. "Di mana Leo dan Maya?!"

Sheila menghentikan tawa gilanya. Wajahnya berubah kelam secara dramatis. "Anak-anak itu aman di rumah mewah Aris, Wanita Bodoh! Kamu pikir aku benar-benar menculik mereka malam ini? Tidak! Aku hanya menggunakan ketakutanmu! Aku tahu naluri 'ibu tiri sok suci' milikmu akan membuatmu berlari ke sini tanpa berpikir panjang!"

Jantung Kirana seolah berhenti berdetak. Pengakuan itu menghantam dadanya bagaikan godam besar. Leo dan Maya aman... Anak-anaknya selamat di rumah. Rasa lega yang luar biasa seketika membuncah di dadanya, membuat air mata keharuan menetes liar mengaliri pipinya. Namun, rasa lega itu segera berganti menjadi kewaspadaan penuh saat ia menyadari posisinya sekarang: ia telah masuk ke dalam perangkap Sheila sendirian.

"Mengapa kamu melakukan ini, Sheila?" bisik Kirana, mencoba mengulur waktu seraya menggeser kakinya sangat pelan. "Mengapa kamu sangat membenci Aris dan anak-anak yang lahir dari rahimmu sendiri?"

"Anak-anak?!" jerit Sheila murka, suaranya memecah keheningan malam. "Mereka bukan anak-anakku! Mereka adalah produk kejahatan Kakek Hendra! Pria tua bangkai itu menukarkanku dengan Shinta, memeras rahimku untuk melahirkan ahli waris Pratama Group, lalu membuangku ke sanatorium luar negeri seperti sampah! Aris tahu itu! Aris membiarkan aku membusuk sementara dia menikmati kemewahan dan kekuasaan!"

Sheila melangkah mendekat, matanya melotot penuh dendam membara. "Dan kamu... kamu datang tanpa tahu apa-apa, menikmati posisi sebagai Nyonya Pratama, dicintai oleh anak-anak itu, dan sekarang mengandung anak Aris! Mengapa kamu mendapatkan kebahagiaan yang seharusnya menjadi milikku?!"

"Kebahagiaan ini tidak kudapatkan dengan cuma-cuma, Sheila!" tegas Kirana, suaranya menggelegar menembus deru angin. Air matanya terus menetes, namun suaranya tak sedikit pun goyah. "Aku memasuki rumah itu dengan cucuran air mata! Aku dihina sebagai pelakor, dicurigai sebagai pemburu harta, dan ditolak oleh Leo dan Maya setiap hari! Aku menangis sesenggukan di sudut kamar mandi, menahan perih di tanganku yang lecet demi merangkul anak-anak yang terluka oleh kejahatan masa lalu kalian!"

Kirana melangkah satu tingkat ke depan, menatap lurus ke dalam manik mata Sheila yang sarat akan racun.

"Pernikahan ini diawali oleh takdir yang penuh sindiran," lanjut Kirana dengan ketegaran yang menggetarkan jiwa. "Tapi aku tidak menyerah! Aku memilih untuk melawan rasa sakit itu dengan ketulusan cinta! Kamu kehilangan segalanya bukan karena aku atau Aris, Sheila... tapi karena hatimu telah dipenuhi busuknya dendam! Kamu pemilik rahim yang melahirkan Leo dan Maya, tapi kamu tidak pernah memiliki jiwa seorang ibu!"

"Tutup mulutmu!" jerit Sheila histeris. Ia menarik sebuah pistol dari balik jaket kulitnya dan mengarahkannya tepat ke dada Kirana. "Aku akan mencabut nyawamu dan bayi di dalam rahimmu itu malam ini!"

Sementara itu, di Kediaman Pratama.

Aris tersentak bangun dari tidurnya. Pelipisnya dibasahi keringat dingin, jantungnya berdegup kencang oleh firasat buruk yang mencengkeram dadanya. Secara refleks, ia menoleh ke samping ranjang.

Kosong.

"Kirana?" panggil Aris dengan suara parau.

Tidak ada jawaban. Aris meloncat dari ranjang, mendapati kamar mandi dalam keadaan gelap dan kosong. Mata Aris menangkap selembar kertas putih yang tergeletak di atas meja rias, tertindih oleh cincin pernikahan mereka.

Dengan jemari gemetar hebat, Aris meraih kertas tersebut. Tulisan tangan Kirana yang rapi namun sedikit bergetar menyapa penglihatannya:

Mas Aris... Jika kamu membaca surat ini, berarti aku telah pergi menuju Pelabuhan Sunda Kelapa. Sheila mengancam akan menyakiti Leo dan Maya jika aku tidak datang sendirian. Maafkan aku karena melanggar janjiku untuk tetap berada di sisimu. Dulu, aku masuk ke dalam hidupmu sebagai wanita muda yang penuh rasa takut. Pernikahan kita dipenuhi air mata, prasangka, dan pertempuran emosi yang menguras jiwa. Tapi di tengah semua luka itu, kamu dan anak-anak mengajariku arti cinta dan pengorbanan yang sesungguhnya. Jangan salahkan dirimu, Mas. Takdir tidak sedang menghancurkan kita, tapi sedang menguji sejauh mana kita sanggup melindungi rumah tangga ini. Jaga Leo dan Maya... dan jika aku tidak kembali, ketahuilah bahwa aku mencintaimu sampai hembusan napas terakhirku. Istrimu, Kirana.

"TIDAK! KIRANA!" raung Aris, suaranya memecah kesunyian malam di rumah mewah itu. Kertas surat itu diremasnya di dalam genggaman yang gemetar. Air mata keharuan dan ketakutan luar biasa pecah membasahi wajah pria tegap tersebut.

Aris berlari bagaikan kesetanan menelusuri koridor, memanggil Pak Wijaya dan seluruh tim keamanan.

"Pak Wijaya! Lacak posisi ponsel Kirana sekarang! Siapkan seluruh pasukan dan hubungi Kepolisian Polda Metro Jaya! Kita bergerak ke Pelabuhan Sunda Kelapa SEKARANG!" teriak Aris dengan mata merah menyala.

Di tengah keputusasaan yang membakar jiwanya, Aris berlutut sejenak di ruang tengah, memenjamkan matanya rapat-rapat. Pria yang dahulu begitu dingin, angkuh, dan tidak pernah percaya pada Tuhan itu, kini menangis sesenggukan memohon keajaiban.

"Tuhan... hamba mohon..." bisik Aris dengan suara tercekik. "Jangan ambil Kirana... Jangan hukum dia atas dosa-dosa dan kebodohanku di masa lalu. Ambil nyawaku, tapi selamatkan istri dan anakku..."

Di Dermaga Tua Pelabuhan Sunda Kelapa.

"Tekan pemicunya, Sheila! Lakukan!" tantang Kirana, berdiri tegap di hadapan moncong senjata api yang mengarah ke dadanya.

Sheila terpaku. Tangan yang memegang senjata api itu sedikit bergetar. Ia mengharapkan Kirana akan berlutut, menangis tersedu-sedu, dan memohon ampun padanya seperti wanita muda lainnya. Namun, wanita di hadapannya ini berdiri bagaikan karang di tengah hempasan gelombang—penuh wibawa, ketenangan, dan cinta maternal yang tak tergoyahkan.

"Kenapa kamu tidak takut?!" bentak Sheila, matanya liar mencari celah ketakutan di wajah Kirana. "Aku bisa membunuhmu dalam satu detik!"

"Aku memang takut, Sheila," jawab Kirana jujur, air mata menetes pelan mengaliri pipinya yang pucat. "Aku takut tidak bisa melihat Leo dan Maya tumbuh dewasa. Aku takut tidak bisa mendekap bayi di dalam kandunganku ini saat dia lahir ke dunia. Dan aku takut meninggalkan Aris yang baru saja menemukan kedamaian dalam hidupnya. Tapi ketakutanku kalah besar oleh cintaku pada mereka!"

Kirana mengambil satu langkah maju, mendekati moncong senjata api itu hingga jarak mereka hanya tersisa satu meter.

"Jika kematianku di tanganmu bisa menghentikan dendam berdarah ini, jika darahku bisa membeli keselamatan bagi Leo, Maya, dan Mas Aris... maka tembak aku!" seru Kirana dengan suara bergetar namun sarat akan keagungan jiwa. "Tapi ketahuilah, Sheila... sampai hembusan napas terakhirku, aku adalah ibu sejati dari anak-anakmu. Dan cinta yang kutinggalkan di rumah itu tidak akan pernah bisa kamu hapuskan dengan peluru ini!"

"Cukup!" jerit Sheila murka. Dengan mata tertutup oleh kegilaan total, jari telunjuknya perlahan menekan pelatuk senjata api tersebut.

BANG!

Letusan senjata api membelah malam yang pekat, memantul keras di dinding-dinding seng gudang tua dan membumbung tinggi ke langit Jakarta.

Namun, bukan tubuh Kirana yang tersungkur.

Sesosok tubuh tegap menerjang dari arah samping dengan kecepatan luar biasa tepat saat letusan terjadi! Aris! Pria itu melompat menjadikan tubuhnya sebagai perisai manusia, menghantam tubuh Sheila hingga senjata api itu terlempar jatuh dan meledak sekali lagi ke udara—BANG!

"Mas Aris!" jerit Kirana histeris.

Aris dan Sheila berguling di atas kayu dermaga yang basah. Dengan sisa kekuatan dan amarah yang menghancurkan, Aris mengunci gerakan Sheila. Pria itu mengamankan senjata api yang terlempar ke pinggir dermaga, sementara tim kepolisian bersenjata lengkap dan tim Interpol yang dipimpin Pak Wijaya menerobos masuk ke dalam gudang dengan lampu sorot memancar terang.

"Jangan bergerak! Angkat tangan!" teriak puluhan petugas kepolisian seraya menodongkan senjata ke arah Sheila.

Sheila yang berada di bawah kuncian petugas kepolisian tertawa melengking—sebuah tawa kekalahan yang memilukan dan gila. "Kamu terlambat, Aris! Kamu dan wanita mudamu tidak akan pernah bisa hidup tenang! Aku akan selalu menjadi mimpi buruk dalam pernikahan kalian!"

Dua petugas Interpol segera memasang borgol di kedua pergelangan tangan Sheila dan menyeret wanita yang tenggelam dalam dendam itu keluar dari gudang tua menuju mobil tahanan.

Aris tidak memedulikan Sheila lagi. Pria itu membalikkan badannya dengan cepat, berlari mendekati Kirana yang berdiri gemetar di sudut gudang.

"Kirana!" Aris merengkuh tubuh istrinya dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di leher Kirana. Bahu pria tegap itu bergetar hebat saat tangis histerisnya pecah seketika. "Kamu selamat... Demi Tuhan, kamu selamat..."

Kirana meremas kemeja Aris yang basah oleh hujan, membenamkan wajahnya di dada suaminya. Air mata keharuan dan pelepas dahaga atas ketakutan yang mencekik akhirnya meledak tanpa tertahan lagi.

"Mas Aris... anak-anak..." bisik Kirana dalam isak tangisnya.

"Anak-anak aman, Sayang. Mereka aman di rumah bersama Pak Wijaya dan tim penjaga," tutur Aris parau, menciumi seluruh wajah Kirana—dahi, pipi, dan bibirnya yang pucat—dengan ketulusan cinta yang tak tertandingi. "Maafkan aku... maafkan aku karena terlambat... Aku hampir saja kehilangan jiwaku malam ini."

Tiba-tiba, Kirana meringis pelan. Jemarinya mencengkeram lengan Aris lebih kuat, matanya terpejam menahan rasa nyeri tajam yang mendadak melilit perut bawahnya.

"Nggkh... Mas..." ringis Kirana, napasnya memburu.

Aris seketika panik luar biasa. Ia melihat ke bawah. Meski tidak ada pendarahan, gaun mantel Kirana basah oleh air ketuban yang baru saja pecah akibat kontraksi trauma yang hebat!

"Dokter! Bawa mobil medis ke sini sekarang!" teriak Aris histeris ke arah petugas di luar gudang.

Ia mengangkat tubuh Kirana ke dalam garapannya, membawa wanita yang paling dicintainya itu berlari menerobos gerimis malam menuju ambulans privat yang telah disiapkan.

Tiga Bulan Kemudian.

Cahaya matahari pagi yang hangat menembus celah jendela kaca besar di kediaman Pratama. Bau harum bunga melati dan krisan putih kembali memenuhi rumah megah yang kini memancarkan kehangatan tiada tara.

Di halaman belakang yang asri, sebuah tasyakuran dan doa bersama sedang berlangsung secara khidmat. Hanya dihadiri oleh kerabat terdekat, para pekerja rumah tangga, dan tim yang telah setia mendampingi mereka melewati badai.

Di atas kursi goyang yang empuk, Kirana duduk dengan paras yang tampak makin cantik, matanya memancarkan kedewasaan dan kebahagiaan murni seorang wanita sejati. Di dalam dekapannya, terlelap seorang bayi laki-laki yang mungil dan sehat, terbungkus kain bedong berwarna biru muda.

Aris duduk di sampingnya, merangkulkan tangannya di bahu Kirana seraya menatap bayi kecil mereka dengan pendar mata penuh pemujaan.

Leo dan Maya berlutut di depan kursi goyang, bergantian menyentuh pipi halus adik bayi mereka dengan sangat perlahan dan posesif.

"Ibu..." bisik Maya dengan suara serak nan menggemaskan. "Adik bayi namanya siapa? Kata Papa, Ibu yang mau kasih nama."

Kirana menatap Aris, saling melemparkan senyum hangat yang sarat akan makna kehidupan yang telah mereka lintasi bersama.

"Nama adik kalian..." tutur Kirana lembut seraya mengelus dahi bayi kecil itu, "adalah Ananta Takdir Pratama."

Leo mengernyitkan alisnya yang polos. "Artinya apa, Ibu?"

Aris mengelus kepala putra sulungnya, menjawab dengan suara tegap namun penuh kelembutan: "Artinya... 'Keabadian Jiwa yang Dibentuk oleh Takdir'. Karena adik kalian lahir dari ketulusan hati seorang Ibu yang tidak pernah menyerah pada badai."

Maya tersenyum lebar, lalu mencium dahi adik bayinya dengan lembut. "Selamat datang di rumah, Adik Ananta!"

Tak lama kemudian, Pak Wijaya melangkah mendekat dengan senyum lega yang belum pernah terlihat sebelumnya. Ia menyerahkan sebuah surat keputusan resmi dari pengadilan internasional dan kepolisian.

"Pak Aris, Nyonya Kirana," ujar Pak Wijaya dengan khidmat. "Pengadilan telah memutuskan bahwa Sheila telah dijatuhi hukuman kurungan seumur hidup di fasilitas perawatan psikiatri tertutup tanpa hak remisi. Hak asuh penuh atas Leo dan Maya secara hukum telah jatuh seratus persen ke tangan Nyonya Kirana Pratama. Dan seluruh aset Pratama Corp di Singapura telah bersih dan terdaftar resmi atas nama Nyonya Kirana dan anak-anak."

Kirana menarik napas panjang, membiarkan air mata keharuannya menetes pelan menimpa kain bedong bayinya. Bukan karena harta atau kemenangan atas Sheila yang membuatnya menangis, melainkan karena pengakuan resmi bahwa ia kini adalah ibu sejati bagi Leo, Maya, dan Ananta.

Aris merengkuh Kirana dan ketiga anak mereka ke dalam satu pelukan hangat di bawah naungan sinar matahari pagi.

Kirana menyandarkan kepalanya di dada bidang Aris, mendengarkan detak jantung suaminya yang teratur dan menenangkan. Ia mengingat kembali momentum saat pertama kali melangkah ke rumah ini dua tahun lalu—seorang wanita muda berusia dua puluh dua tahun yang dipaksa menikahi duda beranak dua, bergelut dalam dinginnya penolakan, dan menangis sesenggukan di sudut kamar mandi.

Kini, di balik puing-puing air mata pernikahan dan pertempuran emosi yang mencabik jiwa, Kirana sadar sepenuhnya.

Takdir tidak pernah berniat mempermainkan atau menghancurkan hidupnya. Takdir sedang menyindir kesombongan manusia, menempah kepasrahan jiwanya, dan menuntunnya melewati neraka prasangka... hanya untuk menyadarkannya bahwa di ujung perjuangan itu, ada ketulusan cinta sejati yang siap menjadi rumah selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!