NovelToon NovelToon
Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Irhab Hauzan

Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran

Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.

Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 — Wajah di Balik Gagak Hitam

Sepuluh hari berlalu sejak kesepakatan Zhou Chen dengan Zhou Ming, dan selama itu pula, keduanya bekerja diam-diam di balik layar—saling bertukar informasi tanpa menimbulkan kecurigaan dari pihak lain di istana.

Zhou Ming, dengan jaringan mata-matanya yang luas, mulai melacak pergerakan uang yang digunakan untuk membayar kelompok Gagak Hitam. Sementara Zhou Chen, dengan Mata Dewa yang kini ia gunakan lebih berani meski tetap tersembunyi, membantu menganalisis pola-pola yang tidak terlihat oleh mata biasa—jadwal pertemuan rahasia, rute pengiriman dana yang mencurigakan, bahkan kebiasaan kecil orang-orang yang dicurigai terlibat.

"Aku menemukan sesuatu," kata Zhou Ming suatu malam, ketika keduanya kembali bertemu diam-diam di kediamannya. Kali ini, ia tidak lagi menyembunyikan ketegangan di wajahnya seperti biasa. "Dana yang digunakan untuk membayar Gagak Hitam berasal dari sebuah toko sutra kecil di distrik selatan—toko yang, di atas kertas, tidak terhubung dengan siapa pun di istana."

"Tapi kenyataannya?" tanya Zhou Chen, merasakan firasat bahwa jawaban ini tidak akan sederhana.

"Toko itu dimiliki secara diam-diam oleh seorang pedagang yang selama bertahun-tahun menjadi rekan bisnis tepercaya keluarga Permaisuri," jawab Zhou Ming pelan, memilih kata-katanya dengan hati-hati.

Zhou Chen terdiam. Permaisuri adalah ibunda dari Pangeran Kedelapan—salah satu dari sembilan bersaudara yang selama ini jarang terlibat langsung dalam intrik terbuka, tetapi dikenal memiliki pengaruh besar di balik layar berkat kedudukan ibunya sebagai permaisuri resmi kerajaan.

"Kau yakin ini bukan jebakan? Seseorang yang sengaja mengarahkan kecurigaan ke pihak Permaisuri?"

Zhou Ming mengangguk, menghargai kehati-hatian Zhou Chen. "Itulah sebabnya aku belum langsung menyimpulkan apa pun. Tapi ada satu hal lagi yang membuatku semakin curiga—toko sutra itu juga pernah digunakan untuk transaksi mencurigakan lain, dua tahun lalu, tepat sebelum kematian mendadak salah seorang menteri yang menentang kebijakan keluarga Permaisuri saat itu."

Malam itu, setelah kembali ke kediamannya sendiri, Zhou Chen duduk lama di ruang kerjanya, merenungkan implikasi dari informasi yang baru saja ia terima. Jika benar Pangeran Kedelapan—atau setidaknya pihak yang mendukungnya—berada di balik serangan terhadap jalur dagangnya, ini berarti ancaman yang ia hadapi jauh lebih serius daripada sekadar persaingan biasa antar saudara.

Ia membuka Kitab Langit Tanpa Akhir, menuliskan kembali catatannya tentang peta kekuatan istana, kali ini dengan tambahan informasi baru yang mengkhawatirkan.

Pangeran Kedelapan Didukung penuh oleh Permaisuri dan jaringan pengaruhnya di istana Cenderung bergerak di balik layar, menghindari konfrontasi terbuka Kemungkinan terlibat: Gagak Hitam, kemungkinan juga kematian mencurigakan menteri dua tahun lalu Tingkat ancaman: Tinggi

Ia menatap catatan itu lama, menyadari bahwa jika dugaan ini benar, ia sedang berhadapan dengan lawan yang jauh lebih licik dan berbahaya dibandingkan Zhou Yun yang terang-terangan meremehkan, atau bahkan Zhou Ming yang kini justru menjadi sekutunya.

Kenapa Pangeran Kedelapan menargetkanku? Aku bukan ancaman besar dalam perebutan takhta—setidaknya belum, sejauh yang terlihat di permukaan.

Pertanyaan itu terus mengganggunya hingga larut malam, sampai sebuah ingatan samar dari Zhou Li yang lama tiba-tiba muncul di benaknya—sebuah percakapan singkat yang dulu dianggap tidak penting, namun kini terasa jauh lebih bermakna.

Beberapa bulan sebelum kematiannya, Zhou Li yang lama pernah menemukan dokumen dagang mencurigakan yang melibatkan penyelundupan barang terlarang melalui jalur dagang kerajaan—dokumen yang, entah kenapa, melibatkan nama-nama yang berhubungan dengan keluarga Permaisuri.

Zhou Chen membeku, menyadari sesuatu yang mengerikan.

Apakah kematianku di Hutan Terlarang... bukan sekadar kecelakaan?

Keesokan paginya, dengan pikiran yang masih dipenuhi kecurigaan baru itu, Zhou Chen memutuskan untuk menyelidiki lebih jauh tentang dokumen yang pernah ditemukan Zhou Li yang lama. Ia memeriksa catatan-catatan pribadi yang tersimpan di kediamannya, mencari petunjuk apa pun yang tersisa dari ingatan yang belum sepenuhnya jelas itu.

Setelah berjam-jam mencari, ia menemukan sebuah kotak kecil tersembunyi di balik lemari pakaian lama—kotak yang jelas belum pernah disentuh sejak kematian Zhou Li yang sebenarnya.

Di dalamnya, tergeletak beberapa lembar dokumen lusuh, berisi catatan tangan tentang jalur penyelundupan barang ilegal—obat-obatan terlarang yang dikemas sebagai barang dagangan biasa, melewati pos pemeriksaan berkat suap yang dibayarkan kepada beberapa pejabat kunci.

Dan di bagian bawah salah satu dokumen, tertera sebuah nama yang membuat jantung Zhou Chen berdegup kencang.

Pejabat Zhang, kepala pengawasan jalur dagang selatan—orang kepercayaan langsung keluarga Permaisuri.

Zhou Chen menatap dokumen itu lama, potongan-potongan teka-teki mulai tersusun dalam benaknya.

Zhou Li yang lama menemukan bukti penyelundupan yang melibatkan orang kepercayaan Permaisuri. Tidak lama setelah itu, dia mati "kecelakaan" di Hutan Terlarang—hutan yang, menurut catatan lama istana, sebenarnya jarang didatangi binatang buas seganas yang menyerangnya waktu itu.

Ia teringat kembali detail kematiannya sendiri—Serigala Bayangan Tingkat Tua yang muncul tiba-tiba, kekuatan yang jauh melampaui binatang buas biasa di hutan itu.

Apakah serangan itu benar-benar kebetulan? Atau seseorang sengaja melepaskan binatang buas itu, mengetahui kebiasaan Zhou Li yang sering menjelajah hutan sendirian?

Malam itu juga, Zhou Chen kembali mengunjungi kediaman Zhou Ming, membawa dokumen yang baru saja ia temukan.

Zhou Ming membaca dokumen itu dengan seksama, wajahnya semakin serius seiring ia memahami implikasi penuh dari apa yang baru saja ditemukan.

"Kalau ini benar," katanya pelan, "maka kematianmu di Hutan Terlarang bukan kecelakaan biasa. Seseorang—kemungkinan besar pihak Permaisuri atau Pangeran Kedelapan—ingin menyingkirkanmu karena kau menemukan bukti penyelundupan yang bisa menghancurkan reputasi mereka."

Zhou Chen menatap dokumen itu, perasaan campur aduk antara kemarahan dan kewaspadaan yang semakin dalam. Meski ia sendiri bukan Zhou Li yang asli, informasi ini mengubah segalanya—bukan lagi sekadar tentang membangun kekuatan untuk bertahan hidup di tengah perebutan takhta, melainkan tentang keadilan bagi seseorang yang pernah memiliki tubuh ini, yang mati karena berani mengungkap kebenaran yang tidak diinginkan pihak berkuasa.

"Kalau begitu," kata Zhou Chen, suaranya tenang namun penuh tekad baru, "aku tidak hanya perlu membangun kekuatan untuk melindungi diriku sendiri. Aku perlu mengungkap kebenaran ini—demi Zhou Li yang asli, dan demi kerajaan ini yang selama ini dirugikan oleh korupsi yang tersembunyi rapi di balik kekuasaan Permaisuri."

Zhou Ming menatapnya lama, sebuah rasa hormat baru mulai tumbuh dalam pandangannya terhadap sekutu barunya ini. "Ini akan berbahaya, Kakak. Kalau kita bergerak terlalu cepat tanpa bukti yang cukup kuat, kita berdua bisa menjadi target berikutnya."

"Aku tahu," jawab Zhou Chen. "Tapi diam saja bukan lagi pilihan. Tidak setelah mengetahui semua ini."

Zhou Ming menghela napas panjang, lalu bangkit dan berjalan menuju rak bukunya, mengambil sebuah gulungan kosong. "Kalau begitu, mari kita lakukan ini dengan benar. Bukti yang kau temukan masih terlalu tipis untuk dibawa langsung ke hadapan Ayahanda—Permaisuri terlalu berpengaruh, dan tuduhan tanpa bukti kuat justru akan membahayakan kita berdua, bahkan bisa membahayakan posisi kita di mata Ayahanda sendiri."

"Jadi, apa yang kau sarankan?"

"Kita butuh lebih banyak bukti," jawab Zhou Ming, mulai menuliskan sesuatu di gulungan itu. "Pejabat Zhang masih menjabat sebagai kepala pengawasan jalur dagang selatan. Kalau penyelundupan itu masih berlangsung hingga sekarang, pasti ada jejak baru yang bisa kita lacak—bukan hanya dokumen lama yang bisa dibantah sebagai fitnah atau kesalahpahaman."

Zhou Chen mengangguk, menyadari kebenaran dalam kehati-hatian Zhou Ming. Sebagai orang yang terbiasa menganalisis situasi secara mendalam, ia tahu betul bahwa bertindak gegabah dengan bukti yang belum cukup kuat hanya akan memberi kesempatan bagi pihak lawan untuk balik menyerang, bahkan mungkin menuduhnya memfitnah keluarga Permaisuri sendiri.

"Bagaimana dengan Zhao Kai dan yang lainnya?" tanya Zhou Chen. "Apakah kita perlu melibatkan mereka dalam penyelidikan ini?"

"Belum," jawab Zhou Ming tegas. "Semakin banyak orang yang tahu, semakin besar risiko kebocoran. Untuk saat ini, biarkan ini menjadi rahasia di antara kita berdua saja. Kalau kita sudah memiliki bukti yang cukup kuat, barulah kita pertimbangkan siapa lagi yang perlu dilibatkan."

Zhou Chen setuju, meski dalam hati ia merasa berat menyembunyikan hal sepenting ini dari orang-orang yang telah mempercayainya sepenuhnya selama ini—terutama Ah Fu, yang sejak awal selalu setia di sisinya, dan Zhao Kai, yang insting militernya mungkin bisa sangat berguna dalam situasi seperti ini.

Sebelum Zhou Chen pamit malam itu, Zhou Ming menahannya sejenak di ambang pintu, ekspresinya berubah lebih serius dari sebelumnya.

"Kakak," katanya pelan, "aku ingin bertanya sesuatu yang mungkin terdengar aneh. Apakah kau benar-benar yakin ingin melanjutkan ini? Mengungkap kebenaran tentang kematian—maksudku, tentang insiden di Hutan Terlarang—bisa membuka luka lama yang mungkin lebih baik dibiarkan tertutup. Permaisuri dan jaringannya bukan lawan yang bisa dianggap remeh."

Zhou Chen terdiam sejenak, memikirkan pertanyaan itu dengan sungguh-sungguh. Ia tahu, jauh di lubuk hatinya, bahwa jawaban yang ia berikan bukan hanya tentang dirinya sendiri sebagai Zhou Chen yang baru menghuni tubuh ini, tetapi juga tentang keadilan bagi Zhou Li yang lama—seorang pemuda yang, meski dikenal ceroboh dan kurang bijaksana, tidak pantas mati hanya karena berani menemukan kebenaran yang tidak nyaman bagi orang-orang berkuasa.

"Aku yakin," jawabnya akhirnya, suaranya tegas tanpa keraguan. "Kalau aku membiarkan ini berlalu begitu saja demi keamanan diriku sendiri, maka aku tidak lebih baik dari orang-orang yang selama ini membiarkan kejahatan tersembunyi demi menjaga kedamaian semu. Kerajaan ini butuh kebenaran, bukan sekadar ketenangan yang dibangun di atas kebohongan."

Zhou Ming menatapnya lama, sebuah senyum tipis namun tulus akhirnya muncul di wajahnya. "Baiklah. Kalau begitu, mari kita lakukan ini bersama-sama, langkah demi langkah, sampai kebenaran itu benar-benar terungkap."

Dalam perjalanan pulang menuju kediamannya sendiri, ditemani kegelapan malam yang menyelimuti koridor-koridor sepi istana, Zhou Chen tidak bisa berhenti memikirkan betapa jauh perjalanannya telah berubah sejak hari pertama ia membuka mata di tubuh ini.

Dari seorang yang hanya ingin bertahan hidup di tengah dunia asing yang penuh bahaya, kini ia mendapati dirinya terlibat dalam sesuatu yang jauh lebih besar—sebuah konspirasi yang melibatkan penyelundupan, korupsi, dan mungkin saja, pembunuhan terselubung yang menyeret nama keluarga kerajaan paling berkuasa di Zhou.

Zhou Li, batinnya, menatap ke langit malam yang bertaburan bintang di atas istana yang tampak begitu tenang dari luar, namun menyimpan begitu banyak kegelapan tersembunyi di baliknya. Aku tidak tahu apakah kau bisa mendengarku, di mana pun kau berada sekarang. Tapi aku janji—aku akan mengungkap kebenaran tentang apa yang sebenarnya terjadi padamu. Bukan hanya demi diriku sendiri, tapi juga demi keadilan yang seharusnya kau dapatkan.

Angin malam berhembus pelan, membawa firasat bahwa perjalanan Zhou Chen di Kerajaan Zhou baru saja memasuki babak yang jauh lebih berbahaya—namun juga jauh lebih bermakna—dari yang pernah ia bayangkan sebelumnya.

Bersambung ke Bab 14 — Jejak Penyelundupan

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
semangat ya . semoga gif mawar ini menjadi semangat baru klo km . butuh temn masuk grup aku kita saling dukung
Irhab Hauzan: siap mampir 🙏
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!