Di tengah duka kehilangan bayinya dan pengkhianatan suaminya, Shanum berjuang sendirian demi kesembuhan Sang Nenek, satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Bekerja sebagai ART dengan upah kecil, tak cukup untuk membiayai pengobatan jantung sang nenek di rumah sakit.
Kondisi ini menarik simpati Dokter Daniel yang menangani neneknya. Daniel sendiri tengah didera lara, ia ditinggal selingkuh oleh istrinya dan kini merawat putri kecilnya yang berusia empat bulan seorang diri.
Masalah kian pelik karena sang bayi mengalami alergi susu formula dan sangat bergantung pada donor ASI.
Didorong rasa iba dan kebutuhan yang mendesak, Daniel menawarkan Shanum pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ibu susu bagi putrinya. Bagi Shanum, ini dilema antara kehormatan dan kebutuhan ekonomi. Tanpa ia sadari, bayi kecil yang butuh dekapannya itu perlahan menjadi obat bagi trauma kehilangan buah hatinya.
Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama patah ini menjadi awal dari kesembuhan luka mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
Mobil sedan hitam metalik itu meluncur kembali membelah padatnya jalanan ibu kota menuju kediamannya Daniel. Di kursi belakang, Nyonya Tania menyandarkan punggungnya dengan santai. Sepanjang jalan, sebuah senyuman misterius terus terukir di wajah cantiknya, membuat Yolan yang duduk di kursi kemudi sesekali melirik dari spion tengah.
'Kita lihat saja setelah ini. Aku yakin kau akan secepatnya datang berkunjung ke rumah putraku. Si wanita ular itu pasti mati penasaran ingin tahu siapa sosok calon istri baru Daniel yang jauh lebih hebat darinya,' batin Nyonya Tania penuh kemenangan. Strategi pertamanya untuk memancing Klara telah berhasil ia tancapkan.
Sementara itu, di Rumah Sakit Citra Medika, Dokter Daniel kembali tenggelam dalam kesibukannya. Di sela-sela jadwal kunjungannya, ia menyempatkan diri melangkah ke ruang rawat kelas tiga untuk memeriksa kondisi kesehatan Bu Siti.
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan fisik, Daniel menurunkan stetoskopnya lalu tersenyum hangat. "Kondisi fisik Ibu sudah berangsur-angsur membaik secara signifikan. Grafik jantung dan tensinya juga normal. Jika tidak ada keluhan lagi, lusa Ibu sudah diperbolehkan pulang."
Mendengar kabar bahagia itu, wajah keriput Bu Siti seketika berbinar cerah. Mata tuanya berkaca-kaca menahan haru. "Alhamdulillah... Ya Allah, Ibu sudah tidak sabar ingin memberitahu kabar ini kepada Shanum, Dok."
Daniel mengangguk, lalu duduk di kursi samping ranjang. Mengingat Shanum yang kini menetap di rumahnya, sebuah pemikiran terlintas di benak sang dokter. "Bu... kalau Ibu tidak keberatan, setelah keluar dari rumah sakit ini, Ibu bisa tinggal di rumahku saja bersama dengan Shanum. Rumah itu sangat luas dan fasilitasnya lengkap untuk masa pemulihan Ibu."
Bu Siti tersenyum tulus, merasa sangat dihargai. Namun, dengan lembut ia menggelengkan kepalanya. "Tidak, Dokter. Terima kasih banyak atas kebaikannya. Ibu tidak mau menyusahkan Dokter, apalagi membebani Shanum. Ibu hanya ingin kembali ke rumah Ibu sendiri. Kebetulan di sana Ibu punya warung kecil-kecilan. Nanti ada Bi Odah, teman baik Ibu yang selalu menemani dan membantu di sana. Jadi, Dokter tidak usah khawatir ya."
Mendengar penolakan halus yang sarat akan kemandirian itu, Dokter Daniel tersenyum ramah. Ia tidak ingin memaksakan kehendaknya demi kenyamanan Bu Siti.
"Baiklah kalau itu maunya Ibu." jawab Daniel lembut.
" Tapi nanti, apakah boleh sebelum Ibu pulang ke rumah, Ibu mampir ke rumah Nak Dokter untuk bertemu dengan Shanum dulu? Ibu rindu sekali," pinta Bu Siti penuh harap.
"Tentu saja boleh, Bu. Sangat boleh. Nanti begitu urusan administrasi selesai, biar saya sendiri yang menjemput dan mengantar Ibu ke rumah untuk bertemu Shanum," jawab Daniel tulus.
Bu Siti mengulurkan tangan keriputnya, menggenggam erat tangan kekar Dokter Daniel dengan rasa syukur yang membuncah. "Terima kasih banyak ya, Nak Dokter. Semoga semua kebaikan, ketulusan, dan kemuliaan hati Dokter dibalas berlipat ganda oleh Gusti Allah."
"Aamiin... Terima kasih doanya, Bu," jawab Daniel sambil mengulas senyum lebar yang sangat menawan.
*
*
Di kediaman mewah Daniel, waktu terasa berjalan begitu cepat bagi Shanum. Menjadi ibu susu bagi Baby Ziva memberikan warna baru yang sangat indah dalam hidupnya yang sempat kelam. Rasa perih akibat kehilangan mendiang putri kecilnya beberapa waktu lalu perlahan-lahan mulai terkikis, tergantikan oleh sosok hangat Ziva yang kini mengisi hari-harinya.
Baby Ziva sendiri seolah memiliki ikatan batin yang amat kuat dengan Shanum. Bayi mungil itu sama sekali tidak mau jauh dari dekapannya, seakan tahu bahwa di dalam nadinya kini telah mengalir sari pati kehidupan dari darahnya Shanum melalui ASI eksklusif yang ia minum setiap hari. Ziva telah menganggap Shanum sebagai ibu kandungnya sendiri.
Sore harinya, di area taman belakang yang asri, Tuan Lee dan Nyonya Tania tampak sedang duduk bersantai di bawah gazebo putih, menikmati kehangatan teh chamomile di tengah hembusan angin senja.
Tuan Lee meletakkan cangkir tehnya perlahan, lalu menatap tajam ke arah istrinya. "Mah, kamu beneran tadi pagi mendatangi tempat agensinya Klara?"
Nyonya Tania menyesap tehnya anggun sebelum menjawab, "Iya, Pah. Ini adalah salah satu strategiku agar Daniel bisa secepatnya menikahi Shanum. Sekaligus biar tahu rasa si wanita ular itu."
Tuan Lee mendesah kasar, gurat kecemasan tercetak jelas di wajah berwibawanya. "Mah, kamu terlalu gegabah menurut Papah. Bagaimana kalau rencana ekstrem mu ini malah ketahuan Daniel dan mengacaukan semuanya? Kamu tahu sendiri watak putra kita kalau sudah marah seperti apa."
"Sudah, Papah diam saja dan duduk manis," timpal Nyonya Tania santai sambil mengibaskan tangannya, menolak untuk berdebat. "Ikuti saja semua alur permainan yang sudah Mamah susun ini. Mamah tahu apa yang Mamah lakukan demi masa depan putra kita!"
Tuan Lee hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah, berharap dalam hati agar taktik berani istrinya tidak berujung menjadi bumerang bagi kebahagiaan Daniel dan Shanum.
*
*
Dua hari berlalu begitu cepat. Hari ini adalah hari yang paling dinantikan karena Bu Siti, ia sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Sesuai dengan permintaannya kepada Dokter Daniel, Bu Siti ingin memberikan kejutan dengan langsung datang ke rumah tanpa memberi tahu Shanum terlebih dahulu.
Sementara itu, di kediaman mewah Daniel, suasana pagi terasa begitu hangat. Seperti biasanya, Shanum mengajak Baby Ziva berjemur di taman belakang. Kali ini, Ziva tampak sangat menggemaskan, duduk bersandar di pangkuan Shanum sembari matanya berbinar menatap Leo, si burung kakatua peliharaan Daniel yang hinggap di dahan rendah.
"Leo... bilang, Ziva can...tik!" puji Shanum memancing sang burung dengan boneka tangan kelincinya.
"Zi...va can...tik! Ziva can...tik! Hahaha!" sahut Leo dengan suara seraknya yang khas, menirukan kata-kata Shanum dengan fasih.
Mendengar burung itu berbicara, Baby Ziva tertawa terbahak-bahak hingga badannya berguncang. Shanum pun ikut tertawa renyah, menciptakan melodi indah di taman yang asri itu.
sedangkan Nyonya Tania memutuskan untuk pergi ke supermarket terdekat bersama Bik Sumi karena stok bahan makanan di dapur sudah semakin menipis. Di saat yang sama, Tuan Lee juga sudah bersiap pergi ke kawasan pusat kota untuk menemui salah satu rekan bisnis pentingnya dari Singapura.
Tak berselang lama setelah Nyonya Tania dan Tuan Lee pergi, sebuah mobil mewah berwarna merah menyala berhenti tepat di pelataran rumah Daniel. Seorang wanita turun dengan langkah anggun yang sengaja dibuat-buat. Penampilannya sangat stylish, mengenakan setelan desainer ternama, namun aura keangkuhannya terpancar jelas dari gerak-geriknya. Wanita itu tidak lain adalah Klara.
Tanpa mengetuk pintu, Klara melangkah masuk begitu saja ke dalam rumah mantan suaminya. Ia menurunkan kacamata hitamnya dengan gaya angkuh. Beberapa ART yang sedang membersihkan ruang tamu langsung menghentikan pekerjaan mereka, terkejut mendapati mantan nyonya rumah itu tiba-tiba berdiri di sana.
"S... Selamat pagi, Nyonya Klara," sapa Ningsih, salah satu ART muda, dengan nada suara yang bergetar takut.
"Heemmm... Selamat pagi," sahut Klara malas tanpa menatap Ningsih. Matanya melirik ke sekeliling ruangan sebelum bertanya, "Oh iya, di mana Ziva?"
"Non Ziva... Non Ziva saat ini sedang berada di halaman belakang, Nyonya. Sedang bersama dengan Mbak Shanum," jawab Ningsih terbata-bata.
Mendengar nama asing itu disebut, kedua mata Klara langsung membelalak sempurna. 'Shanum?" batinnya bergejolak. 'Oh, jadi nama wanita yang dibilang Mamah Tania sebagai calon istrinya Daniel itu adalah Shanum? Cih... Kampungan sekali namanya! Benar-benar tidak berkelas.'
Tanpa membuang waktu lagi, Klara langsung melangkahkan kaki jenjangnya menuju taman belakang, menuruti rasa penasarannya yang sudah membakar dada sejak dua hari lalu.
Langkah kaki Klara yang berbunyi nyaring dari sepatu hak tingginya mendadak berhenti di tepi pembatas taman. Di depannya, Shanum dan Ziva masih asyik tertawa terbahak-bahak karena kelakuan jenaka si burung kakatua Leo.
Klara berjalan mendekat, lalu melipat kedua tangannya di atas dada dengan tatapan menilai yang sangat merendahkan. "Oh... jadi kau yang namanya Shanum? Wanita yang katanya calon istrinya Daniel?" ucap Klara lantang, memutus tawa di taman itu.
Shanum seketika menoleh. Jantungnya berdegup kencang melihat sosok wanita cantik bertubuh proporsional bak seorang model, berpakaian cukup seksi dan menatapnya dengan pandangan penuh permusuhan. Shanum mengerutkan keningnya, merasa bingung dan asing dengan sosok ini.
"C... Calon istri? Maaf Nyonya, tapi saya..."
Belum sempat Shanum menyelesaikan kalimatnya untuk meluruskan kesalahpahaman, tiba-tiba dari arah pintu samping koridor, Nyonya Tania muncul bersama Bik Sumi yang baru saja kembali dari supermarket.Nyonya Tania sempat menyadari mobil milik Klara muncul dari arah berlawanan saat ia hendak pergi tadi, dan keputusannya untuk segera kembali sangat tepat.
"Tentu saja Shanum ini adalah calon istrinya Daniel! Kau tidak salah dengar, Klara!" potong Nyonya Tania dengan suara tegas yang berwibawa.
Seketika, tawa Klara pecah. Ia tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa ejekan yang menggema di seluruh taman, seolah baru saja mendengar lelucon paling konyol sedunia. Sementara itu, Shanum yang berada di tengah-tengah mereka terkejut setengah mati. Matanya membelalak menatap Nyonya Tania, lidahnya mendadak kelu karena syok berat atas pernyataan tiba-tiba dari sang nyonya besar.
"Ya ampun, Mam! Hahaha!" Klara menyeka sudut matanya yang berair karena terlalu banyak tertawa. "Aku pikir calon istrinya Daniel itu wanita yang berkelas, cantik, elegan, dan terhormat dari kalangan sosialita... Tapi ini? Oh my God... Tampangnya sangat kampungan seperti seorang pembantu! Daniel benar-benar sudah turun selera, hahaha!" ucap Klara bertubi-tubi tanpa belas kasihan, sengaja merendahkan harga diri Shanum.
Tanpa ada yang menyadari, dari arah pintu utama taman, Daniel melangkah masuk dengan menuntun Bu Siti di sampingnya. Langkah kaki mereka terhenti tepat saat kalimat-kalimat hinaan Klara meluncur bebas di udara.
Bu Siti yang berdiri di samping Daniel langsung mencengkeram lengan baju sang dokter. Wajah tuanya tampak sangat sedih dan matanya berkaca-kaca, tidak tega mendengar cucu kesayangannya yang tulus dihina sedemikian rupa sebagai wanita kampungan.
Melihat air mata Bu Siti dan mendengar setiap rentetan hinaan yang keluar dari mulut mantan istrinya itu, amarah Daniel langsung menjalar ke ubun-ubun. Rahangnya mengeras, matanya berkilat tajam memancarkan kebencian mendalam, dan kedua tangan kekarnya mengepal kuat hingga kuku jarinya memutih.
"Mulut kotor mu itu sama sekali tidak pantas menghina calon istriku!"
Deg!
Suara bariton yang khas, berat, namun penuh dengan penekanan yang mutlak itu menggelegar memecah keheningan taman.
Seketika, semua mata langsung tertuju ke arah sumber suara. Klara menghentikan tawanya, wajahnya mendadak membeku dan memucat melihat kilatan amarah di mata Daniel yang menakutkan. Bik Sumi dan para ART menahan napas mereka.
Shanum sendiri mematung bagaikan patung lilin, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat karena terkejut luar biasa atas pernyataan tegas yang baru saja keluar dari bibir Dokter Daniel. Ia menatap sang dokter dengan pandangan tidak percaya.
Di sudut gazebo, Nyonya Tania yang menyaksikan pemandangan itu diam-diam menyunggingkan senyuman puas yang sangat lebar. Rencana jebakan yang ia susun dengan rapi memanfaatkan rasa penasaran Klara, kini berjalan dengan sangat sempurna tanpa cela.
Bersambung...
shanum masih gk percaya klau daniel cinta sm dia,,ayo daniel nyatakan lg perasaan mu sm shanum nanti di mobil,,biar shanum gk salah faham 🤭
Dan Sony yg mulai meragukan cinta Klara kpdnya...segera hengkang...menjauh & lepas tangan thd Klara
Biar sempurna hancurnya perempuan penuh intrik & drama itu
Cobalah utk saling jujur ttg perasaan masing²
Manatau gayung bersambut kan
Klwpun bertepuk sebelah tangan ..ya gpp...anggap uji nyali