NovelToon NovelToon
PANGERAN KETUJUH DAN PECAHAN DEWA

PANGERAN KETUJUH DAN PECAHAN DEWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irhab Hauzan

Chu Feng, putra ketujuh yang bersembunyi di balik topeng "tak berbakat", berubah takdir saat sebuah pecahan dari Dewa Kekacauan Purba yang hancur jutaan tahun lalu memilihnya. Bersama tombak yang terus berevolusi dan pasukan binatang ilahi, ia merangkak dari murid sekte kecil menuju kenyataan bahwa dunianya hanyalah sudut kecil dari semesta yang jauh lebih luas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Mata yang Terbuka

Chu Feng kembali ke istana tepat sebelum fajar, menyelinap masuk melalui tembok belakang yang sama, tubuhnya masih terasa asing bagi dirinya sendiri.

Lao Sun sudah menunggu di dekat kandang kuda, wajahnya pucat karena cemas semalaman. Ketika melihat tuannya berjalan mendekat—dengan langkah yang entah kenapa terasa lebih ringan, lebih mantap dari biasanya—raut cemas itu berubah menjadi keheranan.

"Yang Mulia... ada yang berbeda."

"Banyak yang berbeda, Paman Sun," jawab Chu Feng pelan, menuntun kudanya masuk ke kandang. "Tapi untuk sekarang, ini harus menjadi rahasia kita berdua."

Lao Sun menatap wajah tuannya lekat-lekat, lalu mengangguk tanpa bertanya lebih jauh. Bertahun-tahun mengabdi sudah mengajarkannya kapan harus bertanya, dan kapan harus percaya.

Kamarnya masih gelap ketika Chu Feng duduk bersila di lantai, seperti biasa, batu kultivasi tergeletak di hadapannya. Bedanya, kali ini ia tidak ragu.

Ia menutup mata, mencoba merasakan aliran hangat yang masih mengalir pelan di dalam tubuhnya—sisa dari qi yang untuk pertama kalinya benar-benar mengalir di jalur meridiannya. Perlahan, dengan hati-hati seperti seseorang yang baru belajar berjalan, ia mencoba mengarahkan sedikit dari aliran itu ke tangannya, ke batu kultivasi yang selama ini tetap gelap tidak peduli seberapa keras ia mencoba.

Batu itu berkedip.

Hanya sekali. Cahaya redup yang nyaris tak terlihat, seperti nyala lilin yang hampir padam sebelum akhirnya benar-benar gelap kembali.

Tapi itu cukup.

Chu Feng membuka mata, menatap batu di tangannya dengan ekspresi yang jarang sekali ia tunjukkan—bukan ketenangan yang dibuat-buat, melainkan kepuasan yang jujur.

Setelah tujuh belas tahun.

"Bagaimana rasanya," gumamnya pelan, setengah bertanya pada dirinya sendiri, setengah pada sesuatu yang kini bersemayam di tulang belakangnya, "menjadi bagian dari orang yang tidak lagi kau anggap tidak berbakat?"

Tidak ada jawaban. Suara di dalam kepalanya semalam sudah tidak terdengar lagi sejak mereka kembali ke istana—entah karena kelelahan, atau karena memang begitu caranya bekerja. Tapi Chu Feng tidak mengeluh. Ia tahu, cepat atau lambat, jawaban-jawaban itu akan datang dengan sendirinya.

Tiga hari berlalu, dan Chu Feng menemukan dirinya dalam rutinitas baru yang harus dijalani dengan hati-hati. Di depan umum, ia tetap Chu Feng yang sama—pangeran tenang yang jarang bicara, yang dianggap tidak berbahaya oleh siapa pun. Tapi setiap malam, ketika istana sudah terlelap, ia menghabiskan waktu di kamarnya, perlahan-lahan mempelajari cara mengendalikan aliran qi yang masih sangat tipis itu.

Perkembangannya lambat. Terlalu lambat, jika dibandingkan dengan kultivator berbakat lainnya yang bisa membuka meridian pertama mereka dalam hitungan hari. Tapi Chu Feng tidak terburu-buru. Ia sudah terbiasa bermain permainan panjang.

Pada malam keempat, sesuatu yang baru terjadi.

Ia sedang duduk bersila seperti biasa, mencoba mengarahkan qi-nya menyusuri meridian pertama sesuai dengan yang ia baca di salah satu kitab tua perpustakaan istana, ketika tiba-tiba pandangannya berkedip aneh.

Untuk sepersekian detik, ruangannya berubah.

Dinding-dinding kamarnya, yang biasanya hanya kayu polos, tiba-tiba dipenuhi guratan-guratan cahaya samar—garis-garis energi yang mengalir di sepanjang struktur bangunan, seolah kayu dan batu itu sendiri memiliki aliran nadinya sendiri. Dan di sudut kamar, tempat ia menyimpan pedang latihan tua peninggalan ibunya, sebuah cahaya redup berkedip pelan, seperti sesuatu yang tertidur di dalamnya.

Lalu semuanya kembali normal secepat munculnya.

Chu Feng terdiam, jantungnya berdegup kencang. Ia menatap sudut kamar itu lagi. Pedang latihan itu terlihat biasa saja sekarang, kayu tua dengan bilah yang sudah tumpul karena jarang dirawat.

Apa itu tadi...

"Mata Dewa," suara itu akhirnya terdengar lagi, kali ini lebih jelas dari sebelumnya, seolah pecahan tulang di tulang belakangnya sudah mulai lebih terbiasa berkomunikasi dengannya. "Salah satu warisan yang kubawa. Membutuhkan waktu untuk terbuka sepenuhnya, tapi kau baru saja merasakan sekilas kemampuannya."

"Mata Dewa," Chu Feng mengulangi pelan. "Apa yang bisa ia lihat?"

"Energi. Kelemahan. Formasi tersembunyi. Hukum-hukum tertentu yang tidak bisa dilihat mata biasa." Jeda sejenak. "Dan benda-benda yang menyimpan sesuatu yang lebih dari yang terlihat di permukaan—seperti pedang tua di sudut kamarmu itu."

Chu Feng menoleh cepat ke arah pedang latihan ibunya. "Pedang itu... menyimpan sesuatu?"

"Aku tidak bisa memastikan. Kemampuanmu masih terlalu lemah untuk melihat lebih jauh dari sekilas cahaya. Tapi ya—ada sesuatu di dalamnya yang bukan kayu dan besi biasa."

Chu Feng bangkit perlahan, mendekati pedang tersebut, mengangkatnya dengan hati-hati. Pedang ini adalah salah satu dari sedikit barang peninggalan ibunya yang masih ia simpan—seorang selir rendahan yang meninggal ketika Chu Feng masih terlalu kecil untuk benar-benar mengingat wajahnya. Selama ini pedang itu hanya menjadi kenangan, tidak lebih.

Kini, untuk pertama kalinya, ia mempertanyakan apakah itu benar.

"Kenapa kau tidak memberitahuku ini sejak awal?" tanyanya, nada suaranya bukan marah, hanya penasaran.

"Karena aku sendiri baru merasakannya ketika kekuatanmu mulai terbuka," jawab suara itu. "Warisanku dan dirimu kini saling terhubung. Apa yang bisa kurasakan, bergantung pada seberapa jauh kekuatanmu berkembang. Dan sejujurnya, Pangeran Ketujuh—perjalananmu baru saja dimulai."

Keesokan paginya, Chu Feng duduk di ruang makan bersama beberapa anggota keluarga kerajaan lainnya—sebuah kebiasaan formal yang jarang benar-benar akrab, lebih menyerupai medan tempur terselubung di balik sopan santun meja makan.

Chu Yan, putra keenam yang dikenal sebagai jenius kultivasi di generasinya, duduk di seberang Chu Feng dengan sikap angkuh yang biasa.

"Kudengar Adik Ketujuh menghilang beberapa malam lalu," katanya, tanpa mengangkat pandangan dari mangkuknya. "Ke mana perginya seorang pangeran tanpa bakat di tengah malam buta?"

Beberapa mata di meja itu melirik ke arah Chu Feng. Chu Feng menyesap tehnya perlahan sebelum menjawab.

"Hanya berjalan-jalan, Kakak Keenam. Sulit tidur belakangan ini."

"Berjalan-jalan," ulang Chu Yan, ada nada mengejek dalam suaranya. "Semoga saja bukan karena gugup memikirkan festival bulan depan. Meski sejujurnya, aku pun akan gugup kalau berada di posisimu."

Tawa kecil terdengar dari beberapa pendukung yang duduk di meja itu. Chu Feng hanya tersenyum tipis, tidak membalas.

Tapi di dalam dirinya, sesuatu yang baru—ketenangan yang kini punya dasar nyata, bukan sekadar topeng—membuatnya memandang ejekan itu dengan cara yang berbeda dari sebelumnya.

Tertawalah selagi bisa, Kakak Keenam.

Dunia yang kalian kenal jauh lebih kecil dari yang kalian bayangkan. Dan aku baru saja mulai melihat sedikit dari apa yang berada di luarnya.

Malam itu, setelah rutinitas latihan diam-diamnya, Chu Feng duduk di beranda paviliunnya, memandangi bintang-bintang yang mulai bermunculan di langit malam yang cerah—berbeda jauh dari kabut tebal yang menyelimuti Lembah Kabut beberapa malam sebelumnya.

"Berapa lama waktu yang kubutuhkan," tanyanya pelan, "sebelum aku cukup kuat untuk Festival Penentuan?"

"Itu tergantung padamu, bukan padaku," jawab suara di dalam dirinya. "Aku hanya memberikan jalan. Kau yang harus berjalan di atasnya."

"Kalau begitu aku akan berjalan secepat yang aku bisa."

"Aku tahu." Ada sesuatu seperti geli dalam nada suara itu. "Kau sudah membuktikannya malam itu di reruntuhan. Kau tidak lari, tidak menangis meski rasa sakitnya nyaris membunuhmu. Kebanyakan orang yang kutemui selama pencarianku tidak akan mampu bertahan seperti itu."

Chu Feng terdiam sejenak, mempertimbangkan kata-kata itu. "Berapa banyak orang yang sudah kau temui sebelum aku?"

Hening yang cukup lama menyusul pertanyaan itu—hening yang terasa berat, seolah menyimpan sesuatu yang menyakitkan untuk diceritakan.

"Cukup banyak," jawab suara itu akhirnya. "Tidak semuanya berakhir baik."

Chu Feng tidak mendesak lebih jauh. Ia bisa merasakan, meski baru mengenal keberadaan ini selama beberapa hari, bahwa ada batasan-batasan yang belum saatnya ia lewati. Beberapa jawaban harus ditemukan lewat perjalanan, bukan sekadar ditanyakan.

Ia menatap langit malam sekali lagi, pikirannya melayang ke arah Festival Penentuan yang tinggal beberapa minggu lagi, ke arah saudara-saudaranya yang masing-masing sudah menyiapkan kartu terkuat mereka, dan ke arah dunia luas yang baru saja mulai terbuka di hadapannya—dunia yang jauh lebih besar dari sekadar Kerajaan Chu.

Aku masih jauh dari cukup kuat, pikirnya. Tapi untuk pertama kalinya seumur hidup, aku punya sesuatu untuk dikembangkan.

Dan itu sudah lebih dari cukup untuk memulai.

1
Nanik S
Menjadi Murid sekte
Nanik S
Chu Feng ada teman dalam perjalanan
Nanik S
Akhirnya Chu Feng pergi menuju Sekte Langit
Irhab Hauzan: lanjut kak🙏
total 1 replies
Nanik S
Siapa nanti yang akan berkhianat pada Chu Feng apakah itu Su Yue
Irhab Hauzan: ditunggu kelanjutannya 🙏👍
total 1 replies
Nanik S
Chu Feng harus berlindung disekte dan terus berlatih agar menjadi Kuat
Irhab Hauzan: terimakasi🙏😄
total 1 replies
Nanik S
Keturunan siapakah sebenarnya Ibu Chu Feng
Nanik S
Lanjutkan💪💪💪
Irhab Hauzan: terimakasih 🙏
total 1 replies
Nanik S
Chu Yan... kenapa tidak malu melawan adiknya yang paling Lemah
Irhab Hauzan: suka mbuly soalnya😄👍
total 1 replies
Nanik S
Chu Feng.... mulai menunjukan kemampuannya dan pasti akan berbahaya bagi Kakak²nya😇😇😇
Irhab Hauzan: ditunggu kelanjutannya kak🙏🙏🙏
total 1 replies
Nanik S
Chu Feng memang harus berhati hati karena kelicikan wanita
Irhab Hauzan: 😄😄😄 wanita memang tipudaya
total 1 replies
Nanik S
Semoga pangeran Ketuju tidak terlalu tertarik dengan asmara agar cerita ini tidak membosankan
Irhab Hauzan: terimakasih atas masukanya🙏
total 1 replies
Nanik S
Ada yang mengawasi ... dan kenapa sang Dewa tidak menyadarunya
Irhab Hauzan
terimakasih masukanya🙏
Nanik S
Lanjutkan Tor... jangan sampai ada perjodohan atau pernikahan muda pasti Ceritanya sudah TDK akan menarik
Nanik S
Lanjutkan Tor💪💪💪
Nanik S
Dewa... yang dianggap Intensitas tertinggi
Nanik S
Semoga cerita ini sampai selesai
Irhab Hauzan: terimakasih supportnya🙏
total 1 replies
Nanik S
Hadir.... cukup menarik di awal
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
hai k salam kenal . masuk grup aku mau gak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!