NovelToon NovelToon
DARK RONIN

DARK RONIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action / Perperangan
Popularitas:91
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

DARK RONIN

Kode namanya Kakashi. Selama sepuluh tahun, ia adalah bayangan tak terlihat, pengawal setia pemimpin dagang yang disegani seantero wilayah timur. Dianggap keluarga, dipercaya sepenuhnya—hingga satu momen kelalaian mengubah segalanya. Musuh menyerang, tuannya tewas, dan Kakashi gagal melindunginya.

Ditinggal tanpa majikan, ia menjadi ronin. Namun alih-alih mengembara tanpa tujuan seperti aturan yang berlaku, ia melanggar sumpah para ronin: tak akan diam membiarkan kematian tuannya berlalu begitu saja. Ia menentang ketetapan, membuang masa depan, dan menapaki jalan balas dendam yang gelap. Sendiri, tanpa nama, tanpa tuan, Kakashi menyusup ke bayang-bayang musuh. Bukan lagi pengawal, melainkan pedang pembalas yang tak akan berhenti sampai keadilan—atau kebinasaan—tercapai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 — Penghalang

Angin malam di kawasan pegunungan itu bertiup dingin, menyisir dedaunan kering yang berderit pelan di bawah kaki Kakashi. Ia berdiri di balik rimbunan semak belukar yang tumbuh rapat di kaki bukit, menatap tembok tinggi kediaman Garo Takemaki yang menjulang gelap di hadapannya. Dinding batu itu kokoh, licin, dijaga ketat oleh pengawal yang berpatroli di atasnya — setiap beberapa langkah, siluet mereka terlihat bergerak pelan, membawa obor yang apinya bergoyang-goyang menerangi sebagian permukaan tembok.

Kakashi menarik napas panjang, mengatur detak jantungnya agar tetap tenang. Ia tidak boleh terburu-buru. Ia tidak boleh lengah. Satu kesalahan kecil saja, dan semua yang diperjuangkan akan berakhir di sini. Perlahan, ia melangkah maju, merendahkan tubuhnya hingga hampir menyentuh tanah, bergerak menyatu dengan bayangan pepohonan. Jarak antara tempat persembunyiannya dan sudut tembok yang paling gelap tinggal beberapa langkah lagi. Di sana, ranting pohon tua melengkung mendekat ke arah dinding, memberikan pegangan yang cukup untuk naik ke atas tanpa terlihat.

Tepat saat ia mengulurkan tangan hendak mencengkeram cabang pertama—

SRING!

Suara benda tajam membelah udara terdengar tajam di telinganya. Kakashi menunduk seketika, refleksnya bekerja secepat kilat. Sesuatu melesat lewat tepat di atas kepalanya, berdesir pelan membelah udara dingin, lalu menancap di batang pohon di belakangnya dengan denting tajam. Sebuah suriken. Ujungnya menancap dalam ke kayu, bergetar hebat — seandainya ia terlambat sedetik saja, benda itu akan menancap di pelipisnya.

Belum sempat ia menoleh, bayangan gelap meluncur turun dari dahan pohon tinggi di atasnya. Sosok itu bergerak begitu cepat, begitu lincah, hingga mata Kakashi nyaris tak sanggup mengikutinya. Tangan sosok itu bergerak lagi, melempar pisau pendek yang terhunus, menyerang tanpa memberi kesempatan bernapas.

Kakashi mengelak ke samping, pisau itu melintas sejengkal dari bahunya. Sebelum kakinya sempat menapak tanah kembali, penyerangnya sudah berada di hadapannya — sebilah pisau kedua menghantam ke arah lehernya, gerakannya cepat, mematikan, tak kenal ampun.

Ia menangkis dengan lengan, terdorong mundur beberapa langkah oleh kekuatan serangan itu. Penyerangnya tidak memberi jeda. Ia melompat, menendang, memukul, menyerang dari segala arah seakan memiliki banyak tangan. Gerakannya halus namun mematikan — gaya yang terlatih sempurna, penuh kecepatan dan ketepatan.

Kakashi mundur terus, menghindar, menangkis, menahan setiap serangan tanpa membalas dengan pukulan penuh. Ia menyadari satu hal: musuhnya sangat lincah, setiap gerakannya terarah, dan ia tidak boleh membuang tenaganya terlalu banyak di sini, di luar tembok ini, padahal Aoi masih menunggu di dalam. Setiap gerakan balasan yang berlebihan hanya akan menguras kekuatannya — dan ia membutuhkan seluruh tenaga itu untuk menyelamatkan Aoi.

"Minggir!" desisnya pelan, berusaha mencari celah untuk berbicara. Namun penyerangnya tak peduli. Serangannya justru semakin ganas, semakin cepat, seakan ia adalah musuh terbesar yang harus dimusnahkan di dunia ini.

Kakashi terpaksa menunduk tajam saat ujung pisau menyambar tepat di atas kepalanya. Ia melihat celah — sesaat pisau itu terangkat, tubuh penyerang sedikit terbuka. Dengan satu gerakan cepat, ia meluncur ke depan, menghindari serangan berikutnya, lalu memutar tubuhnya, melingkarkan lengan ke leher sosok itu dari belakang, dan menekannya erat ke dadanya.

Penyerang itu meronta, berusaha menusuk ke belakang dengan pisau di tangan kirinya. Kakashi menahan pergelangan tangan itu dengan tangan lainnya, menekannya ke bawah hingga pisau itu terjatuh ke tanah. Ia mempererat pelukannya, menahan agar tidak terluka, namun juga tidak melukai.

"Diamlah!" bisiknya tepat di telinga sosok itu. "Aku bukan musuhmu."

Rontaannya perlahan mereda, napasnya terdengar memburu di balik kain penutup wajah. Kakashi mengulurkan tangan, menyentuh tepi kain yang menutupi wajahnya, lalu menariknya turun perlahan.

Wajah itu muncul di bawah cahaya remang bulan — wajah yang dikenalnya baik. Mata yang tajam namun indah, hidung yang mancung, bibir yang terkatup rapat menahan amarah. Wajah yang dulu sering tersenyum saat melihatnya, yang dulu sering menyapa dengan hangat saat pulang berlatih.

"Shizuka..." nama itu keluar sendiri dari bibir Kakashi, penuh keterkejutan.

Wanita itu — Shizuka — menatapnya lekat-lekat, matanya memancarkan keterkejutan yang sama besarnya dengan milik Kakashi.

"Kakashi?" suaranya bergetar, hampir tak percaya. "Apa yang kau lakukan di sini?"

Kakashi melepaskan pelukannya perlahan, namun tetap berdiri di dekatnya, takut ia akan melarikan diri atau menyerang lagi. "Itu yang seharusnya kutanyakan padamu. Apa yang kau lakukan menyusup ke tempat ini? Sendirian?"

Shizuka mundur selangkah, menyeka keringat di pelipisnya, napasnya masih teratur meski baru saja bertarung. Ia mengenakan pakaian gelap yang pas di tubuhnya, rambut panjangnya diikat rapi ke belakang, menampakkan wajah yang tegas dan cantik sekaligus.

"Aku datang menjemput keponakanku," jawabnya singkat, matanya menatap tajam ke arah tembok tinggi itu. "Aoi diculik. Tidak ada yang tahu ke mana. Hingga akhirnya aku mendengar kabar... ke sini."

Kakashi mengangguk pelan, rasa kagetnya perlahan mereda berganti rasa haru. Ia lupa — Shizuka adalah kakak sepupu Aoi, saudara yang paling dekat dengannya. Mereka tumbuh bersama, bermain bersama, dan Shizuka-lah yang mengajarkan Aoi banyak hal tentang dunia luar. Ia pergi merantau beberapa tahun lalu, belajar ilmu bela diri di tempat jauh, dan sejak itu jarang pulang. Tidak disangka-sangka, ia kembali justru saat bencana menimpa keluarga mereka.

"Bagaimana kau tahu tempat ini?" tanya Kakashi pelan.

"Aku mencari jejak selama berhari-hari," jawab Shizuka, suaranya terdengar tegas namun menyembunyikan kegelisahan. "Aku bertanya kepada pedagang, kepada pelayan, kepada siapa saja yang tahu nama Garo Takemaki. Semakin lama aku mencari, semakin jelas — semua ini ulah pria itu. Dan sekarang aku berdiri di sini." Ia menatap Kakashi lekat-lekat. "Dan kau? Mengapa kau ada di sini?"

"Aku datang untuk hal yang sama," jawab Kakashi jujur. "Aku berjanji pada Tuan Kenzaburo... sebelum beliau meninggal... untuk menyelamatkan Aoi."

Mata Shizuka melebar. "Paman Kenzaburo... benar-benar tidak ada?"

Kakashi mengangguk pelan, menunduk. "Aku gagal melindunginya. Aku tertipu oleh jejak palsu, dan saat aku kembali..." Suaranya terhenti, tak sanggup melanjutkan kalimat itu.

Shizuka menatapnya lekat-lekat, perlahan mendekat. "Itu bukan salahmu, Kakashi. Aku tahu kau berusaha sekuat tenaga. Aoi sering bercerita... tentang kau, tentang bagaimana kau menjaga mereka semua." Ia menghela napas panjang, mencoba menahan rasa sedih yang melanda. "Namun sekarang bukan waktunya menyalahkan diri sendiri. Kita harus menyelamatkannya."

"Kau benar," Kakashi mengangkat wajahnya, tatapannya kembali teguh. "Tapi masuk ke sana tidak semudah itu. Dijaga ketat. Dan Garo Takemaki bukan orang yang akan membiarkan Aoi pergi begitu saja."

"Aku tahu," Shizuka meraih pisau yang tadi terjatuh, menyimpannya kembali di pinggangnya. "Itulah sebabnya aku menyusup sendirian — agar tidak menarik perhatian. Tapi sekarang..." Ia menatap Kakashi, seakan baru menyadari sesuatu. "Kau membawa pedang itu..."

Kakashi menunduk melihat pedang hitam yang terselip di pinggangnya — gagang berukir wajah iblis yang memantulkan cahaya bulan samar. "Diberikan seseorang. Agar aku bisa melindungi mereka."

Shizuka mengangguk pelan, lalu menatap ke arah gerbang besar yang tertutup rapat di kejauhan. "Baiklah. Kalau begitu kita masuk bersama-sama. Tapi denganku, Kakashi — aku tidak akan menjadi bebanmu. Aku bisa bertarung."

"Aku tahu," jawab Kakashi lembut. "Namun janjilah satu hal — jangan bertindak gegabah. Jika terpisah, cari tempat persembunyian dan tunggu aku. Keselamatanmu sama pentingnya dengan keselamatan Aoi."

Shizuka terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Baik. Aku janji."

Mereka bergerak bersama, menyusuri pinggiran hutan menuju sisi lain tembok. Kakashi kini tidak lagi sendirian — ada seseorang yang berdiri di sampingnya, seseorang yang juga menyayangi Aoi, seseorang yang siap bertarung demi keluarganya. Beban di pundaknya terasa sedikit lebih ringan, meski bahaya yang menanti di dalam belum berkurang sedikit pun.

Ia mundur perlahan, menghilang ke dalam kegelapan ruangan yang luas dan dingin itu, meninggalkan bayangannya yang memanjang di lantai batu — seperti bayangan kejahatan yang semakin mendekat.

Sementara itu, di bawah tembok tinggi itu, Kakashi dan Shizuka saling bertukar pandang. Mengangguk sekali, tanda siap. Kakashi memanjat lebih dulu, menarik Shizuka naik ke atas dahan pohon yang menjulang mendekati tembok. Dengan gerakan pelan dan hati-hati, mereka melompat ke permukaan tembok yang lebar, lalu menyusurinya dalam kegelapan, menghindari sorot obor dan pandangan para penjaga.

Masuk ke dalam halaman kediaman Garo Takemaki. Langkah pertama di wilayah musuh telah diambil.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!