Terkadang, bukti kasih sayang tidak hanya sebuah kebahagiaan, bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melasepti__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gala Jealous
"Kamu tinggal di sini?" tanya Gara dengan kening berkerut, saat Rea memintanya untuk menurunkan gadis itu di depan area sebuah apartemen.
Rea menggelengkan kepalanya pelan. "Enggak."
Gara masih mengerutkan kening, tetapi tetap mengangguk mengerti. "Nanti sibuk, gak?" tanya Gara seraya menatap Rea lembut.
"Kenapa?"
"Jalan, yuk?"
Rea berpikir sejenak, sebelum menjawab, "Nanti aku izin dulu."
"Oh, oke. Jangan lupa makan sama istirahat, nanti kabarin aku." Gara mengusap puncak kepala Rea.
Rea menurunkan tangan itu dan mengangguk, sebelum berlalu memasuki apartemen, meninggalkan Gara dengan tatapan herannya.
Rea memasuki unit apartemen Gala, dan mendapati cowok itu sudah duduk santai di sofa ruang tengah, dengan kaki naik ke atas meja.
Rea melempar diri duduk di sebelah Gala, seraya menghela nafas berat.
"Sudah lepas rindunya?" tanya Gala dengan nada sindiran, tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.
"Ah, belum. Masih rindu gue," kata Rea seraya menyandarkan kepalanya di pundak Gala.
Gala mendorong kepala itu, namun Rea tetap pada pendiriannya.
"Gak usah dekat-dekat, lo bau."
Rea mendongak, untuk menatap wajah Gala yang menghadap lurus ke arah depan.
Tangan Rea bergerak menekan pipi cowok itu. "Lo cemburu, Kak?"
Gala melirik ke arah Rea. "Gak guna."
Rea memajukan bibir bawahnya, mengejek. Ia kemudian bergerak memeluk pinggang Gala dengan erat.
Gala menggeliat pelan, berusaha melepas kaitan tangan gadis itu. "Gak usah peluk-peluk, lo bau!"
"Tadi gak boleh peluk Gara, jadi peluk lo aja."
Rea semakin erat memeluk Gala, menyandarkan kepalanya di dada cowok itu.
"Lo bau Gara," ucap Gala seraya menarik tangan Rea untuk menggigitnya.
"Makanya peluk, nanti jadi bau lo."
"Orang bau itu mandi, bukan peluk."
"Ngilangin baunya orang bucin itu pakai peluk."
"Memangnya lo bucin?"
Rea mendongak tanpa mengubah posisinya. "Lo, kan lagi cemburu sama gue?"
Gala mendengus, tanpa berniat menjawab ucapan gadis yang masih setia memeluknya.
Rea menempelkan wajahnya di dada Gala, mengecup dada itu cukup lama, membuat Gala merinding. Namun, tak lama matanya melotot saat gadis itu justru menggigitnya tepat dibagian puting.
Gala sontak mendorong kepala gadis itu hingga terlepas. "Sialan, sakit bego!"
Gala mengusap bagian dada yang baru saja Rea gigit tadi. Rea hanya menyengir lebar, seraya memeletkan lidahnya mengejek.
Gala membuka kaosnya, untuk melihat bagian dadanya yang putih, kini memerah dan tampak bekas gigitan di sekitar area putingnya.
"Ih, nenen." Dengan jahil, Rea menoel puting Gala, membuat cowok itu melotot tajam.
"Mau lo, gue gituin?" ancam Gala yang membuat Rea bergidik ngeri dan segera berlari dari sana, menuju kamar.
Gala mendengus, kenapa lama-lama tingkah Rea sangat menyebalkan seperti ini.
"Kak Gala! Katanya mau beliin gue baju?" teriak Rea dari kamar.
Bukan apa-apa, dia tidak membawa banyak baju dari rumah kemarin. Dia hanya membawa beberapa, dan itupun yang diberikan oleh Bundanya dulu.
"Gak, malas. Beli aja sama Gara."
Tak lama, Rea keluar dengan senyum jahilnya. Ia berjalan mendekat, lalu mencolek pipi Gala.
"Cie ... cemburu."
Gala menatap Rea datar. "Enggak."
"Ngaku aja kali, Kak. Gak usah gengsi," kata Rea kembali duduk di samping Gala.
Kali ini, dia sudah segar setelah mandi dan berganti pakaian dengan kaos milik Gala, seperti biasa.
"Gue gak cemburu, cuma gak ikhlas aja. Lo enak-enakan pacaran, gue yang nanggung dosanya."
Rea menghela nafas pelan, lalu bergerak merebahkan kepalanya di pangkuan Gala.
"Gue pengin putusin dia, tapi bingung caranya gimana."
"Putus tinggal putus, apa susahnya?" tanya Gala seraya menunduk menatap Rea yang tidur terlentang.
"Ya, masa gue harus bilang, 'kita putus!', gitu?"
Gala mengedikan bahunya. "Ngomong putus itu gampang, yang susah ngilangin perasaannya. Iya, kan?"
Rea menatap Gala dengan dalam. "Kok tau? Lo pernah ngerasain?"
Gala menjawabnya dengan gelengan pelan.
"Lo gak pernah pacaran?"
Lagi, Gala menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Masa?"
Gala berdecak kesal, seraya menyentil kening Rea.
"Dekat sama cewek pernah, tapi kalau pacaran enggak."
"Friend zone?"
"Gak juga."
"Dia suka sama gue, tapi gue gak suka sama dia. Kalau, pun suka gue gak akan pernah mau pacaran."
"Kenapa?"
Gala menatap Rea sinis. "Ya dosa, lah! Kalau gak takut dosa, gak akan gue nikah sama lo. Mending cari pacar yang banyak, biar gak bosan."
Rea mendelik sebal. "Maksudnya, gue ngebosenin, gitu?"
Gala menghela nafas, lalu bergerak mengusap kepala Rea.
Rea memejamkan matanya, merasakan kenyamanan dari usapan lembut yang Gala berikan.
"Gue belum cinta sama lo, tapi bukan berarti gue gak peduli. Lo sudah menjadi bagian dari hidup gue, yang artinya lo juga tanggung jawab gue."
Rea kembali membuka matanya, menatap netra Gala dalam.
"Pacaran mungkin menurut sebagian orang bisa bikin senang, bahagia, atau apapun itu. Tapi mereka gak sadar, apa yang mereka lakukan itu, sama dengan mencari kerugian. Rugi waktu, rugi pikiran, rugi pahala."
"Kenapa? Karena di saat dia punya pacar, dia akan terfokus untuk memprioritaskan pacarnya. Misal, kalau orang sudah kerja, yang seharusnya dia bisa mempergunakan waktu itu untuk menghasilkan uang, membahagiakan keluarga. Dia justru menghabiskan waktu untuk memanjakan pasangannya. Apa yang dia dapat? Gak ada, dosa doang."
"Rugi pikiran. Kalau pacarnya gak ada kabar, pasti bakal kepikiran. Bikin kepala pusing, kesehatan pun bisa menurun."
Rea diam berpikir, apa yang Gala ucapkan memang ada benarnya. Kemarin, saat Gara hilang kabar, membuatnya sempat down dan perasaannya tidak tenang.
Padahal, dia bukan lah siapa-siapa sekarang. Di saat Rea sudah menikah, artinya Gara bukan lah hal penting untuk dia pikirkan. Lalu, apa gunanya ia mengkhawatirkan Gara kemarin, memikirkannya, memperhatikannya, dan lain sebagainya.
"Kadang gue bingung. Kenapa orang-orang mau merepotkan dirinya sendiri dengan menjaga jodoh orang lain? Mereka seolah gak sadar, kalau hidup mereka sudah ngerepotin orang tua dari kecil. Apa mereka gak ada niat membahagiakan orang tuanya?"
"Kalau ditanya pengin pacaran, iya gue pengin. Tapi gue mikir, hidup gue sudah nyusahin Papa sama Ibu di sini, masa gue harus nyusahin mereka di akhirat juga? Apa setega itu, gue jeblosin mereka yang sudah berusaha membesarkan gue, dengan segala rasa capek yang mereka dapatkan?"
Gala menatap netra Rea yang sejak tadi terdiam. "Pacar mungkin bisa jadi jodoh kita. Tapi, selama belum ada pernikahan, artinya belum tentu jodoh. Terus buat apa, ngehabisin waktu buat orang lain, yang gak tau status dia itu apa? Pacaran itu cuma status yang dibuat oleh orang-orang gabut, kurang kerjaan, dan kurang tabokan. Ditabok pakai api neraka, baru deh bisa sadar."
"Berarti gue harus putus dari Gara?"
"Terserah lo, mau putus atau enggak. Intinya, bagi gue pacaran itu gak ada artinya. Kalau butuh teman hidup, nikah. Kalau belum nikah, sandarannya di atas sajadah, teman ngobrolnya sama Al-Quran, curhatnya pakai solat. Gak perlu nyari pacar, buat apaan? Dia bukan calo tiket ke surga."
Rea memajukan bibirnya, kemudian bergerak memeluk perut rata Gala.
"Bantu gue putus," rengeknya.
"Putus aja sendiri."
"Dia sahabat lo, kan? Kalau dia tau hubungan kita, gimana?"
Gala mengedikan bahunya. "Yang gue tau, dia orang yang baik, bukan pendendam. Kalau dia sampai bersikap buruk nantinya, membenci gue dan bernafsu untuk mendapatkan lo. Artinya dia bukan cinta, tapi obsesi, ambisi doang."
"Kalau dia tau nantinya, jelasin sesuai dengan kenyataannya. Kita nikah karena perjodohan, jadi gak ada niat apapun dari gue untuk merebut lo dari dia."
Rea mengangguk, menggerakan jemarinya di permukaan perut Gala yang tertutup kaos.
"Gara itu baik, baik banget. Dia lembut, gak suka bentak, sabar. Dia juga jarang nyentuh gue lebih dari usapan dan cium tangan."
"Sama aja namanya nyentuh, gak boleh. Gara memang baik orangnya, ibadahnya juga rajin. Cuma sayang, setelah ada lo, dia jadi kebelinger."
Rea mendengus. "Gue gak tau apa-apa, dianya yang ngajak gue pacaran."
Gala membuang nafas pelan. "Nafsu memang kadang bikin drop keimanan seseorang. Dia terlalu mencintai lo pakai nafsu, makanya ngajak pacaran. Kalau dia mencintai lo pakai iman, dia bakal menunggu sedikit waktu lagi untuk bisa menikahi lo."
"Gue gak bisa bayangin, gimana kalau dia tau tentang hubungan kita."
"Jalanin aja, semua juga bakal terjawab kalau sudah waktunya."
"Menurut lo, antara persahabatan lo sama dia dan hubungan kita, lebih penting mana?" tanya Rea menatap mata Gala dengan dalam.
"Tergantung seberapa penting lo dan dia di hidup gue," jawab Gala tanpa ekspresi.
"Iya, berarti lebih penting mana?"
Gala berpikir, seraya memainkan rambut hitam Rea. "Dia sahabat gue. Dulu, keberadaan dia bikin gue senang. Dia nemenin gue, bantu gue saat susah, menghibur gue saat sedih."
Raut wajah Rea tampak sedikit berubah, seperti ada kekecewaan di dalamnya.
"Tapi, untuk sekarang dan seterusnya, yang akan menemani hidup gue itu istri. Seorang sahabat akan pergi di saat dia sudah bersama kehidupan barunya, meraih cita-cita dan cintanya. Gue, pun akan bersama kehidupan baru gue, istri dan masa depan."
Tatapan mereka terkunci, ada rasa senang dalam benak Rea saat mendengar ucapan Gala tadi.
"Semua kembali ke lo. Lebih penting mana, gue atau dia?"
Kelegaan di hati Rea hilang seketika saat mendapat pertanyaan itu.
Gala terkekeh pelan, lalu menunjuk dada kiri Rea. "Yang seharusnya ditanya itu hati lo. Ada siapa di sana? Suami atau pacar?"
Rea bangkit dari rebahannya. Ia bergerak naik ke pangkuan Gala, memeluknya dan menyembunyikan wajahnya di cerukan leher cowok itu.
"Seperti yang lo bilang, pacar itu belum tentu jodoh. Bahkan, yang sudah menikah, pun belum tentu jodoh selamanya."
Gala menatap datar ke arah depan, membiarkan Rea berucap semaunya. Membiarkan gadis itu memeluk lehernya dan menumpukkan dagu di pundaknya.
"Kalau ditanya, siapa yang ada di hati gue, gue belum tahu jawabannya. Tapi, kalau ditanya siapa yang akan gue pilih antara lo dan dia. Gue akan pilih lo," kata Rea seraya merenggangkan pelukannya.
"Kenapa?" tanya Gala membalas tatapan dalam Rea.
"Karena suami adalah rumah. Kemana, pun gue pergi, tetap tujuan gue adalah pulang. Gue akan berkeluh kesah, menumpahkan semua rasa capek yang gue rasakan, ke suami gue, di rumah gue. Dan itu lo."
.
.
.
To be continue ...