Sahabat ku bernama Fitriani Septian adalah seorang yang asik kita bersahabat dari kecil bermain bersama bersekolah bersama.
sampai setelah aku kelas 6 SD dan sahabat ku kelas 5 ada siswa baru di kelas 5
sahabatku mereka saling berkenalan dengan siswa baru bernama megiani satu hari itu mereka sudah sangat akrab.
dan hari demi hari sahabat ku yang pernah bersamaku kini dengan murid baru itu. kita jarang bertemu walau rumah kita saling dekat bahkan jika bertemu kita sudah asing tidak seperti dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Priska Heriska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari kesibukan
Sore pun tiba pukul 15.00 suasana rumah terasa begitu hidup. Kakak baru saja pulang sekolah, di sudut pintu bapak sedang telaten menampi beras menggunakan tampah bambu untuk di buat bubur. Gerakan tangannya yang berirama membuat butiran beras naik-turun memisahkan kotoran dengan sabar, sama seperti hidup yang sedang menyaring siapa saja yang akan tulus dan siapa yang hanya menjadi kerikil.
Di dapur, ibu sedang meracik bumbu untuk kari bubur ayam untuk dagangannya seperti biasa. Aroma serai, kunyit dan bawang putih seketika merebak hangat memenuhi ruangan saat racikan bumbu itu di kupas. Tangan nya begitu cekatan mengulek semua bahan hingga halus. Senyuman tulus ibu seolah menjadi bumbu rahasia yang selalu membuat masakan sederhananya begitu dirindukan banyak orang.
Matahari perlahan tenggelam, digantikan keremangan senja yang tenang. Bapak yang selesai menampi beras itu bergegas menyalakan lampu teras, sementara kakak mulai merapikan meja belajar. Di dapur kepulan asap dari kuali. ibu menandakan kuah kari ayam telah matang sempurna. Menyebarkan aroma gurih yang menggugah selera ke seluruh penjuru rumah.
Malam pun tiba, membawa kesunyian yang hangat, di ruang tengah, aku duduk menghadap buku-buku yang terbuka hanyut dalam baris demi baris tugas sekolah yang harus ku selesaikan. di samping ku kakak fokus membolak-balik halaman bukunya sendiri, sesekali terdengar suara nafasnya. Kehadirannya di sana terasa seperti benteng tak kasat mata yang menjagaku dari rasa sepi.
Dari arah dapur, samar-samar terdengar denting sendok yang beradu dengan piring disusul suara bapak dan ibu yang sedang mengobrol santai dengan nada rendah. Suara-suara akrab itu mengalir ke ruang tengah. Menciptakan harmoni keluarga yang begitu damai. Bau sisa kari ayam sore tadi masih tertinggal tipis di udara, membuat suasana malam ini terasa sangat pekat.
Goresan penaku di atas kertas malam ini terasa jauh ringan. Jemariku bergerak lincah, menyelesaikan soal demi soal matematika tanpa beban. Anehnya bayangan wajah dian dan kata-kata yang diucap kemarin, kini menghilang begitu saja hinaan itu terasa sangat jauh dan tidak penting lagi.
Melihat kakak yang begitu tekun di sebelahku, serta mendengar tawa kecil ibu dari balik dapur , aku sadar bahwa aku berada di tempat yang tepat. Aku dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangiku. di dalam rumah yang penuh kehangatan ini, kata-kata Dian tidak lagi memiliki kekuatan untuk melukaiku. Malam ini aku hanya ingin berfokus pada masa depanku, ditemani kesunyian malam yang merangkul kami dalam damai.
Malam semakin larut, detak jarum jam dengan suara jangkrik di luar rumah, mempertegas keheningan yang kian damai.
Kakak tiba-tiba menutup bukunya dengan pelan, lalu menoleh ke arahku ia tersenyum kecil melihatku yang baru saja meletakkan pena setelah menyelesaikan soal nomer terakhir.
"Sudah selesai tugasmu?" tanya kakak dengan suara berbisik, takut mengganggu ketenangan malam.
"Sudah, akhirnya selesai juga," jawabku sambil meregangkan kedua tangan ke atas, rasa lelah di pundakku seolah luntur begitu saja.
"Bagus, bereskan mejamu besok kita bangun pagi sekolah." ucap kakak.
Kami berdua merapikan alat tulis masing-masing, menjadwal pelajaran lalu memasukkan ke dalam tas, sebelum masuk ke kamar, aku menengok ke dapur melihat ibu dan bapak mencuci kuali dan piring sisa makan malam tadi.
" Ibu aku kakak tertidur duluan" ucapku
Ibu membalikkan badannya, menyeka tangannya yang basah pada kain serbet lalu tersenyum hangat kepada kami.
"Iya, sebelum tidur cuci tangan, cuci kaki."
"baik" jawabku
Aku mengangguk patuh. malam itu, saat merebahkan tubuh di atas kasur, mataku terpejam dengan hati yang lapang.
tidak ada lagi sisa kesedihan atau amarah pada ucapan Dian. Hanya kamar yang hangat dan keheningan yang tentang.
Keesokan harinya, semburat fajar perlahan menembus celah-celah jendela, dan pintu.
rumah kami sudah kembali menggeliat dengan kesibukan pagi yang akrab. Bau nasi goreng ibu langsung menyambutku begitu aku pergi ke arah dapur. Aku dan kakak sudah rapi dengan seragam sekolah yang bersih dan wangi.
Di meja makan, bapak sudah siap dengan pakaian rapi untuk pergi keliling Berdagang. Di sudut teras, grobak tua bapak yang biasa digunakan untuk membawa barang dagangan yang sudah terparkir rapi.
"Ayo habiskan sarapannya," ujar ibu sambil meletakkan sepiring terakhir nasi goreng di meja.
"Wah, nasi gorengnya mantap sekali, ibu!" puji kakak di sela suapannya, membuat ibu tersenyum bangga.
Setelah selesai sarapan, aku dan kakak bersiap di halaman rumah sambil memakai sepatu. Ibu berdiri diambang pintu, menatap kami dengan pandangan penuh kasih sayang yang selalu menjadi modal utama untuk kami menghadapi hari.
"Kami, berangkat sekolah dulu ya," pamitku dan kakak kompak.
"hati-hati di jalan, jangan terburu-buru dan belajar yang rajin," jawab ibu hangat.
"Bapak pergi berjualan, ya. Ingat, fokus belajar saja dan berteman dengan anak yang baik," kata bapak dengan tatapan matanya yang tegas seolah tahu apa yang sempat menganggu pikiran ku kemarin.
bapak kemudian berjalan dengan mendorong gerobaknya, dan mengetuk tepian mangkok hingga berbunyi nyaring membela udara pagi yang masih dingin. Bunyi itu bukan sekedar suara besi bertemu keramik, Itu adalah undangan melodi sarapan yang menggambarkan bahwa kehangatan telah tiba di depan komplek perumahan.
"Iya, pak. bapak juga berhati-hati jualannya hari ini semoga dagangannya laris!" jawabku sambil tersenyum lebar.
Setelah berpamit, kakak yang sudah pergi. sementara aku berjalan santai sambil menengok ke belakang jalan melihat gerobak bapak yang perlahan menjauh. Pagi cerah itu, secerah hatiku yang siap memulai hari baru tanpa bayang-bayang masa lalu.
Tak terasa, langkah kakiku akhirnya sampai di gerbang sekolah. Suasana di dalam kelas sudah sangat riuh oleh suara teman-teman yang asyik mengobrol dalam kelompok kecil mereka.
Aku melangkah masuk dengan tenang, lalu duduk di bangku kosong milikku di sudut ruangan. niat awal untuk mencoba membuka diri perlahan surut saat melihat tidak ada satupun menoleh atau menyapa.
Aku memilih terdiam dalam duniaku sendiri, mengeluarkan buku dari dalam tas, dan berpura-pura sibuk merapikan. ikut bergabung dalam obrolan mereka terasa percuma; suara dan ceritaku seolah hilang ditelan kebisingan canda tawa mereka yang sudah memiliki dunia sendiri. Ditengah keramaian itu, aku kembali merasa sendiri, tetapi aku mencoba menerimanya tanpa rasa sesak di hati.
Aku membalik halaman buku tanpa benar-benar membacanya, sekedar memberi alasan bagi mataku agar tidak perlu menatap kearah manapun. Di sekelilingku raung kelas begitu hidup. Meja-meja yang bergeser, derai tawa yang meledak di sudut kanan, dan sahut menyahut cerita akhir pekan yang riuh.
pokoknya harus Sampek ending