Siapa perempuan yang ingin menjadi mandul .?? tidak ada satupun yang menginginkan itu semua, setiap wanita pasti ingin punya keturunan punya buah hati yang akan menjadi pelengkap dalam bahtera rumah tangga nya, sebagai pemanis dalam cinta yang di arungi bersama teman hidupnya.
Namun rencana yang kuasa tetap lah rencana nya siapa yang dapat menghindar atau mengelak jika ia sudah berkehendak, itu lah yang di alami kora.
11 Tahun pernikahan nya ia selalu mendambakan ada buah hati yang sudi tumbuh dalam rahim nya, 11 tahun penantian yang panjang. Pernikahan yang sempurna, memiliki suami yang sempurna ternyata bukan lah obat dari sebuah penawar kebahagiaan.
pernikahan yang dikira akan berjalan seumur hidup harus kandas kala tuntutan dan penghianatan yang terjadi. kora tidak marah tidak juga menyalahkan siapapun ia memilih mengalah dan merelakan cinta nya pergi dan memilih menghilang untuk menemukan arti kebahagiaan yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SeinXD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH 12
" tadi aku menelpon mu hanya rindu dengan mu!"
Hendra tersenyum saat mendengar suara Tiara yang menanyakan kenapa ia menelepon dirinya, saat ia tengah asik menelpon dengan tiara, nomor telepon tak dikenali menelpon nya.
" sebentar ada yang menelpon dari nomor tak dikenal!"
Hendra segera memutuskan sambungan nya dengan Tiara dan menjawab panggilan dari nomor itu.
" apa kora di rumah sakit!"
Hendra kaget ia menjadi panik tak karuan, kora bukan kah tadi baik-baik saja kenapa tiba-tiba sudah ada di rumah sakit.
" pak segera putar balik, kita ke RS Sudarso sekarang!"
Hendra segera menyuruh sopirnya memutar balik untuk segera ke rumah sakit, ia takut takut terjadi apa apa dengan kora. Ia tak ingin kora sakit ia tak mau kehilangan wanita yang sangat ia sayangi.
Setengah jam kemudian mereka telah sampai di RS Sudarso, salah satu rumah sakit terbaik dan terpercaya. Hendra segera turun dari mobil dan segera berlari masuk ia tak memikirkan apa apa lagi yang sekarang hanya ingin melihat keadaan kora. Apakah gadis itu baik baik saja.
" atas nama ibu kora Setiani ada di ruangan Flamboyan pak!"
Hendra segera melangkahkan kan kakinya menuju ruangan yang sudah di beritahu oleh suster didepan, ia berlari masuk ke ruangan itu dan mendapati kora tengah terbaring lemas namun ia sudah sadar dari pingsan nya.
" sayang!!"
Hendra segera duduk di samping ranjang istrinya, ia menggegam tangan kora dan mengecek suhu tubuhnya, apakah gadis ini sedang tak enak badan.
" kenapa?"
" kepala ku akhir akhir ini terasa pusing!"
" pusing kenapa?"
" entah lah seperti ada sesuatu yang tidak bisa ku ingat jelas!"
Hendra segera memeluk istrinya ia mengusap punggung kora dengan lembut memberi kan kehangatan.
" sudah jangan terlalu di pikirkan, istirahat lah dengan nyaman!" Hendra segera membantu kora berbaring lagi agar gadis itu segera istirahat.
Di balik pintu ada seseorang yang terus memperhatikan gerak gerik mereka, ia tak berani masuk hanya bisa melihat dari balik pintu. Tatapan nya sayu namun seperti ada kerinduan di sana, ia merasa terlalu takut untuk hanya sekedar bertemu.
Ia urungkan niatnya untuk masuk kedalam, ia segera memutar balik kan badan nya namun tak sengaja malah menabrak suster yang tengah Mambawa makanan untuk para pasien.
Prankkk
" aduh sus maafkan saya!"
Ia segera membantu suster membereskan makanan yang berantakan itu, setelah beres ia segera meninggalkan tempat itu. Hendra yang sempat mendengar kegaduhan di depan segera mengecek namun yang ia dapati hanya suster yang terlihat kesal.
Hendra menatap ke lorong ujung sekilas bayangan seseorang membuat nya membeku.
Ia segera berlari mengejar untuk memastikan itu, namun sosok yang ia kejar seolah sudah menghilang begitu saja.
Hendra menggelengkan kepala nya ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia hanya halusinasi karena kecapekan atau terlalu panik kerena kondisi kora.
...----------------...
Tiara duduk didalam mobilnya dengan perasaan kalut, ia harus memikirkan cara untuk segera menemukan benda itu bagaimana pun cara nya. Ia menarik rambutnya kebelakang ia pusing sangat pusing dengan semua yang datang secara kebetulan ini.
Kenapa akhir-akhir ini ia merasa tak tenang dan nyaman,.padahal ia sedang berada di puncak hidupnya memiliki karir dan kekasih yang begitu sangat di dambakan oleh semua orang. padahal ia sudah merasa menang atas ini semua hanya tinggal menyingkirkan penghalang cinta nya yaitu kora.
Namun itu masih sulit dan butuh waktu lama karena hati Hendra masih berpaut pada kora, ia harus benar-benar menyingkirkan perasaan itu dan menjadikannya milik ia seutuhnya.
" aku tak akan kalah!"
mobil Tiara merayap meninggalkan tempat itu, ia seperti nya sudah punya rencana untuk segera masuk pada keluarga Mahendra.
Satu-satunya cara yang bisa ia lakukan sekarang adalah masuk dalam keluarga itu untuk memperkuat posisi agar tak mudah untuk dijatuhkan, jika ia memiliki posisi yang kuat musuhnya tak akan mudah menggulingkan tiara.
...----------------...
Grace tengah duduk dengan tenang sembari menghisap rokok yang sedari tadi menemani nya, ia seperti tengah menunggu seseorang.
Orang yang ia tunggu telah datang dengan setelan jas dan pakaian rapi, grace tersenyum dan menatap lelaki itu. Masih sama dan tetap tampan seperti dulu.
" bagaimana perkembangan nya?"
Lelaki itu tersenyum lalu duduk didepan grace, ia memesan minuman kepada bartender yang tegah asik menyiapkan minuman untuk pelanggan nya.
" tidak perlu terburu-buru!"
Grace hanya tersenyum bukan ia yang terburu-buru namun ia hanya mengikuti alur yang sudah ada.
" apa rencana mu kedepan nya?"
Grace menghembus asap tebal dari mulut nya, ia tampak begitu menikmati setiap sesapan teriakan nafasnya.
" tunggu saja waktunya!"
Lagi-lagi grace hanya tersenyum lelaki ini memang selalu seperti ini, ia memang jika sudah menyiapkan sesuatu pasti sudah memikirkan akibatnya. Perencanaan ini pasti sudah ia prediksi.
" kamu memang tidak pernah berubah!"
Grace bangkit berdiri ia mengecup pelan pipi lelaki itu sebelum ia pergi dari sana, lelaki itu hanya menggelengkan kepalanya dengan sifat Grace yang selalu memancingnya. Tapi ia dan grace hanya sebatas teman tak akan pernah lebih dari itu.
Hanya ada satu orang yang berhasil membuat hati nya bergetar, ia sudah mengidolakan gadis itu namun tak pernah bisa menggapainya. Ia tersenyum kala mengigat cinta yang tak Sampai itu.
...----------------...
Hendra begitu telaten menyuapi kora satu suapan demi suapan ia berikan dengan lembut dan penuh cinta, ia tersenyum saat melihat kora bisa makan dengan sangat lahap. Ia tidak ingin kora sakit lagi.
" habis ini kita bisa pulang!"
Kora tersenyum senang karena memang ia tak tahan berada terlalu lama di tempat ini, bau obat obatan dan segala macam yang membuat ia segera ingin menghirup udara segar di luar.
" atas nama ibu kora Setiani, harap pihak keluarga segera menyelesaikan administrasi nya!"
Hendra segera bangkit berdiri ia berpamitan pada kora untuk mengurus administrasi nya dulu sebelum mereka pulang dari sana, kora hanya mengangukan kepalanya.
Setelah Hendra pergi dari sana kora hanya duduk diam memikirkan siapa orang yang telah menolong nya itu, entah kenapa begitu sangat familiar sekali. Bahkan saat ia waktu itu lari pagi juga menabrak seseorang yang ia kenal.
Tunggu
Apakah dia pernah mengenal seseorang selain orang yang saat ini ia kenal, namun kenapa ia tak bisa ingat apapun, apakah ada sesuatu yang selama ini tersembunyi dari nya. Jika benar apa yang sebenarnya disembunyikan dan apa yang terjadi pada nya, kenapa ia tak bisa ingat dan kenapa ingatan yang samar itu terus muncul.
Kora apakah ini sebuah labirin?