Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: Ujian Sesungguhnya
Pintu kaca ganda di ujung lorong terbuka. Tiga orang berpakaian setelan jas abu-abu gelap melangkah masuk secara bersamaan. Mereka berjalan dalam formasi segitiga yang sangat terkoordinasi, membawa koper perak dan tablet di tangan masing-masing. Udara di divisi pemasaran yang tadinya sudah mencekam, kini seolah membeku sepenuhnya.
Di barisan paling depan adalah Pak Haris, Kepala Tim Audit Pusat. Pria paruh baya dengan kacamata berbingkai tipis dan tatapan setajam elang yang terkenal tak pernah pandang bulu dalam memenggal karier seseorang.
Semua karyawan langsung menundukkan kepala, pura-pura sibuk mengetik di atas keyboard yang komputernya bahkan belum menyala. Suara ketukan sepatu pantofel tim audit menggema di lantai keramik, terdengar seperti detak waktu hitung mundur sebuah bom.
Di meja kerjanya, Bayu menelan ludah dengan susah payah. Ia menggeser kursinya hingga menempel ke meja Fajar.
"Jar," bisik Bayu dengan suara gemetar, matanya tak berani menatap ke depan. "Gue udah nyiapin kardus kosong di bawah meja gue."
Fajar menoleh dengan dahi berkerut tegang. "Buat apaan kardus?!"
"Buat packing barang-barang lo lah! Kalau lo hari ini beneran dipecat dan diusir dari gedung, minimal lo pulang bawa kenang-kenangan stapler kantor," jawab Bayu asal, kepanikannya membuat logikanya menguap.
"Sialan lo, Bay. Bantuin doa kek, malah nawarin kardus!" desis Fajar, keringat dingin mulai sebesar biji jagung mengalir di pelipisnya.
Langkah Pak Haris terhenti tepat di tengah koridor. Matanya yang tajam menyapu dinding utama kantor. Ia menyipitkan mata, lalu berjalan mendekati bingkai akrilik kosong tempat poster aturan itu tadinya terpasang. Sisa sobekan kertas di ujung bingkai masih terlihat jelas.
Pak Haris berbalik, menatap seluruh ruangan yang hening. "Siapa yang bertanggung jawab mencabut poster peraturan perusahaan di dinding ini?" tanyanya dengan suara bariton yang menggema tajam.
Tidak ada satu pun karyawan yang berani bernapas, apalagi menjawab. Bayu otomatis menyembunyikan wajahnya di balik layar monitor.
Namun, suara ketukan heels yang mantap memecah keheningan itu.
Kirana melangkah maju dari arah pintu ruangannya. Wajahnya datar, punggungnya tegak lurus, memancarkan aura seorang pemimpin yang tak bisa diintimidasi.
"Saya yang mencabutnya, Pak Haris," jawab Kirana dengan suara yang sangat tenang dan jelas.
Pak Haris menoleh, menatap Kirana dari atas ke bawah. Ia membetulkan letak kacamatanya. "Bu Kirana. Direktur cabang ini. Anda menyadari bahwa poster itu berisi aturan mutlak dari dewan direksi pusat? Mencabutnya tanpa persetujuan adalah sebuah pelanggaran kode etik."
"Saya menyadarinya," balas Kirana tanpa berkedip. "Dan saya memiliki alasan operasional yang kuat untuk mengevaluasi ulang aturan tersebut di cabang ini."
Pak Haris tersenyum sinis, senyum yang membuat perut Fajar melilit melihatnya. "Alasan operasional, atau alasan… personal? Karena kami menerima laporan anonim yang sangat menarik dari cabang Anda pagi ini."
Pak Haris mengayunkan tangannya, menunjuk ke arah ruang rapat kaca di sudut ruangan. "Kita bahas ini di dalam, Bu Direktur. Sekarang."
Ruang rapat itu terbuat dari kaca transparan dengan blinds yang hanya ditutup setengah. Semua karyawan di luar bisa melihat ketegangan yang terjadi di dalam, meski tak bisa mendengar suaranya.
Di dalam sana, Kirana duduk berhadapan dengan tiga auditor pusat. Pak Haris membuka tabletnya, menampilkan beberapa grafik.
"Hubungan asmara di tempat kerja, apalagi antar hierarki jabatan, adalah racun bagi produktivitas, Bu Kirana," kata Pak Haris membuka interogasi. "Itu memicu konflik kepentingan, favoritisme, dan merusak moral karyawan lain. Laporan yang kami terima menyebutkan Anda memiliki kedekatan khusus dengan salah satu staf Anda."
Kirana menatap pria itu tanpa gentar. "Pak Haris, jika Anda bicara soal produktivitas, mari kita lihat data." Kirana menggeser sebuah map berisi laporan yang sudah ia siapkan. "Bulan ini, produktivitas cabang kami naik lima belas persen. Target kuartal tercapai dalam waktu dua bulan. Tidak ada penurunan moral, tidak ada favoritisme. Jika ada yang berubah di kantor ini, itu adalah lingkungan kerja yang tidak lagi terasa seperti penjara militer."
Pak Haris terdiam sejenak melihat angka-angka valid di depannya, namun ia dengan cepat membalas. "Data bisa menipu dalam jangka pendek. Aturan pusat tidak bisa ditawar. Jika rumor ini benar, salah satu dari kalian—Anda, atau staf tersebut—harus mengundurkan diri. Itu aturannya."
Di luar ruangan, Fajar memperhatikan pemandangan itu dengan napas tertahan. Ia melihat Kirana dikepung oleh tiga orang, wajah kekasihnya itu tampak tegang meski berusaha keras menyembunyikannya.
Tangan Fajar mengepal erat di atas meja. Rasa bersalah tiba-tiba menghantam dadanya. Kirana sedang pasang badan untuk hubungan mereka, sendirian, sementara dirinya hanya duduk diam seperti pengecut di luar sini.
"Gak bisa dibiarin," gumam Fajar. Ia langsung berdiri, meraih dua buah map laporan tebal secara acak dari mejanya.
Bayu langsung menarik ujung kemeja Fajar dengan panik. "Jar! Lo mau ke mana, gila?! Jangan cari mati! Lo diem aja di sini, biar Bu Direktur yang handle!"
Fajar menepis tangan Bayu pelan. "Gue gak bisa biarin dia sendirian di sana, Bay. Kalau ini salah kita berdua, gue juga harus ikut tanggung jawab."
Tanpa menunggu balasan Bayu yang sudah menepuk jidatnya sendiri, Fajar berjalan cepat melintasi ruangan. Ia mengetuk pintu kaca ruang rapat itu dua kali, lalu langsung membuka pintunya dan melangkah masuk sebelum ada yang mengizinkan.
Semua mata di dalam ruangan langsung tertuju padanya. Kirana melebarkan matanya, nyaris berdiri dari kursinya. Apa yang kamu lakukan, Fajar? batin Kirana berteriak panik.
"Permisi, Pak, Bu," sapa Fajar dengan suara sedikit bergetar, namun ia berusaha berdiri setegak mungkin. "Maaf menyela rapatnya. Saya membawa dokumen pendukung yang mungkin Bapak butuhkan."
Pak Haris mengernyitkan dahi. "Siapa Anda? Kami sedang mengadakan audit tertutup."
Fajar menelan ludah, lalu meletakkan map itu di atas meja. "Nama saya Fajar, Pak. Staf divisi pemasaran." Fajar menarik napas panjang, lalu menatap lurus ke arah Pak Haris. "Dan saya adalah orang yang membuat poster aturan itu dicabut."
Ruangan itu seketika hening. Dua auditor di belakang Pak Haris saling pandang.
Kirana menatap Fajar dengan tatapan yang sangat rumit—campuran antara marah karena pria itu bertindak nekat, dan rasa haru yang luar biasa dalam karena pria itu berani maju untuknya.
"Oh," Pak Haris menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat kedua tangannya di dada. "Jadi Anda staf yang dimaksud dalam laporan itu. Keberanian yang konyol, Anak Muda. Anda sadar pengakuan Anda barusan saja memastikan surat pemecatan Anda dicetak hari ini?"
"Saya sadar, Pak," jawab Fajar tegas. "Tapi saya ingin menegaskan satu hal. Kalau Bapak menganggap hubungan personal merusak profesionalisme, Bapak bisa mengevaluasi seluruh hasil kerja saya secara objektif. Jika kinerja saya atau Bu Kirana menurun, saya bersedia mengundurkan diri detik ini juga tanpa pesangon."
Mendengar tantangan nekat dari seorang staf biasa, Pak Haris tertawa sinis. Suara tawanya terdengar sangat kering.
"Sangat heroik. Sangat romantis," sindir Pak Haris tajam. "Tapi, perusahaan tidak digerakkan oleh romansa, Saudara Fajar. Perusahaan digerakkan oleh sistem dan aturan. Dan Anda berdua baru saja dengan sengaja menentang sistem."
Pak Haris membereskan tabletnya dan memasukkannya ke dalam koper. "Saya sudah mendengar cukup. Keputusannya sangat jelas. Saya akan merekomendasikan pemecatan Saudara Fajar sore ini juga, dan surat peringatan keras untuk Bu Kirana."
Jantung Fajar terasa anjlok ke dasar perut. Tamat sudah. Kariernya hancur. Ia menatap Kirana dengan senyum pasrah, seolah mengisyaratkan bahwa setidaknya ia sudah mencoba. Kirana membalas tatapan itu, tangannya mengepal di bawah meja, bersiap untuk mendebat putusan tersebut dengan segala kuasa yang ia miliki.
Namun, sebelum Pak Haris bisa berdiri dari kursinya, pintu ruang rapat kembali diketuk dan terbuka.
Sinta masuk dengan langkah tenang. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi panik. Di tangannya, ia memegang sebuah ponsel pintar yang layarnya masih menyala dan tersambung dalam sebuah panggilan.
"Maaf menyela, Pak Haris," kata Sinta sopan. "Ada telepon masuk untuk Anda."
Pak Haris mendengus kesal. "Saya sudah bilang tidak mau diganggu selama proses audit, Sinta."
"Saya rasa Anda tidak punya pilihan selain menerima panggilan ini, Pak," balas Sinta dingin, menyodorkan ponsel tersebut. "Ini dari ruang pemilik perusahaan. Bapak Direktur Utama ingin bicara langsung dengan Anda."
Wajah Pak Haris seketika memucat. Tangan yang tadinya begitu arogan membereskan koper, kini sedikit bergetar saat mengambil ponsel dari tangan Sinta.
"H-halo? Selamat pagi, Pak," sapa Haris, tubuhnya otomatis membungkuk hormat meski lawan bicaranya tidak ada di ruangan itu.
Kirana dan Fajar hanya diam, mengamati perubahan raut wajah kepala auditor itu.
"B-benar, Pak. Saya sedang mengevaluasi... Apa? T-tapi, Pak, aturan pusat... Baik. Baik, Pak. Saya mengerti. Ya, akan saya laksanakan."
Dalam waktu kurang dari dua menit, panggilan itu berakhir. Pak Haris mengembalikan ponsel itu kepada Sinta dengan wajah yang tampak menua sepuluh tahun. Ia menghela napas panjang, menatap Kirana dan Fajar secara bergantian dengan tatapan kalah.
"Tampaknya…" Pak Haris berdeham, mencoba menyelamatkan sisa-sisa wibawanya. "…ada instruksi khusus dari pemegang saham utama. Aturan larangan hubungan personal di cabang ini… secara resmi dianulir per pagi ini."
Fajar hampir saja merosot ke lantai saking leganya, sementara Kirana mengembuskan napas yang sedari tadi ia tahan.
"Audit selesai. Kami akan kembali ke pusat," ucap Pak Haris datar. Ia dan kedua rekannya segera keluar dari ruangan itu tanpa mengucapkan sepatah kata lagi.
Begitu pintu tertutup, Fajar langsung menyandarkan tubuhnya ke dinding kaca. "Ya ampun… gue pikir gue bakal packing beneran hari ini."
Kirana akhirnya tersenyum lega. "Kamu sangat bodoh dan nekat, Fajar. Kalau tadi Ayah tidak menelepon, kamu benar-benar akan kehilangan pekerjaanmu."
"Gue rela kehilangan pekerjaan asal gak kehilangan lo," goda Fajar, senyum jahilnya kembali.
Sinta yang masih berdiri di ruangan itu berdeham pelan, merusak momen romantis mereka.
"Maaf, Bu Direktur," sela Sinta, wajahnya kini terlihat sedikit misterius. "Tim audit memang sudah pergi. Tapi… instruksi dari Bapak Direktur Utama tadi datang dengan satu buah syarat mutlak."
Sinta mengeluarkan sebuah amplop cokelat berstempel rahasia dari balik clipboard-nya, lalu meletakkannya di atas meja Kirana.
Kirana mengernyitkan dahi. Ia membuka amplop itu, menarik selembar surat berkop resmi perusahaan. Matanya membaca deretan kalimat di sana dengan cepat. Detik berikutnya, mata Kirana terbelalak sempurna.
Melihat reaksi ekstrem Kirana, Fajar kembali tegang. "Kenapa? Syarat apa? Potong gaji? Penurunan jabatan?"
Kirana perlahan mendongak, menatap Fajar dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Bukan," jawab Kirana pelan. "Kamu… dipromosikan."
Fajar mengerjap bingung. "Loh? Promosi? Berarti bagus dong? Alhamdulillah!"
"Kamu dipromosikan sebagai Kepala Cabang Pemasaran yang baru," lanjut Kirana, suaranya sedikit bergetar.
Fajar nyaris melompat kegirangan. "Beneran?! Wah, gila! Ini mah rezeki nomplok!"
Sinta membetulkan kacamatanya, menyela perayaan singkat Fajar dengan kalimat terakhir yang menghantam layaknya palu godam.
"Sebagai Kepala Cabang Pemasaran… untuk kantor cabang baru kita di pedalaman Kalimantan Timur," jelas Sinta dengan nada datarnya yang mematikan. "Bapak Direktur Utama ingin menguji kemampuan Anda untuk mandiri, jauh dari pengawasan… dan jauh dari putrinya. Anda berangkat lusa."
Senyum di wajah Fajar lenyap tak berbekas dalam hitungan milidetik. Pria itu membeku.
"…HAH?!"