CEO dingin Lin Yicheng meninggalkan Su Wan lima tahun lalu tanpa tahu ia mengandung anaknya. Kini Su Wan kembali membawa Lin Xiaoqi, putra jenius berusia lima tahun yang bertekad menyatukan orang tuanya. Si kecil perlahan mencairkan hati batu sang ayah, namun ancaman bisnis dan penolakan keluarga menguji cinta mereka. Warisan terbesar bukanlah harta, tapi keluarga yang akhirnya bersatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yicheng Mulai Menyelidiki
Malam itu, setelah makan malam sederhana yang terasa begitu hangat di rumah kecil itu, Yicheng duduk di tepi tempat tidur Xiaoqi, menunggu putranya terlelap. Ia membacakan dongeng tentang seorang anak kecil yang berani menembus hutan lebat untuk menemukan harta paling berharga — bukan emas atau permata, melainkan keluarga yang terpisah. Xiaoqi mendengarkan dengan mata berbinar, sesekali menyela dengan pertanyaan cerdas, lalu perlahan matanya mulai terpejam, napasnya teratur, dan senyum tipis mengukir di bibirnya saat ia tertidur sambil memeluk mainan mobil-mobilan baru dari ayahnya.
Yicheng mencium kening putranya, lalu berjalan keluar kamar perlahan, menutup pintu tanpa suara. Di ruang tamu, Su Wan sedang duduk di sofa, memeluk cangkir teh hangat, menatap ke arah jendela yang tertutup tirai. Cahaya lampu yang remang-remang menyinari wajahnya yang tampak lebih tenang dari biasanya, namun kerutan halus di antara alisnya mengisyaratkan bahwa pikirannya masih gelisah, masih memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Yicheng duduk di sofa di hadapannya, tidak terlalu dekat, menghormati ruang yang ia minta, namun cukup dekat agar mereka bisa berbicara tanpa harus meninggikan suara.
"Xiaoqi sudah tidur," bisik Yicheng lembut. "Dia tidur dengan senyum. Dia sangat bahagia malam ini."
Su Wan mengangguk pelan, menatap cangkir di tangannya, uap hangat naik perlahan membasahi wajahnya. "Dia selalu bahagia saat kau ada di sini. Sejak kecil, dia selalu bertanya tentang ayahnya. Sekarang setelah dia menemukanmu… seakan ada bagian dari dirinya yang akhirnya utuh kembali. Aku takut… takut jika sesuatu terjadi, kebahagiaannya ini akan hancur, dan aku tidak akan mampu menyembuhkan lukanya lagi."
Yicheng menatap wanita itu, melihat ketakutan yang masih bersembunyi di balik ketenangannya. Ia tahu kata-kata saja tidak cukup untuk menghapus kekhawatiran itu — butuh bukti, butuh kepastian, butuh kebenaran yang jelas. Dan di situlah letak masalahnya — banyak hal yang masih kabur, banyak hal yang belum terjawab, banyak hal yang terjadi lima tahun lalu yang mungkin bukan sekadar kesalahpahaman sederhana.
"Aku mengerti ketakutanmu, Su Wan," ucap Yicheng tenang namun tegas. "Dan karena itu aku tidak akan hanya berdiri diam dan berharap semuanya akan baik-baik saja. Aku perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi lima tahun lalu — bukan hanya dari sudut pandangmu, tapi dari semua sisi. Aku perlu tahu mengapa kau pergi begitu tiba-tiba, siapa yang mendatangimu, apa yang dikatakan, dan apa yang membuatmu begitu takut hingga memilih menghadapi semuanya sendirian. Dan aku perlu tahu — apakah ada orang lain yang terlibat, orang yang mungkin mendorongmu pergi, atau bahkan memaksamu pergi."
Su Wan mendongak, matanya membelalak sedikit, terkejut mendengar nada bicara Yicheng yang berubah menjadi lebih serius, lebih tajam. "Aku sudah ceritakan semuanya padamu, Yicheng. Keluargamu… ayahmu… dia menekanku, dia bilang aku tidak pantas untukmu, dia bilang akan menghancurkan hidupku jika aku tidak pergi. Itu saja. Tidak ada orang lain."
Yicheng menggeleng pelan, menatapnya dengan tatapan yang penuh pemahaman namun juga penuh ketegasan. "Aku tahu kau percaya itu benar. Tapi ada hal yang tidak masuk akal, Su Wan. Ayahku memang keras, memang kaku, memang punya aturan sendiri — tapi dia tidak pernah melakukan hal kasar seperti mengancam akan menghancurkan hidup seseorang secara langsung. Dia bekerja melalui sistem, melalui aturan, melalui tekanan halus — bukan ancaman terbuka. Dan yang lebih penting — saat kau pergi, semua dokumen kita, semua catatan, semua jejak keberadaanmu di kota ini seakan dihapus. Aku tidak bisa menemukanmu selama lima tahun, padahal aku punya akses ke setiap informasi di kota ini. Seakan ada kekuatan lain yang menyembunyikanmu, bukan sekadar keputusanmu sendiri."
Su Wan terdiam, tangannya meremas cangkir teh lebih erat, bibirnya sedikit bergetar. "Aku… aku tidak tahu tentang itu. Aku pergi sendirian, aku menyewa tempat tinggal dengan identitas baru, aku tidak memberi tahu siapa pun ke mana aku pergi. Mungkin itu sebabnya kau tidak bisa menemukanku."
"Mungkin," jawab Yicheng, tidak langsung menyangkal, tapi juga tidak sepenuhnya percaya. "Tapi ada hal lain. Saat kau pergi, perusahaan sedang dalam masa transisi. Ada beberapa keputusan penting yang diambil tepat setelah kepergianmu — keputusan yang menguntungkan pihak tertentu, keputusan yang membuat ayahku semakin berkuasa, dan keputusan yang memutus semua kemungkinan kita bisa kembali bersama. Seakan kepergianmu bukan sekadar kebetulan, melainkan bagian dari rencana yang lebih besar."
Su Wan menatapnya dengan mata yang semakin melebar, ketakutan mulai terlihat jelas di wajahnya. "Rencana? Apa maksudmu? Siapa yang akan mendapat keuntungan dari perpisahan kita?"
"Itulah yang akan aku cari tahu," jawab Yicheng tegas, berdiri perlahan, seakan sudah memantapkan hatinya. "Mulai besok, aku akan menyelidiki semuanya. Aku akan menelusuri kembali setiap kejadian, setiap percakapan, setiap peristiwa yang terjadi sebelum kepergianmu. Aku akan mencari tahu siapa yang mendatangimu, apa yang sebenarnya dikatakan, dan apakah ada pihak lain yang berperan di balik semua ini. Aku tidak akan membiarkan siapa pun — bahkan ayahku sendiri — lolos begitu saja jika dia terlibat dalam memisahkan kita."
"Jangan, Yicheng… tolong jangan cari masalah," pinta Su Wan cemas, berdiri juga, melangkah maju sedikit, seakan ingin menahannya. "Kalau ayahmu tahu kau menyelidiki hal ini… dia akan sangat marah. Dia bisa melakukan hal-hal yang berbahaya. Aku takut dia akan menyakitimu, menyakiti Xiaoqi, menyakiti kita. Biarkan masa lalu berlalu. Kita sudah bertemu lagi. Bukankah itu sudah cukup?"
Yicheng berhenti di hadapannya, menatap mata wanita itu dengan lembut namun dengan tekad yang tak tergoyahkan. "Tidak cukup, Su Wan. Selama kebenaran masih tersembunyi, selama kita tidak tahu siapa yang memisahkan kita dan mengapa, kita tidak akan pernah benar-benar aman. Kita tidak tahu apakah orang yang sama itu masih ada di luar sana, masih mengawasi kita, dan mungkin akan mencoba memisahkan kita lagi. Aku harus tahu kebenarannya — untuk melindungi kalian, untuk melindungi Xiaoqi, dan untuk memastikan bahwa tidak ada yang bisa mengganggu kebahagiaan kita lagi. Aku berjanji — aku akan berhati-hati. Aku tidak akan melakukan hal gegabah. Tapi aku tidak akan berhenti sampai aku menemukan jawabannya."
Su Wan menatapnya, melihat ketegasan di wajahnya, melihat bahwa keputusannya sudah bulat, tidak bisa diubah. Ia menghela napas panjang, menyerah, namun kekhawatiran di matanya tidak berkurang sedikit pun. "Kalau kau sudah memutuskan… aku tidak bisa menghentikanmu. Tapi tolong, Yicheng — berjanjilah padamu sendiri, berjanjilah padaku — kau akan berhati-hati. Jangan biarkan hal ini membahayakanmu, atau Xiaoqi, atau siapa pun. Dan jika kau menemukan sesuatu yang berbahaya… berhentilah. Demi kita."
"Aku berjanji," jawab Yicheng lembut, menyentuh pipi Su Wan dengan punggung tangannya, sentuhan yang hangat dan menenangkan. "Aku akan berhati-hati. Dan apa pun yang aku temukan, aku akan melindungi kalian berdua dengan nyawaku jika perlu. Kalian adalah hal terpenting dalam hidupku. Tidak ada yang lebih berharga dari kalian."
Keesokan paginya, Yicheng tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Langit masih berwarna biru pucat, matahari baru saja mulai muncul di ufuk timur, menyinari gedung pencakar langit Grup Lin yang menjulang tinggi di tengah kota. Kantornya di lantai paling atas masih sepi, hanya terdengar suara langkah kakinya sendiri di lorong luas yang beralaskan karpet tebal. Ia meletakkan tas kerjanya di meja besar, lalu duduk di kursi kerjanya, menatap pemandangan kota yang terhampar di depan jendela kaca besar — kota yang ia kuasai, namun kota yang menyimpan banyak rahasia tentang masa lalunya sendiri.
Yicheng mengambil ponselnya, menekan nomor yang sudah lama tersimpan di kontaknya namun jarang ia hubungi — nomor seseorang yang ia percaya sepenuhnya, seseorang yang bekerja di bayang-bayang, seseorang yang bisa menemukan jawaban di mana orang lain hanya menemukan tembok kosong.
"Halo, Tuan Lin," suara di seberang telepon terdengar rendah dan tenang, tanpa sedikit pun terkejut meskipun jam di dinding baru menunjukkan pukul enam pagi. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Li Wei," panggil Yicheng serius, langsung pada intinya. "Aku butuh kamu menyelidiki sesuatu. Sesuatu yang terjadi lima tahun lalu, tepat sebelum Su Wan pergi. Aku butuh tahu siapa yang mendatanginya, apa yang dikatakan, dan apakah ada pihak lain yang terlibat dalam kepergiannya. Jangan lewatkan satu detail pun — percakapan, pertemuan, pesan, transfer uang, apa pun yang tampak tidak biasa atau mencurigakan."
Li Wei terdiam sejenak, mencerna permintaan itu, lalu menjawab dengan tenang dan profesional. "Baik, Tuan Lin. Saya akan mulai menyelidiki segera. Tapi saya harus memperingatkan Anda — kejadian ini sudah berlalu lima tahun. Jejaknya mungkin sudah terhapus, dokumen mungkin sudah dimusnahkan, saksi mungkin sudah pindah atau lupa. Dan jika memang ada pihak berkuasa yang terlibat… mereka pasti sudah menyembunyikan jejak dengan sangat baik. Ini mungkin akan memakan waktu lebih lama dari biasanya."
"Ambil waktu yang kamu butuhkan," jawab Yicheng tegas. "Jangan terburu-buru, tapi jangan berhenti. Dan Li Wei — ini sangat penting bagiku. Ini tentang masa depan keluargaku. Jadi lakukan dengan teliti, se teliti mungkin. Dan jangan beri tahu siapa pun tentang penyelidikan ini — bahkan orang-orang di kantor, bahkan keluarga. Ini rahasia kita berdua saja."
"Dimengerti, Tuan Lin. Rahasia ini aman bersama saya. Saya akan memberi tahu Anda segera setelah menemukan sesuatu," jawab Li Wei, lalu sambungan terputus.
Yicheng meletakkan ponselnya di atas meja, menyandarkan punggungnya di kursi, menatap langit yang semakin terang di luar jendela. Ia tahu penyelidikan ini tidak akan mudah. Ia tahu ia mungkin menemukan hal-hal yang menyakitkan, hal-hal yang meruntuhkan kepercayaannya pada orang-orang di sekitarnya, bahkan pada ayahnya sendiri. Tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia harus tahu kebenarannya — agar ia bisa melindungi keluarganya dengan benar, agar ia tidak lagi buta, agar ia tidak lagi tertipu oleh orang-orang yang seharusnya ia percaya.
Beberapa hari berlalu, dan Yicheng menjalani rutinitasnya seolah tidak terjadi apa-apa — menghadiri rapat, menandatangani dokumen, bertemu mitra bisnis, membuat keputusan penting — namun di balik itu semua, pikirannya selalu terbagi antara pekerjaan dan penyelidikan yang sedang berjalan. Setiap kali ponselnya berdering, jantungnya berdebar kencang, berharap itu Li Wei membawa kabar, namun setiap kali itu hanya panggilan biasa dari rekan kerja atau mitra bisnis, ia merasa sedikit kecewa namun juga lega — karena belum ada kabar berarti belum ada bahaya yang terdeteksi, belum ada kebenaran yang menyakitkan yang harus dihadapi.
Setiap sore, Yicheng menyempatkan diri mengunjungi Su Wan dan Xiaoqi — tidak setiap hari, agar tidak terlalu mencolok, agar tidak menarik perhatian yang tidak diinginkan, tapi cukup sering agar Xiaoqi tidak merasa ditinggalkan, cukup sering agar Su Wan mulai merasa lebih tenang, lebih percaya, lebih nyaman dengan kehadirannya. Mereka makan bersama, bermain bersama, berjalan-jalan di taman — hal-hal sederhana yang membangun kepercayaan perlahan-lahan, selangkah demi selangkah, seperti yang diminta Su Wan. Xiaoqi semakin bersemangat setiap kali melihat mobil ayahnya berhenti di depan rumah, dan Su Wan — meskipun masih ragu, masih berhati-hati — mulai tersenyum lebih sering, mulai menatap Yicheng lebih lama, mulai membiarkan dirinya menikmati kebersamaan itu tanpa terus-menerus melihat ke arah pintu, takut ia akan pergi lagi.
Namun di balik kehangatan itu, Yicheng selalu waspada. Ia memperhatikan setiap orang di sekitar mereka — tetangga, orang di jalan, pelayan di restoran, siapa pun yang tampak terlalu memperhatikan mereka. Ia memastikan tidak ada yang mengikuti mobilnya saat ia pergi ke rumah Su Wan, memastikan tidak ada yang memotret atau mencatat keberadaan mereka, memastikan bahwa rumah kecil itu tetap tersembunyi dari dunia luar setidaknya sampai ia siap melindungi mereka secara terbuka. Ia tahu bahwa jika ayahnya atau orang lain yang terlibat dalam kepergian Su Wan mengetahui keberadaan mereka sebelum ia siap, hal itu bisa berbahaya — bukan hanya bagi rencananya, tapi bagi keselamatan Su Wan dan Xiaoqi.
Pada hari keempat, ponsel Yicheng berdering saat ia sedang berada di ruang kerja pribadinya setelah jam kerja. Layar menampilkan nama "Li Wei", dan jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Ia segera mengangkat telepon, duduk tegak, suaranya rendah namun penuh perhatian.
"Halo, Li Wei. Ada hasilnya?"
Di seberang telepon, suara Li Wei terdengar serius, lebih berat dari biasanya, seakan ia membawa beban informasi yang tidak mudah disampaikan.
"Ada sesuatu, Tuan Lin. Tapi saya harus memperingatkan Anda — ini tidak sederhana. Dan beberapa hal yang saya temukan… mungkin tidak menyenangkan untuk didengar."
Yicheng menarik napas dalam-dalam, menyiapkan dirinya, namun tekadnya tidak goyah sedikit pun. "Katakan saja. Aku siap mendengar apa pun. Jangan sembunyikan apa pun dariku."
"Baik," Li Wei terdiam sejenak, lalu mulai bercerita dengan suara yang tenang namun penuh makna. "Pertama — saya menelusuri catatan keuangan dan komunikasi sekitar waktu kepergian Nona Su Wan. Saya menemukan bahwa tiga hari sebelum dia pergi, seseorang mengirim pesan kepadanya dari nomor yang tidak terdaftar atas nama siapa pun — nomor sementara yang dibeli secara tunai, sehingga sulit dilacak. Isi pesannya singkat namun tegas: 'Tinggalkan dia. Pergi dan jangan pernah kembali. Jika tidak, kau akan menyesal.' Nona Su Wan menyimpan pesan itu di ponselnya dan tidak menghapusnya — mungkin sebagai bukti, mungkin karena terlalu takut untuk menghapusnya."
Yicheng meremas ponselnya lebih erat, kemarahan mulai merayap di dadanya — kemarahan karena seseorang berani mengancam wanita yang ia cintai, kemarahan karena ia tidak ada di sana untuk melindunginya, kemarahan karena Su Wan menghadapi ancaman itu sendirian tanpa memberitahunya.
"Lanjutkan," ucap Yicheng tegas, menahan amarahnya agar tidak meledak.
"Kedua," lanjut Li Wei, "saya menelusuri catatan pengunjung dan rekaman pengawasan di apartemen tempat Anda tinggal bersama saat itu. Dua hari sebelum Nona Su Wan pergi, ada seorang wanita yang datang menemuinya saat Anda sedang bekerja. Wanita itu tidak memberi nama, tidak terdaftar sebagai kenalan Anda, dan wajahnya tidak terlihat jelas di rekaman karena ia sengaja menunduk dan memakai topi lebar. Tapi saya menemukan sesuatu yang menarik — mobil yang ia tumpangi terdaftar atas nama salah satu perusahaan yang berafiliasi dengan Grup Lin, perusahaan yang berada di bawah pengawasan langsung… Paman Anda, Tuan Lin Zhenghao."
Yicheng tertegun, matanya melebar karena terkejut — Paman Zhenghao, adik kandung ayahnya, pria yang selama ini ia anggap baik hati, selalu tersenyum, selalu mendukungnya, pria yang sering memberinya nasihat tentang hidup dan bisnis. Ia tidak pernah menyangka bahwa pamannya bisa terlibat dalam hal ini.
"Paman Zhenghao?" gumam Yicheng tidak percaya. "Apakah kau yakin? Mungkin itu kebetulan. Mobil perusahaan sering dipakai oleh banyak orang."
"Saya memeriksa catatan pemakaian kendaraan, Tuan Lin," jawab Li Wei dengan pasti. "Pada hari itu, mobil tersebut digunakan secara pribadi oleh Tuan Lin Zhenghao. Sopir pribadinya yang mengemudikannya. Dan sopir itu — setelah saya bertanya dengan cara yang hati-hati — mengakui bahwa ia mengantar Tuan Lin Zhenghao ke area apartemen Anda pada hari itu, namun Tuan Lin Zhenghao memintanya menunggu di luar dan tidak ikut naik ke atas. Jadi kemungkinan besar — bukan wanita asing yang menemuinya, melainkan seseorang yang dikirim oleh Paman Zhenghao, atau bahkan Paman Zhenghao sendiri yang menyamar sebagai wanita untuk menyembunyikan identitasnya."
Yicheng terdiam, pikirannya berputar cepat, menyusun potongan-potongan teka-teki yang mulai membentuk gambaran yang mengerikan namun masuk akal. Paman Zhenghao — pria yang selama ini tampak lembut dan tidak ambisius, namun sebenarnya sangat cerdik dan penuh perhitungan. Ia selalu berada di belakang layar, selalu memanipulasi situasi untuk keuntungannya sendiri, selalu membiarkan orang lain melakukannya untuknya sehingga ia tidak pernah terlihat bersalah.
"Tapi kenapa?" tanya Yicheng, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Li Wei. "Apa untungnya baginya memisahkan aku dan Su Wan? Bagaimana kepergian Su Wan bisa menguntungkannya?"
"Itulah yang sedang saya selidiki lebih dalam, Tuan Lin," jawab Li Wei. "Tapi ada satu hal lagi yang harus Anda ketahui. Setelah kepergian Nona Su Wan, Tuan Lin Zhenghao mendapat promosi — ia diberi tanggung jawab yang lebih besar di perusahaan, ayah Anda mempercayainya lebih dari sebelumnya, dan beberapa proyek besar yang seharusnya menjadi milik Anda akhirnya berada di bawah pengawasannya. Jika Nona Su Wan tetap tinggal dan Anda menikahinya, kemungkinan besar ayah Anda akan menuntut Anda lebih fokus pada perusahaan, dan Anda akan segera mengambil alih posisi puncak — sehingga Paman Zhenghao tidak punya kesempatan untuk berkuasa. Tapi dengan kepergian Nona Su Wan, Anda menjadi terpuruk, kehilangan semangat, tidak fokus pada pekerjaan — dan Paman Zhenghao masuk mengisi kekosongan itu, mendapatkan kepercayaan ayah Anda, dan memperoleh kekuasaan yang tidak seharusnya ia miliki."
Potongan terakhir teka-teki itu jatuh pada tempatnya. Semuanya masuk akal — ancaman, kunjungan rahasia, kepergian Su Wan, kejatuhan semangatnya, dan kebangkitan kekuasaan Paman Zhenghao. Semuanya terhubung, semuanya direncanakan dengan cermat, semuanya dilakukan dengan satu tujuan — kekuasaan. Paman Zhenghao menggunakan perpisahan mereka sebagai jalan untuk naik ke puncak, memanfaatkan kelemahannya, memanfaatkan cinta dan perasaannya, memanfaatkan ketegangan antara dirinya dan ayahnya. Dan yang paling menyakitkan — ia menggunakan Su Wan sebagai alat, memaksanya pergi, mengancamnya, membuatnya merasa tidak diinginkan, membuatnya takut — semua demi ambisi pribadinya.
Yicheng merasakan kemarahan yang begitu besar hingga tubuhnya gemetar — kemarahan pada pamannya yang berani memanipulasi hidupnya, kemarahan pada dirinya sendiri karena terlalu buta melihat kebenaran, kemarahan karena membiarkan Su Wan dan Xiaoqi menderita selama lima tahun demi ambisi orang lain. Ia ingin langsung menemui Paman Zhenghao, menuntut penjelasan, menanyakan kebenaran langsung ke wajahnya — tapi ia tahu ia tidak boleh bertindak gegabah. Ia butuh bukti lebih kuat, butuh kesempatan yang tepat, butuh memastikan bahwa saat ia bertindak, ia tidak bisa ditolak atau dibantah.
"Aku mengerti, Li Wei," ucap Yicheng, suaranya rendah namun penuh ketegasan yang mengerikan. "Terima kasih. Lanjutkan penyelidikanmu. Cari bukti yang lebih kuat — catatan percakapan, saksi, dokumen, apa pun yang bisa membuktikan keterlibatannya secara langsung. Tapi jangan berisiko. Jangan biarkan dia tahu kau sedang menyelidikinya. Dia orang yang berbahaya, dan dia tidak akan ragu untuk menyakiti siapa pun yang menghalangi jalannya."
"Dimengerti, Tuan Lin. Saya akan berhati-hati. Dan Anda juga — berhati-hatilah. Dia mungkin sudah menyadari bahwa Anda mulai mencari tahu sesuatu. Tetap waspada," peringatkan Li Wei sebelum menutup telepon.
Yicheng meletakkan ponselnya di atas meja, menatap jendela kaca besar di depannya, melihat bayangan dirinya sendiri yang memantul di kaca — pria yang kuat, berkuasa, dihormati — namun di dalam, ia merasa hancur, merasa bersalah, merasa gagal. Ia gagal melindungi wanita yang ia cintai. Ia gagal melindungi anaknya. Ia terlalu percaya pada orang-orang di sekitarnya, terlalu sibuk bekerja, terlalu buta melihat kebenaran yang ada di depan matanya sendiri.
Tapi ia tidak akan membiarkan ini berlanjut. Ia tidak akan membiarkan lima tahun penderitaan Su Wan dan kesepian Xiaoqi sia-sia. Ia tidak akan membiarkan Paman Zhenghao lolos begitu saja setelah menghancurkan hidup mereka. Ia akan mencari bukti yang cukup, lalu ia akan membalas — bukan dengan kekerasan, tapi dengan kebenaran, dengan keadilan, dengan cara yang akan membuat pamannya membayar setiap tetes air mata yang tumpah selama lima tahun ini.
Malam itu, Yicheng mengemudi ke rumah Su Wan, bukan untuk berkunjung, tapi untuk memastikan bahwa mereka aman. Ia memarkir mobilnya agak jauh, duduk di dalam mobil sambil memandangi rumah kecil itu dari kejauhan, melihat cahaya di jendela ruang tamu yang masih menyala, melihat bayangan Su Wan bergerak di balik tirai, melihat bayangan Xiaoqi yang sedang bermain di dekat jendela. Mereka aman. Mereka masih bersama. Dan itu berkat keberanian dan ketangguhan Su Wan, bukan karena perlindungannya.
Yicheng memegang setir mobil dengan erat, menatap rumah itu dengan tekad yang semakin kuat. Ia akan melindungi mereka. Ia akan memperbaiki kesalahan masa lalu. Ia akan menghadapi siapa pun yang berani mengganggu keluarganya — bahkan jika itu berarti melawan pamannya sendiri, bahkan jika itu berarti melawan ayahnya, bahkan jika itu berarti mempertaruhkan posisinya di perusahaan. Karena tanpa Su Wan dan Xiaoqi, semua kekuasaan dan kekayaan ini tidak berarti apa-apa. Mereka adalah harta sejatinya. Dan ia akan berjuang untuk mereka sampai tetes darah terakhir.
Di dalam rumah, Su Wan berdiri di dekat jendela, memandang ke arah jalanan yang gelap, seakan merasakan kehadiran Yicheng di luar sana. Ia tidak melihat mobilnya, tapi hatinya tahu — dia ada di sana, mengawasi mereka, melindungi mereka. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia merasa benar-benar aman, benar-benar dilindungi, benar-benar percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Dan di kejauhan, di dalam mobil yang gelap, Yicheng berjanji pada dirinya sendiri — besok, dan lusa, dan setiap hari setelahnya, ia akan berjuang. Ia akan mencari kebenaran. Ia akan melindungi keluarganya. Dan tidak ada yang bisa menghentikannya — tidak masa lalu, tidak bahaya, tidak orang-orang yang penuh ambisi. Ia akan memastikan bahwa Su Wan dan Xiaoqi tidak perlu takut lagi pada siapa pun. Mereka akan hidup bebas, bahagia, dan bersama — selamanya.