NovelToon NovelToon
Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:43
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Sejak kecil, Sekar hanya "anak nomor dua" di rumahnya sendiri.

Semua yang terbaik selalu untuk sang kakak, Laras—si sulung yang sempurna, cerdas, dan dibanggakan. Sekar? Cukup pakai baju bekas kakaknya, tidur di kamar bekas gudang, dan tersenyum saat dilupakan.

Maka ketika Laras membawa pulang tunangannya saat Lebaran—**Damar Wirajaya**, pewaris konglomerat yang dingin, tampan, dan kaya raya—Sekar pikir pria itu tak ada urusannya dengannya.

Ia salah besar.

Karena tatapan datar Damar selalu berhenti terlalu lama… di wajahnya. Karena hadiah, perhatian, dan "kebetulan-kebetulan" itu semua mengarah padanya. Dan pada satu malam yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, Sekar menyadari kebenaran yang mengerikan:

**Bukan kakaknya yang diinginkan pria itu. Tapi dirinya.**

Damar tak akan melepaskannya. Dengan utang miliaran rupiah, perjanjian pranikah yang mengikat, dan kuasa yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya, ia menyeret Sekar ke dalam pernikahan yang tak pernah Sekar inginkan—sementara satu-satunya cinta yang tulus, sahabat kecilnya **Rangga**, hanya bisa menatap dari kejauhi.

Tapi Sekar bukan lagi gadis yang menunduk dan menerima.

Di balik senyum patuhnya, ia menghitung. Ia menunggu. Dan ketika rahasia kelahirannya sendiri terbongkar—bahwa darah yang mengalir di tubuhnya jauh lebih rumit dari yang siapa pun tahu—Sekar berhenti menjadi mangsa.

Kali ini, dialah yang memegang pisau.

*Berapa harga sebuah kebebasan? Sekar siap membayarnya—sampai tetes terakhir.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22: Menarik Kembali Ucapan

Ibu memecahkan kesunyian itu dengan satu tamparan telapak ke meja.

"Bohong."

Cangkir bergetar. Teh yang tumpah dari tangan Mbak Laras meresap ke karpet, membentuk noda gelap yang terus melebar.

"Aku nggak bohong," kataku.

"Kamu dengar sendiri ucapannya?" Ibu menoleh kepada kerabat, mencari saksi untuk kesimpulan yang sudah dibuat. "Dia bilang Damar masuk ke ruangnya. Ruang apa? Kapan? Kenapa baru sekarang?"

"Malam hujan waktu Mas Damar menginap."

Wajah Mbak Laras semakin pucat. "Malam Ibu sakit?"

Aku mengangguk.

"Aku ada di kamar Ibu sampai pagi. Mas Damar di bawah." Suaranya terdengar patah. "Kamu bilang apa yang dia lakukan?"

Kata-kata berhenti. Ada banyak potongan, tetapi tidak ada urutan yang bisa kuucapkan di depan semua orang. Tubuh berat. Tangan menahan. Aroma pada bantal. Damar berdiri di pintu saat fajar.

"Aku nggak ingat semuanya."

Ibu langsung tertawa tanpa humor. "Nah. Tidak ingat, tapi berani menuduh."

"Aku dibuat nggak bisa bergerak. Ada sesuatu dalam teh."

"Teh yang Ibu buat? Sekarang Ibu juga dituduh?"

"Aku nggak bilang Ibu tahu."

"Tapi kamu punya bukti?"

Bungkusan sisa teh ada di laci kamar. Gelang giok juga. Namun gelang hanya membuktikan Damar memberiku perhiasan, bukan apa yang terjadi malam itu. Membawanya keluar sekarang akan membuat Ibu mengatakan aku menerima hadiah calon suami kakakku lalu mencari alasan.

"Aku menyimpan sisa teh."

"Sisa teh berminggu-minggu? Bisa jadi apa saja," kata Pakdhe Warto. "Masalah seperti ini jangan asal bicara, Sekar. Nama orang bisa hancur."

Namaku sendiri sedang dihancurkan di ruangan itu, tetapi tak ada yang menyebutnya masalah.

Budhe Sari berbisik, "Mungkin dia stres karena belum dapat kerja."

"Atau cemburu," tambah Bulik Yah sangat pelan.

Aku mendengarnya.

"Aku tidak cemburu."

"Lalu kenapa Damar?" Ibu menuntut. "Kenapa bukan laki-laki lain? Karena dia kaya? Karena dia calon suami Mbakmu?"

Ayah berdiri di sampingku. "Cukup bertanya seperti itu."

"Kamu diam! Pembelaanmu yang membuat dia berani mengarang."

"Sekar pernah bilang pintu mobil dikunci. Aku melihat sendiri dia ketakutan saat Damar menyentuhnya."

Semua orang menatap Ayah. Untuk satu detik aku bisa bernapas.

Mbak Laras justru seperti terkena pukulan kedua. "Ayah tahu?"

"Ayah belum tahu semuanya."

"Tapi Ayah diam?"

"Sekar belum siap bicara."

"Sekarang dia bicara dan ceritanya nggak jelas!" Ibu meraih ponsel. "Kita tanya Mas Damar langsung."

"Jangan," kataku.

Terlambat. Panggilan video berdering. Mbak Laras menatap layar tanpa bergerak, jadi Ibu menekan panggilan suara biasa.

Damar menjawab pada dering ketiga.

"Assalamualaikum, Bu."

Suaranya tenang, jauh di Surabaya.

"Mas Damar, maaf sekali. Ada masalah di rumah." Ibu menatapku saat bicara. "Sekar bilang Mas pernah bersikap tidak pantas kepadanya."

Hening di seberang.

Aku menahan napas.

"Apakah Sekar di sana?" tanyanya.

"Ada."

"Jangan marahi dia."

Kalimat itu membuat para kerabat saling pandang. Ibu bahkan tampak terharu oleh kelapangan hatinya.

"Jadi Mas tidak melakukan apa-apa?"

"Saya tidak ingin membahas kondisi Sekar di depan banyak orang. Laras tahu akhir-akhir ini dia berada di bawah tekanan."

Ia tidak menjawab. Namun ia terdengar seperti orang baik yang melindungi perempuan yang baru saja memfitnahnya.

Mbak Laras akhirnya mengambil ponsel. "Mas, jawab saja. Pernah menyentuh Sekar atau tidak?"

"Tidak seperti yang dia pikirkan."

"Artinya apa?"

"Kita bicara nanti. Tolong tenangkan dia dulu."

Sambungan berakhir.

Ibu menurunkan ponsel dengan kemenangan di wajah. "Dengar? Bahkan setelah difitnah, dia masih melindungimu."

"Dia nggak menjawab!"

"Karena orang berkelas tidak membahas aib perempuan di telepon."

Mbak Laras memegang kepalanya. "Sekar, tolong. Katakan dengan jelas. Kamu yakin itu Mas Damar? Kamu melihat wajahnya?"

Aku melihat Damar saat fajar, bukan saat semua potongan terjadi. Aku mengenali aroma, suara, dan matanya. Aku yakin. Namun keyakinan tanpa satu adegan utuh tampak rapuh di hadapan wajah kakakku yang hancur.

"Aku..."

"Kamu mau pernikahan Mbakmu batal?" Ibu mendesak. "Kalau tuduhanmu menyebar, keluarga Wirajaya bisa menuntut. Siapa yang bayar pengacara? Ayahmu? Dengan uang apa?"

Pakdhe Warto mengangguk. "Pikirkan akibatnya."

"Kalau benar, kita tetap harus dengar," kata Ayah.

"Benar dari mana?" Ibu menangis lagi. "Anak ini tidak ingat, tidak punya bukti, tapi mau menghancurkan hidup kakaknya."

Mbak Laras menatapku. Tidak ada kebencian di matanya. Hanya luka dan permohonan agar aku memberinya satu alasan untuk tetap percaya pada masa depan yang sudah ia susun.

Tekanan dari semua arah menutup dadaku.

Aku memikirkan pekerjaan yang belum pasti, kamar yang masih milik Ibu, uang Ayah, dan keluarga besar yang sudah memberi namaku cap pembohong bahkan sebelum hari ini. Jika aku bertahan, aku harus menjelaskan semuanya. Aku harus membuka malam itu, dan mungkin tetap tidak dipercaya.

"Aku sedang marah," kataku.

Ayah menoleh tajam.

"Sekar, jangan."

Aku tak sanggup melihatnya.

"Aku marah kepada Ibu. Aku salah mengerti beberapa hal. Aku... mengucapkan sesuatu yang seharusnya nggak kukatakan."

"Jadi kamu bohong?" tanya Ibu.

Setiap wajah menunggu.

"Iya," bisikku. "Aku bohong. Maaf."

"Minta maaf kepada Mbakmu," perintah Ibu.

Aku mengangkat wajah. "Maaf, Mbak."

Mbak Laras tidak langsung menjawab. "Lihat aku, Sekar."

Aku memaksakan diri menatapnya.

"Kamu benar-benar mengarang semuanya? Mobil, hadiah, kamar di Surabaya?"

Aku ingin berkata bagian-bagian itu nyata. Bohongku hanya terletak pada kata iya yang baru keluar. Namun Ibu berdiri di belakangnya, para kerabat masih mendengar, dan nama Damar terasa seperti pisau di antara kami.

"Aku terlalu banyak berpikir," kataku.

Mbak Laras mengangguk perlahan. Sesuatu di matanya tertutup. "Baik."

Satu kata itu lebih dingin daripada kemarahan. Ia mengambil cincin yang tadi sempat dilepas saat menangis, memasangnya kembali, lalu berpindah duduk menjauh dariku.

Ibu menyuruhku menelepon Damar untuk meminta maaf. Ayah menolak dengan suara keras sebelum aku sempat menjawab. Pertengkaran baru hampir dimulai, tetapi Pakdhe Warto meminta semua orang berhenti demi nama keluarga.

Mbak Laras menutup mata. Budhe Sari mengembuskan napas lega. Pakdhe Warto berkata masalah ini tidak boleh keluar rumah. Ibu mulai menjelaskan bahwa ia sudah menduga semuanya hanya ledakan iri.

Ayah tidak berkata apa-apa.

Aku masuk kamar, mengunci pintu, lalu duduk di lantai sampai malam. Kebenaran yang baru saja keluar kutelan kembali dengan paksa. Rasanya lebih tajam saat masuk daripada ketika diucapkan.

Di luar, kerabat pulang satu per satu.

Langkah Ayah berhenti di depan pintuku.

Ia tidak mengetuk. Tidak menyuruhku membuka. Hanya berdiri lama di sana sore itu juga, bayangannya terlihat dari celah bawah pintu.

Orang lain percaya aku menarik kembali sebuah kebohongan.

Ayah tahu aku baru saja dipaksa menarik kembali kebenaran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!