Lima tahun menikah tanpa keturunan, Sekar dicap "mandul" oleh keluarga Danuwijaya yang terpandang. Puncaknya, sang suami—Rendra—membawa pulang Kirana yang tengah hamil, lalu menjadikannya istri kedua dengan alasan, *"Kamu tak bisa memberi keturunan, Sekar."*
Dipaksa menandatangani izin poligami, difitnah, dipermalukan di grup keluarga, bahkan pelayan setianya disingkirkan—Sekar akhirnya memilih pergi. Ia menggugat cerai, membawa apa yang menjadi haknya, dan berbalik dari keluarga yang selama ini menginjaknya.
Takdir mempertemukannya dengan Mayjen Arka Prawiranegara—jenderal berdarah dingin di medan, namun seorang duda yang lembut pada kedua anak angkatnya. Pria yang menyelamatkannya, membelanya di depan umum, dan berjanji: *"Seumur hidup, hanya kamu. Tak akan ada istri kedua."*
Lalu takdir menampar semua yang pernah menghinanya—**Sekar hamil. Kembar tiga.** Dan hasil pemeriksaan medis membongkar kebenaran yang selama ini dikubur: **yang mandul bukan Sekar… tapi Rendra.**
Saat namanya bersinar sebagai nyonya jenderal dan bunda dari tiga bayi, Rendra datang berlutut, memohon kembali. Sekar hanya tersenyum dingin, mengelus perutnya, dan berkata pelan:
*"Kamu yang dulu tak menghargai. Sekarang… kamu sudah tak pantas lagi, Mas Rendra."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6
Yang Difitnah
Tiga hari setelah Sekar menulis kata cerai, Tuti menemukan pintu kamarnya terbuka.
Ia berdiri di lorong pelayan sambil membawa nampan sarapan. Kunci masih tergantung pada tali di pinggangnya, tetapi daun pintu menganga selebar telapak tangan.
"Siapa yang masuk?" tanyanya.
Seorang pelayan dapur menggeleng cepat. "Saya tidak tahu. Sejak pagi saya di dapur."
Tuti meletakkan nampan dan memeriksa kamar sempit itu. Lemari tertutup. Tas pakaiannya berada di tempat biasa. Tidak ada barang yang tampak hilang.
Justru itulah yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Ia hendak mencari Sekar ketika suara gaduh datang dari dapur utama.
Yanti berteriak memanggil Wida.
"Bu! Tolong, Bu! Makanan Mbak Kirana berbau aneh!"
Tuti berlari ke dapur. Semangkuk bubur yang disiapkan untuk Kirana berada di atas meja. Yanti mengaduknya dengan sendok, lalu menunjukkan serbuk putih yang menggumpal di dasar mangkuk.
"Ini bukan dari dapur," katanya. "Saya melihat Tuti berdiri dekat nampan tadi."
"Aku hanya mengantar buah," bantah Tuti.
"Kamu juga yang membuat minumannya."
"Semua orang melihat aku membuatnya. Tidak ada serbuk apa pun."
Wida masuk bersama dua petugas keamanan rumah. Kirana menyusul pelan, satu tangan menahan perut dan satu lagi bertumpu pada lengan pelayan.
"Ada apa?" tanya Wida.
Yanti segera menjelaskan, menambahkan bahwa beberapa hari terakhir Tuti sering berbicara buruk tentang kehamilan Kirana. Kebohongan itu meluncur lancar seolah sudah dilatih.
"Panggil Sekar," perintah Wida. "Dan periksa kamar Tuti."
"Tidak boleh!" Tuti menghadang lorong. "Tidak ada yang boleh menggeledah barang saya tanpa alasan."
Salah satu petugas keamanan menyingkirkannya. Mereka baru masuk beberapa menit ketika seorang lelaki keluar membawa kotak beludru merah.
Wida membukanya.
Satu set perhiasan pusaka keluarga Danuwijaya berkilau di dalamnya.
Napas para pelayan tertahan serempak.
"Saya tidak pernah melihat itu," kata Tuti.
Yanti menutup mulut. "Bukankah itu kalung milik Eyang Sri yang hilang bulan lalu?"
"Pembohong! Kamu yang masuk ke kamarku. Pintunya sudah terbuka ketika aku kembali."
"Jangan menuduh tanpa bukti."
"Kamu juga menuduhku tanpa bukti!"
Sekar tiba saat Wida menampar Tuti.
Bunyi tamparan memantul di dinding dapur. Tuti terhuyung ke tepi meja, pipinya langsung merah.
"Berhenti!" Sekar menarik Tuti ke belakang tubuhnya. "Tidak ada yang boleh menyentuhnya lagi."
Wida mengangkat kotak perhiasan. "Asistenmu mencuri pusaka keluarga dan mencoba meracuni makanan Kirana. Masih mau membelanya?"
"Tuti menyimpan salinan dokumen penting untukku. Seseorang masuk ke kamarnya karena ingin mencari dokumen itu."
Mata Yanti bergerak sesaat. Sekar menangkapnya.
"Periksa rekaman kamera," lanjut Sekar. "Lorong ini punya CCTV."
"Kameranya mati sejak kemarin," jawab kepala keamanan terlalu cepat.
"Kebetulan sekali."
Sekar mengambil ponsel dan memotret mangkuk, kotak perhiasan, serta pintu kamar Tuti dari ambang lorong. Yanti bergerak hendak menutup kamera dengan tangan.
"Apa yang Mbak lakukan?"
"Mencatat apa yang kalian sebut bukti."
"Itu barang keluarga. Tidak boleh difoto sembarangan."
"Kalau begitu jangan sembarangan menaruhnya di kamar orang lain."
Wida menyuruh seorang pelayan mengambil ponsel tersebut, tetapi Sekar menyelipkannya ke balik bajunya. Foto-foto sudah terunggah otomatis ke penyimpanan daring. Ia tidak tahu siapa yang memasang jebakan, tetapi untuk pertama kali mereka tidak akan bisa menghapus seluruh jejak hanya dengan menyita sebuah benda.
Kirana memegang lengan Wida. "Sudahlah, Bu. Mungkin Tuti sedang tertekan. Jangan laporkan dia ke polisi. Saya takut masalahnya semakin besar."
"Mbak memang terlalu baik," sahut Yanti.
Sekar menoleh tajam. "Kalau kamu yakin ada percobaan meracuni makanan, polisi justru harus datang. Mangkuk itu harus diuji. Sidik jari diperiksa. Rekaman yang mati diselidiki."
Wida tersentak. "Kamu mau membawa polisi masuk dan mempermalukan keluarga sendiri?"
"Tadi Mama menyebut pencurian dan racun. Sekarang Mama takut perkara ini diperiksa?"
Kirana mendadak meringis dan memeluk perut. Semua perhatian berpindah kepadanya.
"Saya tidak mau ada keributan," katanya dengan napas pendek. "Usir saja Tuti. Setelah itu kita anggap selesai."
"Tidak," kata Sekar. "Dia tidak pergi sebelum namanya bersih."
Wida menatap dua petugas keamanan. "Bawa dia keluar."
Kedua lelaki itu meraih lengan Tuti.
Sekar menghalangi. "Rendra tahu soal ini?"
"Rendra sedang bekerja. Dia tidak perlu diganggu oleh urusan pelayan."
"Tuti bukan barang yang bisa dibuang."
"Kamu sendiri belum tentu tetap tinggal di rumah ini setelah terus menolak surat keluarga," balas Wida. "Jangan bertindak seolah kamu masih berkuasa."
Salah satu petugas memutar lengan Tuti ke belakang. Perempuan itu menjerit. Para pelayan lain menunduk, tidak satu pun berani bergerak.
"Saya tidak mencuri, Non," kata Tuti sambil menangis. "Demi Allah, saya tidak memasukkan apa pun ke makanan itu."
"Aku percaya."
Sekar mencoba menariknya, tetapi petugas keamanan mendorong bahunya. Punggung Sekar membentur lemari dapur. Beberapa mangkuk berguncang.
"Jangan sentuh Non Sekar!" Tuti meronta keras.
Dalam kekacauan itu, tangannya menyusup ke saku celemek, lalu mengepal sesuatu. Ketika Sekar kembali mendekat, Tuti menangkap jemarinya dan menekan benda kecil ke telapak tangannya.
"Simpan," bisiknya.
Sebuah blister obat yang sudah digunting, hanya menyisakan potongan kode produksi dan satu tablet, tersembunyi di genggaman Sekar.
"Ini apa?"
Tuti mendekatkan bibir ke telinganya. "Non, obat itu bukan..."
Petugas menariknya menjauh sebelum kalimatnya selesai.
"Bukan apa? Tuti!"
Tuti diseret melalui lorong belakang. Sandalnya terlepas satu. Sekar mengejar sampai halaman servis, sementara Wida memerintahkan para pelayan tetap bekerja dan menutup mulut.
Sebuah mobil gelap sudah menunggu di dekat pagar.
"Kalian mau membawanya ke mana?" Sekar memukul jendela ketika Tuti didorong masuk. "Kalau kalian menuduhnya melakukan kejahatan, bawa dia ke kantor polisi!"
Tidak ada jawaban. Pintu ditutup dan mobil melaju sebelum Sekar sempat membaca seluruh nomor pelatnya.
Ia hanya melihat dua angka terakhir.
Tuti menempelkan telapak tangannya ke kaca belakang. Wajahnya basah oleh air mata, semakin kecil bersama jarak, lalu hilang ketika mobil berbelok.
Sekar berdiri tanpa alas kaki di jalan servis. Napasnya membakar dada. Di belakang, pagar besi menutup dengan bunyi berat.
Ia menelepon Rendra.
Panggilan pertama ditolak.
Panggilan kedua tidak dijawab.
Pada panggilan ketiga, pesan singkat masuk.
`Aku rapat. Urusan rumah selesaikan dengan Mama.`
Sekar menatap layar sampai huruf-huruf itu kabur. Ia membalas dengan nomor pelat yang sempat dilihatnya dan mengetik bahwa Wida membawa Tuti pergi secara paksa.
Hanya tanda centang dua yang muncul.
Tidak ada jawaban.
Sekar kembali ke kamar dan mengunci pintu. Ia membuka kepalan tangan yang sejak tadi begitu erat hingga kukunya meninggalkan bekas setengah bulan pada kulit.
Potongan blister itu tergeletak di telapaknya.
Kode produksinya masih terbaca. Di bagian belakang ada bekas tulisan tangan dengan tinta biru, hanya dua huruf: `RD`.
Obat itu bukan apa?
Dan mengapa Tuti harus disingkirkan sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya?