NovelToon NovelToon
BERANDAL

BERANDAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Urban
Popularitas:668
Nilai: 5
Nama Author: Denis Suhendar

JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya

***

"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."

***

Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."

Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: INTRIK PELABUHAN BAWAH

Malam kembali menjemput kota dengan hawa dingin yang menusuk. Di kawasan pelabuhan bawah yang menjadi urat nadi logistik utama bagi kelangsungan faksi Black Cobra, deretan lampu sorot dermaga yang berukuran raksasa tampak memantulkan bayangan samar dari kapal-kapal barang yang sedang bersandar rapat. Suara gemuruh dari mesin derek kontainer yang beroperasi dan deburan ombak yang menghantam dinding pembatas semen menjadi latar belakang dari aktivitas malam yang biasanya berjalan dengan sangat teratur di bawah kendali penuh anak buah Eksan. Tempat ini bukan sekadar pelabuhan biasa, melainkan fondasi ekonomi yang menopang seluruh kekuatan Black Cobra di jalanan kota.

Namun, ketenangan malam itu tidak berlangsung lama. Sebuah mobil sedan tua dengan kaca gelap tanpa pelat nomor resmi tiba-tiba berhenti perlahan di dekat pos penjagaan pintu masuk pelabuhan. Seorang pria dengan masker hitam menutupi seluruh wajahnya turun dengan tergesa-gesa dari pintu kemudi, meletakkan sebuah bungkusan kain tebal berwarna gelap tepat di depan pintu pos, lalu kembali melompat masuk ke dalam mobil. Kendaraan misterius itu langsung melesat pergi menembus kegelapan malam sebelum anak buah Black Cobra yang berjaga sempat mengejar atau melepaskan tembakan peringatan.

Saat bungkusan kain tersebut dibuka oleh salah satu petugas jaga, isinya langsung membuat suasana di dalam pos tersebut berubah menjadi sangat tegang dan mencekam. Di dalam balutan kain itu terdapat sebuah radio panggil genggam yang masih dalam kondisi menyala aktif, memancarkan rekaman suara digital yang sengaja diputar berulang-ulang dengan volume yang cukup jelas: *"Operasi penyanderaan anak sekolah bernama Nasya di dalam gudang nomor empat berjalan lancar sesuai rencana awal. Pastikan posisi perimeter aman dari segala bentuk patroli wilayah barat."*

Tidak sampai lima belas menit setelah bungkusan berisi rekaman palsu itu ditemukan, raungan sirene dari belasan mobil patroli polisi mendadak terdengar bersahutan dari kejauhan, bergerak dengan kecepatan penuh membelah jalanan aspal pelabuhan yang semula sunyi. Lampu berwarna merah dan biru memotong keheningan malam, menjadi pertanda buruk bahwa armada kepolisian sektor barat tengah bergerak dalam skala besar-besaran menuju lokasi gudang nomor empat. Rencana licik yang disusun oleh Rian si Belut Jalanan kini telah resmi berjalan di atas papan catur jalanan kota.

Rangga yang saat itu sedang mengawasi proses bongkar muat barang di ujung dermaga langsung berlari cepat saat melihat jajaran lampu polisi mulai mengepung ketat area luar gudang nomor empat. Wajahnya yang biasanya sangar kini terlihat sangat panik dengan napas yang memburu cepat. Ia segera mengeluarkan ponsel pribadi dari saku jaket kulit hitamnya, lalu dengan jari yang gemetar langsung menghubungi jalur komunikasi darurat khusus yang terhubung langsung menuju penthouse mewah pusat bisnis tempat Eksan berada.

***

Sementara itu, di dalam kemewahan lantai tiga puluh penthouse yang senyap, getaran halus dari ponsel pintar milik Eksan yang terletak di atas meja kaca mewah akhirnya memecah keheningan malam yang sunyi. Eksan yang saat itu sedang duduk terdiam di tepi ranjang kamar utama sembari memperhatikan Nasya yang tertidur pulas karena kelelahan menangis, segera meraih ponselnya dengan satu gerakan cepat. Ia bangkit berdiri dan melangkah keluar kamar dengan sangat pelan, memastikan langkah kaki besarnya tidak mengejutkan atau membangunkan gadis yang kini menjadi pusat dari seluruh hidupnya tersebut.

"Ada masalah apa di bawah, Rangga?" tanya Eksan dengan suara rendah yang berat dan serak begitu tombol hijau di layar ponselnya ditekan.

"Bos, situasi di area pelabuhan bawah mendadak kacau total!" lapor Rangga dari ujung telepon dengan nada suara yang bergetar hebat karena cemas. "Seseorang yang tidak dikenal baru saja membocorkan informasi palsu kepada pihak kepolisian, mengatakan bahwa faksi kita sedang menyandera anak sekolah di dalam gudang nomor empat. Saat ini, lebih dari sepuluh mobil patroli polisi bersenjata lengkap sudah mengepung rapat area luar pelabuhan dan mereka memaksa untuk melakukan proses penggeledahan total ke seluruh sudut gudang."

Eksan menarik napas panjang yang berat, berusaha sekuat tenaga untuk menahan amarah yang mulai bergejolak panas di dalam dadanya. Mata elangnya yang pekat menatap tajam ke arah dinding kaca raksasa yang menampilkan keindahan kerlip lampu kota di bawah sana. "Polisi tidak akan menemukan apa pun terkait gadis itu di sana, karena saat ini Nasya aman berada di tempat ini bersamaku. Tapi, masalah utamanya adalah jika mereka nekat menggeledah seluruh isi gudang nomor empat, mereka akan menemukan jalur distribusi logistik ilegal milik faksi kita yang belum sempat dipindahkan."

"Benar sekali, Bos. Itu adalah hal yang paling saya khawatirkan sejak tadi. Jika seluruh jalur logistik dan barang dagangan kita disita oleh pihak berwajib malam ini, kekuatan ekonomi Black Cobra bisa lumpuh total dalam sekejap. Ini sudah pasti merupakan kerjaan kotor dari Rian si Belut Jalanan. Bajingan itu sengaja memanfaatkan kekuatan hukum polisi untuk memecah belah kekuatan pasukan kita," tambah Rangga lagi, menanti keputusan mutlak dari sang pemimpin.

Eksan terdiam sejenak selama beberapa detik, memikirkan setiap langkah taktis dan risiko yang harus diambil di dalam kepalanya yang dingin. Skenario jebakan yang dibuat oleh sub-faksi utara ini diakui memang sangat rapi dan menjebak. "Rangga, dengarkan perintahku baik-baik. Perintahkan Bara untuk segera membawa sebagian besar pasukan inti yang ada di markas barat untuk turun langsung ke pelabuhan bawah sekarang juga. Bantu anak-anak di sana untuk memindahkan seluruh dokumen penting dan barang logistik berharga melalui jalur transportasi air sebelum polisi berhasil menjebol paksa pintu besi gudang nomor empat. Ingat, jangan ada satu pun anak buah yang melakukan perlawanan fisik kepada petugas kepolisian. Kita harus menyelesaikan kekacauan ini dengan kepala dingin."

"Lalu bagaimana dengan sistem penjagaan di sekitar penthouse tempat Anda berada saat ini, Bos? Jika sebagian besar pasukan inti digeser untuk mengamankan pelabuhan bawah, penjagaan rahasia di wilayah pusat kota otomatis akan melemah secara drastis," tanya Rangga, menyuarakan kekhawatiran terbesar yang mengganjal di hatinya mengenai keselamatan sang ketua dan Nasya.

"Gedung apartemen elite ini memiliki sistem keamanan mandiri yang sangat ketat dan berlapis, Rangga. Hanya kau dan Bara yang mengetahui koordinat pasti dari lokasi tempat ini di pusat bisnis. Rian si Belut tidak akan pernah bisa melacak keberadaan tempat setinggi lantai tiga puluh ini dalam waktu yang sesingkat ini. Lakukan saja seluruh perintahku sekarang juga tanpa banyak bertanya lagi," kata Eksan dengan nada suara yang penuh dengan keyakinan mutlak dan tidak menerima penolakan sedikit pun.

Setelah sambungan telepon darurat itu terputus, Eksan kembali melangkah masuk dengan perlahan ke dalam kamar utama yang remang-remang. Ia berjalan mendekati sisi tempat tidur mewah, lalu duduk perlahan di tepi kasur sembari menatap dalam-dalam wajah damai Nasya yang sedang terlelap di balik selimut tebal. Rasa protektif dan posesif yang luar biasa besar kembali menyelimuti hatinya, menghapus seluruh rasa sakit akibat luka di perut kirinya. Tangan kanannya yang kasar bergerak mengusap lembut pipi mulus Nasya yang masih menyisakan jejak air mata kering dari kejadian siang tadi.

"Aku akan memastikan tidak akan ada satu pun kekacauan di bawah sana yang bisa naik ke atas sini dan mengusik tidur nyenyak, Nasya," bisik Eksan dengan suara yang teramat sangat pelan, berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menghancurkan siapa pun yang berani merencanakan hal buruk terhadap gadis yang telah menjadi miliknya tersebut.

Namun, di balik keyakinan besar dan rasa aman yang dirasakan oleh sang penguasa jalanan tersebut, jauh di dalam area basement gedung apartemen mewah tempat penthouse itu berada, sebuah mobil minibus berwarna putih yang tampak biasa dan tidak mencolok baru saja terparkir di sudut ruangan yang paling gelap. Di dalam kabin mobil yang remang-remang itu, Rian si Belut Jalanan sedang duduk di kursi penumpang sembari memegang sebuah alat pemindai sinyal radio frekuensi pendek berteknologi militer yang terus berkedip-kedip merah, menampilkan sebuah indikator akurat bahwa sebuah perangkat komunikasi tingkat tinggi baru saja aktif memancarkan sinyal dari area lantai teratas gedung pencakar langit tersebut.

Rian si Belut Jalanan mengulas sebuah senyuman penuh kemenangan, sebuah ekspresi kelicikan yang sangat menyeramkan terpancar jelas di wajahnya di tengah kegelapan malam. Jebakan yang ia pasang di kawasan pelabuhan bawah telah berhasil memancing Eksan untuk menggunakan jalur komunikasi darurat pribadinya, dan kini, lokasi sangkar emas tempat penyembunyian rahasia milik gadis bernama Nasya itu telah sepenuhnya terendus dan berada di dalam genggaman faksi utara.

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
semngat nulis nya k👍
Denis Suhendar: semangat ganbate 💪💪
total 1 replies
Rudik Irawan
sering² up Thor
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: mampir KA berikan ulasan agar aku bisa Berkembang
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!