Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*
Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".
Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9: Mohon Aku, Kalau Berani
"Pak Arya itu sepertinya tidak sesederhana rumor."
Bisikan di luar ruang rapat berhenti ketika pintu terbuka.
Arya keluar paling akhir bersama Anindya. Surya tetap berada di dalam dengan tim audit internal. Dua petugas keamanan dokumen sudah ditempatkan di pintu untuk memastikan tak ada berkas dipindahkan sebelum salinan digital dibuat.
Para manajer yang menunggu di lorong langsung berdiri.
"Selamat sore, Pak Arya. Bu Anindya."
Sapaan mereka terdengar berbeda sekarang. Bukan lagi kewajiban kepada suami direktur, melainkan kehati-hatian kepada orang yang baru menemukan lubang miliaran rupiah dalam satu kali baca.
Arya mengangkat tangan santai. "Jangan tegang. Saya tidak menggigit setiap hari."
Anindya terus berjalan. "Jangan membuat mereka percaya bahwa Anda hanya menggigit pada hari tertentu."
"Nah, sekarang mereka tahu direktur utama lebih berbahaya."
Beberapa staf menahan tawa. Anindya menekan tombol lift tanpa menoleh, tetapi Arya melihat pantulan sudut bibirnya di pintu logam.
Di basement PE, Bara telah menunggu di dekat sedan. Hujan sore memukul jalur keluar gedung dan membuat antrean kendaraan memanjang sampai gerbang.
"Laporan awal?" tanya Anindya sebelum masuk.
"Tim audit menemukan rekening vendor berbeda dari kontrak asli," jawab Bara setelah membaca pesan yang baru diteruskan sekretaris. "Mereka minta waktu sampai besok pagi."
Anindya menatapnya. "Anda sopir atau staf audit?"
"Hari ini saya sopir yang punya ponsel, Bu."
Arya masuk ke kursi belakang. "Jangan interogasi dia. Bara mudah gugup."
Bara yang tingginya hampir memenuhi bingkai pintu memandang Arya tanpa ekspresi. "Benar, Den. Saya hampir pingsan."
Untuk kedua kalinya hari itu, Anindya tampak ingin tersenyum tetapi menahannya.
Mobil bergerak keluar dari basement. Beberapa menit pertama hanya diisi bunyi wiper. Anindya membuka tablet dan memeriksa jadwal produksi, sementara Arya membaca pesan terenkripsi dari Kevin mengenai vendor bermasalah.
"Tiga hari lagi," kata Anindya tiba-tiba.
"Apa?"
"Sutradara Wira memberi waktu untuk melihat dua kandidat PE tiga hari setelah ulang tahunnya. Saya perlu Anda memastikan pertemuan itu benar-benar terjadi."
Arya mematikan layar ponsel. "Kenapa saya? Kamu sudah bicara langsung dengannya."
"Pak Wira menanggapi karena Anda ada di sana."
"Jadi kamu mengakui saya berguna?"
"Saya mengakui Anda kebetulan mengenal orang yang berguna."
"Perbedaan yang sangat penting."
Anindya menatap jalan di balik kaca. "Arya, ini soal dua artis baru yang kontraknya hampir habis. Kalau mereka tidak mendapat proyek, PE akan kehilangan mereka ke agensi lain."
"Saya paham."
"Kalau begitu bantu."
"Cara memintamu kurang tepat."
Tablet di tangan Anindya turun. "Apa maksud Anda?"
Arya menyandarkan kepala. "Mohon aku. Kalau berani."
Bara berdeham untuk menyembunyikan tawa.
Mata Anindya menyipit. "Anda ingin saya memohon?"
"Satu kata saja. Tolong. Tidak sulit."
"Saya bisa menghubungi Pak Wira sendiri."
"Silakan."
"Saya juga bisa meminta Wisnu."
"Om Wisnu," koreksi Arya. "Kita baru menikah, jangan langsung tidak sopan kepada mertua."
Anindya memejamkan mata sesaat. "Mas Arya, apakah semua percakapan dengan Anda harus menjadi permainan?"
"Tidak. Tadi di ruang rapat saya cukup serius."
"Dan setelah itu Anda kembali menyebalkan."
"Keseimbangan hidup."
Anindya mengunci tabletnya. "Saya serius. Dari mana Anda belajar membaca laporan konsolidasi?"
"Internet."
"Saya tidak bercanda. Kesalahan Surya disembunyikan di dua lampiran dengan kode akun berbeda. Bahkan auditor kami belum menandainya."
"Itu bukan kesalahan. Itu jejak."
"Anda yakin ada penyelewengan?"
"Saya yakin seseorang ingin pembayaran Rp8,4 miliar terlihat membosankan. Orang jujur biasanya tidak bekerja sekeras itu untuk membuat angka membosankan."
Anindya meneliti wajahnya. "Jadi Anda memang sengaja terlihat tidak mengerti di awal rapat."
"Kalau saya langsung bertanya, Surya akan menyiapkan jawaban. Dengan membiarkannya bicara, saya tahu bagian mana yang paling ingin ia lewatkan."
"Itu teknik interogasi."
"Itu teknik mendengarkan orang yang terlalu percaya diri."
Bara mengangkat alis melalui kaca spion. Ia tahu Arya menggunakan cara serupa ketika menghadapi informan di jalanan, tetapi cukup bijak untuk diam.
Anindya kembali membuka tablet dan mengirim instruksi agar akses Surya ke sistem pembayaran dibekukan sementara, bukan diputus permanen, sampai audit selesai. "Saya tidak suka cara Anda bermain."
"Tapi kamu memakai hasilnya."
"Saya memakai bukti. Jangan salah paham."
Kalimatnya dingin, namun kali ini tidak ada penghinaan di dalamnya. Arya baru beberapa jam memegang suara mayoritas, dan Anindya sudah berhenti memperlakukannya sebagai pajangan sepenuhnya.
Ponsel Arya bergetar. Nama Bella muncul pada layar, diikuti pesan singkat.
Cepat sekali dapat perempuan kaya. Jadi itu alasanmu melepaskan semua harta tanpa berpikir?
Arya membacanya sekali. Anindya tak sengaja melihat nama pengirim, tetapi segera mengalihkan pandangannya.
"Jawab saja kalau perlu," katanya datar.
"Tidak perlu."
Pesan kedua datang.
Aku kira kamu setidaknya jujur selama menikah denganku.
Arya mengetik balasan.
Maaf. Saya lupa menghapus nomormu.
Ia menekan kirim, memblokir kontak Bella, lalu menaruh ponsel di saku.
Di sebuah butik hadiah di pusat kota, Bella menatap balasan itu sampai wajahnya memerah. Ia membanting ponsel ke sofa kecil ruang tunggu.
"Ada apa lagi?" tanya Reno dari depan etalase.
"Tidak ada."
"Arya?"
Bella tidak menjawab. Reno melihat layar yang masih menyala dan mendengus.
"Lupakan dia. Besok malam gue ajak lo ke ulang tahun Sutradara Wira. Kita tunjukkan siapa yang punya jaringan sungguhan."
Bella menoleh. "Kamu kenal dekat dengan Pak Wira?"
Reno diam sepersekian detik terlalu lama. "Cukup dekat."
"Bukankah dia yang menyutradarai filmku?"
"Gue kenal banyak orang di industrinya. Jangan tanyakan detail kecil. Pilih hadiah yang mahal, nanti gue urus sisanya."
Bella memperhatikan cara Reno mengalihkan pandangan. Namun ia sedang terlalu marah pada balasan Arya untuk mengejar kebohongan itu.
Di dalam sedan, Anindya masih diam. Mobil terhenti di lampu merah. Hujan menipis, meninggalkan garis air pada jendela.
"Tentang Reno tadi," katanya, "saya sudah memperingatkan dia di Dukcapil. Kalau dia mencoba mengganggu urusan perusahaan atau pernikahan kita, beri tahu saya."
Arya menoleh. "Kamu melindungi suami di atas kertas?"
"Saya melindungi nama PE."
"Perbedaan yang sangat penting," balas Arya, mengembalikan kalimatnya.
Anindya menahan tatapan, lalu menghela napas.
"Baik. Tolong pastikan pertemuan dengan Pak Wira terjadi."
Arya tersenyum. "Ternyata kamu berani juga."
"Jangan membuat saya menyesal."
"Sudah terlambat."
Bara menatap mereka melalui kaca spion. "Tujuannya ke Puri atau kantor lagi?"
"Ke Puri," jawab Anindya.
"Ke toko kue dulu," kata Arya pada saat bersamaan.
Anindya mengerutkan dahi. "Untuk apa?"
"Saya berutang kepada Sasa. Tidak seperti orang tertentu, dia tahu cara meminta dengan sopan."
Bara memindahkan lajur menuju toko kue terdekat. Di belakang mereka, lampu gedung PE menyala satu demi satu, sementara tim audit mulai membuka lapisan pertama kebocoran.
Di tempat lain, Reno menyerahkan kartu kredit kepada kasir butik dan berkata kepada Bella, "Besok malam, Pak Wira akan menyambut kita sendiri."
Ia mengucapkannya dengan percaya diri.
Padahal nomor Sutradara Wira pun sudah lama tidak tersimpan di ponselnya.