Anya, seorang wanita biasa yang hidupnya tenang, terpaksa terjebak dalam kesepakatan berbahaya untuk menjadi tunangan palsu Kenji, Tuan Muda dari klan mafia paling ditakuti, selama enam bulan demi melunasi utang ayahnya.
Rencananya tampak sederhana, hanya perlu berpura-pura jatuh cinta di depan publik, namun Anya segera menyadari bahwa hidup di sisi Kenji berarti menghadapi dunia yang gelap dan mematikan, di mana pengkhianatan, pertumpahan darah, dan ancaman dari geng rival menjadi makanan sehari-hari.
Anya harus berjuang bertahan hidup di jaring kekejaman mafia sambil melawan perasaan terlarang yang mulai tumbuh untuk pria berbahaya yang hidupnya selalu berlumuran darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Klak.
"Kau punya waktu tiga detik untuk mengatakan kebenarannya sebelum lutut kirimu hancur, Toni," ancam Kenji datar.
"Satu."
Kenji mulai menghitung mundur tanpa keraguan sedikit pun.
"Dua."
Toni langsung jatuh berlutut di lantai sambil menangis memohon ampun.
Bruk.
"Ampun Tuan Muda! Ampun! Saya akan memberitahu semuanya!" teriak Toni panik setengah mati.
Anya menyilangkan kedua tangannya di depan dada menatap jijik pada pria penakut di bawahnya ini.
"Cepat katakan, jangan membuang waktuku," desak Anya dingin.
Toni menyeka keringat di dahinya dengan tangan yang masih gemetar.
"Ayah Anda memang tidak pernah berutang lima ratus juta pada kami, Nyonya."
Toni menelan ludahnya sejenak sebelum melanjutkan pengakuannya.
"Dua bulan lalu, ada sekelompok orang asing berjas hitam rapi datang menemui Bos Rudi."
"Orang-orang asing dari mana?" potong Anya cepat.
"Saya tidak tahu asal mereka, tapi mereka berbicara dengan logat asing dan membawa koper berisi uang tunai miliaran rupiah."
Toni menatap Anya dengan pandangan memelas.
"Mereka membayar Bos Rudi untuk menculik ayah Anda secara diam-diam dan membuat skenario utang palsu."
Anya mengerutkan keningnya mendengar penjelasan yang sangat janggal tersebut.
"Kenapa mereka mau repot-repot membayar mahal hanya untuk menculik seorang pengangguran?" tanya Anya heran.
"Ayah Anda bukan pengangguran biasa, Nyonya."
Toni menunjuk ke arah foto di atas meja dengan jari telunjuknya yang bergetar.
"Orang-orang berjas hitam itu bilang ayah Anda adalah seorang mantan peneliti genetika yang sangat jenius."
Jantung Anya seakan berhenti berdetak seketika mendengar fakta mengejutkan itu.
Peneliti genetika.
"Mereka bilang hanya ayah Anda yang bisa menyempurnakan sebuah formula rahasia yang mereka sebut Proyek Chimera."
Penjelasan Toni barusan langsung menjawab semua pertanyaan aneh dari sistem sore tadi.
Ayahnya bukan sekadar penjudi, dia adalah bagian penting dari konspirasi gila ini.
"Lalu ke mana mereka membawa ayahku setelah penculikan itu?" desak Anya lagi dengan nada tidak sabar.
"Saya hanya mengantar ayah Anda sampai ke titik penjemputan di ujung kota, Nyonya."
Toni merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah buku catatan kecil berwarna hitam.
"Ini buku catatan Bos Rudi, ada alamat pabrik farmasi tua yang menjadi titik penjemputan itu tertulis di sana."
Toni meletakkan buku catatan itu di atas meja dengan sangat hati-hati.
Anya langsung mengambil buku catatan itu dan membukanya dengan cepat.
Srek. Srek.
Matanya dengan mudah menemukan alamat yang dimaksud pada halaman terakhir buku tersebut.
Sebuah alamat pabrik obat-obatan terbengkalai di kawasan industri utara yang sudah lama ditutup.
"Hanya itu yang saya tahu, Nyonya Anya, sumpah demi Tuhan saya tidak berbohong," tangis Toni.
Anya menutup buku catatan itu dan memasukkannya ke dalam tas kecilnya.
"Kerja bagus, Toni," ucap Anya dengan nada suara yang kembali datar.
Anya berbalik dan berjalan menghampiri Kenji yang masih duduk santai di sofa.
"Kita sudah mendapatkan apa yang kita cari, ayo kita pergi dari tempat menjijikkan ini," ucap Anya.
Kenji tersenyum tipis lalu memasukkan kembali pistolnya ke balik jas.
Pria itu berdiri dan merangkul pinggang Anya dengan sangat posesif.
"Kau dengar itu, Toni?" ucap Kenji tanpa menoleh ke arah pria yang masih berlutut di lantai.
"Jika aku mendengar kau membocorkan kedatangan kami hari ini pada siapa pun."
Kenji menghentikan langkahnya sejenak tepat di ambang pintu ganda ruang VIP.
"Aku akan memastikan lidahmu dipotong dan dijadikan makanan anjing peliharaanku."
Toni langsung mengangguk kuat-kuat sambil terus menangis tersedu-sedu.
"S-saya mengerti Tuan Muda, saya tidak akan bicara sepatah kata pun!"
Kenji dan Anya melangkah keluar dari ruang VIP itu dan berjalan menyusuri lorong kasino kembali.
Tidak ada satu pun penjaga yang berani menghalangi atau bahkan menatap mata mereka berdua saat mereka lewat.
Sesampainya di dalam mobil limosin, Anya langsung menyandarkan punggungnya di kursi dengan lemas.
Hah.
Gadis itu menghela napas panjang seolah baru saja menyelesaikan lari maraton yang melelahkan.
"Aktingmu sebagai Ratu mafia yang kejam tadi sangat memukau, Anya," puji Kenji sambil tersenyum geli.
"Itu bukan akting seutuhnya, Kenji."
Anya menoleh dan menatap wajah pria di sebelahnya dengan pandangan sedih.
"Aku benar-benar marah mengetahui bahwa penderitaanku dan ibuku selama ini hanyalah sebuah skenario buatan."
Kenji menarik kepala Anya dan menyandarkannya ke dada bidangnya.
Grep.
Tangan besar Kenji mengusap rambut panjang gadis itu dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.
"Kita akan mencari ayahmu di pabrik tua itu besok malam," janji Kenji dengan suara rendah.
"Bagaimana jika ayahku ternyata bukan korban, Kenji?" bisik Anya mengutarakan ketakutan terbesarnya.
"Bagaimana jika dia sebenarnya rela bekerja untuk orang-orang jahat itu demi uang?"
Kenji mengecup dahi Anya sekilas sebelum menjawab.
"Jika dia korban, kita akan membawanya pulang dengan selamat."
Tatapan mata Kenji berubah menjadi sangat gelap dan mematikan.
"Tapi jika dia adalah bagian dari musuh yang mengancam nyawamu."
Kenji mempererat pelukannya pada tubuh Anya.
"Maka aku sendiri yang akan menghabisi ayah kandungmu itu, Anya."
Ucapan Kenji barusan terdengar sangat kejam, namun anehnya Anya tidak merasa marah sama sekali.
Dia tahu pria ini mengatakan hal itu murni karena ingin melindunginya dari segala bentuk bahaya.
[Misi Arc 3 Tahap Satu Selesai: Mendapatkan petunjuk lokasi Proyek Chimera.]
[Hadiah: Poin Kecerdasan bertambah. Reputasi di dunia bawah tanah meningkat.]
Anya memejamkan matanya rapat-rapat di dalam pelukan hangat Kenji.
Besok malam, dia akan menghadapi kebenaran dari masa lalu keluarganya di pabrik farmasi tua itu.
Dan apa pun kenyataan yang akan dia temukan di sana, Anya sudah siap untuk menerimanya.