NovelToon NovelToon
TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

TOLONG SELESAIKAN URUSANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Misteri / Mata Batin
Popularitas:265
Nilai: 5
Nama Author: diana mainur

Rhea adalah seorang pengacara muda idealis yang harus menelan pahitnya kehidupan setelah di-PHK secara sepihak dari firma hukum ternama. Musibah Rhea tak berhenti di situ, sore setelah pemecatannya, dia mengalami kecelakaan lalu lintas parah yang membuatnya koma selama hampir sebulan. Tak ingin menyerah pada nasib, Rhea bangkit dari keterpurukannya. Menggunakan sisa uang pesangon yang pas-pasan, dia nekat mendirikan biro bantuan hukum mandiri di sebuah ruko kecil daerah Tebet bersama Zora, sahabat karibnya yang selalu setia mendampingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diana mainur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Teror di Balik Kemudi

Ruang kerja Rayven terhenyak dalam keheningan yang janggal. Di balik meja kayu jati hitamnya, Rayven melonggarkan ikatan dasinya kasar. Pria itu menyandarkan punggung, memijit pelipisnya yang berdenyut parah. 

Sejak keberangkatan Rika dan Fadel beberapa jam lalu dari kantornya, ada rasa ganjil yang mengendap kental di benak Rayven. Sebagai pengacara dengan reputasi tanpa cela yang selalu menang di meja hijau, insting bisnisnya sangat tajam. 

Dokumen hibah dan surat wasiat Pak Bambang yang disodorkan Rika memang tampak sempurna tanpa cacat di atas kertas. Namun, gestur berlebihan Rika dan tatapan penuh prasangka dari Fadel memicu alarm kewaspadaan dalam kepalanya. 

Rayven melemparkan map berkas ke atas meja kerjanya. Bunyi plak!  bergema kencang di dalam ruangannya yang luas. 

"Masih belum beres juga, Mas?" tegur sekretarisnya yang berdiri di depan pintu. 

"Belum. Klien yang datang tadi. Ibu dan anak itu,  ada yang nggak beres sama mereka," sahut Rayven dingin. 

"Maksud Mas Rayven surat wasiat Restoran Restu Ibu tadi? 

" Iya. Kertasnya legal, stempelnya juga sah. Tapi tatapan mata Fadel waktu ngomongin Bima, anak kandung almarhum... itu bukan tatapan orang yang jujur." Rayven menyambar kunci mobilnya di meja. "Sepertinya saya harus ke restorannya malam ini."

"Malam ini, Mas? Perlu saya panggilkan sopir? 

"Gak usah. Saya mau pergi sendiri aja. Saya mau lihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi di sana," tolak Rayven lalu pergi. 

Rayven melangkah keluar dari gedung kantornya. Dia mengendarai mobil sedan hitam mewahnya sendiri menyusuri jalanan kota Jakarta untuk menjernihkan pikirannya yang lelah. 

Mobil sedan Rayven membelah jalanan daerah Tebet yang mulai agak senggang. Namun, saat kendaraanya melintas di sebuah persimpangan jalan tak jauh dari kawasan ruko perbelanjaan, sebuah kilatan cahaya dan gangguan tak terduga terjadi. 

Lampu depan mobilnya mendadak berkedip-kedip redup. Sistem navigasi digital di dashboard mobilnya mendadak menguji error dengan suara berdering nyaring, dan suhu di dalam kabin mobil ber-AC mendadak anjlok drastis hingga meniupkan hawa membekukan yang tak masuk akal. 

Rayven mengerutkan dahinya tajam, memegang kemudi dengan erat. "Ada apa dengan sistem mobil ini?"

Tepat saat Rayven mencoba memperlambat laju kendaraanya, di kaca spion tengah mobilnya Rayven melihat pantulan sesuatu yang membuat mata tajamnya membelalak seketika. 

Di jok belakang mobilnya yang seharusnya kosong, duduk sesosok pria tua bertubuh tambun dengan celemek koki berdarah dan wajah pucat keabuan. 

Arwah itu menatap belakang kepala Rayven, sebelum akhirnya bayangan ghaib itu menghilang mendadak, membuat Rayven yang kaget refleks membanting setir ke kiri. 

Ban sedan hitam itu mencicit nyaring di atas aspal dan menabrak pohon tepat di depan sebuah ruko dengan plang kuningan terpapar sinar lampu jalan. 

Rayven terbatuk-batuk menahan sakit di dadanya akibat airbag. Dengan napas memburu, ia keluar dari mobil dan langsung menengok ke jok belakang lewat jendela yang pecah 

"Astaga! Suara apa itu?" Zora menjerit kaget. 

Rhea yang baru saja terbangun dari mimpi buruk tentang pembunuhan Pak Bambang masih memegang dadanya yang berdenyut kencang. Napasnya tersengal, keringat dingin membasahi pipinya. 

Namun, rasa penasaran mengalahkan rasa ngerinya. Rhea perlahan berdiri dari sofa menuntun Zora mendekat ke depan ruko yang kacau. 

Seorang pria tinggi tegap berjas abu-abu gelap melangkah keluar dengan sedikit sempoyongan. Dasinya agak miring, dan rambutnya yang biasa rapi kini sedikit berantakan. 

"Rhe, lihat deh. Itu... bukannya Rayven si pengacara yang nabrak lu waktu itu," Zora menepuk lengan Rhea kencang. 

Rhea memicingkan matanya. Benar, pria di luar itu adalah Rayven Mahesa. 

Ketiganya saling tatap dalam keheranan. Zora heran melihat mobil mewah itu hancur di depan ruko mereka. Rhea heran mengapa Rayven berasa di sana setelah bayangan pembunuhan Pak Bambang baru saja melintas di pikirannya, sementara Rayven masih tertegun dengan teror ghaib yang baru saja dialaminya di dalam mobil. 

"Rayven," panggil Zora. 

Rayven menoleh dan membetulkan posisi jasnya, berusaha kelihatan tenang meski napasnya masih agak memburu dan mukanya pucat. 

"Kamu nggak apa-apa?" panggil Rhea melangkah mendekat. 

"Rhea... Zora," suara Rayven terdengar sedikit parau. 

Rayven menghela napas pelan lalu dipersilakan duduk di kursi tamu. 

"Kamu dari mana memangnya Rayven?" tanya Rhea. 

"Hmm saya dari kantor. Tadi rencananya saya mau ke daerah Tebet, buat ngecek Restoran Restu Ibu," jawab Rayven dengan napas pelan. 

Rhea yang tadinya mau ambilkan minum untuk Rayven langsung berhenti melangkah. "Restoran Restu Ibu?"

Rayven mendongak menyadari perubahan nada suara Rhea. "Iya, kenapa?"

"Ada urusan apa kamu kesana?" tanya Rhea cepat. 

"Siang tadi ada klien yang datang ke kantor saya, istri almarhum pemilik restoran itu. Mereka minta saya urus balik nama seluruh aset restoran ke nama mereka. Tapi saya merasa ada yang nggak beres sama mereka. Makanya malam ini saya mau cek langsung ke lokasinya," jelas Rayven dengan lugas

Rhea diam sejenak dan saling tatap sama Zora. 

"Lalu kenapa kamu menabrak pohon dan trotoar sampai kaca kantor kami ikutan pecah," cecar Zora. 

Rayven agak ragu cerita bagian ini, tapi karena kepalanya masih pening dia ngomong jujur aja. 

"Sebelumnya saya minta maaf untuk kerusakan dan ketidaknyamanan ini. Semua biaya renovasi nanti akan ditanggung penuh sama tim saya besok," Rayven merogoh dompet kulitnya dan mengeluarkan kartu namanya di meja. 

"Sebenarnya... pas di jalan tadi mobil saya mendadak eror sistem. Terus pas saya lirik ke spion tengah saya lihat bayangan orang tua pakai baju koki berdarah di jok belakang. Karena kaget, refleks banting setir," lanjut Rayven

Zora langsung merinding pelan mendengar cerita itu, sementara Rhea melangkah mendekati meja Rayven. 

"Itu, bukan cuma bayangan Rayven. Itu Pak Bambang pemilik restorannya," kata Rhea pelan tapi tegas. 

Rayven mengerutkan dahinya. "Kamu tahu dari mana?"

"Pak Bambang itu gak meninggal karena sakit jantung biasa. Dia dibunuh," ujar Rhea. 

"Dibunuh?" tatap Rayven tajam. 

"Mereka memaksa Pak Bambang buat menandatangani surat wasiat itu sebelum meninggal," potong Rhea dingin. 

"Anak kandungnya, Bima. Sekarang dia cuma dijadikan pembantu di dapur itu tanpa tahu hak nya diambil. Kalau kamu terusin urus berkas itu, kamu sama aja ngebantu pembunuh itu," tambah Rhea. 

Ruangan ruko hening beberapa saat. 

Rayven menyandarkan punggungnya di kursi, memikirkan ucapan Rhea. Sebagai pengacara dia tahu fakta yang disebutkan Rhea terlalu spesifik untuk sekadar tebakan acak. Logika hukumnya mulai terhubung dengan kejanggalan dokumen Rika. 

Bzzzt.. 

Dari balik pintu kaca yang retak di luar hawa dingin merayap makin pekat. Di bawah pendar lampu jalanan yang remang, sesosok pria bertato di lengannya, Rudi, berdiri mematung dari kejauhan menatap lurus ke arah Rhea dan Rayven di dalam ruko. 

1
Dwi rohma irjani
laannjuutt..👍
Eka P
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!