Valentina Mahendra Arini terbiasa mengendalikan segalanya. Di menara kendali, suaranya menentukan hidup ratusan penumpang. Di luar sana, hidupnya justru nyaris runtuh: mantan kekasih yang merendahkannya, saudari tiri yang memanipulasi, dan ayah yang memakai ibunya yang koma serta neneknya sebagai alat ancaman.
Malam ketika ia ingin melupakan semuanya, Val bertemu kembali dengan Sebastian Bara, rival masa SMA yang dulu paling ia benci. Satu malam yang seharusnya menjadi kesalahan berubah menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit ketika Val mengetahui Sebastian adalah kapten di maskapai yang setiap hari ia pandu dari menara.
Sebastian tidak menawarkan janji manis. Ia hanya muncul, diam-diam menjaga, dan menolak membiarkan Val mengubah luka-lukanya menjadi hal yang bisa dibeli atau disangkal. Di antara frekuensi radio, jadwal penerbangan, rahasia keluarga, dan bahaya yang makin dekat, Val harus memutuskan apakah kendali berarti bertahan sendirian, atau berani membiarkan seseorang berdiri di sisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VivianMansano, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Bab 1: Kesalahan Semalam
Val.
Tiga gelas tequila.
Sebanyak itu yang sudah kutenggak saat kulihat dia masuk.
Atau empat. Aku tidak tahu lagi. Setelah gelas kedua, aku berhenti menghitung karena suara Lukian terus berputar di kepalaku.
"Kamu gila, Valentina. Dari dulu memang begitu."
"Tidak ada yang akan tahan denganmu. Tanpa aku, kamu bukan apa-apa."
Kuteguk sisa minuman di gelas dalam sekali habis. Panasnya membakar. Bagus. Aku lebih memilih rasa itu daripada terus merasakan penghinaan yang menempel di tenggorokan, seperti sesuatu yang tidak bisa kutelan ataupun kumuntahkan.
Bar Penerbangan Malam. Kamis. Setengah kosong. Aku tidak peduli. Satu-satunya yang kuinginkan hanya mabuk sampai wajah Lukian terhapus dari ingatanku, bersama tangkapan layar yang dikirim Kamila kepadaku.
"Tambah satu," kataku kepada bartender, menghantamkan gelas ke meja bar.
Dia menuangkannya tanpa bertanya. Bagus.
Tiga tahun bersama Lukian Reyhan. Tiga tahun bersama pria yang tidak bisa disebut baik, tapi juga tidak benar-benar jahat. Dia hanya kosong. Seperti furnitur mahal yang berdiri di sana sampai kau terbiasa dengan keberadaannya.
Tapi hari ini aku tahu furnitur itu bisa bicara buruk tentangku di belakang.
Kamila, adik tiriku, memasukkanku ke grup WhatsApp teman-teman Lukian. Dua menit. Itu cukup untuk membaca semuanya.
"Si Valentina itu makin kacau kepalanya, ya? Kemarin dia sampai nangis cuma karena nasinya gosong. Menurutku dia beneran butuh rumah sakit jiwa."
"Hahaha terus kenapa lo masih sama dia, bro?"
"Ya tahulah, dia itu Mahendra. Kalau gue tinggalin, si tua bisa cabut kontraknya."
"Oh, jadi lo sama dia karena duit papanya?"
"Anggap saja satu paket: si gila sudah termasuk tanda tangan. Lagian dia juga nggak jelek-jelek amat, masih ada yang bisa dimanfaatkan hahaha."
Kamila mengeluarkanku dari grup sebelum aku sempat menulis apa pun. Setelah itu, dia menelepon dengan suara manisnya yang berbisa.
"Aduh, maaf ya, adikku. Aku nggak tahu mereka bakal masukin kamu. Parah banget yang Lukian bilang, kan?"
Dia melakukannya dengan sengaja. Seperti semua hal yang dia lakukan. Tapi itu sudah tidak penting. Yang penting adalah kata-kata dalam gelembung abu-abu itu, kata-kata yang kulihat setiap kali aku memejamkan mata.
Gila. Paket. Masih ada yang bisa dimanfaatkan.
Kuangkat gelasku.
"Untuk para pria jujur," aku bersulang sendirian. "Tiga orang yang ada di dunia ini, dan tidak satu pun jatuh ke tanganku."
"Empat, kalau aku dihitung."
Suara itu. Aku akan mengenalinya di mana pun. Mabuk, sadar, bahkan di tengah gempa sekalipun. Ada suara yang masuk ke tubuhmu dan tinggal di sana, bukan di tempat bernama ingatan, melainkan lebih rendah, lebih liar.
Aku berputar di kursi bar.
Sebastian Bara.
Tidak mungkin. Dari semua bar di kota ini, teman sebangkuku saat SMA, pria paling arogan, paling menyebalkan, dan paling tidak masuk akal tampannya yang pernah kukenal, berdiri setengah meter dariku dengan jaket kulit hitam dan senyum brengsek yang sama seperti saat dia berumur tujuh belas tahun.
"Mahendra?" Dia mengenaliku. Keterkejutan itu hanya bertahan dua detik sebelum berubah menjadi geli. "Valentina Mahendra. Jangan bercanda."
"Bara." Kuucapkan nama belakangnya seperti umpatan.
"Kamu minum sendirian pada Kamis malam?" Dia duduk di sampingku tanpa minta izin. Memang begitu dirinya. Sebastian Bara tidak pernah meminta izin untuk masuk ke ruang seseorang. "Ini baru. Valentina yang kuingat dulu bahkan tidak minum air soda."
"Valentina itu masih tujuh belas tahun. Banyak yang sudah terjadi."
"Kelihatan," katanya, lalu matanya menyusuri tubuhku dengan cara yang terasa langsung di kulit.
Aku balas menatapnya karena aku bukan pengecut. Dia bukan lagi anak tinggi kurus yang selalu merebut peringkat pertama dariku saat ujian. Tubuhnya lebih bidang, rahangnya lebih keras, tatapannya lebih gelap. Ada sesuatu pada dirinya yang dulu belum ada. Atau aku yang terlalu muda untuk menyadarinya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyaku. Bartender meletakkan segelas wiski di depannya tanpa diminta, dan itu memberitahuku bahwa dia sering datang.
"Istirahat di antara jadwal terbang." Dia mengangkat gelas ke bibir. "Kamu? Merayakan sesuatu atau sedang menenggelamkan diri?"
"Yang kedua."
"Pacarmu?"
Aku tidak menjawab. Diamku sudah mengatakan semuanya.
"Aku mengerti," katanya, dan untuk pertama kalinya, kesombongan itu turun dari suaranya. "Kadang kamu butuh tempat di mana tidak ada yang mengenalmu."
"Kamu mengenalku."
"Tidak." Dia menatap mataku, dan sesuatu di udara berubah. "Aku mengenalmu. Sepuluh tahun lalu. Perempuan yang sekarang ada di depanku belum kukenal."
"Lebih baik begitu. Kamu tidak akan menyukaiku."
"Dulu pun aku tidak menyukaimu, tapi tetap saja aku tidak bisa berhenti memandangimu."
Panas naik ke wajahku. Entah karena tequila, entah karena ucapannya. Aku menatapnya, menunggu sarkasme, menunggu ejekan. Tapi matanya serius.
Kami tetap begitu. Saling menatap. Sepuluh tahun terbentang di antara kami, tetapi berdiri di hadapannya terasa seperti sesuatu yang dikenali tubuhku, sekalipun kepalaku berkata tidak.
Aku tidak tahu siapa yang lebih dulu mendekat. Aku mabuk dan tidak punya saringan. Dia tidak pernah termasuk orang yang menunggu.
Yang kutahu, saat kami berciuman, itu tidak indah. Itu benturan. Dia terasa seperti wiski, aku seperti tequila dan keputusan-keputusan yang kelak kusesali. Dia memegangi wajahku dengan kedua tangan dan menciumku seolah ada sepuluh tahun hasrat yang tertahan, dan aku membalasnya dengan kekuatan yang sama karena saat itu aku tidak peduli pada apa pun: Lukian, Kamila, ayahku, seluruh hidupku.
"Ini ide yang sangat buruk," kataku di bibirnya.
"Sangat buruk," katanya, lalu meremas pinggangku.
"Aku membencimu, Bara."
"Aku tahu, Mahendra."
Dan kami meninggalkan bar.
Hotel itu dua blok dari sana. Kami tidak bicara di jalan. Tangannya berada di punggung bawahku, dan panas jari-jarinya terasa menembus kain, seakan membakar kulitku.
Pintu kamar baru saja tertutup ketika dia sudah menahanku ke dinding. Dia menciumi leherku, rahangku, titik di belakang telinga yang membuat lututku lemas. Tangannya menjelajahi tubuhku dari atas pakaian, pinggang, pinggul, naik menyusuri sisi tubuhku, dan di setiap tempat yang disentuhnya, kulitku menyala.
"Tunggu," kataku, tapi tanganku sudah melepas jaketnya.
"Kamu mau aku berhenti?" Bibirnya berada di tulang selangkaku. Suaranya bergetar di kulitku.
"Tidak."
Dia menarik blusku melewati kepala. Lalu menatapku. Tidak ada seorang pun yang pernah menatapku seperti itu, bukan seperti Lukian yang menatapku seperti orang memeriksa barang belian. Seb menatapku seolah sedang menghafal setiap sentimeter diriku.
"Berhenti menatapku seperti itu," gumamku.
"Seperti apa?"
"Seperti itu."
Dia tidak berhenti menatap. Ibu jarinya menyusuri bibirku pelan, dan gerakan itu begitu intim sampai aku merasa lebih telanjang oleh sentuhan itu daripada oleh tubuhku yang hanya separuh berpakaian di depannya.
Aku melepas kemejanya. Dadanya keras, kulitnya panas, ada bekas luka kecil di bawah rusuknya yang ingin kusentuh, dan kusentuh. Dia memejamkan mata sesaat ketika jariku melewatinya, seolah rasanya sakit, tapi bukan karena nyeri.
Dia mengangkatku. Semudah itu, seakan aku tidak berbobot. Kakiku melingkar di pinggangnya secara naluriah, dan dia membawaku ke ranjang tanpa berhenti menciumku. Kasur menyambut punggungku, dan berat tubuhnya di atasku menguras udara dari paru-paruku.
Dia tidak terburu-buru. Itu yang paling menghancurkan pertahananku. Lukian selalu tergesa, seolah seks hanya satu kotak lagi yang harus dicentang dalam daftar urusannya. Seb tidak. Seb mencium perutku, lekuk pinggulku, bagian dalam pahaku, dan setiap ciuman terasa lambat, basah, disengaja. Seolah dia sedang mempelajari tubuhku dengan mulutnya.
"Bara," kataku, dan suaraku sudah tidak terdengar seperti milikku. "Cepat."
"Tidak."
"Aku membencimu."
"Kamu sudah bilang."
Mulutnya turun lebih jauh dan aku berhenti bicara.
Ketika akhirnya dia berada di dalamku, suara yang keluar dari tenggorokanku adalah suara yang tidak kukira bisa kubuat. Dia membungkam mulutku dengan bibirnya dan mulai bergerak pelan, terlalu pelan, sampai aku menancapkan kuku ke punggungnya dan berbisik di telinganya agar berhenti menyiksaku.
Dia tidak berhenti menyiksaku. Dia mengubah ritme hanya ketika dia mau, dan setiap kali aku nyaris mencapai puncak, dia berhenti, menatapku dengan mata gelap itu, lalu memulai lagi. Seolah dia tahu persis di mana batasku dan menikmati membawaku sampai ke sana sebelum mundur kembali.
"Kamu bajingan," kataku, dan dia tertawa di leherku.
Ketika dia akhirnya membiarkanku selesai, seluruh tubuhku ikut runtuh. Aku melengkung ke arahnya, memejamkan mata kuat-kuat, mencengkeram bahunya, dan merasakan sesuatu di dalam diriku pecah, sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan seks. Lebih besar dari itu. Seperti melepaskan beban yang sudah lama kupikul.
Dia menyusul kemudian, wajahnya tenggelam di leherku, napasnya berat, mengatakan sesuatu yang tidak sempat kudengar, tapi kurasakan di kulitku seperti tanda.
Kami tetap begitu. Berkeringat, terengah, saling terbelit. Ibu jarinya membuat lingkaran kecil di pinggulku, sementara wajahku menempel di dadanya, mendengarkan detak jantungnya perlahan kembali normal.
Kami tidak bicara. Tidak perlu.
Aku tertidur tanpa sadar. Dan hal terakhir yang kucatat adalah bibirnya di rambutku dan lengannya yang mengerat di tubuhku, seolah seseorang bisa datang untuk mengambilku.
Aku terbangun dengan sinar matahari di wajah.
Semuanya sakit. Kepalaku, tubuhku, bagian-bagian yang tidak kutahu bisa terasa seperti itu. Mulutku terasa seperti penyesalan bercampur tequila.
Aku menoleh. Ranjang kosong. Hanya ada jejak tubuhnya di bantal. Dan selembar catatan di meja samping ranjang.
Nomor telepon dengan tulisan tegas. Tulisan tangan yang sama seperti saat SMA. Di bawahnya, satu kalimat:
"Untuk saat kamu berhenti membohongi dirimu sendiri. - S."
Aku menatapnya lima detik.
Lalu kucabik-cabik catatan itu, berpakaian dengan sisa harga diri yang kumiliki, dan keluar dari sana tanpa menoleh.
Itu hanya satu malam. Tequila yang bersalah. Aku korbannya. Titik.
Aku tidak akan meneleponnya. Tidak akan mencarinya. Sebastian Bara adalah kesalahan semalam, dan aku tidak mengulangi kesalahan.
Atau begitulah yang kupikirkan.
Di parkiran hotel, ponselku bergetar. Lukian.
"Sayang, kamu pergi tanpa bilang apa-apa. Kita bisa bicara? Aku mencintaimu."
Kubaca. Aku tertawa. Kuhapus.
Kunyalakan mobil dan melaju ke bandara. Aku harus bekerja. Duduk di menara kendali dan berpura-pura hidupku tidak sedang runtuh berkeping-keping.
Tapi sepanjang perjalanan, suaranya tetap ada.
"Dulu pun aku tidak menyukaimu, tapi tetap saja aku tidak bisa berhenti memandangimu."
Dasar bajingan tolol.