Seorang Ceo yang merahasiakan pernikahannya dengan wanita yang di cintainya. Semua itu di lakukan karena keinginan sang istri. Sang istri ingin membuktikan diri ke keluarganya jika ia mampu berdiri sendiri. Bukan tanpa alasan, semua itu terjadi karena selama ini. Sang istri selalu mendapatkan perlakuan tidak adil dari keluarganya sendiri.Sang istri juga tahu jika pernikahan mereka berdua tidak akan di restui oleh keluarga suaminya karena latar belakangnya sangat berbeda jauh. Bagaimana kisah cinta mereka jika tahta dan sosial menjadi penghalang utama hubungan mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armelia Melmel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.17 Undangan
Tok..tok..
"Ibu, boleh aku bicara?"
"Masuklah."
Mery melangkah masuk ke dalam.
"Ada apa?" Nyonya Morley sama sekali tidak menoleh kepada menantunya.
"Maaf jika aku lancang bu. Ini mengenai ulang tahun ibu."
Nyonya Morley terdiam sesaat.
"Kenapa membahasnya? Mengurus putramu saja kamu tidak becus. Sekarang kamu ingin mengurus ulang tahun ku. Tentu saja kamu tidak akan sanggup."Ujar nyonya Morley sedikit ketus.
Mery hanya tersenyum kecil.
"Maaf bu."Jawab Mery menundukkan wajahnya.
Dari raut wajahnya, Mery terlihat sedih tapi dia tetap tersenyum di depan mertuanya.
"Maafkan mamah nak. Semua ini demi kebaikan mu. Jika nenek mu tidak mendukung mu kamu tidak akan bisa berdiri sampai sejauh ini."Batin Mery.
Tangannya sedikit gemetar.
"Ibu, saya punya rencana. Kita bisa memisahkan Eldrick dengan wanita itu."
"Caranya?"
Nyonya Morley menatap menantunya.
Mery menghela nafas dan menatap ke arah mertuanya.
Mery mengatakan rencananya dengan suara sedikit bergetar. Dia sedikit ragu melakukan hal itu.
Perasaan takut akan di benci oleh sang putra begitu besar. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Mery memilih untuk memisahkan mereka agar dia bisa tetap mendapatkan kepercayaan mertuanya.
Nyonya Morley terkekeh kecil.
"Tidak ku sangka kamu juga bisa selicik itu. Tapi mari kita coba. Tapi apa kamu yakin akan berhasil, Bukan sebaliknya? Jika gagal putramu bisa saja membencimu."
Mery terdiam.
Dia tahu jika hal ini akan terjadi jika gagal. Tapi tidak ada salahnya mencoba. Baik putranya maupun Lily sama-sama tidak mau mengalah.
"Kita lihat saja nanti bu."
Nyonya Morley tersenyum tipis mengangguk-nganggukkan kepalanya.
Melihat tanggapan mertuanya. Mery memilih pamit.
Dia berjalan ke kamarnya.
Wanita paruh baya itu meraih ponselnya yang berada di atas meja. Mery mulai menjalankan rencananya dengan menyusun persiapan pesta ulang tahun mertuanya.
Tok...
Ketukan pintu kamarnya mengalihkan perhatian Mery. Dengan cepat dia menutup teleponnya.
Baru saja meletakkan ponselnya. Putra keduanya kini sedang berjalan ke arahnya.
Hal itu membuat Mery sedikit gugup.
Alex mendekati mamahnya.
"Apa yang mamah lakukan? Jangan bilang jika mamah merencanakan sesuatu."
Alex menelisik ekpresi mamahnya. Sementara Mery menghindari tatapan putranya.
"Jangan membuat Eldrick murka mah. Mamah tidak bisa egois. Biarkan mereka bersatu. Asal mamah tahu jika kakak ipar itu sangat anggun dan cantik. Sangat berbeda jauh dengan wanita yang akan di jodohkan oleh nenek."
Mery menghela nafas kasar menatap putranya.
"Kamu tidak mengerti Alex."
Mery membelakangi putranya.
"Alex mengerti kekhawatiran mamah. Tapi mamah tidak perlu meragukan kemampuan kakak. Dia sangat ahli dalam bidang bisnis. Jangan melukai perasaan mamah sendiri hanya demi mendapatkan pujian nenek."Ujar Alex menatap punggung mamahnya yang membelakangi dirinya.
"Keluarlah nak. Mamah sedang ingin istirahat."
"Tolong dengarkan aku mah. Aku tahu mamah tidak terlalu peduli dengan kasta. Tapi karena nenek, mamah melakukan berbagai cara. Jika Eldrick tahu. Mamah tahu bukan apa yang akan terjadi."
Alex melangkah keluar dari kamar mamahnya setelah mengatakan hal itu. Mendengar pintu tertutup. Mery baru menoleh ke arah pintu.
"Kamu tidak tahu sayang. Bagaimana nenek mu. Jika dia sudah memutuskan sesuatu maka tidak ada yang boleh menentangnya."Gumam Mery menghela nafas kasar.
Beberapa jam berlalu. Tepat jam pulang kantor. Lily merapikan meja kerjanya. Sedangkan Ana sedari tadi memperhatikan dirinya.
"Perhatian semua."
Perhatian para karyawan teralihkan kepada tuan Hartono. Selaku manajer mereka.
"Nyonya Morley akan ulang tahun. Beliau mengundang seluruh karyawan untuk memeriahkan ulang tahunnya "
"Ini serusan tuan?"
"Tentu saja. Saya juga merasa heran karena ini adalah pertama kalinya beliau mengundang orang rendahan seperti kita."Ujar tuan Hartono.
Setelah mengatakan hal itu. Tuan Hartono meninggalkan timnya.
Lily yang mendengarnya hanya diam. Entah mengapa dia memiliki feeling yang tidak baik.
"Lily."
Lily tampak terkejut ketika Grace menepuk pundaknya.
Lily hanya bisa menghela nafas kasar.
"Kamu mengangetkan ku Grace."
"Maaf. Apa kamu akan datang?"
Lily berpikir sejenak.
"Entahlah. Aku belum memastikan hal itu."
"Kalau aku ingin sekali datang. Tapi aku sama sekali tidak punya gaun indah." Grace sedikit cemberut.
Melihat hal itu Lily hanya tersenyum kecil.
"Ayo pulang. Ulang tahunnya lusa. Kamu masih sempat membeli gaun indah."
"Kamu benar."
Grace terlihat tidak bersemangat.
Baru saja melangkah beberapa langkah. Langkah mereka terhenti karena kehadiran Ana dan kedua dayang-dayangnya.
"Kamu datang kan Lily? Jangan lupa bawa suami mu." Ujar Ana.
Setelah Ana mengatakan hal itu. Jane dan Amber tertawa mengejek.
Lily memilih tidak menggubrisnya. Wanita itu memilih untuk pergi dan meninggalkan mereka.
"Jangan di masukkan ke hati. Aku heran dengan mereka. Kenapa mereka selalu mengganggumu?" Kesal Grace.
"Sudahlah. Jangan di hiraukan. Aku baik-baik saja."
Lily menarik tangan Grace.
Grace ikut dengan patuh.