NovelToon NovelToon
DUA SAHABAT DAN BAYI MISTERIUS

DUA SAHABAT DAN BAYI MISTERIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Reyga membenci aturan ayahnya. Berry membenci cinta karena perceraian orang tuanya.

Keduanya memilih hidup bebas dengan cara masing-masing—sampai mereka menyelamatkan seorang bayi berusia sembilan bulan dari penculikan.

Tak tahu siapa orang tua bayi itu, Reyga dan Berry terpaksa merawatnya bersama.
Dua lelaki yang bahkan tak tahu cara mengganti popok itu perlahan belajar tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan perjuangan seorang ibu.

Di saat Reyga mulai jatuh cinta pada Amelia, reporter muda yang selama ini selalu ia hindari, Berry justru dihantui masa lalu bersama Melda—perempuan polos yang pernah ia sakiti hingga harus menghadapi kehamilannya seorang diri.

Namun ketika identitas bayi mulai terungkap, mereka sadar bahwa penculikan itu bukan kebetulan.

Bayi kecil yang awalnya mereka anggap sebagai beban ternyata menjadi jalan bagi dua lelaki yang terluka untuk menemukan cinta, keluarga, dan kesempatan kedua.

Bila suka ceritanya, jangan lupa subscribe, like, komentar & votenya ❤

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 : WARTAWAN, BAYI, DAN RAHASIA DI APARTEMEN

...BAB 8...

...WARTAWAN, BAYI DAN RAHASIA DI APARTEMEN...

Pukul sepuluh pagi.

Amelia sudah berdiri di pinggir arena balapan dengan kamera tergantung di leher dan buku catatan di tangan.

Tatapannya terus mengarah ke lintasan. Namun sejak tadi, orang yang ditunggunya belum juga muncul.

Reyga.

Hari ini Amelia memang sudah membuat janji untuk kembali mewawancarai lelaki itu.

Wawancara sebelumnya belum selesai. Masih terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab.

Dan beberapa jawaban Reyga juga tidak sesuai dengan yang diharapkan atasannya.

Atasannya bahkan sudah berpesan agar Amelia mendapatkan wawancara yang lebih lengkap.

"Jangan kembali sebelum dapat jawaban yang jelas."

Itulah pesan yang terus terngiang di kepala Amelia.

Amelia melihat jam tangannya. Pukul sepuluh lewat lima menit. Sepuluh lewat sepuluh. Sepuluh lewat lima belas.

Ia mulai kesal. "Ke mana sih orangnya? Kok belum nongol-nongol juga."

Amelia akhirnya menghampiri salah seorang mekanik yang sedang memeriksa motor.

"Mas, Reyga belum datang?"

Mekanik itu menoleh. "Reyga?"

"Iya."

"Oh, dia nggak datang hari ini."

Amelia mengernyit. "Kenapa?"

"Katanya sedang ingin liburan. Dia sekarang tinggal di apartemen Berry."

"Berry?"

"Iya."

Amelia semakin penasaran. "Kenapa tinggal di sana?"

Mekanik itu mengangkat bahu. "Nggak tahu. Mungkin lagi malas pulang."

Amelia mencatat sesuatu. "Mas tahu alamatnya kan?"

Mekanik itu justru santai memberikan alamat apartemen Berry. "Ini."

Amelia menerima catatan tersebut. "Terima kasih."

Ia memasukkan buku catatannya ke dalam tas.

Kalau Reyga tidak datang ke arena. Berarti Amelia yang harus mendatanginya.

Satu jam kemudian. Amelia sudah berdiri di depan sebuah pintu apartemen.

Ia memastikan nomor unitnya sekali lagi. Benar. Apartemen Berry.

Amelia menarik napas. Kemudian mengetuk pintu.

Tok!

Tidak ada jawaban.

Ia mengetuk lagi.

Tok! Tok!

Masih tidak ada jawaban.

Amelia melihat jam. "Apa masih tidur?!"

Ia mengetuk lebih keras.

Tok! Tok! Tok!

Dari dalam terdengar suara samar.

"Siapa?"

Amelia langsung menjawab.

"Ini aku, Amelia."

Hening.

Kemudian terdengar suara seseorang menggerutu.

"Amelia siapa?"

Amelia mengerutkan kening. "Amelia yang kemarin mewawancarai Pak Reyga."

Dari dalam terdengar suara lain.

"REY! ADA WARTAWAN!"

"Suruh pulang!"

Amelia mendelik.

Ia kembali mengetuk pintu.

"Pak Reyga!"

Beberapa detik kemudian pintu terbuka.

Reyga muncul dengan rambut berantakan. Matanya merah. Wajahnya kusut.

Bajunya bahkan terlihat seperti baru saja digunakan untuk tidur.

Amelia menatapnya beberapa detik. "Anda baru bangun?"

Reyga menatap jam di dinding. "Jam sepuluh pagi."

"Ya, kenapa."

"Orang normal tidur jam sepuluh malam."

Amelia mengangkat alis.

"Saya datang sesuai jadwal."

"Jadwal siapa?"

"Jadwal wawancara kita."

Reyga menatapnya datar. "Kita nggak pernah sepakat wawancara di sini."

"Saya sudah menunggu Anda di arena."

"Terus?"

"Anda nggak datang."

"Karena gue nggak bisa."

"Kenapa?"

Reyga mengusap wajah. "Karena gue baru mau tidur."

Amelia mengernyit. "Baru mau tidur?"

"Iya."

"Kenapa baru mau tidur jam sepuluh pagi?"

Reyga diam. Dari dalam terdengar suara Berry.

"REY! GUE NGANTUK!"

Reyga menoleh. "Diam!"

Amelia memperhatikan. Ada sesuatu yang aneh. Kenapa dua lelaki dewasa ini baru mau tidur jam sepuluh pagi?

Amelia belum sempat bertanya ketika terdengar suara kecil dari dalam.

"Eh..."

Amelia langsung menoleh. Kemudian terdengar suara tangisan.

"WAAAAAA!"

Mata Amelia membesar. Ia kembali menatap Reyga. "Suara apa itu?"

Reyga langsung menjawab. "TV."

Amelia mengerutkan kening. "TV?"

"Iya."

Tangisan bayi kembali terdengar lebih kencang.

"WAAAAAA!"

Amelia menatap Reyga tajam. "TV Anda bisa menangis seperti bayi?"

Reyga terdiam. Dari dalam terdengar suara Berry.

"REY! BINTANG BANGUN LAGI!"

Reyga memejamkan mata.

Amelia membeku. "Bintang?"

Reyga langsung membuka mata. Berry kembali berteriak dari dalam.

"REY! SUSUNYA MANA?"

Reyga menoleh ke arah dalam. "BERRY!"

Berry menjawab santai. "Apa?"

"DIAM!"

Amelia mulai menyipitkan mata. "Siapa Bintang?"

Reyga menghela napas. "Nggak ada."

Amelia menunjuk ke dalam. "Saya barusan dengar jelas."

"Itu..." Reyga berpikir cepat. "...nama kucing."

Amelia terdiam. "Kucing?"

"Iya."

"Suara kucingnya seperti bayi?"

Reyga tidak menjawab. Dari dalam terdengar tangisan lagi.

"WAAAAAA!"

Amelia menatap Reyga. Reyga menatap Amelia. Keduanya diam.

Kemudian Amelia berkata pelan. "Reyga."

"Hm?"

"Itu bayi."

Reyga menghela napas. "Iya."

Akhirnya menyerah.

Amelia langsung terkejut. "Jadi benar ada bayi di sini?"

Reyga mengangguk. Amelia mencoba ingin melihat ke dalam.

Namun Reyga langsung bergeser menutup pintu lebih lebar.

"Eeh Lo mau apa? Jangan masuk."

"Saya cuma ingin melihat."

"Nggak."

"Kenapa?"

"Karena dia baru tenang."

Dari dalam terdengar lagi teriakan Berry.

"BINTAAANG, BISA DIAM BENTAR!"

Reyga memejamkan mata. "Berry..."

"Dia pup lagi!" keluhnya.

Amelia spontan menutup mulut.

Reyga menoleh ke dalam. "Kenapa harus bilang begitu?!"

"Karena memang pup!"

Amelia hampir tertawa.

Jadi selama ini dua lelaki yang terlihat garang di arena balapan ternyata sedang sibuk mengurus seorang bayi? Batin Amelia.

Pemandangan itu benar-benar di luar dugaan.

Beberapa menit kemudian, Amelia akhirnya diizinkan masuk ke ruang tamu.

Namun Reyga terus berdiri di depan tempat bayi itu berada. Seolah-olah tubuhnya adalah tembok hidup.

Amelia memperhatikan. "Jadi ini alasanmu tidak datang ke arena?"

"Iya." jawab Reyga wajahnya tampak melas.

"Kalian berdua menjaga bayi?"

"Iya."

"Bayinya siapa?"

"Nggak tahu."

Amelia mengernyit. "Nggak tahu?"

"Kami menemukan dia tadi malam."

Reyga kemudian menceritakan kejadian penculikan secara singkat.

Amelia mendengarkan dengan serius. "Jadi kau dan Berry menemukan bayi ini setelah mengejar penculik itu?"

"Iya."

"Dan identitasnya belum diketahui?" Amelia melihat ke arah bayi yang kini sedang digendong Berry.

Wajah Berry benar-benar kacau. Rambut berantakan. Mata sembab. Bajunya terkena noda susu. Sementara bayi itu justru terlihat tenang.

Amelia tersenyum kecil. "Lucu sekali."

Berry menatapnya melotot. "Lucu apanya?"

"Bayinya lah.."

"Oh." Berry melihat bayi itu. "Iya. Bayinya memang lucu."

Kemudian ia menatap Amelia. "Tapi orang yang merawatnya nggak lucu."

Amelia tertawa.

Reyga mengambil botol susu. "Sudah, kasih sini."

Berry menyerahkan bayi. Namun baru beberapa detik berada di tangan Reyga, bayi itu langsung tersenyum.

Berry mendelik. "Huuh... Dia pilih kasih."

Reyga tersenyum puas. "Karena gue lebih ganteng."

Berry mendengus. "Dia cuma kasihan lihat muka lo."

Amelia tertawa lagi.

Ia baru menyadari bahwa Reyga yang selama ini ia kenal sebagai lelaki dingin ternyata bisa bercanda seperti itu. Bahkan ketika kelelahan sekalipun.

Namun senyumnya perlahan menghilang ketika melihat kamera di tangannya.

Ia teringat pekerjaannya.

"Pak Reyga."

"Hm?"

"Saya harus membuat berita tentang kejadian penculikan ini."

Ekspresi Reyga langsung berubah serius. "Jangan beritakan bayinya."

Amelia terdiam. "Saya bisa merahasiakan identitasnya."

"Bukan cuma nama."

"Terus?"

"Jangan foto wajahnya. Jangan sebut lokasi. Dan jangan kasih informasi yang bisa membuat orang melacak keberadaannya."

Amelia menatap Reyga. "Kenapa?"

"Karena orang yang menculiknya mungkin masih mencarinya." Nada suara Reyga terdengar tegas. "Terlalu banyak orang tahu tentang bayi ini, semakin besar kemungkinan dia ditemukan."

Amelia terdiam.

Untuk beberapa detik, ia tidak melihat Reyga sebagai objek berita.

Ia melihat seorang lelaki yang benar-benar sedang berusaha melindungi seorang bayi yang bahkan bukan keluarganya.

"Anda benar-benar peduli pada bayi ini."

Reyga menatap bayi yang sedang menggenggam jarinya. "Dia sudah jadi tanggung jawab gue."

Amelia tersenyum tipis. "Padahal baru semalam kan?"

Reyga mengangguk. "Iya baru semalam."

Jawaban itu membuat Amelia terdiam. Namun ketika suasana mulai serius...

Bayi itu tiba-tiba bersin. "Hacih!"

Sedikit air liur mengenai baju Reyga.

Berry langsung tertawa. "HAHAHA!"

Reyga melihat bajunya. "Diam."

Amelia menahan tawa. "Sepertinya dia suka Anda."

Reyga mengusap wajah. "Dia cuma belum tahu gue sengsara karena dia."

Berry langsung menyela. "Lo salah. Kita berdua sama-sama sengsara."

Amelia akhirnya tertawa. Namun setelah itu ia mengangguk. "Baik."

Reyga menatapnya. "Baik apa?"

"Saya tidak akan mempublikasikan wajah atau keberadaan bayi ini."

Reyga sedikit lega.

"Tapi saya tetap akan memberitakan kasus penculikannya."

"Itu terserah lo."

Amelia berdiri. Namun sebelum pergi, ia menoleh sekali lagi.

"Reyga."

"Apa?"

"Kalau saya datang lagi untuk wawancara..."

"Jangan pagi-pagi."

Amelia tersenyum.

"Jam berapa?"

"Setelah saya tidur."

"Jam berapa Anda tidur?"

Reyga menatap Berry. Berry mengangkat bahu. "Nggak tahu."

Reyga menghela napas. "Kalau bayinya tidur."

Amelia tertawa kecil. "Berarti saya harus menunggu bayi ini mengizinkan?"

Reyga mengangguk serius. "Iya."

Dari gendongan Reyga, bayi itu tiba-tiba menguap.

Berry menunjuknya. "Nah. Bos kecil sudah ngantuk."

Reyga dan Amelia sama-sama tertawa.

Amelia kemudian meninggalkan apartemen. Namun sepanjang perjalanan menuju mobil, pikirannya terus teringat pada satu hal.

Reyga ternyata tidak seperti yang selama ini ia pikirkan.

Di balik sikap keras dan arogan lelaki itu, ada sisi lain yang begitu peduli.

Dan tanpa Amelia sadari...

Rasa penasarannya terhadap Reyga justru semakin besar.

Sementara di dalam apartemen, Reyga menutup pintu.

Ia menghela napas lega. Kemudian menatap Berry.

"Untung dia nggak tahu semuanya."

Berry mengernyit. "Memangnya ada apa lagi?"

Reyga menatap Bintang. "Nanti kita pikirkan."

Berry menguap. "Yang penting sekarang..." Ia berjalan menuju sofa. "Gue mau lanjutin tidur."

Baru saja Berry merebahkan tubuhnya...

"WAAAAAA!"

Berry langsung membuka mata. Ia menatap bayi. Kemudian menatap Reyga. Reyga menatapnya balik.

Berry menarik napas panjang. "Kayaknya Bos belum mengizinkan."

Reyga tertawa. "Selamat datang di hidup kita."

Dan pagi itu...

Dua sahabat tersebut kembali berperang melawan satu musuh yang sama.

Bayi sembilan bulan yang tidak mengenal kata tidur.

Bersambung...

Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya Readers 😂🥰

1
Lisa
Wah Bintang dapat dikenali org³ nih..moga aj g ada yg ngaku sbg ortunya..
Lisa
Alessia akhirnya tau tuh klo Reyga suka sama Amel
Kam1la
apa yang akan terjadi setelahnya...
Kam1la
Alesia kebakaran jenggot
Lisa
Oo jadi Darmawan mengira Bintang adalah anak dr Reyga & Amel..kalian harus lebih berhati²
Lisa
Aneh banget si Darmawan ini..ditanya alasannya menculik Amel dia g mau mengatakannya..
Kam1la
lanjutkan kak...
Kam1la
dobrak aja pintunya...💪
Lisa
Reyga harus menjelaskan pd papanya tentang hubungannya dgn Amel.
Lisa
ya nih ayo Reyga cpt cari Amel
Lisa
Ya tuh pasti papanya Reyga yg nyulik Amel..ayo Reyga cpt temukan Amel.
Kam1la
mulai naik nih tensi ketegangan dalam keluarga. Dermawan semoga sadar ya, dengan pemaksaan justru semakin membuat Reyga menjauhinya
Kam1la
lapor polisi.... ! atau cari tahu lewat CCTV 🤭
Kam1la
mulai deg-degan ini, mau diapain ya Amelia....ini ulah nya papanya Reyga
Kam1la
honey....!! panggilan yang so sweet
Kam1la
seru banget.... sekarang 1 apartemen dihuni banyak orang dan penuh kegembiraan
Mita Paramita
semoga hubungan mereka direstui keluarga masing-masing 😍
Mita Paramita
lanjut Thor 😈😈😈
Kayla Rane: siaaP ❤️😍
total 1 replies
Lisa
Lanjut donk Kak..makin seru aj nih..😊
Lisa
Ceritanya menarik banget 👍👍
Kayla Rane: terimakasih Kak Lisaaa❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!