NovelToon NovelToon
Cheon-Ji-In: Terjebak Di Dunia Murim

Cheon-Ji-In: Terjebak Di Dunia Murim

Status: tamat
Genre:Fantasi / Transmigrasi ke Dalam Novel / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:381
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Novel Korean ala Author ❤️❤️

Cheon-Ji-In: Terjebak di Dunia Murim

Aku Diah, tersedak air saat baca novel Cheon-ji-in hingga sadar di dunia Murim sebagai Han So-Bin, cannon fodder yang ditakdirkan mati di tangan pemeran utama pria, Kang Hyu-Jin.


Sadar bakal jadi tumbal, aku milih kabur sejauh mungkin. Tapi alih-alih dibunuh, si pendekar es itu malah ngejar aku separuh mati ke ujung dunia!


Sialnya lagi, bukannya ditebas, aku malah berakhir dicintai setengah mati sama si cowok dingin itu. Rencana awal mau bebas hidup damai gagal total, karena sekarang aku malah jadi pawang si tokoh utama!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengakuan di Balik Bara Api

Suara kayu bakar yang berderik pelan memecah keheningan malam di sekitar perkemahan kecil kami. Cahaya jingga dari bara api unggun menari-nari di atas permukaan wajah kami, memantulkan bayangan panjang di balik rindangnya pepohonan pinus tua.

Setelah aku memanggil mereka untuk mendekat ke lingkaran hangat, suasana di antara kami berempat terasa jauh lebih cair dibandingkan sebelumnya. Lee Do-Yun duduk di sebelah kiriku, sesekali melempar ranting kecil ke dalam api untuk menjaga nyalanya tetap stabil. Kang Hyu-Jin duduk bersila di seberang, tampak menikmati ketenangan malam sambil melirik ke arahku dengan sorot mata lembut yang jarang ia tunjukkan kepada orang lain.

Sementara itu, Choi Min-Hyuk duduk di sisi kanan dengan postur tegap khas seorang ketua pengawas disiplin sekte. Namun, tidak seperti biasanya yang selalu memasang wajah kaku dan dingin, pria berambut kelam itu tampak gelisah. Tangannya beberapa kali meremas ujung jubah hitamnya sendiri, seolah ia sedang menimbang-nimbang sesuatu yang sangat berat di dalam kepalanya.

Aku, yang sedang menikmati sisa kehangatan teh herbal di dalam cangkir bambu, menyadari perubahan sikap senior kaku tersebut. Sebelum aku sempat bertanya, Min-Hyuk menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat wajahnya untuk menatapku lekat-lekat.

"So-Bin..." panggil Min-Hyuk dengan suara baritonnya yang berat, memecah keheningan malam.

Aku menoleh, mengerjap pelan ke arahnya. "Ya, Senior Min-Hyuk? Ada apa? Apa punggungmu masih pegal karena perjalanan hari ini?"

Min-Hyuk menggeleng pelan. Ia menundukkan pandangannya sejenak ke arah tanah sebelum akhirnya kembali menatapku dengan sorot mata yang dipenuhi oleh ketulusan yang telak.

"So-Bin, bolehkah aku berkata jujur?" tanya Min-Hyuk dengan nada suara yang sedikit bergetar, memancarkan kerapuhan yang tidak biasa dari seorang pendekar sedisiplin dirinya. "Sejak kau memberiku bunga ungu liar waktu itu... perasaan aneh menyelimuti hatiku. Sejak itu juga aku lebih mengejarmu, meskipun kau tidak menyukaiku... setidaknya aku bisa berada di dekatmu."

Deg!

Seketika itu juga, suasana di sekitar api unggun mendadak sunyi senyap. Lee Do-Yun yang tadinya memegang ranting kayu menghentikan gerakannya, sementara Kang Hyu-Jin langsung menoleh tajam ke arah Min-Hyuk dengan sebelah alis terangkat kaget.

Aku sendiri tertegun di tempat dudukku. Cangkir bambu di tanganku hampir saja tergelincir jatuh ke atas tanah.

(Batin Diah / Han So-Bin): “Ya ampun... Bunga ungu liar?! Bunga krokot jelek yang waktu itu kupetik iseng di pinggir jalan sekadar buat nempel di jubahnya supaya dia nggak kelihatan terlalu tegang, ternyata malah jadi titik balik asmara segede gaban begini?! Duh, malunya sampai ke usus buntu!”

Ingatanku langsung melayang kembali ke hari pertama aku bertransmigrasi ke dalam tubuh Han So-Bin versi original. Saat itu, demi mencairkan suasana dan menggoda si senior kaku yang hobi menghukum, aku memang dengan tanpa berdosa menempelkan bunga liar di bahunya sambil memujinya tampan. Aku mengira saat itu ia pasti ingin menebas kepalaku karena dianggap tidak sopan.

Siapa sangka, di balik wajah dingin dan omelan disiplinnya, momen receh itu justru menancap begitu dalam di hatinya!

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, mencoba mencerna pengakuan blak-blakan dari Choi Min-Hyuk yang terkenal paling kolot dan lurus di seluruh perguruan. Wajahku terasa panas, merona merah hingga ke pangkal telinga.

Dengan kikuk, aku menggaruk pipiku yang tidak gatal, lalu menatap Min-Hyuk balik dengan ekspresi heran bercampur salah tingkah.

"Siapa yang tidak menyukaimu? Aku?" kataku membela diri dengan nada protes kecil, mencoba menutupi rasa salah tingkahku. "Selama ini aku tidak tahu kenapa Kakak Senior diam-diam memperhatikan ku. Aku tahu jika Kakak Senior lebih dulu menyukaiku... tapi baru menyadari setelah sikapku berubah acuh."

Aku mendengus pelan, melipat kedua tanganku di depan dada sambil menggelengkan kepala tak percaya.

"Aneh sekali..." lanjutku dengan nada melengking penuh keheranan. "Kalian ini benar-benar aneh... menyukai gadis yang dulunya paling kalian benci dan hindari setengah mati."

Mendengar kalimat blak-blakan dariku, Lee Do-Yun yang duduk di sebelahku mendadak terkekeh pelan. Pria berambut perak itu menutup mulutnya dengan sebelah tangan, berusaha meredam tawa geli yang hampir lepas dari bibirnya.

Di seberang sana, sudut bibir Kang Hyu-Jin yang biasanya melengkung datar kini tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat langka. Pendekar es itu menatapku dengan sorot mata penuh geli sekaligus gemas.

Bahkan Choi Min-Hyuk sendiri tampak terkejut sesaat mendengar responku, sebelum akhirnya ia ikut menghela napas panjang dan tersenyum kecil—sebuah senyuman tulus yang membuat auranya yang menyeramkan seketika lenyap tak bersisa.

"Kau benar, So-Bin..." aku Min-Hyuk pelan, suaranya kini terdengar jauh lebih lembut dan santai. "Dulu, aku adalah orang yang paling keras kepala menganggapmu sebagai sumber kekacauan di sekte. Aku selalu mencari-cari alasan untuk menghukummu agar kau jera."

Min-Hyuk menatap lekat-lekat ke arahku, manik matanya memantulkan cahaya api unggun yang hangat.

"Tapi manusia memang makhluk yang bodoh," lanjut Min-Hyuk dengan nada jujur penuh penyesalan. "Aku baru menyadari betapa berharganya keberadaanmu justru setelah kau mulai mengabaikanku dan menunjukkan sisi dirimu yang sebenarnya—sisi yang begitu berani, mandiri, dan tidak peduli lagi pada tatapan sinis orang lain. Saat itulah aku sadar, kebencianku di masa lalu hanyalah kedok untuk menyembunyikan kenyataan bahwa aku sudah lama terpesona olehmu."

(Batin Diah / Han So-Bin): “Tolong... seseorang tolong beri aku piala penghargaan sebagai ratu pawang cowok-cowok tsundere sedataran tengah! Kenapa gombalan mereka makin hari makin level dewa begini sih?! Jantungku kan nggak sanggup kalau harus maraton deg-degan tiap malam di tengah hutan!”

Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain, tidak sanggup menatap manik mata Min-Hyuk yang terlalu intens menusuk hatiku. Wajahku pasti sudah semerah kepiting rebus sekarang.

Lee Do-Yun merangkul bahuku pelan, lalu mendekatkan wajahnya ke telingaku.

"Sudahlah, terimakasih saja pada bunga ungu liar itu, So-Bin," bisik Do-Yun menggoda dengan nada suara yang lembut dan geli. "Kalau bukan karena bunga itu, mungkin sekarang sainganku bertambah jadi empat orang."

Aku mendelik sebal ke arah Do-Yun, namun tidak bisa menahan senyuman kecil yang mengembang di bibirku.

Di seberang sana, Kang Hyu-Jin berdehem pelan untuk menarik perhatian kami kembali, lalu berkata dengan nada setengah mengejek ke arah Min-Hyuk:

"Wah, Ketua Pengawas kita yang terhormat ternyata punya sisi romantis juga ya. Siapa sangka bunga liar di pinggir jalan bisa melumpuhkan disiplin baja Sekte Dewa Langit."

Min-Hyuk melirik tajam ke arah Hyu-Jin, mendengus pelan namun tidak berniat membalas ejekan itu. Suasana perkemahan yang tadinya dipenuhi ketegangan emosional kini berubah menjadi hangat dan penuh canda tawa ringan di antara kami berempat.

Malam semakin larut, dan hembusan angin pegunungan utara yang tadinya terasa membekukan kini seolah kehilangan taringnya, dikalahkan oleh kebersamaan yang terjalin di sekeliling lingkaran api unggun. Di bawah langit Gangho yang bertabur bintang, aku menyandarkan kepalaku dengan nyaman di bahu Do-Yun, membiarkan malam berjalan damai sementara langkah perjalanan kami menuju puncak utara terus menanti di hari esok.

1
Victoria
bagus
Xi Yue Qing: terimakasih dukungannya 🤩🤩
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!