NovelToon NovelToon
Atas Trauma Kakakku, Aku Hancurkan Kau Lewat Pamanmu

Atas Trauma Kakakku, Aku Hancurkan Kau Lewat Pamanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:972
Nilai: 5
Nama Author: Hello Ketty.

Bertahun-tahun Sarah disiksa suaminya hingga trauma berat dan akhirnya memilih untuk pergi. Adik kembarnya, Sera, datang untuk membalas dendam. Mengetahui suami kakaknya licik dan telah merampas seluruh harta kakaknya, Sera berjanji akan mengambil kembali semua hak milik kakaknya—meski harus merangkak naik ke atas ranjang Sean, paman dari suami kakaknya yang berkuasa.

Berhasilkah rencana Sera? Bisakah ia mengambil kembali segala hak milik kakaknya? Atau penyamarannya akan terbongkar, menjatuhkannya ke dalam bahaya yang jauh lebih mengerikan di tangan keluarga yang kejam dan penuh kelicikan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hello Ketty., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Sean sudah tiba di kediamannya. Pria itu langsung melangkah masuk ke dalam.

Martha yang sedang duduk bersantai di sofa melihat kedatangannya langsung terperanjat kaget. Dia buru-buru berdiri dari sofa.

Heran kenapa pria itu tiba-tiba kembali lagi, padahal baru saja bepergian dua hari. Biasanya setelah Sean pergi, dia akan pergi dalam waktu yang sangat lama. Tapi kali ini, kenapa dia sudah muncul lagi?

Martha menatap sosok itu dari ambang pintu, tangannya tanpa sadar sedikit bergetar.

Ada sesuatu yang berbeda dari aura pria itu. Tatapannya lebih tajam, dan auranya lebih mencekam.

"T-Tuan Sean..." gumamnya pelan, saat pria itu lewat dihadapannya.

Sean tidak menoleh, tidak juga menyapa balik. Dia hanya melangkah masuk dengan wajah datar, matanya menyapu seluruh ruangan seperti sedang mencari sesuatu.

Martha menelan ludah, melihat ekspresi Sean.

 

Sean berjalan menuju lantai atas, ke kamar Adrian. Saat dia membuka pintu, tidak ada siapa-siapa di sana. Ternyata, dia sedang mencari istrinya yakni Sera.

Kebetulan dia melihat Bi Siska yang sedang mengelap beberapa hiasan di lantai atas.

"Bi Siska," panggil pria itu.

Siska langsung menoleh dan tersenyum kaku. "Ah... Tuan sudah pulang?" tanyanya, lalu mengerutkan alis—sama seperti Martha, dia juga merasa heran. Barusan pria itu hanya bepergian selama dua hari, dan sekarang sudah pulang lagi.

"Sarah ada, Bi?" tanya Sean langsung.

Siska terdiam. Kain lap yang dia pegang terlihat sedikit bergetar di tangannya, seolah-olah dia takut untuk mengatakannya.

"Bi Siska?" Panggil Sean saat melihat wanita itu hanya diam.

"Sebenarnya... sebenarnya..." Bi Siska kesulitan untuk mengeluarkan kata-katanya.

Dia masih teringat kejadian kemarin, saat Sarah dihajar habis-habisan oleh Martha dan orang-orang yang membencinya di rumah itu—hingga tubuhnya babak belur dan kakinya bahkan tidak bisa berdiri hasil dari penganiayaan Adrian bersama anggota keluarga lainnya.

"Sebenarnya apa?" Sean mulai curiga.

"N-Nona Sarah ada di lantai bawah, Tuan..." jawabnya takut.

Pria itu mengerutkan alisnya. "Lantai bawah? Di lantai bawah tadi saya sudah mencari ke mana-mana tapi tidak menemukannya," jawab Sean.

Mendengar itu, bulu kuduk Bi Siska seketika merinding. Dia bingung harus berkata apa lagi. Sebenarnya dia tidak ingin terlibat dalam masalah itu—dia berada di sini hanya untuk mencari sesuap nasi. Namun dia juga tidak tega membiarkan hal itu terus berlanjut.

"Nona Sarah ada di kamar pembantu." Jawabnya cepat dan langsung menunduk.

"Kamar pembantu?"

"I-iy--" ucapan Bi Siska terhenti saat Sean sudah melangkah turun kebawah.

Dilantai bawah, karena panik dengan kedatangan Sean. Martha sampai lupa kalau Sarah berada dikamar pembantu.

Apalagi kondisi Sarah yang sangat mengenaskan membuatnya takut—takut kalau Sean sampai tahu bahwa Sarah terbaring tak berdaya akibat penyiksaan yang mereka lakukan kemarin. Martha justru berapa di kamarnya mondar-mandir.

Sean menuju ke bagian belakang rumah, di mana beberapa kamar pembantu berada. Dia tahu hanya ada satu kamar yang biasanya kosong atau jarang digunakan.

Sean segera mendorong pintu kamar tersebut. Pintu terbuka perlahan. Dan saat dia melangkah masuk, langkah kakinya terhenti.

Di sana, dia melihat sosok Sarah terbaring di atas kasur tipis yang dekil.

Mata Sarah terpejam rapat, napasnya terdengar lemah. Penampilannya sangat mengerikan. Luka lebam berwarna ungu kehitaman terlihat di mana-mana—di pipinya, di rahangnya, di lengan yang terbuka.

Bibirnya pecah berdarah, dan ada goresan dalam seolah bekas sayatan pisau yang melintang di telapak tangannya.

Seketika darah dalam tubuh Sean mendidih melihat pemandangan itu.

Apa yang sudah mereka lakukan padanya? Batin Sean mendekati tubuh tak berdaya Sarah.

Saat pandangannya jatuh pada rambut wanita itu, rambut lurus—bukan ikal. Itu benar-benar Sarah, kakak kembaran Sera. Dia bukan istrinya.

Sera berambut ikal bergelombang. Dan wanita yang terbaring di hadapannya adalah Sarah yang sesungguhnya—yang selama ini orang-orang di rumah itu jadikan sasaran kekejaman mereka.

Sean semakin mendekat lalu berlutut di samping kasur itu. Tangannya yang besar terangkat, namun berhenti di udara sejenak karena takut menyakiti wanita itu. Dengan sangat hati-hati, dia menyentuh pergelangan tangan Sarah yang lebam dan luka, memeriksa denyut nadinya yang lemah namun masih terasa.

Keterlaluan... Benar-benar keterlaluan... batinnya bergemuruh.

Sean baru tahu, ternyata selama ini mereka menyiksa Sarah sangat sadis, di bawah atap yang seharusnya menjadi tempat berlindung.

Pria itu merasa bersalah —karena dia tidak tahu, karena dia tidak pernah menyadari, karena dia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri sehingga membiarkan hal seperti itu terjadi dalam rumahnya sendiri.

_____

 

Sera sudah mencari ke mana-mana sejak pagi, menyusuri setiap tempat yang mungkin dikunjungi kakaknya, tapi hasilnya tetap nihil.

Bahkan sampai jarum jam sudah menunjukkan pukul 2 sore, dan Sarah belum juga ditemukan. Sera terduduk lemas di pinggir jalan, air matanya mulai menetes.

"Kak… Kakak di mana sebenarnya? Kenapa Kakak tidak ada di mana-mana? Aku sudah capek mencari, Kak… Nomor ponsel Kakak juga tidak aktif… Kenapa Kakak tiba-tiba menghilang? Kakak membuatku benar-benar khawatir…" isak Sera menutup wajannya dengan kedua telapak tangan. Dia terlihat putus asa.

Dia benar-benar takut kalau sesuatu yang buruk telah menimpa kakaknya.

Tiba-tiba satu nama terlintas di benaknya—Adrian.

Deg… Deg… Deg…

Apa mungkin Kakak bertemu dengan pria brengsek itu? pikir.

"Tidak… Aku tidak boleh berpikir begitu… Tapi kalau benar… Aku harus segera pulang ke rumah! Aku harus pulang ke mansion sekarang juga!"

Sera segera memesan Grab dan bergegas menuju kediaman itu.

Selama di perjalanan, jantungnya tidak pernah tenang. Dan pikiran-pikiran buruk terus berputar di kepalanya.

Sesampainya di depan gerbang mansion, dia membayar lalu berlari masuk tanpa menunggu pintu gerbang terbuka sepenuhnya.

Beruntung, dia tidak berpapasan dengan Martha maupun yang lainnya. Rumah itu sunyi, sepi seperti kuburan. Dia langsung berlari naik ke lantai atas, mencari kakaknya di kamar Adrian, namun tidak ada—kosong.

Di tengah tangga, dia berpapasan dengan Bi Siska.

"Non Sarah? Non sudah baikan?" sapa Bi Siska ragu, matanya melihat Sera dengan tatapan bingung.

Sera mengerutkan alis.

"Apa maksud Bi Siska bilang begitu? Aku memang baik-baik saja, Bi," Sera berusaha memancing wanita itu, meski hatinya sudah mulai tahu ke mana arah pembicaraan.

"Hah… Syukurlah kalau Non sudah sudah membaik secepat ini. Soalnya… kemarin itu Non kan disiksa habis-habisan… Maafkan Bibi ya, Bibi tidak punya kekuasaan untuk menghalangi perbuatan mereka," jawab Bi Siska dengan wajah sedih dan penuh penyesalan.

Disiksa? "Aku disiksa?"

"Iya… Kemarin kan Non disiksa sama Bianca, Adrian, Bu Martha, Bu Rika, dan yang lainnya… sampai tidak bisa berjalan…"

Deg!

Dia sudah paham. Orang yang dimaksud Bi Siska itu bukan dirinya—melainkan Sarah, kakaknya.

"Bi, aku ke bawah dulu ya!" seru Sera dan langsung berlari menuruni anak tangga secepat kilat, seperti kakinya tidak menyentuh lantai.

Napasnya memburu, matanya memanas, dan ketakutan yang paling besar kini menjadi kenyataan.

Dia segera menuju ke bagian belakang rumah, ke kamar pembantu—tempat yang biasa digunakan kakaknya.

Sera meraih gagang pintu dan mendorongnya hingga menimbulkan suara.

Pintu terbuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!