NovelToon NovelToon
Kamu Yang Selalu Ku Pilih

Kamu Yang Selalu Ku Pilih

Status: tamat
Genre:Office Romance / CEO / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:674
Nilai: 5
Nama Author: Gek_Nia

Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ORANG BARU ITU

Senin pagi.

Alya datang pukul 07.50.

Begitu meletakkan tas, dia melihat dua gelas kopi di mejanya.

Satu untuk dirinya.

Satu lagi—

Americano tanpa gula.

Alya tersenyum.

Dia tidak perlu bertanya siapa yang membawanya.

Pintu ruang Raka terbuka.

Raka berdiri di sana.

“Pagi.”

Alya mengangkat gelas kopi.

“Ini?”

“Saya bilang saya yang bawa.”

Alya tersenyum.

“Terima kasih.”

“Jangan terlalu manis.”

“Saya tahu.”

“Bagaimana kamu tahu?”

“Karena Bapak selalu pesan yang sama.”

Raka mengangguk.

“Bagus.”

Alya menatapnya beberapa detik.

“Bapak ingat?”

“Apa?”

“Pesanan kopi saya.”

Raka terlihat sedikit salah tingkah.

“Saya direktur. Saya harus mengingat hal-hal penting.”

Alya tertawa.

“Berarti kopi saya penting?”

Raka menatapnya.

“Jangan mulai.”

Alya tertawa lagi.

“Baik, Pak.”

Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, suasana di antara mereka kembali seperti semula.

Ada percakapan kecil.

Ada saling goda.

Ada rasa nyaman.

Namun ketenangan itu hanya bertahan sampai pukul sembilan.

Karena hari itu Mahendra Group kedatangan seseorang yang akan mengubah dinamika mereka.

PUKUL 09.00

Seluruh jajaran manajemen diminta berkumpul di ruang meeting utama.

Alya membawa dokumen.

Raka duduk di bagian depan.

Maya berbisik,

“Katanya orang baru itu direktur pengembangan bisnis.”

Alya mengangguk.

“Namanya siapa?”

“Arga Pratama.”

Alya membuka dokumen.

“Pernah dengar?”

“Belum.”

Pintu terbuka.

Seorang pria masuk.

Usianya sekitar awal tiga puluhan.

Tinggi.

Rapi.

Percaya diri.

Dan berbeda dengan Raka yang cenderung dingin, pria itu memiliki aura yang jauh lebih santai.

Dia tersenyum kepada semua orang.

“Selamat pagi.”

“Pagi.”

Raka berdiri.

“Arga.”

Mereka berjabat tangan.

“Lama tidak bertemu.”

“Beberapa tahun.”

Arga tersenyum.

“Masih sama.”

“Begitu juga kamu.”

Arga kemudian duduk.

Matanya berkeliling.

Sampai berhenti pada Alya.

“Dan ini?”

Raka menjawab,

“Alya Anindita. Executive Assistant saya.”

Arga tersenyum.

“Oh.”

Dia menatap Alya.

“Senang bertemu.”

Alya mengangguk.

“Senang bertemu juga, Pak.”

Arga masih menatapnya beberapa detik.

Kemudian berkata,

“Sepertinya saya akan sering membutuhkan bantuan Anda.”

Alya tersenyum profesional.

“Tentu, Pak.”

Dari tempatnya, Raka memperhatikan.

Tatapannya sedikit berubah.

MEETING DIMULAI

Arga menjelaskan rencana ekspansi perusahaan.

Alya mencatat.

Beberapa kali Arga meminta pendapat.

“Bu Alya, menurut Anda bagaimana?”

Alya mengangkat wajah.

“Menurut saya perlu melihat kesiapan operasional sebelum menentukan target.”

Arga mengangguk.

“Menarik.”

Dia tersenyum.

“Jawaban yang bagus.”

Alya kembali mencatat.

Raka melirik Arga.

Kemudian melihat Alya.

Tidak ada yang salah.

Arga memang hanya bertanya tentang pekerjaan.

Namun Raka tidak menyukai cara pria itu terlalu sering mencari pandangan Alya.

Meeting selesai.

Arga berdiri.

“Bu Alya.”

“Iya?”

“Bisa bantu saya sore ini?”

Alya melihat Raka.

“Untuk apa?”

“Saya perlu memahami beberapa sistem internal.”

Alya mengangguk.

“Tentu.”

Raka langsung berkata,

“Dia ada pekerjaan dengan saya.”

Arga menoleh.

“Oh.”

Kemudian tersenyum.

“Kalau begitu besok.”

Alya mengangguk.

“Baik.”

Arga pergi.

Maya yang berada di belakang Alya langsung berbisik,

“Wah.”

Alya menoleh.

“Apa?”

“Tidak apa-apa.”

PUKUL 11.00

Alya sedang bekerja ketika Raka datang.

“Besok kamu jangan ikut Arga.”

Alya mengangkat wajah.

“Kenapa?”

“Saya membutuhkan kamu.”

Alya tersenyum.

“Bapak lagi?”

“Apa?”

“Kalimat itu.”

Raka mengerutkan kening.

“Memangnya kenapa?”

“Setiap ada Pak Dimas atau orang lain, Bapak bilang membutuhkan saya.”

Raka terdiam.

Alya kembali bekerja.

“Bapak sadar tidak?”

“Sadar apa?”

“Bapak cemburu.”

Raka langsung menghela napas.

“Tidak.”

Alya tersenyum.

“Baik.”

“Serius.”

“Baik.”

Raka menatapnya.

“Kamu tidak percaya?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena Bapak terlalu jelas.”

Raka terdiam.

Alya menatapnya.

“Bapak tidak perlu khawatir.”

“Kenapa?”

“Saya tetap tahu posisi saya.”

Raka menjawab pelan,

“Justru saya yang khawatir.”

Alya terdiam.

“Apa?”

Raka menatapnya.

“Kamu terlalu mudah membuat orang memperhatikanmu.”

Alya tidak tahu harus menjawab apa.

Raka langsung berbalik.

“Lanjutkan pekerjaan.”

Alya menatap punggungnya.

Jantungnya berdebar.

PUKUL 13.00

Arga datang ke meja Alya.

“Sudah makan?”

“Belum.”

“Makan dulu.”

Alya tersenyum.

“Saya nanti saja.”

“Saya traktir.”

Alya tertawa.

“Tidak perlu, Pak.”

“Kenapa?”

“Tidak enak.”

“Kenapa tidak enak?”

“Saya baru kenal Bapak.”

Arga tersenyum.

“Justru karena baru kenal.”

Alya menggeleng.

“Terima kasih, tapi saya makan di sini saja.”

Arga tidak memaksa.

“Baik.”

Dia pergi.

Tidak lama kemudian Raka keluar dari ruangannya.

“Dia mengajakmu makan?”

Alya menatapnya.

“Iya.”

“Kamu ikut?”

“Tidak.”

Raka mengangguk.

“Bagus.”

Alya mengangkat alis.

“Kenapa bagus?”

“Karena kamu masih punya pekerjaan.”

Alya tertawa.

“Bapak benar-benar tidak bisa menyembunyikan sesuatu.”

Raka tidak menjawab.

PUKUL 15.00

Alya mendapat pesan dari Arga.

Kalau besok ada waktu, saya ingin minta bantuan Anda.

Alya membalas:

Baik, Pak.

Tidak lama kemudian Raka memanggil.

“Masuk.”

Alya masuk.

Raka menunjukkan email.

“Ini.”

Alya membaca.

“Arga?”

“Ya.”

“Kenapa?”

“Dia terlalu sering meminta bantuanmu.”

Alya mengerutkan kening.

“Memang tugas saya membantu direksi.”

Raka diam.

Alya menatapnya.

“Bapak keberatan?”

“Tidak.”

“Kelihatannya keberatan.”

Raka menghela napas.

“Karena saya tidak suka.”

Alya terdiam.

Raka baru sadar apa yang dia katakan.

“Apa?”

“Saya…”

Dia berhenti.

Alya menunggu.

Raka akhirnya berkata,

“Saya tidak suka kalau pekerjaanmu terlalu banyak.”

Alya tersenyum.

“Bukan itu.”

Raka diam.

“Bapak tidak suka Pak Arga meminta bantuan saya.”

Raka menatapnya.

Kali ini dia tidak menyangkal.

“Ya.”

Alya tersenyum kecil.

“Kenapa?”

Raka tidak menjawab.

Alya mendekat satu langkah.

“Bapak takut saya direbut?”

Raka menatapnya.

“Jangan bercanda.”

“Saya serius.”

Hening.

Raka akhirnya berkata,

“Ya.”

Alya membeku.

Raka juga.

Keduanya saling menatap.

Beberapa detik.

Kemudian Raka mengalihkan pandangan.

“Karena kamu bagian dari tim saya.”

Alya tersenyum.

“Alasan terakhir itu.”

Raka menghela napas.

“Alya…”

“Iya?”

“Jangan membuat saya mengatakan sesuatu yang belum siap saya katakan.”

Alya langsung diam.

Kalimat itu membuat jantungnya berdegup lebih cepat.

Dia mengangguk.

“Baik.”

Kemudian keluar.

PUKUL 17.30

Alya selesai bekerja.

Saat hendak pulang, Arga kembali datang.

“Bu Alya.”

“Iya?”

“Besok pagi bisa?”

“Bisa.”

“Saya ingin Anda ikut saya menemui tim operasional.”

Alya mengangguk.

“Baik.”

Raka keluar dari ruangannya.

Dia melihat mereka.

Arga menoleh.

“Pak Raka.”

“Hm.”

“Saya pinjam Alya besok pagi.”

Raka menatap Alya.

Kemudian Arga.

“Tidak.”

Arga terdiam.

Alya juga.

“Kenapa?” tanya Arga.

Raka menjawab datar,

“Dia ada agenda.”

Arga tersenyum.

“Agenda apa?”

Raka diam.

Alya hampir tertawa.

Karena dia tahu—

Raka tidak punya agenda apa pun.

Arga tampaknya menyadari hal yang sama.

“Baik.”

Dia mengangguk.

“Kita jadwalkan lain waktu.”

Arga pergi.

Alya menatap Raka.

“Pak.”

“Hm?”

“Bapak bohong.”

“Tidak.”

“Tidak ada agenda besok pagi.”

Raka diam.

Alya tersenyum.

“Kenapa?”

Raka menatapnya.

“Karena saya tidak suka dia meminjam kamu.”

Alya terdiam.

“Bapak…”

“Hm?”

“Kalau terus begini, orang lain akan sadar.”

Raka menghela napas.

“Saya tahu.”

“Dan kalau mereka sadar?”

“Saya tidak tahu.”

Alya menatapnya.

Untuk pertama kalinya, Raka terlihat benar-benar tidak punya jawaban.

MALAM

Alya pulang.

Namun pikirannya terus memikirkan Arga.

Pria itu jelas tertarik padanya.

Setidaknya tertarik untuk mengenalnya lebih jauh.

Dan Raka jelas tidak menyukainya.

Alya duduk di tempat tidur.

Ponselnya berbunyi.

Pesan dari Raka.

Sudah sampai?

Alya membalas:

Sudah.

Raka:

Besok jangan lupa sarapan.

Alya tersenyum.

Iya, Pak.

Kemudian pesan berikutnya muncul.

Dan jangan terlalu dekat dengan Arga.

Alya membaca.

Dia mengetik:

Kenapa?

Lama.

Tidak ada jawaban.

Kemudian:

Karena saya tidak percaya dia.

Alya tersenyum kecil.

Atau Bapak tidak percaya diri?

Pesan terbaca.

Tidak ada balasan.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Akhirnya:

Tidur.

Alya tertawa.

Selamat malam, Pak.

Raka:

Selamat malam, Alya.

Alya menatap layar.

Bukan “selamat malam” biasa.

Dia menulis namanya.

Entah kenapa itu membuat jantung Alya berdebar.

KEESOKAN HARINYA

Pagi itu sesuatu yang tidak diduga terjadi.

Alya datang ke kantor.

Namun Arga sudah menunggunya.

“Bu Alya.”

“Iya, Pak?”

“Saya ingin bicara sebentar.”

Alya mengikuti Arga ke ruang meeting kecil.

Arga menutup pintu.

“Ada apa, Pak?”

Arga menatapnya.

“Saya akan bicara terus terang.”

Alya mulai merasa tidak nyaman.

“Saya tertarik bekerja bersama Anda.”

Alya mengangguk.

“Terima kasih.”

“Bukan hanya itu.”

Alya terdiam.

Arga melanjutkan,

“Saya juga tertarik mengenal Anda di luar pekerjaan.”

Alya membeku.

Sebelum dia sempat menjawab, pintu ruang meeting terbuka.

Raka berdiri di sana.

Wajahnya dingin.

Tatapannya langsung tertuju pada Arga.

Kemudian kepada Alya.

“Maaf mengganggu.”

Arga tersenyum.

“Tidak apa-apa.”

Raka masuk.

Dia menatap Arga.

“Kalau urusan pekerjaan selesai, saya perlu Alya.”

Arga mengangguk.

“Baik.”

Alya berdiri.

Dia berjalan keluar bersama Raka.

Begitu pintu tertutup, Raka tidak langsung bicara.

Alya juga diam.

Sampai akhirnya Raka bertanya,

“Dia mengatakan apa?”

Alya menatapnya.

“Bapak mendengar?”

“Tidak.”

“Kalau begitu kenapa bertanya?”

Raka berhenti.

“Alya.”

“Iya?”

“Dia menyatakan perasaan?”

Alya terdiam.

Kemudian mengangguk pelan.

“Ya.”

Raka menutup mata sesaat.

Dia sudah menduga.

Namun mendengar jawabannya langsung dari Alya terasa berbeda.

“Dan kamu?”

Alya menatapnya.

“Saya belum menjawab.”

Raka mengangguk.

Namun ekspresinya semakin dingin.

Alya memperhatikannya.

“Pak.”

“Hm?”

“Bapak cemburu?”

Raka menatapnya.

Kali ini dia tidak mengatakan tidak.

Dia hanya berkata,

“Ya.”

Alya membeku.

Raka melanjutkan,

“Dan saya tidak suka perasaan itu.”

Alya tidak mampu menjawab.

Raka berjalan pergi.

Namun sebelum masuk ruangannya, dia berhenti.

Tanpa menoleh, dia berkata,

“Karena saya tahu saya tidak punya hak untuk melarangmu.”

Alya berdiri diam.

Raka akhirnya masuk.

Pintu tertutup.

Dan untuk pertama kalinya, Alya benar-benar mengerti.

Raka bukan sekadar takut kehilangan asistennya.

Dia takut kehilangan Alya.

Tetapi masalahnya sekarang jauh lebih besar.

Karena ada orang ketiga yang sudah terang-terangan menyatakan perasaan.

Dan Alya harus memilih—

tetap menjaga batas dengan Raka…

atau mengakui bahwa hatinya sendiri sudah lama memilih pria yang salah.

Bukan Arga.

Melainkan bosnya sendiri.

1
Anugerah Kreasi Dewata
ceritanya menarik.. mungkin bisa menjadi salah satu novel yang saya rekomendasikan untuk di baca
Dewi Wibawa
terimakasih kakak🙏
Uthie
Ada yg mulai cemburu, tapi masih gengsi 😁😁👍
Uthie
cowok gengsian keburu di tikung 😂
Uthie
Sukkkkaaa banget moment macam itu 👍😁😁😁
Uthie
Saya masih lanjut baca 😍😍👍
Uthie
Menarik 👍👍😁🤗
Uthie
tertarik mampir untuk sebuah cerita baru 😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!